KATEGORI : AGRICULTURE

PENEMU BAKTERI KOMPOS ORGANIK

29 September 2013 01:01:09 Dibaca : 877

 

AYUB S. PARNATA

Walau usia sudah mencapai 72 tahun, Ayub S. Parnata seakan tak pernah kehilangan semangat. Di tengah kesibukannya mengurus anggrek, setiap bulannya ia rutin mengirim minimal 2 kontainer pupuk organik ke Cina. Jumlah itu masih ditambah dengan ½ kontainer untuk melayani permintaan dalam negri. Kalau dihitung-hitung, sekitar 64 ton pupuk cair disalurkan tiap bulan. Bersama mitra kerja asal Hongkong, Ayub mempunyai pabrik peracikan pupuk di Cina Selatan. Di sana, biang pupuk organik yang dibuat di Indonesia diubah menjadi pupuk siap pakai. Lalu dieskpor kembali ke beberapa negara di Asia, Australia dan Amerika Serikat. Di Asia, pelanggannya datang dari Filipina, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Mongolia. Permintaan konsumen terus meningkat. Peningkatan 100% per tahun untuk pasaran luar negri dan 20% dalam negri.

Keberhasilan itu bukan datang sendiri layaknya bintang jatuh. Kisahnya dimulai 1960. Saat itu, Ayub mencoba bercocok tanam jagung. Sayang produksinya amat minim, tidak sampai 750 kg/ha. Kenyataan ini menggelitik lulusan Hogere Burgerschool itu untuk meneliti penyebabnya. Hasil pengamatannya menunjukkan, penyebab produksi minim karena efek samping penggunaan kimia dari pupuk yang tidak terserap efektif oleh tanaman sehingga hanya tersimpan di dalam tanah. Untuk menguraikan lagi, harus dengan bantuan jasad renik. Dari hasil analisis, diketahui pada tanah subur selalu ditemukan Pseudomonas putida dan Pseudomonas fluorescens. Dua jasad renik itulah yang harus didapatkan untuk dimasukkan ke tanah yang rusak. Pencarian jenis jasad renik itulah yang memakan waktu lama. Mencari di alam hingga membiakkan dengan media agar (jel) bukanlah proses mudah. “Seperti orang buta yang mencari-cari, tanpa ada satu buku pun yang menuntun”, ujar Ayub melukiskan betapa sulitnya pencarian itu.

Setelah jasad renik berhasil dibiakkan, menentukan formulasi pupuk yang tepat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai komposisi dicoba dan hasilnya kebanyakan gagal. Misal ketika diujicobakan ke suatu lahan padi, bukannya menjadi subur, tanaman malah hangus terbakar. Begitu pun ketika diuji pada bunga kesayangan, anggrek. Si cantik eksklusif itu daunnya berguguran satu-per satu.

Mirip Thomas Alva Edison yang tak pernah berhenti meneliti sampai berhasil, Ayub tidak berputus asa terhadap kegagalan yang ditemui. Penyilang 10.100 anggrek itu terus mencari jalan untuk memperbaiki penemuannya. Kerja kerasnya baru terbayar setelah berkutat 17 tahun. Ayub menemukan campuran pupuk yang tepat. Ramuan terbuat dari bahan-bahan organik dan mikroba-mikroba menguntungkan. Pertama kali dicobakan pada lahan jagung, hasilnya menakjubkan. Produksi yang semula hanya 600 kg/ha, meningkat pesat menjadi 8,5 ton. Tak heran jika Menteri Pertanian waktu itu tertarik berkunjung ke perkebunannya.

Ayub pun kian semangat meracik pupuk dari bahan-bahan organik yang mudah didapat dan berharga murah. Ikan laut, daging apkir atau limbah hewan digunakan. Bahan baku itu diperoleh dari daerah pesisir. Bila kekurangan, ia mengimpor dari Cili dan Denmark. Investasi yang dikeluarkan tidak main-main. Empat rumah miliknya direlakan dijual untuk melengkapi sarana produksi.

Namun rupanya perjuangan belum usai. Memasuki awal 90-an, Ayub mencoba untuk memasarkan produk bermerk Top Soil Fertilizer di Jawa Barat. Diharapkan pupuk itu bisa membantu para pekebun di sana untuk meningkatkan produksi. Namun pil pahit harus ditelan ketika niatan itu terbentur urusan perizinan. Maklum, waktu itu pupuk organik memang belum populer. Pupuk kimia yang jadi primadona. Ia pun urung memasarkan di dalam negri.

Kegagalannya tak membuatnya berhenti berkarya. Berbekal keyakinan bahwa pupuk organik memiliki keistimewaan, pasar luar negri pun dijajaki. Bersama rekan kerja di Hongkong, ia memilih Cina sebagai sasaran pertama. Pertimbangannya, sebagai negara berpenduduk terbesar di dunia, peluang pasar terbuka lebar. Izin peredaran diperoleh dari Beijing University.

