Funny

09 February 2014 15:38:45 Dibaca : 186
[Tanpa Konten]

Pemanfaatan limbah pertanian untuk membuat biochar

06 February 2014 00:33:13 Dibaca : 880

A. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil alamnya. Banyak potensi pertanian yang menguntungkan bila diolah secara maksimal. Melihat fakta selama ini, banyak limbah pertanian yang dibiarkan begitu saja pasca panen, tanpa memperhatikan pertambahan nilai olahan limbah tersebut. Limbah-limbah tersebut masih dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi produk baru yang dapat menambah produktivitas pertanian.
Lahan pertanian di Indonesia sangat luas. Banyak diantaranya merupakan lahan kritis. Lahan yang tidak diolah dengan baik, sehingga secara bertahap menyebabkan kualitas tanah menurun dan berakibat pada penurunan produktivitas pertanian. Serta daerah bekas pertambangan yang tidak subur dan strukturnya telah rusak. Luas kedua tipe lahan tersebut semakin besar dan secara teori masih dapat direkonstruksi.
Bila ditelaah lebih teliti lahan pertanian yang rusak dapat dikembalikan lagi tingkat kesuburannya dengan pengolahan yang baik. Konsep biochar (arang hayati) ditawarkan sebagai pembenah lahan. Biochar dapat dibuat dari berbagai biomasa, bahkan limbah-limbah pertanian yang memenuhi syarat. Sejarah menujukkan, biochar telah dimanfaatkan secara tradisional oleh petani di berbagai belahan dunia. Berbagai penelitian menunjukkan, biochar berpotensi memperbaiki struktur dan kesuburan tanah. Di Indonesia, pemanfaatan biochar dalam skala besar adalah hal yang relatif baru. Oleh karena itu, pemerintah berperan penting dalam memeberikan pemahaman dan pembinaan kepada masyarkat luas terutama petani akan pentingnya biochar sebagai pembenah tanah guna mendukung mendukung peningkatan produksi pertanian ke depannya.

B. ISI
Definisi limbah pertanian
Makalah ini membahas limbah pertanian yang secara khusus merupakan limbah hasil pertanian, berupa sekam, jerami, tempurung kelapa, limbah biji sawit ataupun limbah kayu, yang merupakan sisa hasil panen yang sudah tidak dimanfaatkan.
Definisi biochar
Biochar adalah istilah baru yang digunakan untuk menggambarkan arang (biasanya arang berserbuk halus) berpori terbuat dari sampah organik yang ditambahkan pada tanah. Biochar dihasilkan melalui proses pirolisis biomasa. Pirolisis Ini dilakukan dengan memaparkan biomasa pada temperatur tinggi tanpa adanya oksigen. Proses ini menghasilkan dua jenis bahan bakar (sygas atau gas sintetis dan bio-oil atau minyak nabati) dan arang (yang kemudian disebut biochar) sebagai produk sampingan.
Biochar memiliki karakteristik: high surface area, high volume, micropores, density, macropores, serta mengikat air. Karakteristik tersebut menyebabkan biochar mampu memasok karbon, bochar juga dapat mengurangi CO2 dari atmosfer dengan cara mengikatnya kedalam tanah.
Keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan biochar antara lain:
- Dapat memperbaiki struktur tanah
- Luas permukaan biochar lebih besar, hal ini dapat menahan air dan tanah dari erosi
- Mengikat nitrogen, calcium (Ca2+), potassium (K+), magnesium (Mg2+)

Proses pembuatan biochar
Biochar adalah produk kaya karbon ketika biomassa seperti rabuk (manure) atau daun, dipanaskan dengan oksigen rendah atau bahkan vakum. Secara teknis biochar diproduksi melalui dekomposisi termal materi organikdi bawah suplai oksigen yang terbatas serta temperatur yang rellatif rendah (<700°C).
Biochar dapat dibuat melalui banyak cara, terutama menggunakan salah satu dari tiga proses dekomposisi termal dominan: pirolisis, gasifikasi, dan karbonisasi hidrotermal. Energi yang dihasilkan berbentuk gas atau minyak yang terbentuk bersama dengan terbentuknya biochar. Energi yang dihasilkan tersebut dimungkinkan dapat menutup fungsi lain (recoverable), atau secara sederhana energi tersebut dibakar dan dibebaskan sebagai panas. Biochar dapat dibuat dari berbagai macam biomassa. Sistem (reaktor) yang digunakan pun berbeda-beda, dan mungkin menggunakan teknologi yang memproduksi energi recoverable ataupun tidak, mulai dari skala rumah tangga hingga pembangkit listrik bioenergi besar.
Tanah yang subur memerlukan kandungan bahan organik sebesar 2%. Arang hayati atau biochar memberikan opsi untuk pengelolaan tanah terutama sebagai supplier karbon dan perekonstruksi. Menurut Lehmann (2007), semua bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah nyata meningkatkan berbagai fungsi tanah tak terkecuali retensi berbagai unsur hara esensial bagi pertumbuhan tanaman. Biochar lebih efektif menahan unsure hara untuk ketersediaannya bagi tanaman dibandingkan bahan organik lain seperti sampah dedaunan, kompos atau pupuk kandang. Biochar juga menahan P yang tidak bisa diretensi oleh bahan organik tanah biasa. Lehmann dan Rondon (2006) serta Rondon et al. (2007) melaporkan bahwa biochar juga menyediakan media tumbuh yang baik bagi berbagai mikroba tanah.

