puisi hamba

21 February 2013 16:38:43 Dibaca : 112

AKU HAMBA YANG BERLUMURAN DOSA

Untaian syair : Jamaluddin Yahyaa bin Yuusuf Ash-Shorshori Al-Hambali rahimahullah

Syair ini telah dinukil oleh Ibnu Muflih Al-Maqdisi Al-Hanbali rahimahullah (wafat tahun 763 H) di penghujung kitabnya yang sangat masyhuur Al-Aadaab As-Syar'iyah 3/562-563.أَنَا الْعَبْدُ الَّذِي كَسَبَ الذُّنُوبَا ***** وَصَدَّتْهُ الْأَمَانِي أَنْ يَتُوبَا

Aku adalah hamba yang telah bergelimang dosa

Angan-angan telah menghalanginya untuk bertaubat

أَنَا الْعَبْدُ الَّذِي أَضْحَى حَزِينًا ***** عَلَى زَلَّاتِهِ قَلِقًا كَئِيبَا

Aku adalah hamba yang sangat bersedih

Atas kesalahan dan ketergelinciran, gelisah dan cemas

أَنَا الْعَبْدُ الَّذِي سُطِرَتْ عَلَيْهِ ***** صَحَائِفُ لَمْ يَخَفْ فِيهَا الرَّقِيبَا

Aku adalah hamba yang lembaran-lembaran catatan amal…

telah mencatat dosa-dosanya akan tetapi ia tetap tidak takut kepada Allah yang Maha Mengawasi

أَنَا الْعَبْدُ الْمُسِيءُ عَصَيْتُ سِرًّا ***** فَمَا لِي الْآنَ لَا أُبْدِي النَّحِيبَا

Aku adalah hamba yang bersalah…aku telah bermaksiat tatkala bersendirian

Lantas kenapa hingga saat ini aku belum menampakkan ratapanku..??

أَنَا الْعَبْدُ الْمُفَرِّطُ ضَاعَ عُمُرِي ***** فَلَمْ أَرْعَ الشَّبِيبَةَ وَالْمَشِيبَا

Aku adalah hamba yang lalai, telah sia-sia usiaku…

Aku tidak memperhatikan masa muda dan masa tuaku

أَنَا الْعَبْدُ الْغَرِيقُ بِلُجِّ بَحْرٍ ***** أَصِيحُ لَرُبَّمَا أَلْقَى مُجِيبَا

Aku adalah hamba yang tenggelam dalam ombak lautan

Aku berteriak…semoga aku menemukan penjawab seruanku

أَنَا الْعَبْدُ السَّقِيمُ مِنْ الْخَطَايَا ***** وَقَدْ أَقْبَلْتُ أَلْتَمِسُ الطَّبِيبَا

Aku adalah hamba yang sakit menderita karena dosa-dosa…

aku telah datang mencari tabib…ٍSungguh

أَنَا الْعَبْدُ الشَّرِيدُ ظَلَمْتُ نَفْسِي ***** وَقَدْ وَافَيْتُ بَابَكُمْ مُنِيبَا

Aku adalah hamba yang tersesat, aku telah menzolimi diriku…

Sungguh aku telah kembali berada di pintuMu bertaubat

أَنَا الْمُضْطَرُّ أَرْجُو مِنْكَ عَفْوًا ***** وَمَنْ يَرْجُو رِضَاكَ فَلَنْ يَخِيبَا

Aku adalah orang yang terpuruk mengharapkan ampunanMu

Siapa yang mengharapkan ridhoMu maka ia tidak akan kecewa

فَيَا أَسَفَى عَلَى عُمُرٍ تَقَضَّى ***** وَلَمْ أَكْسِبْ بِهِ إلَّا الذُّنُوبَا

Sungguh aku menyesal dengan usiaku yang telah lewat

Aku tidak mengisinya kecuali dengan dosa-dosa

وَأَحْذَرُ أَنْ يُعَاجِلَنِي مَمَاتٌ ***** يُحَيِّرُ هَوْلُ مَصْرَعِهِ اللَّبِيبَا

Aku takut kematian mendahuluiku (sebelum bertaubat)

Orang yang berakal akan terperanjat kebingungan menghadapi dahsyat serangannya

وَيَا حُزْنَاهُ مِنْ نَشْرِي وَحَشْرِي ***** بِيَوْمٍ يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبَا

Sungguh sangat menyedihkan jika aku dibangkitkan dan dikumpulkan

Pada hari (kiamat)…hari yang menjadikan anak-anak beruban

تَفَطَّرَتِ السَّمَاءُ بِهِ وَمَارَتْ ***** وَأَصْبَحَتِ الْجِبَالُ بِهِ كَثِيبَا