Ternyata sambutan penduduk di negri tirai bambu itu luar biasa. Malah pria yang gemar berkemeja batik ini mendapat tawaran maha berat. Ia diminta bekerja sama dengan para pakar di Universitas Beijing untuk mengembangkan formula. Bila diterima, rakyat Cina-lah yang menikmati penemuannya. Rasa nasionalismenya menuntun Ayub menolak tawaran itu.

Tahun pertama sejak mendapat izin ekspor pada 1991, ia mengirim 10 kontainer biang pupuk ke pabrik perakitan di Cina. Di sana biang itu diencerkan sampai 5% sebelum dipasarkan. Volume pengiriman terus meningkat dari waktu ke waktu hingga 100% pada 2003.

Pertengahan 1995, pabrik perakitan itu kedatangan tamu kehormatan, Menteri Pertanian Thailand. Rupanya pupuk organik karya Ayub berhasil mengatasi penyakit busuk buah dan busuk akar pada durian akibat pengaruh kimia. Setahun berikutnya, giliran Menteri Pertanian Malaysia datang. Lagi-lagi berkat hasil spektakuler pemanfaatan pupuk organik itu di perkebunan karet di Malaysia. Karet terus menghasilkan getah meski telah 20 tahun berproduksi.

Kegagalan memperoleh perizinan usaha di dalam negri 8 tahun silam tak membuatnya jera. Uji coba yang dilakukan selama 2 bulan oleh Balai Penelitian Sayuran (Balitsa) di Lembang, Bandung, menunjukkan hasil memuaskan. Perjuangan itu akhirnya berbuah dikeluarkannya izin dari pemerintah Indonesia melalui Departemen Pertanian pada 1999.

Pasa di dalam negri mulai dirambah. Melalui agen di Yogyakarta dan Sumedang, pupuknya menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Di antaranya, Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Kerjasama dengan Pusat Koperasi Veteran (Puskoveri) Jawa Barat dalam memasarkan pun terus dibina.

Untuk memenuhi permintaan dalam dan luar negri, rumah sang kakek yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman, Bandung, dijadikan pabrik. Semua bahan baku dan alat-alat produksi menempati belasan ruangan di dalamnya. Di situlah Ayub membuat formula pupuk pesanan para relasi dibantu tiga orang rekannya. Pupuk berbentuk cair lebih dipilih Ayub karena dalam bentuk itu jasad renik mampu bertahan hidup hingga ratusan tahun. Sebaliknya, dalam bentuk padat, fungsi jasad renik berkurang, bahkan mati.

Pupuk organik Ayub tidak hanya meningkatkan produksi tumbuhan. Tanpa mengubah komposisinya, ia bisa diterapkan pada ternak, ikan atau udang. Penelitian di Universitas Gadjah Mada pada 2002 menunjukkan, pupuk itu efektif memberantas newcastle disease (ND) pada ayam. Penelitian ini juga mengungkapkan peningkatan keuntungan peternak dari Rp 400.000,- / ekor menjadi Rp 1.750.000,- / ekor.

Kontribusinya di dunia anggrek yang lama Ayub geluti pun tak kalah besar. Phalaenopsis miliknya bisa menghasilkan 17 tangkai bunga per satu tanaman. Buah dari semua itu, penghargaan sebagai mitra kerja berprestasi Dinas Pertanian Jawa Barat dari Menteri Pertanian RI diterimanya pada 2002. Meski demikian, bukan itu semata yang ia kejar. Dampak positif pemanfaatan pupuk organik dalam dunia pertanian Indonesia menjadi terminalnya. Bagi Ayub, prospek cerah pupuk organik membentang di masa mendatang.(Prita Windyastuti)

Sumber: Majalah Trubus

Pertanian Masa Depan

29 September 2013 00:57:15 Dibaca : 1037

SISTEM PERTANIAN TERPADU

LATAR BELAKANG

Indonesia saat ini menghadapi sejumlah masalah pembangunan ekonomi yang kompleks. Sejumlah masalah yang dimaksud mencakup pendapatan rakyat rendah, tingkat kemiskinan relatif tinggi, pengangguran tinggi, ketimpangan ekonomi, pem-bangunan ekonomi daerah yang berjalan lambat, utang luar negeri relatif tinggi, kelangkaan energi, ketahanan pangan keropos, dan kemerosotan mu-tu lingkungan hidup. Masalah pembangunan eko-nomi tersebut memerlukan pemecahan sesegera mungkin.

Dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini yang juga menghadapi kesulitan pembiayaan pemba-ngunan, untuk memecahkan masalah tersebut, kita perlu melakukan penajaman (focusing) strategi pembangunan ekonomi ke depan.

Sumberdaya Manusia

Rendahnya kualitas sumberdaya manusia merupakan kendala yang serius dalam pembangunan pertanian. Ketertinggalan petani dalam hal pendidikan di atasi dengan pendekatan penyetaraan pendidikan yang selanjutnya dikaitkan dengan pelatihan keterampilan berusahatani. Di samping itu, berbagai upaya pengu-atan kapasitas petani juga perlu dilakukan terutama dalam hal pengembangan sikap kewirausahaan, ke-mampuan dalam pemasaran dan manajemen usaha.

