Nama :  Riskawati Djafar

NIM    :  151420043

Kelas  :  2B PGSD

Mata Kuliah :  Penulisan Karya Ilmiah

Dosen Pengampuh :  Muhammad Sarlin,S.Pd,.M.Pd

 

TRANSFORMASI PENDIDIKAN DALAM KETERAMPILAN PEMBELAJARAN ABAD 21 

1.1 Latar Belakang

Era globalisasi merupakan perubahan global yang melanda seluruh dunia. Globalisasi memberikan dampak yang besar terhadap berbagai aspek kehidupan manusia,khususnya dalam bidang pendidikan. Adanya kemajuan teknologi yang pesat, menuntut sumber daya manusia untuk dapat melakukan perubahan dalam keterampilan,yaitu keterampilan  pembelajaran abad 21. Keterampilan pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang menuntut seseorang agar dapat menguasai keterampilan sehingga dapat bersaing di era globalisasi saat ini. Dunia kerja menuntut perubahan kompetensi yang mengharapkan kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia. Pendidikan abad 21,diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, yang dihasilkan oleh lembaga-lembaga yang dikelola secara professional sehingga membuahkan hasil unggulan. Tuntutan-tuntutan tersebut mengharapkan berbagai terobosan dalam berpikir, penyusunan konsep, dan tindakan-tindakan. Dengan kata lain diperlukan suatu paradigma baru dalam menghadapi tantangan-tantangan yang baru, demikian kata filsuf Khun.

Menurut filsuf Khun apabila tantangan-tantangan baru tersebut dihadapi dengan menggunakan paradigm lama, maka segala usaha akan menemui kegagalan. Tantangan yang baru menuntut proses terobosan pemikiran (breakthrough thinking process) apabila yang diinginkan adalah output yang bermutu yang dapat bersaing dengan hasil karya dalam dunia yang serba terbuka (Tilaar, 1998:245).

Saat ini,Pendidikan di indonesia masih di nilai sangat rendah,karena nyatanya indonesia belum cukup kuat mencetak generasi bangsa yang dapat berdaya saing. Kita ketahui bahwa  pendidikan kita adalah warisan dari sistem pendidikan lama yang isinya menghafal fakta tanpa makna,sehingga sistem pendidikan seperti itu sulit diharapkan untuk menciptakan potensi yang ada dalam diri manusia,belum lagi banyaknya pengangguran.

Studi yang dilakukan Trilling dan Fadel (2009) menunjukkan bahwa tamatan sekolah menengah, diploma dan pendidikan tinggi masih kurang kompeten dalam hal: (1) komunikasi oral maupun tertulis, (2) berpikir kritis dan mengatasi masalah, (3) etika bekerja dan profesionalisme, (4) bekerja secara tim dan berkolaborasi, (5) bekerja di dalam kelompok yang berbeda, (6) menggunakan teknologi, dan (7) manajemen projek dan kepemimpinan. ASEAN Business Outlook Survey 2014 melaporkan hasil kajiannya dan menyatakan bahwa Indonesia dianggap sebagai negara tujuan investasi asing dan bahkan menjadi salah satu tujuan utama di wilayah ASEAN. Survei tersebut juga mengindikasikan fakta yang kurang baik, bahwa Indonesia memiliki tenaga kerja dengan keahlian rendah dan murah. Jika dibandingkan dengan lulusan negara lain yang lebih ahli dan terlatih, misalnya Filipina sebagai peringkat tertinggi, bangsa Indonesia tidak akan mampu bersaing dan akan kehilangan kesempatan kerja yang baik, jika tidak didukung suatu program yang mencetak lulusan berketerampilan tinggi. Pekerjaan-pekerjaan baru berbasis produksi, analisis, distribusi dan konsumsi informasi bermunculan. Seiring dengan perubahan pola hidup manusia akibat hadirnya teknologi, tempat kerja menjadi lebih berbasis komputer dan bertransformasi. Dibandingkan dengan pada masa 20 atau 30 tahun yang lalu, para lulusan Indonesia kini membutuhkan keterampilan lebih untuk berhasil dalam menghadapi persaingan ketat abad ke-21. Hal ini merupakan tantangan yang harus disikapi dengan sebaik-baiknya.Permasalahan dalam bidang pendidikan tidak pernah berhenti untuk diperbincangkan.Maka dibutuhkan sebuah perubahan dalam keterampilan pembelajaran,agar dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Rotherham & Willingham (2009) mencatat bahwa kesuksesan seorang siswa tergantung pada kecakapan abad 21, sehingga siswa harus belajar untuk memilikinya. Partnership for 21st Century Skills mengidentifikasi kecakapan abad 21 meliputi : berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi dan kolaborasi. Berpikir kritis berarti siswa mampu mensikapi ilmu dan pengetahuan dengan kritis, mampu memanfaatkan untuk kemanusiaan. Keterampilan memecahkan masalah berarti mampu mengatasi permasalahan yang dihadapinya dalam proses kegiatan belajar sebagai wahana berlatih menghadapi permasalahan yang lebih besar dalam kehidupannya. Keterampilan komunikasi merujuk pada kemampuan mengidentifikasi, mengakses, memanfaatkan dan memgoptimalkan perangkat dan teknik komunikasi untuk menerima dan menyampaikan informasi kepada pihak lain. Ketrampilan kolaborasi berarti mampu menjalin kerjasama dengan pihak lain untuk meningkatkan sinergi. Sedangkan menurut National Education Association untuk mencapai sukses dan mampu bersaing di masyarakat global, siswa harus ahli dan memiliki kecakapan sebagai komunikator, kreator, pemikir kritis, dan kolaborator.

