Pengorbanan Ayah oleh: Natania Prima Nastiti

07 February 2013 21:23:39 Dibaca : 127

Pengorbanan Ayah
oleh: Natania Prima Nastiti

Aku terus melihat ayah dengan sebal saat dia melambaikan tangannya pagi itu untuk berangkat berdagang sayuran di pasar. Aku benar-benar menyesal telah dilahirkan dari rahim seorang wanita berkeluarga miskin. Sekitar lima bulang lalu, ibu pergi untuk selama-lamanya. Saat kepergian ibu, sama sekali tidak ada air mata yang menetes dari mataku. Aku benar-benar benci keluarga miskin ini! ucapku dalam hati. Setelah ayah sudah berbelok, aku langsung berangkat sekolah. Bagaimanapun juga, aku tidak ingin terlihat bareng dengan pedagang sayur itu.

Di sekolah seperti biasanya. Saat istirahat aku hanya duduk diam di kelas. Aku sama sekali tidak dikasih uang jajan. Penghasilan ayah yang pas-pasan setiap harinya, hanya bisa untuk beli makan untuk di rumah saja. Bekal pun tidak ada. Aku rasa Tuhan tidak adil! Aku benar-benar muak dengan hidupku sekarang! Ingin sekali rasanya aku kabur dari rumah dan mencari keluarga baru yang kaya raya. Tapi aku rasa itu tidak mungkin. Ongkos untuk kabur pun aku tidak punya.

Saat pulang sekolah, ayah sudah pulang duluan. Kulihat ayah memandangi foto ibu yang telah usang. “Dia itu udah mati! Percuma kalo foto diliatin gitu juga nggak bakal ngebuat dia hidup lagi!” teriakku kemudian langsung masuk ke kamar dan membanting pintu kesal. Terdengar suara tangisan ayah. Tapi aku sudah tidak peduli lagi. Aku kemudian tidur sambil menutup kepalaku dengan bantal gepeng yang usang.

***

“Dasar anak tukang sayur! Udah miskin sok ngatur-ngatur lagi lo! Pergi lo dari kelompok gue!” teriak Metha, salah satu temanku, dia memang anak orang kaya. Kemudian aku pergi dari mejanya. Percuma juga jika aku meladeni bentakannya itu, yang ada teman-teman pasti akan menertawaiku karena ucapan Metha yang menjelek-jelekkanku. Aku pun tidak akan menangis dengan ucapan Metha tadi. Ucapan-ucapan seperti tadi sudah menjadi makanan sehari-hariku. Yah, beginilah kehidupanku. Penuh dengan ejekan. Semua ini karena keluargaku yang miskin! Aku benar-benar stress karena kemiskinan!

“Heh! Ganti pekerjaan kek, Bapak! Aku malu denger semua ocehan temen-temen! Mereka selalu bilang kalo aku anak tukang sayur! Aku malu, Pak! Malu!” teriakku pada ayah sepulang sekolah.

“May, udah sepuluh tahun Bapak kerja seperti ini. ini memang sudah pekerjaan Bapak, May. Mana mungkin bapak menggeluti pekerjaan lain. Bapak juga tidak punya keahlian, May. Maafkan Bapak” sahut ayah sambil menangis. Aku benci ucapan ayah itu! Bukan itu yang aku mau!

“Bodo amat! Pokoknya Bapak nggak boleh jadi tukang sayur lagi!” bentakku kemudian masuk ke kamar dan membanting pintu. Di kamar aku menangis. Meratapi nasibku ini. Kenapa buruk nasibku ini? aku benci! Aku benci semuanya!

Paginya kulihat ayah duduk di depan. Dia tidak pergi ke pasar hari ini. “Pak? Nggak jualan?” tanyaku. Ayah kemudian tersenyum padaku. “Bapak udah nggak jualan sayur, May. Kamaren kan kamu yang bilang supaya Bapak nggak jualan sayur. Sekarang Bapak jualan koran. Dan sebentar lagi juga Bapak berangkat” ucap ayah kemudian. “Ish, dasar! Maksud gue nggak usah jualan sayur, ya jangan jualan koran! Jadi insinyur kek! Biar kita kaya! Kaya raya, Pak!” bentakku kemudian. Ayah menundukkan kepalanya. Sebal melihat ayah, aku langsung pergi untuk berangkat sekolah. Kemudian ayah memegang pundakku dan menyodorkan tangannya. Aku sudah kesal dengan ayah bego itu! Aku tetap pergi tanpa salim padanya. Aku benci dia!