Produktivitas Lahan

Pada awalnya untuk menghasilkan lebih banyak pangan memerlukan luasan lahan budidaya, sehingga lahan merupakan sumberdaya pertanian yang utama. Dengan dimulainya revolusi hijau (intesifikasi pertanian), kepentingan nisbi lahan berkurang karena masukan pertanian ~ pupuk, mekanisasi, pestisida, irigasi, dan benih unggul ~ memberikan sumbangan yang signifikan terhadap kenaikan produksi pangan. Sebagian kebutuhan lahan disulih oleh teknologi.

Saat ini kebutuhan lahan kembali mencuat karena hasil panen yang semakin menurun sehubungan dengan penurunan produksi dan penyempitan lahan pertanian yang dialih-fungsikan, sedangkan kebutuhan pangan terus meningkat. Pulau Jawa setidaknya kehilangan 20.000 ha lahan pertanian setiap tahun akibat pemekaran kota di mana luasan lahan tersebut mampu menyediakan beras untuk 378.000 orang tiap tahun. Akibatnya lahan menjadi sumberdaya pertanian yang nilainya terus meningkat.

Penurunan produktivitas lahan pertanian disebabkan oleh terdegradasinya fungsi hayati lahan, yaitu kemampuan/kapasitasnya mengubah hara menjadi bentuk yang dapat dimanfaatkan tanaman

Kelembagaan

Kelembagaan petani sampai saat ini belum dapat mengangkat kesejahteraan petani, hanya di beberapa daerah saja yang sudah mapan dan mengakar pada masyarakat. Fungsi kelembagaan seperti koperasi masih kalah dengan rentenir/ijon dalam hal pembiayaan dan okupansi (pembelian) hasil panen, sehingga petani tidak memiliki kekuatan tawar-menawar (bargaining power) atas harga hasil panennya.

Permodalan merupakan masalah yang utama bagi petani, terutama petani peng-garap yang tidak memiliki lahan pertanian (hanya tenaga saja). Petani penggarap biasanya mendapat porsi sedikit dalam pembagian hasilnya dan terkadang bahkan tidak mencukupi untuk kegiatan budidaya di musim tanam selanjutnya, sehingga mereka butuh pinjaman permodalan. Petani lebih senang untuk mendapatkan pinjaman permodalan tersebut dari rentenir/ijon atas dasar kemudahan prosesnya (cepat, tidak perlu agunan) walaupun dengan bunga yang tinggi dan terikat kontrak penjualan hasil panennya. Rentenir dapat dengan mudah untuk menekan harga hasil panen petani, dan petani terpaksa harus menjualnya karena khawatir tidak akan mendapatkan pinjaman lagi.

TUJUAN

Tujuan Summary ini adalah memberikan solusi kepada petani untuk mengatasi kelemahan revolusi hijau, setidaknya dapat:

(1) Meningkatkan kesejahteraan petani terutama kelompok masyarakat yang mata pencahariannya berkaitan langsung dengan sumberdaya pertanian.

(2) Memanfaatkan kekosongan kegiatan pada waktu luang dan menguatkancashflow usaha tani dengan melakukan diversivikasi horisontal pada usaha tani.

(3) Menerapkan LEISA (Low External Inputs for Sustainable Agriculture) dan bio-cycle sehingga tercapai efisiensi biaya usaha tani yang akan menurunkan harga pokok produksi.

(4) Menerapkan prinsip 6-R (Rethinking-Reducing-Recovering-Reusing-Recycling-Responding).

(5) Meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif produk pertanian baik produk primer maupun olahan, sehingga memiliki daya saing yang kuat.

(6) Menjaga dan meningkatkan kualitas sumberdaya petani.

melalui pengelolaan terpadu yang mencakup:

(1) Integrated Crop Management (ICM) atau Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), seperti cara tanam, pola tanam, perawatan tanaman, metode panen, dll.

(2) Integrated Nutrient Management (INM) atau Pengelolaan Hara Terpadu, yaitu menyediakan hara yang sesuai dengan jumlah hara (neraca hara) yang dibutuhkan oleh setiap komoditas, sehingga tercipta kecukupan hara dalam jumlah yang tepat dan tanaman dapat berproduksi optimal.

(3) Integrated Pest Management (IPM) atau Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) yang lebih efektif dan ramah lingkungan seperti penggunaan pestisida nabati, perangkap, predator alami, organisme antagonis, dan usaha-usaha penegahan serangan hama/penyakit.

(4) Integrated Soil Moisture Management (IMM) atau Pengelolan Air Terpadu (PAT) seperti peggunaan irigasi teknis atau teknologi yang lebih canggih lainnya dalam sistem vertigasi.

(5) Integrated Livestock Management (ILM) atau Pengelolaan Ternak Terpadu [ Untuk peternakan dan/atau sistem/pola pertanian terpadu di mana ada hubungan timbal-balik antara pertanian dan peternakan.