Sejarah biochar
Perhatian terhadap biochar dari biomassa didorong oleh studi tentang tanah yang ditemui di Lembah Amazon, disebut Terra Preta (Lehmann et al. 2003; Lehmann et al. 2006; Miles 2009). Tanah hitam Amazon merupakan tanah yang sudah tua, dikelola oleh bangsa Ameridian antara 500 dan 2500 tahun yang lalu. Tanah ini mempertahankan kandungan karbon organik dan kesuburan yang tinggi, bahkan beberapa ribu tahun setelah ditinggalkan oleh penduduk setempat, sangat berbeda dengan tanah masam di dekatnya yang mempunyai kesuburan rendah. Kandungan bahan organik tanah dan hara yang tinggi disebabkan oleh kandungan karbon hitam yang sangat tinggi.
Dari buku kuno di Jepang juga diketahui istilah pupuk-api (fire-manure) sebagai penyubur pertanian pada tahun 1697. Pupuk-api ini tak ubahnya biochar.
Tradisi di China, upaya menyuburkan lahan sejak lama dikembangkan melalui pembakaran biomassa. Penelitian ilmiah terhadap peran biochar bagi pertumbuhan bibit padi juga sudah dikembangkan pada tahun 1915.
Pada tahun 2007 International Rice Research Institute (IRRI) menguji pemberian biochar pada produksi padi gogo di Laos bagian utara. Biochar terbukti meningkatkan konduktivitas hidrolik top soil atau lapisan permukaan tanah dan meningkatkan hasil gabah pada kandungan tanah yang rendah fosfor (P) tersebut. Pemberian biochar juga terbukti meningkatkan respons terhadap pemberian pupuk dengan kandungan nitrogen (N).


Potensi pengembangan biochar limbah pertanian
Dalam aplikasinya, arang hayati, misalnya dari pembakaran batang kayu, biasanya dijadikan media tanam tanaman anggrek. Petani juga kerap membakar jerami untuk menambah kesuburan lahan. Itulah praktik pemanfaatan biochar yang tanpa disadari sesungguhnya dapat dikembangkan jauh lebih optimal.
Di Indonesia potensi alam melimpah tetapi tidak dimanfaatkan secara optimal. Jumlah biomassa sangat melimpah, tetapi pemanfaatannya masih sangat sedikit. Dapat diambil contoh residu pertanian dari produksi padi adalah sekam dan jerami.
Dari bulir gabah (Gani,2009) dapat diperoleh sekam dengan kandungan 18 persen hingga 22 persen. Kemudian dari jerami dapat diperoleh 45 persen sampai 55 persen biomassa tanaman itu. Panenan gabah kering rata-rata saat ini 6 ton per hektar, akan diperoleh 1,2 ton sekam dan 6 ton jerami. Total limbah produksi padi untuk biochar mencapai 120 persen gabahnya. Setiap tahun kini diproduksi lebih dari 55 juta ton gabah kering panen. Ini berarti di Indonesia ada sekitar 66 juta ton limbah produksi padi berpotensi menjadi biochar setiap tahun.
Belum lagi residu dari produksi tani kacang-kacangan atau tongkol jagung, residu perkebunan kelapa sawit, tempurung kelapa, residu tebu dan residu pengolahan hasil kehutanan berupa kayu. Potensi pembuatan biochar dari limbah pertanian benar-benar sangat berlimpah.