Dalam  mencapai keterampilan abad ke-21 tersebut dilakukan dengan memperbarui kualitas pembelajaran, membantu siswa mengembangkan partisipasi, menyesuaikan personalisasi belajar, menekankan pada pembelajaran berbasis proyek/masalah, mendorong kerjasama dan komunikasi, meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa, membudayakan kreativitas dan inovasi dalam belajar, menggunakan sarana belajar yang tepat, mendesain aktivitas belajar yang relevan dengan dunia nyata, memberdayakan metakognisi, dan mengembangkan pembelajaran student-centered.

Selain itu,peran seorang guru juga sangat dibutuhkan dalam keterampilan pembelajaran abad 21 guna untuk meningkatkan skill para generasi muda agar mampu bersaing dalam kancah internasional.

Pembelajaran abad ke-21 memiliki Tujuan utama yakni membangun kemampuan belajar peserta didik dan mendukung perkembangan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat, aktif, mandiri. Peran penting seorang guru abad ke-21 sebagai role model untuk kepercayaan, keterbukaan, ketekunan dan komitmen bagi siswanya dalam menghadapi ketidakpastian di abad ke-21. Guru perlu memperkuat keingintahuan intelektual siswa, keterampilan mengidentifikasi dan memecahkan masalah, dan kemampuan mereka untuk membangun pengetahuan baru dengan orang lain. Guru yang ahli dalam mencari tahu bersama-sama dengan siswa mereka, tahu bagaimana melakukan sesuatu, tahu bagaimana cara untuk mengetahui sesuatu atau bagaimana menggunakan sesuatu untuk melakukan sesuatu yang baru secara baik dan benar. Guru diharapkan mampu dan dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang bertumpu dan melaksanakan empat pilar belajar yang dianjurkan oleh Komisi Internasional UNESCO untuk Pendidikan, yaitu: 1) Learning to Know, 2) Learning to Do, 3) Learning to Be, and 4) Learning to Live Together. (Karim, 2017)

Standar baru diperlukan agar siswa kelak memiliki kompetensi yang diperlukan pada abad ke-21. Sekolah ditantang menemukan cara dalam rangka memungkinkan siswa sukses dalam pekerjaan dan kehidupan melalui penguasaan keterampilan berpikir kritis, kreatif, pemecahan masalah yang fleksibel, berkolaborasi dan berinovasi.

Maka dari itu suatu bangsa dikatakan maju ketika pendidikannya tertata dengan baik dan melahirkan bibit-bibit yang cerdas agar bisa mengembangangkan bangsa dan negaranya sendiri. Apabila suatu negara memiliki sistem pendidikan yang masih cacat atau masih memiliki banyak permasalahan, maka harus segera diselesaikan permasalahannya agar tidak berkepanjangan dan tidak menimbulkan kekacauan akibat dari masalah pendidikan yang tak kunjung selesai.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada pembahasan makalah ini yaitu :

1. Apa itu keterampilan pembelajaran abad 21?

2. Apa keterampilan pembelajaran yang dibutuhkan pada abad 21?

3. Bagaimana peran guru dalam menghadapi transformasi pendidikan abad 21?

1.3 Tujuan

Tujuan makalah berdasarkan rumusan masalah diatas adalah :

1. Untuk mengetahui keterampilan pembelajaran abad 21

2. Untuk mengetahui keterampilan pembelajaran yang dibutuhkan pada abad 21

3. Untuk mengetahui peran guru dalam menghadapi tranformasi pendidikan abad 21

 

Darling, Linda., H., 2006. “Constructing 21st Century Teacher Education”. Journal of teacher education, Vol. 57. 300-314

https://kacamataindra-wordpress.com/2016/09/05/empat-pilar-belajar-menurut-unesco.