(6) Integrated Waste Management (IWM) atau Pengelolaan Limbah Terpadu [ Untuk peternakan dan/atau sistem/pola pertanian terpadu di mana siklus biologi (bio-cycle) dalam usaha budidaya yang tidak terputus dan pemanfaatan biomassa yang lebih efektif dan efisien (zero waste management).

Arahan dari pelaksanaan usaha tani yang berwawasan lingkungan ini menuju pertanian organik sebagai persyaratan mutlak menuju era perdagangan bebas yang akan menghasilkan produk pertanian sehat dengan meminimisasi terjadinya penu-runan produksi tahap awal karena pengurangan pupuk kimia berdasarkan perhi-tungan neraca hara.

SASARAN

Petani yang dapat melaksanakan konsep sistem pertanian terpadu ini adalah petani atau kelompok tani yang memiliki lahan sekurang-kurangnya 1 ha untuk menda-patkan kelayakan ekonomi yang cukup dalam kegiatan usaha tani. Diharapkan petani akan menjadi subyek dalam pelaksanaan kegiatan usaha tani tanpa ter-gantung dari pihak manapun dengan pembentukan permodalan dan pasar yang baik oleh lembaga atau instansi yang berkompeten.

SISTEM PERTANIAN TERPADU

Sistem Pertanian terpadu merupakan sistem yang menggabungkan kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan ilmu lain yang terkait dengan pertanian dalam satu lahan, sehingga diharapkan dapat sebagai salah satu solusi bagi peningkatan produktivitas lahan, program pembangunan dan konservasi lingkungan, serta pengembangan desa secara terpadu. Diharapkan kebutuhan jangka pendek, mene-ngah, dan panjang petani berupa pangan, sandang dan papan akan tercukupi dengan sistem pertanian ini

MODEL PERTANIAN TERPADU

Model pertanian terpadu dalam satu siklus biologi (Integrated Bio Cycle Farming)yang tidak ada limbah, semua bermanfaat. Limbah pertanian untuk pakan ternak dan limbah peternakan diolah jadi biogas dan kompos sehingga impian membentuk masyarakat tani yang makmur dan mandiri terkonsep dengan jelas.

Konsep terapan pertanian terpadu akan menghasilkan F4 yang sebenarnya adalahlangkah pengamanan terhadap ketahanan dan ketersediaan pangan dan energi secara regional maupun nasional, terutama pada kawasan kawasan remote area dari jajaran kepulauan Indonesia.

(1) F1 [ FOOD; Pangan manusia (beras, jagung, kedelai, kacang-kacangan, jamur, sayuran, dll.), produk peternakan (daging, susu, telor, dll.), produk budi-daya ikan air tawar (lele, mujair, nila, gurame, dll.) dan hasil perkebunan (salak, kayumanis, sirsak, dll.)

(2) F2 [ FEED; Pakan ternak termasuk di dalamnya ternak ruminansia (sapi, kambing, kerbau, kelinci), ternak unggas (ayam, itik, entok, angsa, burung dara, dll.), pakan ikan budidaya air tawar (ikan hias dan ikan konsumsi).

Dari budidaya tanaman padi akan dihasilkan produk utama beras dan produk sampingan bekatul, sekam padi, jerami dan kawul, semua produk sampingan apabila diproses lanjut masih mempunyai kegunaan dan nilai ekonomis yang layak kelola. Jerami dan malai kosong (kawul) dapat disimpan sebagai hay (bahan pakan kering) untuk ternak ruminansia atau dibuat silage (makanan hijau terfermentasi), sedangkan bekatul sudah tidak asing lagi sebagai bahan pencampur pakan ternak (ruminansia, unggas dan ikan). Pakan ternak ini berupa pakan hijauan dari tanaman pagar, azolla, dan eceng gondok.

(3) F3 [ FUEL; Akan dihasilkan energi dalam berbagai bentuk mulai energi panas (bio gas) untuk kebutuhan domestik/masak memasak, energi panas untuk industri makanan di kawasan pedesaan juga untuk industri kecil. Hasil akhir dari bio gas adalah bio fertilizer berupa pupuk organik cair dan kompos.

Pemakaian tenaga langsung lembu untuk penarik pedati, kerbau untuk meng-olah lahan pertanian sebenarnya adalah produk berbentuk fuel/energi.

Sekam padi dapat dikonversi menjadi energi (pembakaran langsung maupun gasifikasi) dan masih akan menghasilkan abu maupun arang sekam yang dapat diimplementasikan sebagai pupuk organic, sementara apabila energi sekam padi digunakan untuk gas diesel engine akan didapatkan lagi hasil sampingan berupa asap cair (cuka kayu) yang dapat digunakan untuk pengewet makanan atau campuran pestisida organik.