Langit terbelah dan tergoncang…

Jadilah gunung-gunung berterbangan…

إذَا مَا قُمْتُ حَيْرَانًا ظَمِيئَا ***** حَسِيرَ الطَّرْفِ عُرْيَانًا سَلِيبَا

Tatkala aku dibangkitkan dalam keadaan bingung penuh dahaga…

Menundukkan pandangan…telanjang…tidak membawa apapun

وَيَا خَجَلَاهُ مِنْ قُبْحِ اكْتِسَابِي ***** إذَا مَا أَبْدَتْ الصُّحُفُ الْعُيُوبَا

Sungguh memalukan akibat buruknya perbuatanku…

Tatkala lembaran-lembaran catatan amal mengumbar aib-aibku

وَذِلَّةِ مَوْقِفٍ وَحِسَابِ عَدْلٍ ***** أَكُونُ بِهِ عَلَى نَفْسِي حَسِيبَا

Kondisi yang sangat menghinakan…serta perhitungan yang adil

Akupun mengetahui hisab diriku tatkala itu

وَيَا حَذَرَاهُ مِنْ نَارٍ تَلَظَّى ***** إذَا زَفَرَتْ وَأَقْلَقَتِ الْقُلُوبَا

Sungguh berhati-hatilah dengan neraka yang menyala-nyala

Tatkala terdengar suara teriakan siksaan dan hati-hati pun bergejolak

تَكَادُ إذَا بَدَتْ تَنْشَقُّ غَيْظًا ***** عَلَى مَنْ كَانَ ظَلَّامًا مُرِيبَا

Hampir-hampir saja neraka menampakkan kemurkaannya

Kepada orang yang zolim dan ragu (*akan hari akhirat)

فَيَا مَنْ مَدَّ فِي كَسْبِ الْخَطَايَا ***** خُطَاهُ أَمَا أَنَى لَكَ أَنْ تَتُوبَا

Wahai yang terus melangkahkan kakinya untuk melakukan dosa…

Kapankah engkau akan bertaubat??

أَلَا فَاقْلِعْ وَتُبْ وَاجْهَدْ فَإِنَّا ***** رَأَيْنَا كُلَّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبَا

Hendaknya engkau berhenti dari dosa-dosamu dan bertaubatlah…

Bersungguh-sungguhlah, kita melihat setiap yang bersungguh-sungguh mendapat kebenaran

وَكُنْ لِلصَّالِحِينَ أَخًا وَخِلًّا ***** وَكُنْ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا غَرِيبَا

Bersaudaralah dan bersahabatlah dengan orang-orang sholeh

Jadilah engkau di dunia ini seperti orang yang asing

وَكُنْ عَنْ كُلِّ فَاحِشَةٍ جَبَانًا ***** وَكُنْ فِي الْخَيْرِ مِقْدَامًا نَجِيبَا

Jadilah engkau pengecut lari dari segala perbuatan keji

Dan jadilah engkau orang yang bersegera maju dan hebat dalam kebajikan

وَلَاحِظْ زِينَةَ الدُّنْيَا بِبُغْضٍ ***** تَكُنْ عَبْدًا إلَى الْمَوْلَى حَبِيبَا

Pandangilah perhiasan dunia dengan kebencian

Niscaya engkau akan menjadi hamba Allah yang dicintai

فَمَنْ يَخْبُرْ زَخَارِفَهَا يَجِدْهَا ***** مُخَالِبَةً لِطَالِبِهَا خَلُوبَا

Barang siapa yang mencoba perhiasan dunia…

Maka ia akan mendapatinya sangat memikat akan tetapi sangat menipu

وَغُضَّ عَنْ الْمَحَارِمِ مِنْك طَرْفًا ***** طَمُوحًا يَفْتِنُ الرَّجُلَ الْأَرِيبَا

Hendaknya engkau menundukkan lirikanmu dari perkara yang haram

Godaan yang memfitnah lelaki yang cerdas

فَخَائِنَةُ الْعُيُونِ كَأُسْدِ غَابٍ ***** إذَا مَا أُهْمِلَتْ وَثَبَتْ وُثُوبَا

Sungguh lirikan mata yang berkhianat ibarat singa hutan

Kapan saja engkau lalai maka ia akan benar-benar menerkam

وَمَنْ يَغْضُضْ فُضُولَ الطَّرْفِ عَنْهَا ***** يَجِدْ فِي قَلْبِهِ رَوْحًا وَطِيبَا

Siapa yang menundukkan pandangannya darinya

Maka ia akan mendapatkan keharuman dalam hatinya

وَلَا تُطْلِقْ لِسَانَكَ فِي كَلَامٍ ***** يَجُرُّ عَلَيْكَ أَحْقَادًا وَحُوبَا

Janganlah engkau melepas lisanmu untuk mengucapkan…

perkataan yang menjerumuskan engkau pada kedengkian dan dosa

وَلَا يَبْرَحْ لِسَانُكَ كُلَّ وَقْتٍ ***** بِذِكْرِ اللَّهِ رَيَّانًا رَطِيبَا

Hendaknya lisanmu senantiasa basah untuk berzikir kepada Allah

وَصَلِّ إذَا الدُّجَى أَرْخَى سُدُولًا ***** وَلَا تَضْجَرْ بِهِ وَتَكُنْ هَيُوبَا

Sholatlah tatkala di larut malam

Dan janganlah engkau bosan akan tetapi semangatlah

تَجِدْ أُنْسًا إذَا أُوعِيتَ قَبْرًا ***** وَفَارَقْتَ الْمُعَاشِرَ وَالنَّسِيبَا

Engkau akan mendapati sholat malammu sebagai penghiburmu

Tatkala engkau dimasukkan kuburan dan berpisah dengan kerabat dan keluarga

وَصُمْ مَا اسْتَطَعْت تَجِدْهُ رِيًّا ***** إذَا مَا قُمْتَ ظَمْآنًا سَغِيبَا

Berpuasalah semampumu, engkau akan mendapatinya sebagai penghilang dahagamu tatkala engkau dibangkitkan dalam keadaan kehausan dan kelaparan

وَكُنْ مُتَصَدِّقًا سِرًّا وَجَهْرًا ***** وَلَا تَبْخَلْ وَكُنْ سَمْحًا وَهُوبَا

Bersedekahlah engkau baik nampak maupun diam-diam

Janganlah pelit, akan tetapi dermawanlah dan seringlah memberi

تَجِدْ مَا قَدَّمَتْهُ يَدَاكَ ظِلًّا ***** إذَا مَا اشْتَدَّ بِالنَّاسِ الْكُرُوبَا

Niscaya engkau akan mendapat kebajikan yang kau lakukan…

Sebagai naungan bagimu di hari seluruh manusia dalam keadaan genting penuh kesulitan

وَكُنْ حَسَنَ السَّجَايَا ذَا حَيَاءٍ ***** طَلِيقَ الْوَجْهِ لَا شَكِسًا غَضُوبَا

Jadilah engkau orang yang berperangai baik lagi pemalu…

Penebar senyum dan bukan pemarah lagi berperangai buruk

lucunya negeri ini

21 February 2013 16:37:25 Dibaca : 226

bah!
kopi yang baru saja hendak saya sruput dari cangkir yang sudah melekat di bibir saya yang rada memble terhenti sejenak; hanya karena mendengar kalimat dan atau pertanyaan spontan yang terlontar dari mulut seorang anak laki-laki berusia dikisaran lima tahun pada sebuah warteg di kawasan gorontalo utara.
pertanyaan anak kecil yang tiba-tiba saja menyela diskusi ringan saya dengan salah seorang sahabat dengan serta merta menimbulkan rasa penasaran saya dan sahabat saya. dan dengan rasa ingin tahu, iseng-iseng saya kembali bertanya kepada anak kecil itu.

“nak, selain pak presiden siapa lagi yang nakal?”
dengan lidah cedalnya anak kecil itu berceloteh: “yang nakal juga adalah pengawal-pengawalnya plesiden dan menteli-mentelinya”
dengan rasa yang semakin penasaran. anak kecil itu kembali saya cecar dengan pertanyaan yang menggoda. tujuannya, agar dia lebih bebas berceloteh.
“oh ya? terus siapa lagi yang nakal nak?”
sambil memainkan pesawat mainannya anak kecil itu kembali berceloteh dengan semangatnya; “lllluuungggg llluuuungggg…..itu juga om anggota-anggota de pe el, julu bicalanya plesiden….telus hakim-hakim yang suka main hakim-hakiman dan jaksa yang suka main jaksa-jaksaan”
keisengan saya semakin menjadi-jadi. kembali saya cecar anak kecil itu dengan pertanyaan iseng saya; “lho, khoq jaksa dan hakim diikutkan juga? khan mereka baik-baik, hayooooo!!!”
sekilas anak kecil itu menyipitkan mata kanak-kanaknya. sambil bertolak pinggang anak kecil itu sembari mencibirkan bibirnya kembali berceloteh; “bwehhhhh, itu khan kata om. tapi kata tian tidak weeekkk!” (nama anak kecil itu tian)
“lhoooo, iya khan?”
“yeeee, om salah besalllllll…..hakim dan jaksa itu benal-benal nakal. kalena menghukum maling jemulan lima tahun dan tukang kolupsi di hukum cuma satu tahun….weekkkk!”
bah!
saya semakin geli dan gelisah. dalam hati saya merenung sejenak. dan dengan rasa penasaran yang semakin iseng. anak kecil itu kembali saya usik dengan pertanyaan yang ingin menggoda intuisi kekanak-kanakannya.
“ok, sekarang om tanya ya?! tapi tian harus jawab dengan jujur”
“ya, tian jamin selatus pelsen om”
ck ck ck, saya membathin. anak ini luar biasa juga rupanya. di balik rasa keingin tahuan saya, dan dengan semangat seorang fakir yang hina dina. anak itu saya cecar lagi dengan pertanyaan.
“pak polisi dan tentara nakal juga gak?”
tiba-tiba saja anak kecil itu memperlihatlkan mimik serius pada wajahnya: “yeeeee, kalo polisi dan tentala jalang ada yang nakal om!”
nyaris saja saya tersedak dengan singkong goreng yang baru separuhnya masuk ke mulut saya ketika mendengar jawaban anak kecil itu. langsung saja saya cecar lagi dengan pertanyaan lain yang saya maksudkan tetap ingin menggoda intuisi kekanak-kanakannya
“alasannya apa hayooooo!”
sambil berteriak dengan kerasnya: “kalena pak polisi dan tentala tidak pelnah pake mobil hitaaaam!!!”
“huahahahahahha” maka, pecahlah tawa saya dan seisi warteg itu yang kebetulan nguping atau sekadar mendengar sekilas obrolan saya dengan anak kecil itu.
“weekkkkk, khoq om teltawa…..tian selius ommmmm” anak kecil itu langsung protes keras terhadap tawa kami
hm, saya tidak ingin kehilangan momen. sayapun langsung menetralisir suasana hati anak kecil itu: “pssstttt, om juga serius lho?!……sekarang om mau tanya serius sama tian. apa alasannya tian bilang pak presiden nakal?hayooooo jangan salah jawab lho?!”
anak kecil itu spontan menjawab: “kalena mobil tuan plesiden walnanya hitam”
(hladhalaaahhh!)
“lah, terus pengawal presiden, menteri, anggota de pe er, juru bicaranya tuan presiden, hakim dan jaksanya tuan presiden nakal juga ya?! tian serius khan?”
“ya, pastilah ommmmm, meleka itu adalah biang kenakalan….” pungkas anak kecil itu dengan semangat kekanak-kanakannya
“alasannya?”
“ya, kalena mobilnya juga walna hitam om…..hitam khan altinya nakal dan jahaaaaat!”
“lah, tian taunya darimana kalau mobil hitam itu miliknya orang nakal dan jahat?” saya kembali bertanya dengan sedikit geli.
sembari mengejap-ngejapkan matanya dan dengan mimik lucu anak kecil itu menjawab pertanyaan saya: “yeeee,…..om kuno ya? om tidak pelnah nonton tipi ya? om pasti tidak punya tele[pisi di lumah, soli dipelsoli ommmm….tian tau dali telepisiiiiii” anak kecil itupun langsung lari kepelukan bapaknya sang pemilik warteg.