***

Tiga bulan kemudian, ayah berganti pekerjaan sebagai tukang koran. Sama saja! Hidupku tidak berubah sama sekali. Sama seperti dulu. Tidak dapat uang jajan, jarang makan dan tidak ada uang untuk kabur dari rumah! aku benar-benar stress ada di rumah! mau pergi juga pergi kemana? Aku sama sekali tidak ada uang. Bosan sekali aku di rumah ini!

Ayah pulang kemudian duduk di kursi sambil mengelap mukanya yang bercucuran peluh. “May, tolong ambilin Bapak minum. Bapak capek sekali, May” ucap ayah kemudian. “Heh! Enak aja nyuruh-nyuruh lo! Kalo haus, ya ambil minum sendiri! Punya kaki kan? Kalo Bapak nggak punya kaki, baru aku ambilin!” teriakku kemudian pergi meninggalkan ayah sendiri. Kemudian aku pergi keluar rumah. Aku duduk duduk di kursi depan. Sebal rasanya aku dengan ayah. Sudah miskin, sok jadi raja lagi! Minum saja minta ambilin! Punya kaki kenapa harus minta ambilin?! Dasar ayah tidak berguna! Ucapku dalam hati dengan kesalnya.

Besoknya tiba-tiba ayah pulang dengan babak belur. Ayah meringis kesakitan sambil memegang lukanya. Kemudian aku menghampirinya dan bertanya, “kenapa, Pak?”. “Bapak tadi berantem, May. Ada orang yang mengambil barang berharga punya Bapak” jawab ayah sambil meringis kesakitan. “Ish! Ngapain coba pake berantem segala?! Kayak anak kecil aja! rebutan barang lagi! Anak kecil banget tau nggak!” bentakku benar-benar sebal. Dasar orang tua! Sudah tua bukannya banyak nyari uang, malah berantem kayak anak kecil! Bentakku dalam hati. Ih! Aku benar-benar kesal dengan ayah! Sudah tua, miskin, kerjanya hanya merepotkan saja! Rasanya aku ingin cepat kabur dari rumah ini! Rumah gubug ini!

Malam harinya, terbelesit pikiran nakalku. Aku tau bagaimana cara kabur dari rumah kali ini. aku berjinjit masuk pelan ke kamar ayah. Kulihat ayah sedang duduk di kursi depan. Saat di kamar ayah, aku langsung mengobrak-abrik lemari baju ayah. Kucari-cari sesuatu itu. Dan akhirnya... ya! Aku berhasil mendapatkannya! Uang itu, uang untuk kabur itu. Aku berhasil mendapatkannya. Selamat tinggal miskin! Ucapku dalam hati sambil tertawa tidak bersuara. Kemudian kumasukan uang itu ke dalam saku baju. Aku bergegas keluar dari kamar ayah. Saat hendak keluar, tiba-tiba ayah sudah ada di depanku. Aku terkejut melihatnya.

“Kamu kenapa ke kamar Bapak?” tanya ayah padaku. Aku memikir-mikir alasan apa yang masuk akal.

“Emangnya nggak boleh apa ke kamar Bapak?! Miskin aja pake rahasia-rahasian segala! Dasar miskin!” bentakku kemudian. Aku segera masuk ke dalam kamar.

Ku hitung-hitung, uangnya berjumlah empat puluh lima ribu. Untuk apa ayah menyimpan uang sebanyak ini? dasar!. Aku berencana, nanti pagi-pagi sekali pergi dari rumah ini. niatku sudah mantab! Aku akan pergi dari kemiskinan ini! pergi dari ayah yang tidak berguna itu! Ucapku dalam hati dengan mantabnya.

Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap. Saat hendak keluar kamar, tiba-tiba ada perasaan tidak enak. Aku tidak tau kenapa begitu. Hatiku ini, seperti bilang jangan pergi. Aku takut jika nanti terjadi apa-apa dengan diriku. Setelah lama dilema, akhirnya aku putuskan untuk tidak jadi pergi dari rumah. uang ini, lebih baik aku simpan sendiri saja. Cukup untukku membeli baju. Apalagi.. sebenatar lagi hari ulangtahunku. Aku juga ingin bersenang-senang di hari ulangtahunku. Akhirnya aku menyimpan kembali uang itu. Dan tidak jadi pergi dari rumah. sangat kusesali juga. Tapi.. yasudahlah, mungkin memang ini belum waktunya untuk kabur dari rumah.

***

Seminggu kemudian, tepat di hari ulangtahunku, aku berdandan serapih mungkin. Hari ini aku akan pergi ke pasar untuk membeli baju dengan memakai uang yang ku simpan itu. Saat di perjalanan, tiba-tiba salah seorang tetanggaku menghampiriku dan berkata, “May, May tunggu! Jangan pergi dulu! Emm.. heh.. emm.. anu... Bapakmu.. heh.. Bapakmu.. kec.. kecelakaan!”. Aku terkejut dengan ucapan itu. Entah kenapa aku sedih dengan ucapan tetanggaku itu. Seharusnya aku senang karena ayah kecelakaan! Jadi tidak ada yang merepotkanku lagi. Tidak ada wajah yang menjengkelkan aku lagi. Tapi kali ini.. aku malah sedih. Saat diajak menengok ayah pun aku mengikuti. Kenapa ini? tanyaku pada diri sendiri.

Air mataku menetes saat melihat ayah terbaring di kasur rumah sakit. Lukanya ada dimana-mana. Diselimutnya, masih terbekas darah segar bekas darah ayah. Aku langsung menghampiri ayah. Air mataku terus mengalir sedih. Entah mengapa, aku kasian melihat ayah terbaring seperti ini. Memeluknya.. aku malu sekali melakukan itu. Padahal aku sangat ingin melakukan itu.

Sejam kemudian, ayah sadar. Kemudian dipanggil-panggilnya namaku. Aku pun segera menghampiri ayah. “May, coba tolong liatin kaki Bapak. Bapak merasa tidak nyaman, May. Bapak bener-bener minta tolong kali ini” pinta ayah kepadaku. Kemudian, kubuka selimut ayah dan betapa terkejutnya aku. Kaki ayah.. kaki ayah.. kaki ayah hanya tinggal sedengkul. Kaki ayah ternyata diamputasi. Ayah tidak punya kaki lagi sekarang. Air mataku kembali mengalir saat melihat keadaan kaki ayah sekarang. Tanpa malu, aku langsung memeluk ayah. Sakit hati ini memeluknya. Mengingat perlakuanku kepadanya dulu.

“May, Bapak haus. Tolong ambilkan minum untuk Bapakmu ini, Nak. Kamu sendiri yang bilang kan, jika Bapak tidak punya kaki, kamu yang akan mengambilkan minum untuk Bapak. Sekarang.. Bapak tidak punya kaki lagi, May. Tolong ambilkan minum untuk Bapak, Nak” ucap ayah menangis. Melihat ayah menangis, aku pun jadi ikut menangis. Kemudian kuambilkan minum ke meja. Hatiku kembali sakit mendengar perkataan ayah barusan. Ayah benar. Dulu aku memang pernah berkata seperti itu. Sekarang, aku benar-benar sedih mengingat kata-kataku dulu itu pada ayah.

Ayah kemudian memegang tanganku erat. Kemudian disuruhnya aku mengambil sesuatu di bawah tempat tidur ayah. Saat kulihat, ada baju disana.

“Untuk siapa ini, Pak?” tanyaku kemudian bingung.

“Itu.. untuk..mu, May. Se.. selamat ulangta... hun ya, May. Maaf se... kali karena Bapak hanya bi.. bisa memberi itu untuk... mu” jawab ayah terbata-bata. Aku kembali menangis mendengar ucapan ayah. Kemudian aku peluk ayah dengan erat. Kuucapkan terima kasih pada yah.

“Se.. sebenarnya, uang ya.. ng kamu ambil wak... tu it.. tu, mau Bapak ku.. pulkan un.. untuk membeli kado un.. untukmu, Nak. Bapak ta..u karena saat Bapak li... at lemari, u... uang itu sudah ti.. tidak ada” ucap ayah lagi. Kemudian aku merasa bersalah dengan ayah.

