Ilmu Kesehatan Masyarakat

03 November 2021 21:07:16 Dibaca : 8

Daulima Abdurahman R.- Menjaga dan memastikan kesehatan masyarakat terjamin baik menjadi salah satu tugas pemerintah, utamanya Kementerian Kesehatan. Terlebih sejak terjadi pandemi Covid-19, kesehatan masyarakat selalu menjadi isu utama diperbincangkan.

Tapi apa sebenarnya pengertian dari Kesehatan Masyarakat? Kenapa bisa ada praktisi dalam ilmu kesehatan masyarakat?

Yuk kali ini kita bahas sedikit tentang ''Ilmu Kesehatan Masyarakat".

Kesehatan Masyarakat adalah upaya-upaya untuk mengatasi masalah-masalah sanitasi yang mengganggu kesehatan. Dengan kata lain kesehatan masyarakat adalah sama dengan sanitasi. Upaya dalam memperbaiki dan meningkatkan sanitasi lingkungan merupakan kegiatan kesehatan masyarakat. Pada akhir ke-18 dengan ditemukannya bakteri-bakteri penyebab bakteri dan beberapa jenis imunisasi,kegiatan kesehatan masyarakat adalah pencegahan penyakit yang terjadi dalam masyarakat melalui perbaikan sanitasi lingkungan dan pencegahan penyakit melalui imunisasi (Notoadmodjo, 2007:14). 

Menurut Winslow (1920) seorang ahli kesehatan masyarakat mendefinisikan kesehatan masyarakat (Public health) adalah ilmu dan seni mencegah penyakit,memperpanjang hidup,dan meningkatkan kesehatan melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat untuk meningkatkan sanitasi lingkungan,mengendalikan infeksi menular,pendidikan secara individual dalam hal hygiene perorangan,mengorganisasikan pelayanan medis dan perawatan untuk tercapainya diagnosis dini, dan terapi pencegahan terhadap penyakit. pengembangan sosial kearah adanya jaminan hidup yang layak dalam bidang kesehatan.

Penyakit Pencernaan Pada Anak-anak

03 November 2021 20:45:50 Dibaca : 9

Gorontalo--Anak-anak sangatlah rentan terkena penyakit khususnya gangguang pencernaan. Dimana kondisi saluran cerna dan sistem imun yang belum kuat membuat kuman atau alergen lebih mudah menggeroti tubuh anak-anak.

Gangguan pencernaan pada anak juga sering kali tak terdeteksi. Pasalnya, anak sering kali tertutup dan belum bisa berkomunikasi dengan baik. Umumnya, anak bakal rewel, menangis, dan mengatakan sakit perut tanpa dapat menjelaskan rasa sakit itu dengan detail. Kenali penyakit dan gangguan pencernaan pada anak serta penanganannya. Gangguan pencernaan pada anak dapat menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman, semakin parah dan berakibat fatal.

                 

Berikut 7 penyakit dan gangguan pencernaan pada anak.

1. Diare

Diare merupakan frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan tinja yang cair. Dokter spesialis anak konsultan gastroenterologi Frieda Handayani menjelaskan, diare dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, dan parasit. Selain itu, diare juga bisa disebabkan oleh malabsorpsi, keracunan makanan, gangguan kekebalan tubuh, alergi, sindrom usus pendek, toksin, dan penggunaan antibiotik.

"Diare dapat menyebabkan anak mengalami dehidrasi," kata Frieda dalam diskusi media yang digelar RSPI di Jakarta, Kamis (27/2).

Diare dengan dehidrasi ditandai dengan lemas, kesadaran menurun, mata sangat cekung, mulut dan lidah kering, serta tampak kehausan.

Penanganan diare di rumah dapat dilakukan dengan terus memberikan makan atau ASI untuk bayi sedikit demi sedikit tapi sering, oralit, dan suplemen zinc. Diare yang tak berhenti dan sudah mengarah ke dehidrasi sebaiknya dibawa ke dokter anak untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

2. Konstipasi atau sembelit

Konstipasi merupakan kondisi saat frekuensi buang air besar kurang dari dua kali seminggu, diikuti dengan mengejan hingga kesakitan, serta bentuk tinja yang keras dan bulat.

Kondisi ini umumnya disebabkan oleh perubahan pola makan. Anak yang tak diajarkan untuk rutin buang air besar juga berkontribusi menimbulkan konstipasi.

Konstipasi lebih dari dari dua minggu dapat berisiko serius karena dapat membuat perut kembung dan meningkatkan risiko peradangan serta masalah usus.

Penanganan konstipasi dapat dilakukan dengan mengevakuasi tinja, mengajarkan anak untuk rutin buang air besar tepat waktu setiap hari atau toilet training, mengonsumsi serat, dan pemberian NaCl. Jika konstipasi terus berlanjut, segera bawa anak ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis.

3. GERDRefluks gastroesofageal atau GERD

juga dapat terjadi pada anak. Pada bayi, kondisi ini disebabkan otot di ujung kerongkongan yang belum cukup kuat. Pada anak, GERD terjadi karena terdapat tekanan dari bawah kerongkongan atau otot kerongkongan yang melemah. GERD juga dapat dipicu intoleransi makanan, kelainan anatomi lambung, dan stres.

"Perceraian orang tua, sering ditinggal orang tua, bullying di sekolah bisa membuat anak stres dan juga dapat memicu masalah pencernaan seperti GERD," kata Frieda

Gejala GERD pada anak dapat berupa panas bagian dada atas, sakit menelan, sering batuk, serak atau mengi, sendawa berlebih, mual, asam lambung terasa di tenggorokan, gejala refluks semakin terasa saat tidur.

Penanganan GERD di rumah dapat dilakukan dengan meninggikan kepala anak saat tidur dengan dua bantal. Jangan biarkan anak langsung tidur setelah makan. Tunggu waktu selama dua jam untuk kemudian berbaring.

Anak juga disarankan untuk makan dengan porsi kecil dan sering, batasi minuman bersoda, makanan berlemak, gorengan, kafein, serta olahraga teratur.

Periksakan pula GERD ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

4. Intoleransi laktosaIntoleransi laktosa

merupakan gangguan pencernaan karena tubuh tidak dapat memproses laktosa secara optimal di dalam usus halus. Gejala yang timbul dapat berupa diare, kembung, nyeri perut, muntah,sering flatus, merah di sekitar anus, dan tinja berbau asam. Gejala ini biasanya muncul setelah anak mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa.

Makanan yang mengandung laktosa diantaranya susu, keju, yogurt, dan makanan yang mengandung olahan susu. "Intoleransi laktosa pada setiap anak sangat beragam. Ada yang hanya minum susu sedikit langsung timbul gejala, ada pula yang minum susu hingga tiga gelas baru mengalami intoleransi. Oleh karena itu, orang tua atau pengasuh mesti mengetahui intoleransi laktosa pada anak," tutur Frieda yang praktik di RSPI Bintaro Jaya.

Frieda menyarankan orang tua atau pengasuh untuk membuat catatan makanan atau food diary anak untuk mengatasi intoleransi pada anak. Food diary berisi makanan yang dikonsumsi anak, waktu makan, serta gejala yang timbul setelah mengonsumsi makanan tersebut.

5. Apendisitis atau radang usus buntu

Radang usus buntu adalah peradangan yang terjadi pada usus buntu atau apendiks. Radang usus buntu biasanya dipicu karena terjadi hambatan di pintu rongga usus buntu, infeksi saluran pencernaan, tinja atau parasit menyumbat rongga usus buntu, dan cedera perut.

Gejala yang timbul dapat berupa gejala di sakit area pusar, perpindahan nyeri dari ulu hati ke perut kanan bagian bawah, mual dan muntah, serta demam di atas 37,5 derajat Celcius.

Jika mengalami gejala tersebut segera bawa anak ke dokter untuk mengetahui penanganan yang tepat. Dokter akan menentukan apakah ditangani dengan pengobatan atau perlu operasi.

 6. Gastritis atau radang lambung

Radang lambung terjadi karena terjadi ketidakseimbangan asam di dalam lambung. Kondisi ini dapat dipicu oleh infeksi bakteri, infeksi berat atau luka bakar, konsumsi obat penurun panas, stres, makanan terlalu pedas, terlalu berbumbu, berlemak, dan iritan.

Radang lambung ditandai dengan gejala kembung, mual, muntah, dan sakit perut. Penangan radang lambung dapat dilakukan dengan pengobatan pada dokter dan perubahan gaya hidup sehat seperti makan makanan bernutrisi tinggi dan rajin berolahraga.

7. Irritable Bowel Syndrome (IBS)IBS

merupakan gangguan sistem pencernaan yang lebih sensitif. Kondisi ini membuat kontraksi pada otot saluran cerna sehingga lebih mendorong makanan yang melewati rongga usus.

Dinding dalam otot saluran cerna juga bereaksi lebih terhadap stimulan ringan seperti produk susu dan stres. IBS dapat menyebabkan kram, diare, dan juga konstipasi.

"Hingga saat ini belum diketahui penyebab IBS. Beberapa penelitian menunjukkan, makan makanan yang iritan membuat usus lebih sensitif. Ada pula studi yang menyebut terlalu banyak serat, terutama yang tidak larut dalam air, juga mengiritasi usus," ungkap Frieda.

Penanganan untuk IBS dapat dilakukan dengan membuat catatan makanan untuk mengetahui makanan atau stimulan yang memicu IBS, melakukan pola makan yang sehat, tidur yang cukup, dan olahraga yang teratur.

Jika anak memiliki penyakit dan gangguan pencernaan ini, ajak anak untuk berkomunikasi dan beri penjelasan mengenai kondisi yang terjadi dengan sederhana. Berikan langkah penangan yang tepat dan jalani gaya hidup sehat.

 

Gangguan jiwa (mental disorder) telah menjadi masalah kesehatan global bagi setiap negara saat ini, tidak hanya di Indonesia (Depkes RI, 2008). Gangguan skizofrenia adalah salah satu jenis gangguan jiwa berat yang bersifat kronis dengan ciri relaps dan remisi, membutuhkan penatalaksanaan jangka panjang, dan umumnya menyerang usia produktif yakni antara 15-44 tahun (Davison, 2006).

Keluarga merupakan unit yang paling dekat dan merupakan perawat utama (caregivers) bagi penderita skizofrenia. Keluarga mempunyai peranan yang penting di dalam pemeliharaan atau rehabilitasi anggota keluarga yang menderita gangguan skizofrenia (Keliat, 1996). Keluarga adalah perawat utama (caregiver). Sementara di sisi lain, merawat penderita Skizofrenia sering menjadi stresor bagi keluarga yang sering dikenal dengan beban keluarga (family burden). Beberapa faktor yang yang berperan adalah rasa malu akibat perilaku penderita, kronisitas penderita yang seringkali membutuhkan perawatan seumur hidup, ketidakmampuan klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, stigma di masyarakat menyebabkan penderita sulit mendapatkan jodoh, pekerjaan, diasingkan oleh lingkungan dan memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit (Walton-Moss, 2005).

Beban yang dialami keluarga mulai dari beban fisik, mental, hingga ekonomi. Kelelahan fisik seringkali dirasakan keluarga dalam merawat penderita skizofrenia. Gejala-gejala yang dimunculkan penderita skizofrenia cukup mengganggu, apalagi penderita terkadang juga melakukan kekerasan. Keluarga juga sering mengalami stres dalam mengatasi perilaku penderita yang cenderung tidak realistik. Adanya anggapan bahwa bila memiliki anggota keluarga yang menderita skizofrenia adalah aib bagi keluarga juga menjadi beban pikiran keluarga. Selain itu, dampak ekonomi yang dialami keluarga yang merawat penderita skizofrenia berupa hilangnya hari produktif untuk mencari nafkah serta tingginya biaya perawatan yang harus ditanggung (Ingkiriwang, 2010). Jika beban keluarga tinggi maka akan mempengaruhi perawatan penderita skizofrenia karena keluarga adalah caregivers utama yang akan meningkatkan risiko kekambuhan dan menyebabkan prognosis yang lebih buruk (Taylor et al., 2005, Lauriello et al., 2001; Sadock and Sadock, 2010).

Pengetahuan keluarga tentang skizofrenia sangat membantu keluarga dalam memberikan perawatan yang benar bagi penderita dan akan membantu penderita menuju pemulihan. Dengan demikian maka beban keluarga akan berkurang. Untuk itu selalu dibutuhkan upaya-upaya untuk meningkatkan pengetahuan bagi keluarga (caregiver) tentang perawatan penderita. Pengetahuan yang benar tentang skizofrenia dapat ditingkatkan melalui psikoedukasi. Berdasarkan evidance ba sed practice, psikoedukasi keluarga adalah terapi yang digunakan untuk memberikan informasi pada keluarga sehingga peningkatan pengetahuan keluarga tercapai (Goldenberg, 2008). Psikoedukasi keluarga bukan hanya memulihkan keadaan penderita melainkan juga bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat penderita dan mengatasi masalah kesehatan jiwa dalam keluarga sehingga kemungkinan kambuh dapat dicegah

Walaupun medikasi antipsikotik adalah inti dari pengobatan skizofrenia, hasil penelitian telah menunjukkan bahwa intenvensi psikososial dapat memperkuat perbaikan klinis. Modalitas psikososial harus diintegrasikan secara cermat ke dalam regimen terapi obat dan harus mendukung regimen tersebut. Sebagian besar pasien skizofnenia mendapatkan manfaat dan pemakaian kombinasi pengobatan antipsikotik dan psikososial (Affrica and Schwartz, 1995; Sadock and Sadock, 2003).

Anosmia

26 August 2021 12:52:22 Dibaca : 26

Pernahkah anda mengalami gangguan penciuman? ini menyebabkan anda mengalami kesulitan untuk membau sesuatu dan apakah anda mengalami masalah tersebut hanya sebentar atau cukup lama?, Mari kita simak penjelasan berikut ini.

Gangguan penciuman disebut dengan Anosmia, hilangnya indera penciuman ini bisa terjadi seluruhnya atau atau sebagian saja, kondisi umum yang membuat seseorang mengalami anosmia yaitu seperti adanya iritasi di lapisan hidung, misalnya seperti alergi atau flu. Namun kondisi ini membuat anda mengalami anosmia sementara, namun jika ansomia terjadi cukup parah dan berlangsung lebih lama ini bisa terjadi masalah pada otak atau syaraf, misalnya seperti tumor otak atau trauma kepala. Meski anosmia bukanlah merupakan kondisi yang serius namun hal ini juga memiliki efek mendalam terhadap kualtas hidup seseorang, orang yang mengalami anosmia juga tidak sepenuhnya mencicipi makanan hingga efek orang tersebut kehilangan selera untuk makan, dengan begitu seseorang bisa memiliki berat badan atau asupan makanan yang kurang setiap harinya. 

Apa penyebab seseorang mengalami anosmia?

Anosmia ini sering terjadi karena pembengkakan pembengkakan pada hidung, namun ada beberapa penyebab lain yang menyebabkan seseorang mengalami hal ini, diantaranya kerusakan otak atau syaraf, di dalam hidung ada reseptor yang mengirimkan informasi melalui syaraf ke otak, jika jalur ini mengalami masalah atau rusak maka seorang akan bisa mengalami anosmia. Kerusakan reseptor hidung ini juga bisa terjadi ada beberapa hal yaitu:

-Lanjut Usia

-Alzeimer

-Masalah hormonal

-Parkinson

-Epilepsi

-Therapi Radiasi dan bebrapa kondisi lain. 

Iritaasi pada selaput lendir yang melapisi hidung bisa terjadi akibat

-Influenza

-Sinus Rhinitsi alergi

-Masuk angin

-Merokok

Namun anosmia yang disebabkan oleh hal ini, akan hilang dengan sendirinya. 

Kapan harus kedokter?

Periksakan ke dokter jika muncul keluhan tidak bisa mencium bau, terutama bila Anda tidak menderita pilek atau flu dan keluhan tersebut berlangsung lama.      Segera ke dokter jika Anda tiba-tiba tidak bisa mencium bau, atau bila disertai gejala pusing, lemah otot dan bicara yang kurang jelas.

Cara Mengobati

Pengobatan anosmia bertujuan untuk mengatasi penyebab yang mendasarinya. Jika penyebab anosmia dapat disembuhkan, otomatis anosmia juga akan sembuh. Bahkan, pada kasus anosmia yang disebabkan oleh alergi, pengobatan tidak diperlukan, karena kondisi ini akan sembuh dengan sendirinya.

Metode pengobatan anosmia tergantung pada penyebabnya, antara lain:

1. Pembedahan untuk mengatasi anosmia yang disebabkan oleh kelainan tulang hidung, tumor hidung, atau polip hidung

2. Penghentian konsumsi obat-obatan pada anosmia yang disebabkan oleh efek samping obat

3.Pemberian dekongestan untuk anosmia yang disebabkan oleh hidung tersumbat

4.Pemberian antibiotik untuk anosmia yang disebabkan oleh infeksi bakteri, termasuk sinusitis.

 

Psikologi Remaja Dan Permasalahannya

25 August 2021 01:11:56 Dibaca : 37

  Seperti yang kita ketahui Fase remaja adalah fase peralihan dari fase anak-anak menuju masa dewasa. Karakteristik yang bisa dilihat adalah adanya banyak perubahan yang terjadi baik itu perubahan fisik maupun psikis. Perubahan fisik yang dapat dilihat adalah perubahan pada karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang untuk anak perempuan sedangkan anak laki-laki tumbuhnya kumis, jenggot serta perubahan suara yang semakin dalam. Perubahan mentalpun mengalami perkembangan. Pada fase ini pencapaian identitas diri sangat menonjol, pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis. Periode ini disebut fase pubertas (puberty) yaitu suatu periode dimana kematangan kerangka atau fisik tubuh seperti proporsi tubuh, berat dan tinggi badan mengalami perubahan serta kematanagan fungsi seksual yang terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja. Kebutuhan lain dari remaja adalah teman sebaya, dimana teman sebaya adalah sangat penting bagi remaja untuk mengenal dunia diluar keluarga. Namun dalam interaksinya, remaja sering mengalami tekanan untuk mengikuti teman sebaya atau yang disebut konformitas (conformity) yang sangat kuat. Konformitas ada yang positif dan negatif. Konformitas muncul ketika individu meniru sikap, atau tingkah laku orang lain dikarenakan ada tekanan nyata maupun yang tidak nyata. Perilaku remaja yang menyimpang seperti berbuat onar, mencuri dan lain lain perlu mendapat perhatian khusus bagi orangtua, guru dan pemerhati pendidikan. Pertentangan dan pemberontakan adalah bagian alamiah dari kebutuhan para remaja untuk menjadi dewasa yang mandiri dan peka secara emosional. 

  Berhadapan dengn remaja tentunya berbeda dengan nerhadapan dengan anak kecil. Anak-anak kecil haru diasuh dengan cara yang bersifat melindungi dan agak otoriter. Mengapa hal itu dilakukan? karena pengetahuan dan pengalaman mereka tentang dunia jauh lebh sedikit, demikian juga dengn ruang lingkup mereka. karena itu mereka harus dilindungi dan dibantu. Setiap fase usia memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari fase-fase pertumbuhan yang lain. Demikian pula dengan fase remaja, memiliki ciri-ciri yang berbeda dan karakteristik yang berbeda pula dari fase kanak-kanak, dewasa dan tua. Selain itu, setiap fase memiliki kondisi-kondisi dan tuntutan- tuntutan yang khas bagi masing-masing individu. Oleh karena itu, kemampuan individu untuk bersikap dan bertindak dalam menghadapi satu keadaan berbeda dari fase satu ke fase yang lain. Hal ini tampak jelas ketika seseorang mengekspresikan emosinya.

Persahabatan

  Sahabat bagi remaja sangatlah penting karena dengan sahabat remaja dapat bercerita kepadanya dan mengetahui segala rahasia-rahasia yang tidak mungkin diceritakan kepada teman yang lain. Mereka ingin berbagi persoalan, minat, informasi dan rahasia sesama mereka. Mereka juga saling menenggang perasaan dan tidak inigin saling menyakiti. Persahabatan memainkan peran penting dalam membentuk pemikiran dan sikap remaja, dan juga dapat mempengaruhi kesejahteraan moral dan spiritual. Persahabatan dapat membuat lebih berani (atau nekad, tergantung bagaimana melihatnya), atau lebih ramah, atau lebih egois dan agresif daripada sifat remaja biasanya. Dalam persahabatan memiliki enam fungsi: kawan, pendorong, dukungan fisik, dukungan ego, perbandingan sosial, dan keakrapan atau afeksi.260 A. Berkaitan dengan kawan, persahabatan memberi anak-anak seorang teman bermain yang akrab, seseorang yang mau meluangkan waktu bermain bersama mereka.B. Berkaitan denganpendorong, persahabatan memberi anak-anak informasi, kegembiraan, dan hiburan yang menarik. C. Berkaiatan dengan dukungan fisik, persahabatan memberi waktu, sumber-sumber dan bantuan. D. Berkaitan dengan dukungan ego, persahabatan memberi harapan dukungan, dorongan semangat, dan umpan balik yang menolong anak- anak mempertahankan suatu kesan yang tentang diri sendiri sebagai orang yang bekompeten, menarik dan berharga. E. Berkaitan dengan perbandingan sosial, persahabatan memberikan informasi tentang posisi seorang anak berhadapan dengan anak lain dan apakah anak melakukan sesuatu dengan baik.

Permasalaahan dengan Masalah Majemuk

  Setiap tahap usia remaja mempunyai tugas perkembangan yang harus dilalui. apabila seseorang gagal melaksanakan tugas perkembangan pada usia sebenarnya, perkembangan pada tahap berikutnya akan meengalami gangguan, lalu mencetuskan masalah pada diri remaja. Pada usia ini remaja mencoba mencari penyesuaian diri dengan kelompoksebayanga. Dia mulai memerhati pendapat orang lain, selain menginginkan kebebasan dan keyakinan diri. Secara psikologi, kenakalan remaja wujud daripada konflik yang tidak diselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak, sehingga fase remaja gagal dalam menjalani proses perkembangan jiwanya. Bisa juga terjadi masa kanak- kanak dan remaja berlangsung begitu singkat berbanding perkembangan fisikal, psikologi dan emosi yang begitu cepat.

  Pengalaman pada masa anak-anak ataü pada masa lampaunya yang menimbulkan traumatik seperti dikasari atau yang lainnya dapat menimbulkan gangguan pada fase pertumbuhannya. Begitu juga, mereka ada tekanan dengan lingkungan atau status sosial ekonomi lemah yang dapat menimbulkan perasaan minder. Hal itu dikarenakan remaja belum stabil dalam mengelola emosinya. Dalam masa peralihan remaja dihadapkan pada masalah-masalah penguasaan diri atau kontrol diri. Pertentangan dan pemberontakan adalah bagian alamiah dari kebutuhan para remaja untuk menjadi dewasa yang mandiri dan peka secara emosional.261 Remaja suka memberontak dan idealis kadang-kadang ketegangan-ketegangan sering terjadi dengan menantang orangtua, guru dan orang-orang yang ada di sekitar mereka, dengan gagasan-gagasannya yang kadang berbahaya dan kaku. Persoalan-persoalan lain remaja yang membuat kita prihatin yang terjadi dalam rutinitas sehari-hari adalah tidur larut malam, tidak betah tingal di rumah, mencuri, berbohong, merokok, bersumpah dengan bahasa yang tidak jelas.

Pencegahan dan Penanganan

  Selain memahami gejala-gejala yang berkurang, remaja yang terjerumus dalam kebiasaan bermasalah, seorang pendidik perlu mengembangkan program yang dapat mengurangi masalah masalah. Diantara program tersebut adalah."1. Memberikan Perhatian yang intensif secara individual. Pada program- program yang berhasil, remaja muda dipasangkan dengan seorang dewasa yang bertanggung jawab. 2. Pendekatan kolaboratif yang melibatkan banyak agensi di seluruh komunitas. Filosofis dari komunitas adalah penting menyediakan program dan layanan. 3. Identifikasi dan penanganan awal. Merangkul anak-anak dan keluarganya sebelum anak-anak mengembangkan berbagai masalah, atau masih berada di tahap awal dari masalahnya, adalah strategi yang berhasil. Dalam perkembangan remaja yang penuh gejolak, peranan keluarga, sekolah, masyarakat dan juga kebijakan pemerintah dalam dunia pendidikan ikut andil besar Peranan media massa seperti televisi, internet, tabloid, koran dan majalah juga memiliki kekuatan besar bagi kepentingan yang dominan dalam masyarakat.