“eits, jangan lari dulu dong. om mau tanya lagi. cita-citanya tian kalau sudah besar mau jadi apa?” dalam hati saya berharap mendapatkan jawaban sebagaimana jawaban anak-anak lainnya. hal yang membuat saya kembali merasa sangat surprise ketika anak kecil itu menjawab dari balik badan bapaknya.
“tian kalau sudah besal nantiiiii……ingin menjadi lebih nakal lagi dali pak plesiden!”
bah! hah! lah! dah! tah! yah!
(”mari ngopi dua pertiga babak, srupuuuutttt!)
(catatan kesaksian);
dialog-dialog yang saya tuliskan adalah yang sebenar-benarnya terjadi di sebuah warteg kawasan jakarta timur kemarin sore. diketerbatasan penilaian saya sebagai seorang fakir, ada hal yang saya pahami bahwasanya anak sekecil itu sudah bisa membaca situasi dan perilaku pemimpin bangsa ini dengan cara dan sudut pandang ala anak-anak.
sementara, arus deras televisinisasi diberbagai lini kehidupan bangsa sedikit banyaknya telah ikut mempengaruhi alam berfikir manusia indonesia tanpa pandang bulu. pun, pada berbagai media visual tersebut nyaris tidak ada saringan sama sekali. baik itu dalam penyajian informasi maupun hanya sekadar acara hiburan belaka
belajar dari ‘kasus’ tian. adalah hal yang sangat tidak terpungkiri. berbagai informasi yang didapatkan oleh tian baik itu dari berbagai media visual maupun dari cerita-cerita yang di dengarnya dari orang-orang disekitarnya, adalah contoh yang paling nyata. walaupun akhirnya penjabaran anak kecil seusia tian masih sangat terbatas terhadap hal-hal yang berhubungan dengan pamer kemewahan oleh berbagai elemen bangsa.
pada siatuasi bangsa yang semakin berada ditepian jurang jaman ini. apakah masih dianggap tidak penting lagi saringan penyajian berita dan hiburan di televisi indonesia? lantas, jika ada dampak buruk (side effect bin multi effect) terhadap anak-anak seusia tian. apakah masih dianggap bahwa samgat tidak penting lagi ada sebuah saringan yang “rapat dan ketat”‘ dari berbagai media televisi?
jika dianggap tidak perlu dan tidak genting. maka, kita mungkin tidak perlu merasa aneh, heran dan takjub ketika dalam kenyataannya bahwa anak-anak kita di rumah ternyata lebih padat menerima informasi yang mereka terima dibandingkan dengan orang tuanya.
kita semua sangat tahu bahwa dikekinian berbagai berita, gosip murahan selebriti yang selebor, anggota de pe er yang semakin tak punya malu, menteri-menteri yang tak tahu tugas/kewajiban dan tanggungjawabnya, aparat penegak hukum yang tidak mampu menegakkan hukum dengan mata yang dibutakan serta masih bebas berkeliarannya pesakitan diberbagai mal-mal baik di dalam maupun di luar negeri. telah menjadi santapan rohani anak-anak kita di rumah. sementara para orang tua semakin sibuk dengan dunianya. bahkan jika boleh saya katakan bahwa dikekinian para orang tua telah terjangkit sebuah penyakit yang bernama “syndrome pseudo-autism”
kenapa demikian?
ya karena mereka. anak-anak kita yang berada di rumah lebih memiliki banyak waktu luang untuk menikmati sajian berbagai media televisi yang terasa semakin tersesat.
dan, akhirnya sayapun harus mengaminkan ketika dalam sebuah percakapan di warteg itu seorang ibu paruh baya berkata-kata dengan cemas; “ampun deh, saiki jamane wis wolak walik. anak sekecil itu ternyata lebih tahu daripada kita-kita yang sudah bau tanah ini alias usianya telah menjelang maghrib”
atau, apakah kita mesti merasa malu juga ketika sebuah kalimat yang ‘memerihkan’ dan ‘memerahkan’ telinga diperdengarkan ke telinga dewasa kita hanya dengan satu baris kalimat yang mungkin saja njyinyir.
“bah, anak kecil aja tahu!”
bah!
bahhh!
bahhhhhhh!
“sesungguhnya kita telah menjadi penyaksi buta, bisu dan tuli pada perjalanan bangsa yang semakin berada ditepian jurang sebuah jaman”