Kemendikbud. No.0490/U/1992. Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kompas. 2012. Sistem Pendidikan Perlu di Ubah, (Online), (http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/19/17451519/Sistem.Pendidikan.Perlu.Diubah), diakses 18 April 2013

Rotherham, A. J., & Willingham, D. (2009). 21st Century Skills: the challenges ahead. Educational Leadership Volume 67 Number 1 , 16 – 21.

Trilling, B. and Fadel, C. 2009. 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. San Francisco, Calif., Jossey-Bass/John Wiley & Sons, Inc.

 

5  hal Isi  Pendahuluan  :

1. Pembelajaran keterampilan abad ke 21 merupakan pembelajaran yang menuntut seseorang agar dapat menguasai keterampilan sehingga dapat bersaing di era globalisasi saat ini.

2. Keterampilan-keterampilan penting di abad 21 terdiri dari empat pilar kehidupan yang mencakup Learning to know,learning to do,learning to be,dan learning to live together.

3. Pencapaian keterampilan abad ke-21 dilakukan dengan memperbaharui kulitas pembelajaran,membantu siswa mengembangkan partisipasi, menyesuaikan personalisasi belajar, menekankan pada pembelajaran berbasis proyek/masalah, mendorong kerja sama dan komunikasi, meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa, membudayakan kreativitas dan inovasi dalam belajar, menggunakan sarana belajar yang tepat, mendesain aktivitas belajar yang relevan dengan dunia nyata, memberdayakan metagkognisi,dan mengembangkan pembelajaran student-centered.

4. Pada abad 21 indikator keberhasilan lebih didasarkan pada kemampuan untuk berkomunikasi,berbagi,dan menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang kompleks,dapat beradaptasi dan berinovasi dalam menanggapi tuntunan baru dan mengubah  keadaan,dan memperluas kekuatan teknologi untuk menciptakan pengetahuan baru.

5. Dalam keterampilan pembelajaran abad ke-21 sangat membutuhkan peran seorang guru untuk meningkatkan skill para generasi muda yang mampu bersaing di kancah internasional.

KETERAMPILAN PEMBELAJARAN ABAD 21

17 March 2021 09:08:05 Dibaca : 8

pembelajaran abad ke-21 memiliki prinsip pokok bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa, bersifat kolaboratif, kontekstual, dan terintegrasi dengan masyarakat. Peran guru dalam melaksanakan pembelajaran abad ke-21 sangat penting dalam mewujudkan masa depan anak bangsa yang lebih baik.

Studi yang dilakukan Trilling dan Fadel (2009) menunjukkan bahwa tamatan sekolah menengah, diploma dan pendidikan tinggi masih kurang kompeten dalam hal: (1) komunikasi oral maupun tertulis, (2) berpikir kritis dan mengatasi masalah, (3) etika bekerja dan profesionalisme, (4) bekerja secara tim dan berkolaborasi, (5) bekerja di dalam kelompok yang berbeda, (6) menggunakan teknologi, dan (7) manajemen projek dan kepemimpinan.

ASEAN Business Outlook Survey 2014 melaporkan hasil kajiannya dan menyatakan bahwa Indonesia dianggap sebagai negara tujuan investasi asing dan bahkan menjadi salah satu tujuan utama di wilayah ASEAN. Survei tersebut juga mengindikasikan fakta yang kurang baik, bahwa Indonesia memiliki tenaga kerja dengan keahlian rendah dan murah. Jika dibandingkan dengan lulusan negara lain yang lebih ahli dan terlatih, misalnya Filipina sebagai peringkat tertinggi, bangsa Indonesia tidak akan mampu bersaing dan akan kehilangan kesempatan kerja yang baik, jika tidak didukung suatu program yang mencetak lulusan berketerampilan tinggi. Pekerjaan-pekerjaan baru berbasis produksi, analisis, distribusi dan konsumsi informasi bermunculan. Seiring dengan perubahan pola hidup manusia akibat hadirnya teknologi, tempat kerja menjadi lebih berbasis komputer dan bertransformasi. Dibandingkan dengan pada masa 20 atau 30 tahun yang lalu, para lulusan Indonesia kini membutuhkan keterampilan lebih untuk berhasil dalam menghadapi persaingan ketat abad ke-21. Hal ini merupakan tantangan yang harus disikapi dengan sebaik-baiknya.