(4) F4 [ FERTILIZER; Sisa produk pertanian melalui proses decomposer maupun pirolisis akan menghasilkan organic fertilizer dengan berbagai kandungan unsur hara dan C-organik yang relative tinggi. Bio/organic fertilizer bukan hanya sebagai penyubur tetapi juga sebagai perawat tanah (soil conditioner), yang dari sisi keekonomisan maupun karakter hasil produknya tidak kalah dengan pupuk buatan (anorganik fertilizer) bahkan pada kondisi tertentu akan dihasil-kan bio pestisida (dari asap cair yang dihasilkan pada proses pirolisis gasifikasi) yang dapat dimanfaatkan sebagai pengawet makanan yang tidak berbahaya (bio preservative).

Dari F4 diatas tersimpulkan betapa besar kasih sayang Sang Maha Pencipta terha-dap makhluk-Nya khalifah di bumi – tidak satupun ciptaan-Nya yang sia-sia

Petani zaman Dulu VS Zaman Sekarang

15 March 2013 08:29:13 Dibaca : 1506


Dulu petani menanam padi tidak menggunakan pupuk karena menurut mereka dapat merusak tanaman. Pikiran petani pada saat ini memang benar adanya karena unsur hara yang terkandung pada lahan petani memang masih melimpah. Akan tetapi, lama kelamaan produksi petani makin menurun, dan pemerintah memberikan bantuan pupuk untuk menambah unsur hara tanah. Waktu itu, dibutuhkan proses yang cukup lama untuk meyakinkan petani agar memakai pupuk sampai akhirnya petani berkenan. Dan, hasilnya produksi padi semakin meningkat sehingga petani baru mempercayai manfaat dari pupuk tersebut. Sekarang, berbalik keinginan pemerintah untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia karena dengan penggunaan pupuk dapat merusak tanah. Dan, lagi-lagi petani mati-matian untuk tidak ingin mengurangi penggunaan pupuk kimia bahkan mereka ingin penyaluran pupuk diperbaiki agar petani mendapatkan pupuk sesuai jenis dan kebutuhannya. Padahal sekarang populer "save our earth" dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia dan mengganti atau mencampur sebahagian dengan pupuk organik dalam rangka menggalakkan program pemerintah dalam rangka pertanian organik.

Pada zaman dulu petani menggunakan pupuk kandang. Hasilnya sudah bagus, Penyakit tanaman belum seberapa banyak dan aneh-aneh, Tanah masih gembur dan subur. Ketika Petani dikenalkan oleh pemerintah, pupuk kimia/urea pada era pemerintahan orba pada tahun 1980an.
Semua petani didaerah-daerah dianjurkan untuk memakai pupuk urea gratis. Tetapi banyak petani yang masih ragu dengan pupuk tersebut untuk dicoba bahkan ada yang dikasih ditukar dengan beras pada waktu itu. Ketika ada salah satu petani yang mau mencoba, ternyata hasilnya sangat luarbiasa meningkat pesat. Akhirnya semua petani kita menggunakan pupuk kimia tersebut sampai sekarang. Petani sekarang sudah banyak yang lupa dan meninggalkan pupuk kandang/kompos. Pertanian Indonesia pada waktu itu sampai bisa ekspor beras/swasembada pangan. Ternyata grafik pertanian kita seperti Huruf u terbalik, yaitu semakin tahun semakin menurun. Ada apa?... Setelah diteliti oleh pakar ilmu pertanian, ternyata lahan pertanian kita mengalami degradasi mutu lahan ini semua dampak dari penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dan terus menerus. 

Semakin tahun penggunaan pupuk kimia tidak semakin sedikit tetapi produksi pupuk kimia tetap akibatnya pupuk sering kehabisan/Langka. Solusi dari Pemerintah: Untuk mengatasi kelangkaan pupuk kimia/kerusakan tanah Pemerintah lewat MENTAN menganjurkan pemakaian pupuk secara berimbang kimia + Organik Untuk mengembalikan lahan agar kembali subur diperlukan pupuk kandang/kompos per Ha antara 20 sampai 40 ton atau minimal 5 Ton pupuk kandang setiap kali musim tanam. Tetapi kendala dilapangan ketersedian pupuk kandang sulit. Kalaupun ada butuh biaya lagi untuk sampai kelahan. Pupuk kandang dari kotoran sapi tidak bisa langsung dipakai butuh waktu min. 3-6 bulan. 

SOLUSI NASA: Melalui riset yang panjang dan butuh waktu yang lama PUPUK ORGANIK NASA menemukan solusi alternative pengganti pupuk kandang 1 liter POCNASA setara dengan 1 Ton unsur hara mikro pupuk kandang. Untuk lahan 1 Ha diperlukan 10 botol PocNasa ( 1 botol=500cc ) + Hormonik/zat pengatur tumbuh cukup disemprotkan ke tanaman antara jam 7-10 pagi. 
POPSUPERNASA: Pupuk Organik Padat SuperNasa 1 btl isi 250 gr setara dengan 2.5 Ton Pupuk kandang. Praktis, Ekonomis, harga terjangkau. Bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia 25% sampai 50% berdasarkan rekomendasi setempat. PUPUK ORGANIK NASA, sebagai Pengganti pupuk kandang/kompos bukan pengganti pupuk kimia. Ijin Dep. Perdagangan RI: No. Reg. 503/00.1999/ILMK/V Ijin Dep. Pertanian RI: Nomor: L.004/organik/PPI/X/2005 Sucofindo: No. 3561027

