TRANSFORMASI PENDIDIKAN DALAM KETERAMPILAN PEMBELAJARAN ABAD 21

08 April 2021 20:03:18 Dibaca : 16

 

Nama :  Riskawati Djafar

NIM    :  151420043

Kelas  :  2B PGSD

Mata Kuliah :  Penulisan Karya Ilmiah

Dosen Pengampuh :  Muhammad Sarlin,S.Pd,.M.Pd

 

TRANSFORMASI PENDIDIKAN DALAM KETERAMPILAN PEMBELAJARAN ABAD 21 

1.1 Latar Belakang

Era globalisasi merupakan perubahan global yang melanda seluruh dunia. Globalisasi memberikan dampak yang besar terhadap berbagai aspek kehidupan manusia,khususnya dalam bidang pendidikan. Adanya kemajuan teknologi yang pesat, menuntut sumber daya manusia untuk dapat melakukan perubahan dalam keterampilan,yaitu keterampilan  pembelajaran abad 21. Keterampilan pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang menuntut seseorang agar dapat menguasai keterampilan sehingga dapat bersaing di era globalisasi saat ini. Dunia kerja menuntut perubahan kompetensi yang mengharapkan kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia. Pendidikan abad 21,diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga yang dikelola secara professional sehingga membuahkan hasil unggulan. Tuntutan-tuntutan tersebut mengharapkan berbagai terobosan dalam berpikir, penyusunan konsep, dan tindakan-tindakan. Dengan kata lain diperlukan suatu paradigma baru dalam menghadapi tantangan-tantangan yang baru, demikian kata filsuf Khun.

Menurut filsuf Khun apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigm lama, maka segala usaha akan menemui kegagalan. Tantangan yang baru menuntut proses terobosan pemikiran (breakthrough thinking process) apabila yang diinginkan adalah output yang bermutu yang dapat bersaing dengan hasil karya dalam dunia yang serba terbuka (Tilaar, 1998:245).

Saat ini,Pendidikan di indonesia masih di nilai sangat rendah,karena nyatanya indonesia belum cukup kuat mencetak generasi bangsa yang dapat berdaya saing. Kita ketahui bahwa  pendidikan kita adalah warisan dari sistem pendidikan lama yang isinya menghafal fakta tanpa makna,sehingga sistem pendidikan seperti itu sulit diharapkan untuk menciptakan potensi yang ada dalam diri manusia,belum lagi banyaknya pengangguran.

Studi yang dilakukan Trilling dan Fadel (2009) menunjukkan bahwa tamatan sekolah menengah, diploma dan pendidikan tinggi masih kurang kompeten dalam hal: (1) komunikasi oral maupun tertulis, (2) berpikir kritis dan mengatasi masalah, (3) etika bekerja dan profesionalisme, (4) bekerja secara tim dan berkolaborasi, (5) bekerja di dalam kelompok yang berbeda, (6) menggunakan teknologi, dan (7) manajemen projek dan kepemimpinan. ASEAN Business Outlook Survey 2014 melaporkan hasil kajiannya dan menyatakan bahwa Indonesia dianggap sebagai negara tujuan investasi asing dan bahkan menjadi salah satu tujuan utama di wilayah ASEAN. Survei tersebut juga mengindikasikan fakta yang kurang baik, bahwa Indonesia memiliki tenaga kerja dengan keahlian rendah dan murah. Jika dibandingkan dengan lulusan negara lain yang lebih ahli dan terlatih, misalnya Filipina sebagai peringkat tertinggi, bangsa Indonesia tidak akan mampu bersaing dan akan kehilangan kesempatan kerja yang baik, jika tidak didukung suatu program yang mencetak lulusan berketerampilan tinggi. Pekerjaan-pekerjaan baru berbasis produksi, analisis, distribusi dan konsumsi informasi bermunculan. Seiring dengan perubahan pola hidup manusia akibat hadirnya teknologi, tempat kerja menjadi lebih berbasis komputer dan bertransformasi. Dibandingkan dengan pada masa 20 atau 30 tahun yang lalu, para lulusan Indonesia kini membutuhkan keterampilan lebih untuk berhasil dalam menghadapi persaingan ketat abad ke-21. Hal ini merupakan tantangan yang harus disikapi dengan sebaik-baiknya.Permasalahan dalam bidang pendidikan tidak pernah berhenti untuk diperbincangkan.Maka dibutuhkan sebuah perubahan dalam keterampilan pembelajaran,agar dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Rotherham & Willingham (2009) mencatat bahwa kesuksesan seorang siswa tergantung pada kecakapan abad 21, sehingga siswa harus belajar untuk memilikinya. Partnership for 21st Century Skills mengidentifikasi kecakapan abad 21 meliputi : berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi dan kolaborasi. Berpikir kritis berarti siswa mampu mensikapi ilmu dan pengetahuan dengan kritis, mampu memanfaatkan untuk kemanusiaan. Keterampilan memecahkan masalah berarti mampu mengatasi permasalahan yang dihadapinya dalam proses kegiatan belajar sebagai wahana berlatih menghadapi permasalahan yang lebih besar dalam kehidupannya. Keterampilan komunikasi merujuk pada kemampuan mengidentifikasi, mengakses, memanfaatkan dan memgoptimalkan perangkat dan teknik komunikasi untuk menerima dan menyampaikan informasi kepada pihak lain. Ketrampilan kolaborasi berarti mampu menjalin kerjasama dengan pihak lain untuk meningkatkan sinergi. Sedangkan menurut National Education Association untuk mencapai sukses dan mampu bersaing di masyarakat global, siswa harus ahli dan memiliki kecakapan sebagai komunikator, kreator, pemikir kritis, dan kolaborator.