Jenis keterampilan apa saja yang harus dimiliki oleh lulusan untuk dapat bersaing di abad 21? Pekerjaan di abad 21 bersifat lebih internasional, multikultural dan saling berhubungan. Pada abad terakhir ini telah terjadi pergeseran yang signifikan dari layanan manufaktur kepada layanan yang menekankan pada informasi dan pengetahuan (Scott, 2015a).

Saat ini, indikator keberhasilan lebih didasarkan pada kemampuan untuk berkomunikasi, berbagi, dan menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang kompleks, dapat beradaptasi dan berinovasi dalam menanggapi tuntutan baru dan mengubah keadaan, dan memperluas kekuatan teknologi untuk menciptakan pengetahuan baru. Standar baru diperlukan agar siswa kelak memiliki kompetensi yang diperlukan pada abad ke-21. Sekolah ditantang menemukan cara dalam rangka memungkinkan siswa sukses dalam pekerjaan dan kehidupan melalui penguasaan keterampilan berpikir kreatif, pemecahan masalah yang fleksibel, berkolaborasi dan berinovasi. Beberapa sumber seperti Trilling & Fadel (2009), Ledward & Hirata (2011), Partnership for 21Century Learning; National Science Foundation, Educational Testing Services, NCREL, Metiri Group, Pacific Policy Research Center, dan lainnya menunjukkan pentingnya keterampilan abad ke-21 untuk untuk mencapai transformasi yang diperlukan.

 

       Pendidikan Pancasila merupakan salah satu mata pelajaran pendukung pengembangan karakter manusia. Pendidikan Pancasila di tingkat perguruan tinggi sangat penting, karena merupakan proses lanjutan pembentukan karakter bagi manusia .Kehidupan kampus merupakan suatu awal pembentukan karakter seorang mahasiswa. Setiap kampus di Indonesia mengupayakan kepada mahasiswanya untuk selalu berpegang teguh pada norma dan hukum yang berlaku. Hal ini bertujuan untuk mencetak generasi muda yang berakhlak dan berjiwa kritis dalam kehidupan bermasyarakat.

        Krisis moral dan identitas kita sebagai bangsa dan negara semakin kuat tantangannya. Oleh karena itu, pendidikan pancasila perlu diajarkan di sekolah maupun perguruan tinggi. hal ini dipertegas oleh UU No. 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi yang ditegaskan bahwa mata kuliah agama, pancasila, kewarganegaraan dan bahasa Indonesia wajib dimasukkan di dalam kurikulum pendidikan tinggi. Ini merupakan sebagai bagian dari motivasi dan support untuk meningkatkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan masyarakat akademik dan menjadi kunci dalam pencegahan terhadap ideologi-ideologi yang menyimpang dari nilai-nilai yang termaktub dalam sila-sila dalam pancasila.

         Mata kuliah pancasila merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan student centered learning,untuk mengembangkan knowledge,attitude,dan skil mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dalam membangun jiwa profesionalitasnya sesuai dengan program studinya masing-masing dengan menjadikan nilai-nilai pancasila sebagai kaidah penuntun(guiding principle) sehingga menjadi warga negara yang baik (good citizenship).

          Pendidikan pancasila diharapkan dapat memperkokoh modalitas akademik mahasiswa dalam berperan serta membangun pemahaman masyarakat,antara lain :

1.      Kesadaran gaya hidup sederhana dan cinta produk dalam negeri.

2.      Kesadaran pentingnya kelangsungan hidup generasi mendatang

3.      Kesadaran pentingnya semangat solidaritas nasional

4.      Kesadaran pentingnya norma-norma dalam pergaulan.

5.      Kesadaran pentingnya kesehatan mental bangsa

6.      Kesadaran tentang pentingnya penegakkan hukum

7.      Menanamkan pentingnya kesadaran terhadap ideologi pancasila.

Secara spesifik,tujuan penyelenggaran pendidikan pancasila diperguruan tinggi adalah untuk :

v  Memperkuat pancasila sebagai dasar falsafah negara dan ideologi bangsa melalui revitalisasi nilai-nilai dasar pancasila sebagai norma dasar kehidupan bermasyarakat,berbangsa,dan bernegara.