Metamorfosis petani atau petani harus berubah menerima keadaan sekarang layaknya metamorfosis kupu-kupu dimana dibutuhkan beberapa proses mulai dari bertelur sampai jadi kupu-kupu yang cantik dan terbang bebas. Petani harus berani mengambil keputusan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi sekarang dan bisa menerima segala sesuatu yang memberikan manfaat lebih terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani. Cuman yang perlu jadi perhatian dan harus diketahui semua pihak adalah perubahan petani harus disertai denga pendampingan dan contoh/teknis yang jelas karena baik petani bahkan semua orang akan langsung setuju terhadap suatu perubahan jika mereka melihat sendiri perubahan itu memberikan manfaat dan keuntungan yang lebih daripada kita mempertahankan sesuatu yang belum atau tidak memberikan keuntungan. Intinya petani harus mendaptkan jaminan dari pemerintah dan siap membantu segala keperluan petani untuk bisa mengangkat derajat hidup petani saat ini.

 

sumber :

1. http://pupuknasa-organik.blogspot.com/2008/12/pada-zaman-dulu-petani-sebelum-tahun_19.html

2. http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2012/01/29/metamorfosis-petani/

Pertanian Indonesia

15 March 2013 08:27:43 Dibaca : 685

Pertanian Indonesia

Indonesia adalah negara agraris menurut masyarakat terdahulu, karena memang dahulu walaupun 1/3 dari luas wilayah indonesia adalah daratan dan sisanya yang 2/3 itu wilayah lautan, Indonesia masih bisa swasembada beras, rakyatnya makmur, begitupun dengan faktor lain iklim belum berubah seperti saat ini, bercocok tanam pun bisa diperkirakan kapan panennya, belum terjadi intensifikasi pertanian yang menggunakan pupuk, benih, pestisida, dan peralatan pertanian yang mengandung bahan kimia yang dapat merusak ekosistem yang ada didalam tanah walaupun memang berpengaruh positif kepada hasil produksi dan produktivitas pertanian dari segi kuantitas maupun kualitas. Masih sedikitnya jumlah masyarakat indonesia pula mempengaruhi pertanian indonesia pada jaman dahulu, sehingga kebutuhan pangan di negri tercinta ini pada jamannya masih bisa surplus pangan. Walaupun demikian pada jaman dahulu mempunyai beberapa kelemahan, yakni hanya terfokus pada usaha tani, lemahnya dukungan kebijakan makro, serta pendekatannya yang sentralistik. Akibatnya usaha pertanian di Indonesia sampai saat ini masih banyak didominasi oleh usaha dengan:

  1. Skala kecil
  2. Modal yang terbatas
  3. Penggunaan teknologi yang masih sederhana
  4. Sangat dipengaruhi oleh musim
  5. Wilayah pasarnya lokal
  6. Umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi)
  7. Akses terhadap kredit, teknologi dan pasar sangat rendah,
  8. Pasar komoditi pertanian yang sifatnya mono/oligopsoni yang dikuasai oleh pedagang-pedagang besar sehingga terjadi eksploitasi harga yang merugikan petani

Selain itu, masih ditambah lagi dengan permasalahan-permasalahan yang menghambat pembangunan pertanian di Indonesia seperti pembaruan agraria (konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian) yang semakin tidak terkendali lagi, kurangnya penyediaan benih bermutu bagi petani, kelangkaan pupuk pada saat musim tanam datang, swasembada beras yang tidak meningkatkan kesejahteraan petani dan kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Petani, menuntut pemerintah untuk dapat lebih serius lagi dalam upaya penyelesaian masalah pertanian di Indonesia demi terwujudnya pembangunan pertanian Indonesia yang lebih maju demi tercapainya kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Di jaman Globalisasi yang serba praktis seperti ini  saya kira pertanian malah memburuk walaupun memang sumber daya alam (SDA) di negeri ini patut di syukuri, Indonesia yang Mega Biodiversity, negara kepulauan, negara agraris, negara maritim, dan lain sebagainya yang hanya bisa kita jadikan sebuah nama untuk membangga-banggakan masyarakat sekarang ini. Banyaknya pulau di negeri ini tidak bisa dihitung dengan jari, menurut data ada 17.540 pulau di negeri ini, termasuk tiga dari enam pulau terbesar di dunia di antaranya, pulau Papua dengan peringkat ke-6 pulau terluas di dunia, menyusul dengan pulau Sumatera dengan peringkat ke-5, dan pulau Kalimantan dengan peringkat ke-3.

Indonesia yang dinamakan negara maritim terbesar di dunia dengan 93.000 km2 luas pantai yang ada di negeri ini, memiliki kekayaan yang luar biasa, menurut data terumbu karang yang tersebar sampai penjuru Indonesia adalah terumbu karang yang terkaya di dunia dengan lebih dari 2500 spesies ikan, lebih dari 590 jenis batu karang, lebih dari 2500 spesies moluska, serta lebih dari 450 jenis udang-udangan di Indonesia.

Tidak hanya di wilayah perairan, di wilayah daratan pun cukup membuat kita senang, banyak spesies asli Indonesia, tersebar di pulau-pulau besar di Indonesia yang menjadi maskot pulau tersebut. Di daratan kita juga dikarunai tempat tambang yang luar biasa.

Lalu dimanakah hasil dari sumber daya alam yang melimpah begitu dahsyatnya di tanah air tercinta? Sudahkah masyarakat Indonesia mengelolanya dengan baik? Masih bisakah warisan sumber daya alam tersebut kita wariskan ke anak-cucu kita? Tanpa di jawab pun kita sudah tahu jawabannya.

Angka kemiskinan di negeri ini masih cukup tinggi, hampir 17% dari seluruh jumlah warga negara Indonesia, ledakan penduduk terjadi di negeri ini, sudah berdaulatkah negara  ini?

Indonesia yang “kata”nya negara agraris masih bisa-bisanya mengimpor beras dari negara lain seperti Thailand dan Vietnam. Jumlahnya terus meningkat  setiap tahun hingga mencapai 282,92% selama Januari-Juli 2011, di bandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Selain mengimpor beras, Indonesia ga ada malunya sama sekali sama negara tetangga Malaysia, yang juga mengimpor daging ayam dari Malaysia pada semester I tahun 2011 ini, bahkan jumlahnya mecapai 9 ton dengan nilai US$ 29,24 ribu. Indonesia juga mengimpor teh sebanyak 6,54 ribu ton dengan nilai US$ 11 juta selama 6 bulan pada tahun ini, padahal pucuk teh terbaik produksi Indonesia di ekspor ke negara lain, yang kita konsumsi produksi pabrikan indonesia adalah pucuk teh sisa ekspor, selain yang disebutkan tadi Indonesia mengimpor bahan-bahan lainnya seperti gandum, kedelai, cabai, kentang, ubi jalar, bahkan garam masih kita impor, saya heran dengan pemerintah, yang hanya bisa mengumbar janji manis, tipu daya, uang, sembako, kaos dan lain-lain setiap 5 tahun sekali untuk memilih mereka di pemilu. Inilah siklus lima tahunan yang tidak akan pernah berubahdi alam demokrasi ini. Sudahkah kita merdeka? Apakah kita sudah bebas dari belenggu negara lain?

Kembali ke topik pertanian. Pembangunan pertanian di masa yang akan datang tidak hanya dihadapkan untuk memecahkan masalah-masalah yang ada, namun juga dihadapkan pula pada tantangan untuk menghadapi perubahan tatanan politik di Indonesia yang mengarah pada era demokratisasi yakni tuntutan otonomi daerah dan pemberdayaan petani. Disamping itu, dihadapkan pula pada tantangan untuk mengantisipasi perubahan tatanan dunia yang mengarah pada globalisasi dunia. Oleh karena itu, pembangunan pertanian di Indonesia tidak saja dituntut untuk menghasilkan produk-produk pertanian yang berdaya saing tinggi namun juga mampu mengembangkan pertumbuhan daerah serta pemberdayaan masyarakat. Ketiga tantangan tersebut menjadi sebuah kerja keras bagi kita semua apabila menginginkan pertanian kita dapat menjadi pendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan dapat menjadi motor penggerak pembangunan bangsa. Di bawah ini terdapat beberapa rekomendasi, tawaran, saran, masukan dan juga tuntutan hasil dari pemikiran, yaitu sebagai berikut:

1. Optimalisasi program pertanian organik secara menyeluruh di Indonesia serta menuntut pemanfaatan lahan tidur untuk pertanian yang produktif dan ramah lingkungan.

2. Regulasi konversi lahan dengan ditetapkannya kawasan lahan abadi yang eksistensinya dilindungi oleh undang-undang.

3. Penguatan sistem kelembagaan tani dan pendidikan kepada petani, berupa program insentif usaha tani, program perbankan pertanian, pengembangan pasar dan jaringan pemasaran yang berpihak kepada petani, serta pengembangan industrialisasi yang berbasis pertanian/pedesaan, dan mempermudah akses-akses terhadap sumber-sumber informasi IPTEK.

4. Indonesia harus mampu keluar dari WTO dan segala bentuk perdagangan bebas dunia pada tahun 2014.

5. Perbaikan infrastruktur pertanian dan peningkatan teknologi tepat guna yang berwawasan pada konteks kearifan lokal serta pemanfaatan secara maksimal hasil-hasil penelitian ilmuwan lokal.

6. Mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia.

7. Peningkatan mutu dan kesejahteraan penyuluh pertanian.

8. Membuat dan memberlakukan Undang-Undang perlindungan atas Hak Asasi Petani.

9. Memposisikan pejabat dan petugas di setiap instansi maupun institusi pertanian dan perkebunan sesuai dengan bidang keilmuannya masing-masing.

10. Mewujudkan segera reforma agraria.

11. Perimbangan muatan informasi yang berkaitan dengan dunia pertanian serta penyusunan konsep jam tayang khusus untuk publikasi dunia pertanian di seluruh media massa yang ada.

12. Bimbingan lanjutan bagi lulusan bidang pertanian yang terintegrasi melalui penumbuhan wirausahawan dalam bidang pertanian (inkubator bisnis) berupa pelatihan dan pemagangan (retoling) yang berorientasi life skill, entrepreneurial skill dan kemandirian berusaha, program pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda melalui kegiatan magang ke negara-negara dimana sektor pertaniannya telah berkembang maju, peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi pertanian, pengembangan program studi bidang pertanian yang mampu menarik generasi muda, serta program-program lain yang bertujuan untuk menggali potensi, minat, dan bakat generasi muda di bidang pertanian serta melahirkan generasi muda yang mempunyai sikap ilmiah, professional, kreatif, dan kepedulian sosial yang tinggi demi kemajuan pertanian Indonesia, seperti olimpiade pertanian, gerakan cinta pertanian pada anak, agriyouth camp, dan lain-lain.

13. Membrantas mafia-mafia pertanian.

14. Melibatkan mahasiswa dalam program pembangunan pertanian melalui pelaksanaan bimbingan massal pertanian, peningkatan daya saing mahasiswa dalam kewirausahaan serta dana pendampingan untuk program–program kemahasiswaan.

Banyak hal yang harus kita lakukan dalam mengembangkan pertanian pada masa yang akan datang. Kesejahteraan petani dan keluarganya merupakan tujuan utama yang menjadi prioritas dalam melakukan program apapun. Tentu hal itu tidak boleh hanya menguntungkan satu golongan saja namun diarahkan untuk mencapai pondasi yang kuat pada pembangunan nasional. Pembangunan adalah penciptaan sistem dan tata nilai yang lebih baik hingga terjadi keadilan dan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Pembangunan pertanian harus mengantisipasi tantangan demokratisasi dan globalisasi untuk dapat menciptakan sistem yang adil. Selain itu harus diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, khususnya petani melalui pembangunan sistem pertanian dan usaha pertanian yang kuat dan mapan. Dimana Sistem tersebut harus dapat berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan desentralistik.

Sekian. Semoga catatan kecil dari saya tentang pertanian indonesia, dapat membangun bagi pembacanya, mohon maaf apabila banyak kekurangan dalam pembuatannya.

Produksi Pertanian Butuh Sentuhan Wirausahawan Agribisnis

27 February 2013 10:45:34 Dibaca : 658

Pemerintah selama ini telah menetapkan kebijakan berupa peningkatkan kebijakan produksi padi menjadi 5-7 juta ton per tahun dan swasembada gula, kedelai serta daging ternak. Mestinya ini menjadi peluang besar bagi entrepreneur untuk bergerak di sektor agribisnis. Namun hal ini tidak terjadi. Pengusaha muda lebih tertarik menggeluti usaha kontraktor, ekspor-impor, dan perdagangan

Wakil Rektor Bidang Bisnis dan Komunikasi, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Ir Arif Imam Soeroso menekankan pentingnya pendidikan tinggi pertanian dalam meningkatkan kualitas SDM di bidang agribisnis. “Belum majunya pertanian Indonesia karena minimnya akhlak mayoritas praktisi agribisnis dan pertanian. IPB berusaha memberikan bekal pada mahasiswanya berupa berbagai ilmu dasar, softskill,program-program kewirausahaan yang nanti sangat berharga ketika mereka lulus,” jelas Dr Imam di Jakarta, Senin (2/4/2012).

Lulusan IPB banyak bergerak di berbagai bidang termasuk publistik, Dr Imam mengatakan hasil survei menunjukkan lulusan IPB 35 persen masih bergerak di bidang pertanian, 65 persen bergerak di bidang yang terkait pertanian.

“Kemampuan fleksibilitas lulusan IPB bekerja di berbagai bidang, ini menunjukkan keunggulan pendidikan IPB yang mampu menciptakan SDM handal dan bisa bergerak di berbagai sektor khususnya pertanian,” ujarnya.

Mirisnya lagi, sambung Imam, kurang dari 10 persen pengusaha muda yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang menekuni agribisnis. Padahal dari segi potensi dan peluang usaha agribisnis Indonesia sangat besar. Kondisi ini terjadi karena Indonesia tidak memberikan ruang kondusif bagi kelahiran para wirausaha agribisnis.

Seringkali ada entrepreneur baru yang mencoba bidang agribisnis harus terhenti, karena terhambat berbagai aturan dan keterbatasan infrastruktur. “Kadang kita masih terjerat pikiran instan, maunya banyak wirausahawan agribisnis yang terlahir,” ujar dia.

Menjadi wirausahawan handal dan berhasil membutuhkan proses minimal 3-5 tahun berusaha. ”Bila sudah mapan bisnisnya, wirausahawan tersebut dapat membuka lapangan pekerjaan dan menyumbang Product Domestic Bruto (PDB),