bid'ah

21 February 2013 16:29:55 Dibaca : 229

Pertanyaan:

Kenapa ulama2 wahabi dan muhammadiyah. menyatakan Bid'ah dan tidak memperbolehkan, Tahlilan dan Yasinan Serta Maulid Nabi. syukron.

Jawaban:

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد و آله وصحبه أجمعين, أما بعد:

Sebelum jawaban, saya ingin mengingatkan bahwa asal istilah "wahabi" hanya dihembuskan oleh orang-orang kafir yang tidak ingin umat Islam beragama sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun mengenai jawaban atas pertanyaan adalah:

Tahlilan, yasinan dan Maulid Nabi termasuk bid’ah yang berakibat kaum muslim tidak boleh melaksanakannya karena tidak ada satu dalilpun yang SHAHIH (BENAR) DAN SHARIH (JELAS) menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam melakukan, menganjurkan atau memerintahkannya.

Dan apabila sebuah perbuatan yang berkaitan dengan agama, tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pernah dianjurkan atau disetujui beliau shallallahu ‘alaihi wasallam padahal:

- beliau mampu mengerjakannya,

- dan tidak ada halangan beliau mengerjakannya,

Maka jika dikerjakannya di zaman sekarang menjadi perbuatan yang dibuat-buat dalam perkara agama atau disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan nama Bid’ah.

Dan perlu diingat, mungkin setelah membaca jawaban ini mungkin ada terbetik;

“Masa mungkin seluruh yang mengerjakan hal-hal di atas salah dan keliru selama ini, padahalkan itu dari kakek, buyut saya, bahkan sebelum ada saya juga sudah ada dan mereka kan para ulama juga.”

Maka bisa dijawab:

- Kebenaran itu berasal dari Al Quran dan Hadits, bukan berasal dari pendapat manusia biasa yang bukan Nabi atu Rasul.

- Kebenaran tidak dilihat dari banyak atau tidaknya pengikut atau pelaku akan tetapi sesuai dengan Al Quran dan Hadits tidak.

“Masa sih tidak ada dalilnya, yang menganjurkan perbuatan-perbuatan itu kan para ulama juga.”

Maka bisa dijawab:

- Hal-hal yang disebutkan seperti tahlilan, yasinan, maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada dalilnya kalaupun ada tidak lebih dari;

1. Dalilnya palsu yang seorang muslim tidak boleh mengambil keyakinan dan beribadah dengan bersandarkannya.

2. Dalilnya lemah yang seorang muslim juga tidak boleh mengambil keyakinan dan beribadah dengan menurut pendapat yang lebih kuat.

3. Dalilnya shahih tetapi salah dalam pendalilannya atau dalam kata lain terlalu dipaksakan sebagai dalil.

"Masa sih tidak boleh, di dalamnya kan kita beribadah; baca Al Quran, membaca shalawat atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, berdzikir dan ibadah lainnya seperti sedekah, silaturrahim dan lainnya.”

Maka bisa dijawab:

Apa yang disebutkan tadi memang ibadah yang disyari’atkan dalam Islam tanpa ada keraguan di dalamnya, tetapi perlu diingat ibadah tersebut harus sesuai dengan contoh dari Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam baik dalam perihal; tempatnya, waktunya, sebabnya, jumlah bilangannya, tata caranya, jenisnya.

Saya beri contoh: mengkhususkan membaca yasin setiap malam jumat, pengkhususan malam jumat harus ada contoh dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berdsarkan dalil yang shahih dan jelas dan ternyata tidak ada dalil yang kuat dan jelas. Bukan membaca yasin yang bermaslah tetapi pengkhususannya pada malam Jumat yang bidah.

Contoh lain; tahlilan di dalamnya membaca لا إله إلا الله dalam jumlah bilangan tertentu, pada waktu tertentu yaitu 1,2, 3, 25, 40, 70, 100, 1000, setiap tahun, dengan gerakan tertentu, dan dengan jumlah bilangan tertentu, hal-hal yang tertentu-tertentu ini harus contoh dari Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam dengan berdsarkan dalil yang shahih dan jelas dan ternyata tidak ada dalil yang kuat dan jelas.

Bukan membaca لا إله إلا الله yang salah, bahkan ini adalah dzikir yang paling utama tetapi pengkhususan hari, gerakan, jumlah bilangannya yang bidah.

Contoh lain; maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mungkin di dalamnya dibacakan shalawat pada hari kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, berkumpul-kumpul karena sebab hari kelahiran beliau, berdiri ketika mahalul qiyam dalam pembacaan shalawat ketika maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ini semua harus ada contoh dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan berdsarkan dalil yang shahih dan jelas dan ternyata tidak ada dalil yang kuat dan jelas.

Bukan membaca shalawat yang keliru karen dia adalah ibadah yang disyariatkan tetapi pengkhususan ketika hari kelahiran nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, jumlah bilangn tertentu, dengan tata cara tertentu yang tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Terakhir…

Jadilah umat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat mencintainya, dan sungguh.... kita ini sangat dirindukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَدِدْتُ أَنِّى لَقِيتُ إِخْوَانِى ». قَالَ فَقَالَ أَصْحَابُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَوَلَيْسَ نَحْنُ إِخْوَانَكَ قَالَ «Ø£ÙŽÙ†Ù’تُمْ أَصْحَابِى وَلَكِنْ إِخْوَانِى الَّذِينَ آمَنُوا بِى وَلَمْ يَرَوْنِى».

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Sungguh aku sangat menginginkan bertemu dengan kawan-kawanku,” para shahabat nabishallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Bukankah kami kawan-kawanmu?” Beliau menjawab: “Kalian adalah para shahabatku akan tetapi kawan-kawanku adalah orang-orang yang telah beriman kepadaku dan belum pernah melihatku.”

Sungguh tanda keimanan kepada beliau adalah dengan beribadah hanya sesuai petunjuknya

Sungguh tanda keimanan kepada beliau adalah tidak sok lebih tahu terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengerjakan amalan yang belum pernah beliau kerjakan.

Sungguh tanda keimanan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang lebih mendahulukan ajaran, sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam daripada siapapun dari manusia dan jin.

Mari perhatikan perkataan seprang yang sangat menunjukkan bahwa yang mengatakannya sangat mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi sayangnya beliau sering dihina bahkan sampai dikafirkan…

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

فَالْحَذَرَ الْحَذَرَ أَيُّهَا الرَّجُلُ مِنْ أَنْ تَكْرَهَ شَيْئًا مِمَّا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ تَرُدَّهُ لِأَجْلِ هَوَاك أَوْ انْتِصَارًا لِمَذْهَبِك أَوْ لِشَيْخِك أَوْ لِأَجْلِ اشْتِغَالِك بِالشَّهَوَاتِ أَوْ بِالدُّنْيَا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يُوجِبْ عَلَى أَحَدٍ طَاعَةَ أَحَدٍ إلَّا طَاعَةَ رَسُولِهِ وَالْأَخْذَ بِمَا جَاءَ بِهِ بِحَيْثُ لَوْ خَالَفَ الْعَبْدُ جَمِيعَ الْخَلْقِ وَاتَّبَعَ الرَّسُولَ مَا سَأَلَهُ اللَّهُ عَنْ مُخَالَفَةِ أَحَدٍ فَإِنَّ مَنْ يُطِيعُ أَوْ يُطَاعُ إنَّمَا يُطَاعُ تَبَعًا لِلرَّسُولِ وَإِلَّا لَوْ أَمَرَ بِخِلَافِ مَا أَمَرَ بِهِ الرَّسُولُ مَا أُطِيعَ . فَاعْلَمْ ذَلِكَ وَاسْمَعْ وَأَطِعْ وَاتَّبِعْ وَلَا تَبْتَدِعْ . تَكُنْ أَبْتَرَ مَرْدُودًا عَلَيْك عَمَلُك بَلْ لَا خَيْرَ فِي عَمَلٍ أَبْتَرَ مِنْ الِاتِّبَاعِ وَلَا خَيْرَ فِي عَامِلِهِ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ . مجموع الفتاوى (16/ 528).

"Berhati-hatilah… wahai manusia … dari:

membenci apapun yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.atau menolaknya disebabkan oleh hawa nafsumu.atau menolaknya karena pembelaan terhadap madzhab dan gurumu.atau karena kesibukanmu dengan syahwat dunia.

karena:

Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan atas seseorang untuk ta'at kepada seorang makhluk, kecuali keta'atan kepada Rasul-Nya dan mengambil apapun yang dibawa olehnya, yang mana jikalau seorang hamba menyelisihi seluruh makhluk tetapi ia mengikuti Rasulullah, maka Allah tidak akan menanyakan kepadanya tentang ketidak ta'atannya kepada seorang manusiapun.karena sesungguhnya barangsiapa yang ta'at atau dita'ati, sesungguhnya hanya dita'ati karena pengikutannya kepada Rasulullah, dan jikalau ia memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah ia tidak akan dita'ati.

Maka ketauhilah akan hal itu, dengarkan, ta'ati dan ikutilah serta janganlah membuat sesuatu yang baru, maka amalanmu akan tertolak, kembali kepadamu. Dan tiada kebaikan apapun di dalam sebuah amalan yang tidak mengikuti sunnah dan tidak ada kebaikan apapun bagi pelakunya. Wallahu 'alam. (lihat Majmu' Fatawa, 2/465).

cinta sejati

21 February 2013 16:17:55 Dibaca : 143

Makna ‘Cinta Sejati’ terus dicari dan digali. Manusia dari zaman ke zaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya. Sebenarnya? apa itu ‘Cinta Sejati’ dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos ‘Cinta Sejati‘, dan dibuai oleh impian ‘Cinta Suci’.
Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta “Valentine’s Day”.

Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menelusuri sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan hukum mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, anda telah banyak mendengar dan membaca tentang itu semua. Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami: apa itu cinta? Adakah cinta sejati dan cinta suci? Dan cinta model apa yang selama ini menghiasi hati anda?

Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.
Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber: www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).

Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini anda dambakan dari pasangan anda? Dan bagaimana nasib cinta anda kepada pasangan anda? Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari.

Anda ingin sengsara karena tidak lagi merasakan indahnya cinta pasangan anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya? Ataukah anda ingin tetap merasakan betapa indahnya cinta pasangan anda dan juga betapa bahagianya mencintai pasangan anda?

Saudaraku, bila anda mencintai pasangan anda karena kecantikan atau ketampanannya, maka saat ini saya yakin anggapan bahwa ia adalah orang tercantik dan tertampan, telah luntur.

Bila dahulu rasa cinta anda kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka saya yakin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata anda.

Bila rasa cinta anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.

Saudaraku! bila anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?

Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:

Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.

Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.

Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.

Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”

Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:

يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.
“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 &Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)

Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakarradhiallahu ‘anhu? (1)

Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik: Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.

Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?

Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ. رواه الترمذي وغيره
“Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)

Orang-orang Arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata:

كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ
Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).

Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan: Cinta itu buta. Dalam pepatah arab dinyatakan:

حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ
Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.

Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ. البقرة 102“
Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” (Qs. Al Baqarah: 102)
Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?
Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.

Mungkin anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?

Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه
“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dan pada hadits lain beliau bersabda:

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.
“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.”(Riwayat At Tirmizy dan lainnya)

Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.

الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67
“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)

Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه
“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.”(Muttafaqun ‘alaih)

Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.

Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.

Saudaraku! setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: Benarkah cinta anda suci? Benarkah cinta anda adalah cinta sejati? Buktikan saudaraku…
Wallahu a’alam bisshowab, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.

***
Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Dipublikasi ulang dari www.pengusahamuslim.com

Footnote:
1) Saudaraku, setelah membaca kisah cinta sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar ini, saya harap anda tidak berkomentar atau berkata-kata buruk tentang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar. Karena dia adalah salah seorang sahabat nabi, sehingga memiliki kehormatan yang harus anda jaga. Adapun kesalahan dan kekhilafan yang terjadi, maka itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa, bisa salah dan bisa khilaf. Amal kebajikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu banyak sehingga akan menutupi kekhilafannya. Jangan sampai anda merasa bahwa diri anda lebih baik dari seseorang apalagi sampai menyebabkan anda mencemoohnya karena kekhilafan yang ia lakukan. Disebutkan pada salah satu atsar (ucapan seorang ulama’ terdahulu):

مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ مَنْ عَابَهُ بِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ
“Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa yang ia lakukan, tidaklah ia mati hingga terjerumus ke dalam dosa yang sama.”

 

renungkanlah

21 February 2013 16:14:07 Dibaca : 133

Coretan Suamiku___

KASIHAN ISTRIKU…
Karena dialah yang membersihkan rumahku apalagi aku orangnya tidak suka rumah kotor dan tidak rapi.
Karena dialah yang memasakkan buatku minimal 3 kali sehari, apalagi lidahku rewel, ndak boleh salah sedikit.
Karena dialah yang mengurusku apalagi aku orangnya pemalas, semuanya harus sudah disiapkan.
Karena dialah yang mencuci bajuku apalagi aku orangnya sehari bisa dua atau tiga kali ganti baju.
Karena dialah yang mengurus anak-anakku apalagi aku sangat sayang terhadap anak-anakku.
Karena dialah mengayomiku apalagi ketika aku galau karena pekerjaan kantor yang menyebalkan.
Karena dialah yang mengurusku ketika aku sakit, apalagi aku orangnya manja banget ketika sakit…
Karena dialah yang melayaniku walaupun dalam dia dalam keadaan sakit , sibuk, capek apalagi aku orangnya pemarah jika tidak dilayani.
Karena dialah…karena dialah…karena dialah…
Dan disamping itu dia harus taat kepadaku, tidak boleh menyakitiku, harus berterima kasih kepadaku sebagaimana diajarkan dalam Islam.
Makanya pantesan Allah Ta’ala berfirman:
{ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ } [النساء: 19]
Artinya: “Gaulilah istri-istrimu dengan baik”. QS. An Nisa’: 19.
{ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ} [البقرة: 228]
Artinya: “Dan mereka (para istri) memiliki seperti apa yang menjadi kewajiban mereka dengan baik.” QS.Al Baqarah: 228.
Begitu juga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
Artinya: “Aku wasiatkan kalian untuk berlaku baik kepada para perempuan.” HR. Muslim.
Wahai para suami, mungkin Anda sama dengan saya?!?
Semoga bermanfaat untuk suami yang takut kepada Allah dan mencintai istrinya.