“Maapin aku, Pak. Aku nggak tau kalo uang itu untuk beli kado buat ulangtahunku. Maap, Pak” ucapku malu. Ayah hanya tersenyum padaku. Kemudian dipeluknya aku. Aku sangat merasa bersalah pada ayah. Kenapa aku.. bisa dengan gampangnya berlaku tidak sopan pada ayah dulu? Kelakuanku.. sama saja dengan setan! Aku pun mengumpat diriku sendiri.

Setelah beberapa jam di rumah sakit, kemudian ayah memanggilku lagi. Aku segera berdiri dari kursi tunggu dan mendekati ayah. Kemudian ayah berkata.

“Jaga dirimu baik-baik, May. Maaf karena Bapak tidak bisa menemanimu selamanya. Untuk kedepannya, Bapak akan menemani ibumu disana, May. Di tempat yang jauh itu. Bapak sudah memaafkan semua kesalahanmu. Semua kata-kata kasar darimu, May. Karena Bapak tau, kamu bersikap begitu karena Bapak juga yang hidup miskin begini. Sekarang, kamu bisa tenang tanpa Bapak, May. Bapak sangat menyayangimu. Semoga nantinya kamu bisa tumbuh sebagai wanita yang soleha, May”. Setelah berucap kemudian ayah tersenyum padaku. Sebelum akhirnya... dia memejamkan matanya dengan kedamaian.

“Bapakk!!!! Bapak!!! Jangan tinggalin May, Pak!!! Bangun, Pak!!!! May takut sendirian, Pak!!! May minta maap dengan semua kata-kata May, Pak!!!!! Bapak bangun!!!!! Bapakkkk!!!!!!” teriakku sambil menggoyang-goyangkan tubuh ayah. Tapi ayah sudah tidak mendengar teriakanku lagi. Dia tetap tertidur. Dia diam tidak bergeming. Aku menangis. Kemudian teringat kembali saat aku mengatakan kata-kata kasar kepada ayah. Ayah yang selama ini ternyata selalu menyayangiku. Ini ulangtahun terakhirku bagi ayah. Dan dihari ulangtahun ini, terakhir kalinya aku melihat ayah. Kado terakhir ini... akan aku kenang sampai aku mati. Bapak, maafkan aku, ucapku dalam hati. Tak kuasa aku menahan tangis ini. Ayah sudah tidur untuk selama-lamanya.

Pertama mendengar suara tangisanmu, sujud sukurku pada-Nya..

Pertama kali menggendongmu, hati ini begitu terasa senang..

Pertama kali melihatmu tumbuh, aku berdoa pada-Nya..

Berdoa semoga kau jadi anak yang berguna, Nak..

Semua akan ku korbankan demi dirimu..

Walau nyawaku sekalipun, akan kukorbankan untukmu..

Untuk membuatmu senang..

Melihat senyummu, sangat membuat hidupku berarti..

Melihat air matamu, membuat duniaku ikut bersedih..

Nak, isilah hari-harimu dengan senyum dan tawa..

Aku menyayangimu, anakku...
Selamanya akan tetap menyayangi dirimu..

 