v  Memberikan pemahaman dan penghayatan atas jiwa-jiwa dan nilai-nilai dasar pancasila kepada mahasiswa sebagai warga negara republik indonesia,dan membimbing untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat,berbangsa, dan bernegara.

v  Mempersiapkan mahasiswa agar mampu menganalisis dan mencari solusi terhadap berbagai persoalan kehidupan bermasyarakat,berbangsa,dan bernegara mellui sistem pemikiran yang berdasarkan nilai-nilai pancasila dan UUD Negra RI tahun 1945.

v  Membenuk sikap mental mahasiswa yang mampu mengapresiasi nilai-nilai ketuhanan,kemanusiaan,kecintaan pada tanah air,dan kesatuan bangsa,serta penguatan masyarakat madani yang demokratis,berkeadilan,dan bermartabat berlandaskan pancasila,untuk mampu berinteraksi dengan dinamika internal dan eksternal masyarakat bangsa indonesia.

          Pancasila adalah  simbol dari negara indonesia yang menjadi landasan hidup berbangsa dan bernegara, oleh sebab itu pendidikan pancasila sangatlah penting bagi pelajar baik itu siswa maupun mahasiswa dan pendidikan pancasila wajib hukumnya menurut UU N0. 2 Tahun 1989 Tentang Hukum Pendidikan Nasional, surat edaran No. 03/M/SE/VIII/2017 Tentang Penguatan Pendidikan Pancasila Dan Mata Kuliah Wajib Umum Pada Pendidikan Tinggi. Oleh karena itu mata kuliah  “ pendidikan pancasila” ini memberikan pelajaran bahwa pancasila adalah jiwa bangsa dan negara indonesia yang harus dan wajib menjadi landasan bagi kehidupan bangsa dan negara sehingga paham-paham radikalisme tidak tumbuh dalam diri kita karena sejatinya pancasila bersumber dari nilai agama, budaya dan sejarah kehidupan bangsa Indonesia

GORONTALO – Fakultas Ilmu Pendidikan kembali melanjutkan program pertukaran mahasiswa dengan 7 Perguruan Tinggi. Ini merupakan implementasi Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka melalui program Program Pertukaran Mahasiswa Tanah Air Nusantara-Sistem Alih Kredit dengan Teknologi Informasi (PERMATA-SAKTI) dan Pertukaran Mahasiswa FIP JIP.

Pertukaran mahasiswa tersebut melibatkan 7 Perguruan Tinggi yakni Univ. Negeri Padang, Univ. Negeri Jakarta, Univ. Negeri Surabaya, Univ. Negeri Malang, Univ. Negeri Yogyakarta, Univ. Pendidikan Indonesia (Bandung), Univ. Sultan Ageng Tirtayasa (Banten), dan 1 orang mahasiswa dari Thailand.

Dalam program pertukaran mahasiswa, FIP UNG akan menerima 57 mahasiswa dari tiga Program Studi sedangkan mahasiswa asal UNG yang akan belajar diluar Kampus UNG sebanyak 62 mahasiswa.

Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Dr. Arwildayanto, M.Pd, dalam sambutannya menyambut baik kehadiran mahasiswa dari Perguruan Tinggi yang terlibat dalam program ini.  

“Selamat bergabung di FIP UNG, semoga mendapatkan pengalaman dan wawasan yang lebih baik tentang Gorontalo,” kata Dr. Arwildayanto.

Menurutnya pertukaran mahasiswa ini merupakan implementasi dari Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka, yang akan memberikan dampak positif bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman berharga, membangun jaringan dengan pertukaran informasi dan ide dengan orang yang memiliki minat yang sama dalam lingkungan sosial informal (networking) serta pertukaran budaya.

Dr. Arwildayanto juga berpesan untuk mahasiswa khususnya mahasiswa UNG yang terlibar pada program ini untuk menjaga nama baik almamater selama mengikuti program pertukaran.

“Tunjukan prestasi yang terbaik serta terus membangun networking sehingga ke depan bisa menjadi pemimpin yang tangguh, dengan keluasan pandangan, persahabatan, dan ide-ide positif dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika,” ujarnya.

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong