Puluhan Mahasiswa Sendratasik UNG Jadi Korban Kekerasan Senior
Puluhan mahasiswa di jurusan Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo (UNG) diduga menjadi korban kekerasan fisik yang dilakukan oleh para seniornya.
Tindak kekerasan yang dilakukan beramai-ramai oleh mahasiswa senior itu terjadi di ruang studio teater milik jurusan Sendratasik.
Dari informasi yang dihimpun. saat mahasiswa Sendratasik tengah melakukan rapat persiapan peringatan Hari Tari Sedunia.Rapat berakhir sekitar pukul 21.00 Wita, tetapi mahasiswa angkatan 2016 dan 2017 justru dilarang membubarkan diri oleh seniornya. Mereka diminta mengambil posisi menunduk, dibentak berulang kali, kemudian ditampar dengan keras secara bergantian.Tidak jelas apa yang menjadi pemicu hingga para mahasiswa senior tega melakukan tindakan kekerasan kepada juniornya.
Wakil Dekan Kemahasiswaan Fakultas Sastra dan Budaya UNG, Muslimin membenarkan kejadian kekerasan yang dialami oleh sejumlah mahasiswa Sendratasik.
"Ada sekitar dua puluh mahasiswa senior yang melakukan aksi kekerasan itu. Korban juga sekitar dua puluan," kata Muslimin, Rabu.
Ia menjelaskan pihak fakultas sendratasik UNG segera membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk menelusuri kasus perisakan tersebut. Hasilnya, tim yang dibentuk mendapat keterangan dari para pelaku yang mengakui perbuatannya kepada para korban.
Kampus bukan tempat untuk Arena Politik
(Menristekdikti) Mohammad Nasir meminta perguruan tinggi di Indonesia tidak dijadikan sebagai arena politik. Pihaknya tidak akan segan segan memanggil jika ada rektor yang terlibat dalam politik praktis.
Hal itu disampaikan Mohamad Nasir usai meresmikan kampus baru Universitas Negeri Gorontalo di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Menurutnya, kampus merupakan tempat pengembangan wilayah akademik dan bukan untuk arena politik, sehingga dirinya melarang adanya kegiatan politik praktis yang dilaksanakan di dalam kampus.
"Perguruan tinggi tidak boleh untuk arena politik," tegas Mohammad Nasir di Gorontalo, Kamis.
Ia mengakui, setiap individu dari masyarakat kampus memiliki hak dalam politik, namun tidak boleh kegiatan politik dilakukan di dalam kampus. Setiap perguruan tinggi negeri maupun swasta, menurutnya harus bebas dari politik.
Persiapan Pembelajaran secara Daring dengan berbagai Aplikasi yang Menunjang
“Perangkat pembelajaran harus dikemas dengan baik dan terencana, dari saat awal pembelajaran sampai akhir penilaian harus menggunakan Daring, hal ini pun sudah difasilitasi dalam Sistem Informasi Akademik Terpadu (SIAT) UNG dengan menyiapkan platform E-Learning atau pembelajaran daring melalui aplikasi Classroom, Zoom, atau Meeting,” jelas Dr. Harto Malik. (Humas FIP)
Sementara itu Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Dr. Harto Malik, M.Hum dalam sambutannya mengatakan, dalam melaksanakan pembelajaran Daring diperlukan berbagai sarana dan kesiapan dosen serta mahasiswa, dalam hal ini terkait pula dengan penguasaan perangkat Teknologi dan Informasi (IT), keaktifan mahasiswa serta ketersediaan jaringan internet.
“Semua hal yang akan dibahas dalam Workshop ini sudah disiapkan dalam E-Learning pada SIAT UNG yang nantinya dapat dipilih oleh Dosen untuk melakukan pembelajaran Daring, termasuk di dalamnya ada berbagai platform berbayar yang sudah disiapkan,” kata Dr. Arwildayanto.