Kepedihan Hidup

07 February 2013 20:20:01 Dibaca : 66

Kepedihan Hidup

Dari semua tulisan Saya yang telah Saya ceritakan. Mungkin cerita ini yang paling bermakna. Hari ini Selasa,5 Februari 2013 Saya harus meneteskan air mata kesedihan yang tidak semua orang merasakan. Ayah Saya adalah seorang pembawa bentor,Rasa lelah,bosan bahkan marah sudah Ayah rasakan,panasnya mentari,derasnya hujan telah Ayah lalui untukmengantar penumpang,tak kenal Pagi buta,tengah malam,Ayah tetap mengantar penumpang. Tak menuntut keuntungan yang besar. Hari ini,Saya mengantar anak-anak sekolahan ke SMP. Tapi tiba disebuah perempatan ad swiping,Ayah saya mempunyai surat-surat yang lengkap namun tetap ditahan oleh polisi karena kelebihan penumpang dan harus membayar ataupun melalui proses hukum yang panjang. Bagi sang pembaca,bisakah kalian renungkan,Uang yang Ayah saya dapatkan1000/siswa,sedangkan ada 5siswa yang diantar Ayah,hanya untuk uang Rp5000 Ayah Saya harus mengikuti proses hukum yang panjang,harus membayar,dan Ayah Saya kehilangan uang Rp5000 karena harus ditahan dan tidak mengantar penumpang sampai tempat tujuan. Kalau sudah seperti ini,lalu dimana sisi keadilannya??? Haruskah kami terus menerus tertindas,memang hukum harus ditegaskan,tapi tak maukah Kalian menengok ke bawah. Penghasilan Ayah Saya berkisar Rp20.000-Rp40.000/hari. Semua tidak itu tidak sebanding dengan pengeluaransetiap harinya dikeluarga kami. Saya mau ke kampus membawa uang Rp15.000,untuk transportasi Pulang Pergi Rp10.000,uang saku Saya Rp5.000,untuk uang jajan adik Saya Rp 10.000 dari pagi sampai malam,belum lagi untuk keperluan dapur,beli ikan dan rempah-rempah. Pendapatan ayah Saya tidak cukup untuk semua itu. Ketika semua ini terasa berat untuk Saya lalui,Saya hanya bisa menguatkan hati Saya,agar mampu menghadapi cobaan hidup ini. Untuk Ayah,sabar pa,kita hanya sedang diuji oleh Allah,buat mama,jangan selalu mengeluh akan keadaan,Kita pasrahkan semuanya sama Allah,simpan semua sakit hati mama,sedih mama,biar Allah yang balas,Buat ade Saya,jangan suka nakal,jangan sering minta uang sama papa mama,tidak mudah Ayah mendapatkan selembar uang. Sabar mama,papa,ade Allah bersama Kita,dihati.

Puisi Karya Saya

07 February 2013 20:18:18 Dibaca : 57

 

Sampai Kapan

Sampai kapan penderitaan ini akan berakhir

Sampai kapan penindasaan tidak hanya untuk orang-orang lemah

Sampai kapan keadilan benar-benar ditegakan

Sampai kapan Wahai penguasa negara

Tak lelahkah kalian menindas kami bangsa yang lemah

Bangsa yang bertahan hidup dengan keringat perjuangan

Wahai penguasa

Tegoklah kami

Sudahkah kami mengambil hak kalian??

Ass.Wr.Wb

“ Saatnya Naluri Bicara”

Kesan :

Sesuatu dapat dikatakan berkesan apabila ia berbekas dalam naluri J

Sedih memang jika harus menuliskan Kesan & Pesan terakhir ini tapi Semoga ini bukan pertemuan terakhir.

Selama Saya mengikuti AAI yang dimonitoring oleh Kakak2 mahasiswa SKI Saya merasa bahagia,jujur saat Saya melihat Kakak2 SKI yang mengenakan kerudung yang panjang dan besar,Saya penasaran & sempat terbesik tanya dalam kalbu “Bagaimana sich mereka, “ Mereka memang baik tapi apakah mereka mau bersahabat dengan Kami,utamanya Saya,yang selalu mengenakan celana Jeans & kerudung pendek,tidak seperti mereka” Dengan adanya AAI dan tutor yang baik K’riske yang biasa Kami sapa dengan K Ike,tanya hati pun terjawab. Ternyata Kakak2 SKI itu selain baik hati mereka juga Welcome dengan siapa saja(yang termasuk mahramnya),mereka tidak menutup pergaulan sebatas busana.

Kejujuran kedua yang harus Saya ungkapkan ‘Awal Saya melihat k Ike sebagai tutor kami,Saya pikir k Ike orangnya terlalu tegas dan tegang..’ maav k’. Tp ketika minggu demi minggu kami lewati,anggapan awal Saya ternyata salah,Menurut Saya,k Ike orangnya santai,ada saat2 dimana kita harus serius,ada saat2 dimana kita harus santai(curhat2an,bercanda)

AAI dan k Ike membuat Saya nyaman untuk mengikuti AAI yang mungkin tidak mencakup 6 bulan berjalannya program ini. Ibaratanya ketika kuliah yang Saya sukai tapi Dosennya membosankan maka Saya malas-malasan mengikuti kuliah tersebut,begitu pula sebaliknya ketika ada Dosen yang cara mengajarnya Saya senangi tapi mata kuliahnya membosankan maka Saya pun malas-malasan mengikuti mata kuliah tersebut. Nah! Dalam AAI ini ketika dua-duanya menunjang,materi yang diberikan dan Tutornya juga bersahabat dengan Saya maka Saya semangat menjalaninya.

“AAI itu membuat Saya jadi sering ke mesjid kampus,yang biasanya Saya hanya numpang lewat saja,sekarang sadikit demi sedikit hati Saya terketuk untuk beribadah”

“Selain itu AAI membuat Saya lebih berani dalam mengungkapkan pendapat,banyak ilmu yang Saya peroleh dari AAI yang Insya Allah berguna di masa kini & masa depan,mulai dari cara berpakaian yang sopan,bagaimana cara berdiskusi yang baik,Intinya banyak manfaat dan jika harus saya suratkan semua kesan itu mungkin kita tidak sampai pada akhir lembaran kertas ini”

“AAI the best”

Pesan

“Tetaplah menjadi orang-orang yang bersahabat”

“Tetaplah menjadi orang-orang yang tidak menutup pergaulan sebatas busana karena busana bukan satu-satunya yang menunjukan baiknya seseorang atau tidak Melainkan Hati,Jika hati bersih,Insya Allah busana juga baik”

Pesan terakhir buat K Ike jangan sampai lupa dengan kami WTS(Wanita Teknik Sipil )kelas B..

Salam manis

Desi

Aktivitas MINGGU PAGI bersama Ayah

03 February 2013 10:58:41 Dibaca : 57

Hari ini Saya terbangun lebih lambat,sebenarnya Saya sholat Shubuh,hanya saja setelah sholat shubuh,rasa mengantuk sudah tidak bisa Saya tahan,dari membaca Al-Qur’an saja mata Saya sudah sering menutup dengan sendirinya,sehingga Saya tertidur kembali setelah sholat Shubuh. Saya tahu ada 3 waktu tidur yang Allah benci,yang pertama

1. Tidur setelah sholat Shubuh.

2. Tidur diantara waktu Magrib dan Isya.

3. Tidur saat sementara mendengarkan ceramah.

Meskipun begitu,kali ini Saya mengalami rasa ngantuk yang Saya sendiri sulit untuk melawanya. Hingga Saya terbangun pukul 08.00,ketika Saya bangun,Ibu sudah selesai beraktivitas didapur,padahal Saya ingin membantu Ibu. Akhirnya Saya memutuskan untuk mecuci piring dan setelah itu,Saya membantu Ayah yang sedang membuat Septic tank Kami yang baru dibuat untuk tempat penampungan kotoran. Sejujurnya Saya sangat sedang membantu Ayah,karena Saya jarang membantu Ayah selama ini, entah mengapa setiap kali berbicara tentang Ayah sepertinya Saya tidak sanggup lagi untuk meneruskan cerita ini. Sosok seperti Ayah Saya hanya ada 1 di dunia ini,Ayah Saya adalah seorang pekerja keras yang rela banting tulang untuk keluarganya,sabar dan tabah bukan hal yang baru dirasakan Ayah,Ayah saya seorang pekerja wiraswasta yang tidak menetap,kadang ayah membawa bentor,jika ada yang minta bantuan untuk membuat alat-alat perabot rumah tangga,Ayah pasti bantu. Namun dibalik semua ketekunan Ayah,Ayah adalah orang menjunjung tinggi harga diri,Kata Ayah”meskipun kita orang miskin,meskipun kita tidak punya apa-apa,tapi kita harus tetap punya harga diri” Misalnya ada sesorang yang meminta Ayah bekerja untuknya,tapi ketika Ayah diperlakukan sewenag-wenang,Ayah pasti berhenti bekerja,prinsip Ayah,Uang bisa didapatkan ditempat lain,tapi harga diri,sekali sudah diinjak,seterusnya akan diinjak-injak jika kita diam saja. Dad you’re the best for me.

i love u Dad