Dalam  mencapai keterampilan abad ke-21 tersebut dilakukan dengan memperbarui kualitas pembelajaran, membantu siswa mengembangkan partisipasi, menyesuaikan personalisasi belajar, menekankan pada pembelajaran berbasis proyek/masalah, mendorong kerjasama dan komunikasi, meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa, membudayakan kreativitas dan inovasi dalam belajar, menggunakan sarana belajar yang tepat, mendesain aktivitas belajar yang relevan dengan dunia nyata, memberdayakan metakognisi, dan mengembangkan pembelajaran student-centered.

Selain itu,peran seorang guru juga sangat dibutuhkan dalam keterampilan pembelajaran abad 21 guna untuk meningkatkan skill para generasi muda agar mampu bersaing dalam kancah internasional.

Pembelajaran abad ke-21 memiliki Tujuan utama yakni membangun kemampuan belajar peserta didik dan mendukung perkembangan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat, aktif, mandiri. Peran penting seorang guru abad ke-21 sebagai role model untuk kepercayaan, keterbukaan, ketekunan dan komitmen bagi siswanya dalam menghadapi ketidakpastian di abad ke-21. Guru perlu memperkuat keingintahuan intelektual siswa, keterampilan mengidentifikasi dan memecahkan masalah, dan kemampuan mereka untuk membangun pengetahuan baru dengan orang lain. Guru yang ahli dalam mencari tahu bersama-sama dengan siswa mereka, tahu bagaimana melakukan sesuatu, tahu bagaimana cara untuk mengetahui sesuatu atau bagaimana menggunakan sesuatu untuk melakukan sesuatu yang baru secara baik dan benar. Guru diharapkan mampu dan dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang bertumpu dan melaksanakan empat pilar belajar yang dianjurkan oleh Komisi Internasional UNESCO untuk Pendidikan, yaitu: 1) Learning to Know, 2) Learning to Do, 3) Learning to Be, and 4) Learning to Live Together. (Karim, 2017)

Standar baru diperlukan agar siswa kelak memiliki kompetensi yang diperlukan pada abad ke-21. Sekolah ditantang menemukan cara dalam rangka memungkinkan siswa sukses dalam pekerjaan dan kehidupan melalui penguasaan keterampilan berpikir kritis, kreatif, pemecahan masalah yang fleksibel, berkolaborasi dan berinovasi.

Maka dari itu suatu bangsa dikatakan maju ketika pendidikannya tertata dengan baik dan melahirkan bibit-bibit yang cerdas agar bisa mengembangangkan bangsa dan negaranya sendiri. Apabila suatu negara memiliki sistem pendidikan yang masih cacat atau masih memiliki banyak permasalahan, maka harus segera diselesaikan permasalahannya agar tidak berkepanjangan dan tidak menimbulkan kekacauan akibat dari masalah pendidikan yang tak kunjung selesai.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada pembahasan makalah ini yaitu :

1. Apa itu keterampilan pembelajaran abad 21?

2. Apa keterampilan pembelajaran yang dibutuhkan pada abad 21?

3. Bagaimana peran guru dalam menghadapi transformasi pendidikan abad 21?

1.3 Tujuan

Tujuan makalah berdasarkan rumusan masalah diatas adalah :

1. Untuk mengetahui keterampilan pembelajaran abad 21

2. Untuk mengetahui keterampilan pembelajaran yang dibutuhkan pada abad 21

3. Untuk mengetahui peran guru dalam menghadapi tranformasi pendidikan abad 21

 

Darling, Linda., H., 2006. “Constructing 21st Century Teacher Education”. Journal of teacher education, Vol. 57. 300-314

https://kacamataindra-wordpress.com/2016/09/05/empat-pilar-belajar-menurut-unesco.

Kemendikbud. No.0490/U/1992. Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kompas. 2012. Sistem Pendidikan Perlu di Ubah, (Online), (http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/19/17451519/Sistem.Pendidikan.Perlu.Diubah), diakses 18 April 2013

Rotherham, A. J., & Willingham, D. (2009). 21st Century Skills: the challenges ahead. Educational Leadership Volume 67 Number 1 , 16 – 21.

Trilling, B. and Fadel, C. 2009. 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. San Francisco, Calif., Jossey-Bass/John Wiley & Sons, Inc.

 

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong