Prof. John L.Esposito : Politik Tidak Akan Pernah Mati

10 October 2013 12:30:40 Dibaca : 557 Kategori : berita terbaru Muji

Prof. John L.Esposito : Politik Tidak Akan Pernah Mati

Washington DC (voa-islam.com) Profesor John L. Esposito dari Departemen Bidang Internasional di Georgetown University, yang menulis buku : "The Future of Islam", mengklaim bahwa politik Islam tidak akan pernah mati. Sebaliknya, Esposito menegaskan bahwa terus berkembang menjadi bentuk ekspresi yang baru.

Esposito yang menaruh perhatian mendalam tentang situasi di Mesir, pasca kudeta militer yang menggulingkan presiden Mohammad Mursi awal Juli, di mana banyak pengamat berkomentar, kudeta militer menandai kematian politik Islam. Namun, Esposito mengingatkan para pengamat dari Mark Twain yang mengatakan, "Laporan kematian politik Islam dinilai sangat berlebihan", ungkapnya.

Memang, ini bukan pertama kalinya bahwa Ikhwanul Muslimin menghadapi penindasan. Meskipun, mereka selalu menghadapi makar dan musibah dalam berpolitik, tetapi mereka sepertinya selalu lahir kembali, dan menjadi lebih kuat.

Esposito menyebutkan bahwa kematian politik Islam juga dinyatakan berkali-kali sebelumnya, saat Jamaah Ikhwanul Muslimin mengalami penidasan yang sangat hebat, seperti di zaman Presiden Gamal Abdul Nasser, di tahun l954.

Tetapi, tahun 2012, Jamaah Ikhwanul Muslimin, berhasil menunjukkan kembali jati dirinya, sebagai sebuah gerakan dakwah yang tangguh, dan memiliki akar dikalangan rakyat Mesir. Di mana mendapatkan dukungan rakyat Mesir, dan kaum Muslimin.

Justeru disaat banyak pengamat mengatakan, bahwa terjadi kematian politik Islam, sebaliknya kalangan Gerakan Islam, dan kalangan Islam politik, bangkit dan memimpin di berbagai kawasan.

John Esposito melihat kembali Ikhwan di Mesir, kembalinya Ennahda dan Rasyid Ghannoushi di Tunisia, dan Partai Keadilan da Pembangunan di Maroko, Gerakan Islam di Libya, Partai Ishlah di Yaman, Partai Kesejahteraan yang Erbakan, yang dibubarkan militer, kemudian munculnya AKP di Turki yang pimpin Erdogan dan Abdullah Gul, Hamas di Palestina, dan berbagai tempat lainnya'', tegas Esposito.

Esposito lebih lanjut, mengatkan bahwa berbagai tantangan baru muncul, dan Gerakan Islam akan belajar dari kesalahan dan beradaptasi, serta akan menampilkan dirinya dalam berbagai bentuk dengan cara yang terorganisir yang lebih baik. ''Era baru mungkin akan lahir, dan bukan menampilkan gaya lama Politik Islam. Dan, tidak mungkin setiap gerakan atau kelompok atau kelompok kepentingan untuk mengabaikan Islam", tambahnya.

John Esposito mengkritik militer Mesir yang melakukan tindakan kejam terhadap Ikhwanul Muslimin dan Islam politik di negara itu. Menurut Esposito, sikap militer itu menunjukkan adanya "ambigu" (bermuka dua) dalam berdemokrasi,katanya.

''Jika pemerintah yang dipimpin militer ingin meminggirkan dan melemahkan Ikhwanul Muslimin, percayalah bahwa tindakank militer telah ditolak oleh mayoritas rakyat Mesir. Mengapa mereka tidak sekarang segera menyelenggarakan pemilu? Apa yang mereka takutkan?", tandasnya.

Esposito membandingkan situasi di Mesir dengan Aljazair sebelum perang sipil, yaitu setelah hasil pemilu yang demokratis dibatalkan, karena yang menang dan merengkuh kekuasaan adalah Partai Islam. Militer melakukan tindakan keras terhadap kelompok Islam, dan memaksa pendukungnya yang melakukan gerakan damai untuk mengangkat senjata melawan penindasan militer dalam kasus yang terjadi di Aljazair, dan tidak tertutup kemungkinan akan menyusul di Mesir, tambahnya.

Namun, Jamaah Ikhwan di Mesir menghadapi berbagai kekuatan kepentingan yang menyatu, kristen-koptik, sekuler, liberal, nasionalis, dan militer, serta kekuatan regional yang takut dengan perubahan baru di Mesir. Di mana Mesir menjadi "episentrum" (pusat pengaruh) di Timur Tengah, dan jatuh ke tangan Ikhwan.

Satu-satunya negara yang sangat takut terhadap kekuasaan Gerakan Islam di Mesir, tak lain, adalah Arab Saudi. Raja Abdullah lah yang memerintahkan Jenderal Abdul Fattah al-Sissi memberangus Jamaah Ikhwan, menggulingkan Presiden Mursi, dan membubarkan Partai Kebebasan dan Keadilan.

Arab Saudi dan Raja Abdullah tidak takut terhadap Zionis-Israel ataupun Iran, tetapi penguasa Arab Saudi, lebih takut terhadap pengaruh Jamaah Ikhwan yang telah mengguncang dunia Arab dan melahirkan revolusi, dan inilah yang membuat para raja dan pangeran Arab mimpi buruk. Jalan satu-satunya memberangus Jamaah Ikhwan, betapa harus dibayar dengan mahal. af/hh