C. PENUTUP
Penelitian dan pengembangan biochar telah menarik banyak komunitas ilmiah dan pengguna yang melihat perspektif menarik tentang pengelolaan biomassa bagi pembanguan perekonomian dan swasembada pangan. Integrasi produksi bioenergi pertanian berkelanjutan dengan pengelolaan limbah ke dalam suatu pendekatan penggunaan biochar merupakan usaha pengelolaan sumber daya yang memiliki peluang besar. Sehingga diharapkan adanya realisasi oleh berbagai pihak terkait.
Aplikasi biochar mempunyai manfaat agronomis yang nyata. Namun, hasil ini tidak universal karena dari beberapa hasil penelitian lain menunjukkan hasil yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh luasnya kisaran sifat biochar, sesuai dengan bahan dasarnya, dan interaksi yang beragam antara biochar dengan tipe tanah. Karena itu masih diperlukan penelitian untuk pengembangan pemanfaatan biochar secara umum.
Karena biochar dapat dibuat dari berbagai biomassa, maka diharapkan tidak memakai biomassa bahan makanan layak pakai dan kayu hutan, tetapi menggantinya dengan limbah-limbah pertanian dan bahan organik yang tidak dipakai.
Produksi biochar dengan reaktor yang tidak kedap udara memungkinkan emisi pembakaran keluar dari sistem dan mencemari lingkungan. Maka dari itu diperlukan inovasi dan pengembangan reaktor seideal mungkin. Sehingga selain mencegah keluarnya emisi, jumlah karbon yang terfiksasi ke dalam biochar pun semakin besar.

Pemanfaatan Sampah Berorientasi Pertanian Kota

06 February 2014 00:32:18 Dibaca : 201
Pemanfaatan Sampah Berorientasi Pertanian Kota

 

 

 

INILAH.COM, Bandung - Beribu-ribu ton sampah dihasilkan dari berbagai kalangan mulai dari rumah tangga hingga industri. Namun, pemanfaatan sampah masih terbilang rendah terutama oleh masyarakat di perkotaan.

"Sebetulnya, sampah punya manfaat lain dan punya nilai ekonomi jika dimanfaatkan dengan maksimal," ujar Ketua Tim Kelompok Kerja (Pokja) Dewan Pengembangan Ekonomi (DPE) Bidang Pertanian, Prof Dr Maman Haeruman pada Seminar Pengembangan Pertanian Perkotaan, Rabu (19/12/2013).

Dia menjelaskan, sampah bisa dimanfaatkan untuk berbagai sektor seperti pertanian. Sampah diolah menjadi pupuk organik bagi tanaman. Pupuk jenis ini dianggap memiliki kualitas lebih baik dibandingkan pupuk kimia.

Namun demikian, pemanfaatan sampah di perkotaan masih sedikit terkendala akibat masalah keterbatasan lahan. Lahan semakin sempit karena beralih fungsi jadi pemukiman, bisnis, maupun pemerintahan.

"Sampah juga menjadi permasalahan di Kota Bandung, lahan untuk pertanian juga sangat terbatas," tuturnya.

Menurutnya, kendala tersebut bisa disiasati dengan berbagai cara. Lahan yang terbatas harus dimaksimalkan asalkan ada keinginan kuat dari berbagai pihak.

Lahan yang dimanfaatkan untuk pertanian bisa menggunakan lahan milik pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Sasaran pertanian kota bisa memanfaatkan kelompok masyarakat seperti wanita tani, PKK, Karang Taruna, dan masyarakat berpendidikan.

"Pekarangan rumah, halaman sekolah maupun kantor bisa dimanfaatkan," terangnya.

Lebih lanjut dituturkannya, terdapat sejumlah komoditi pertanian yang cocok dikembangkan di perkotaan seperti tanaman hias berupa anggrek. Tanaman warung hidup juga sangat layak untuk ditanam seperti buah-buahan, semisal rambutan, mangga, sawo, dan sebagainya. Kemudian, tanaman apotek hidup juga bisa ditanam seperti jahe, kencur, kunyit, sirih, dan beberapa lainnya.

"Selain untuk dikonsumsi sendiri, tanaman tersebut juga memiliki nilai ekonomis karena bisa dijual ke pasaran," pungkasnya. [rni]

PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN MENJADI PUPUK ORGANIK BOKASHI

06 February 2014 00:29:31 Dibaca : 579

A. PENDAHULUAN
Limbah pertanian merupakan sisa-sisa hasil pertanian yang berasal dari tumbuhan dan hewan ternak misalnya sisa dari pemanenan hasil tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, sampah rumah tangga, kotoran hewan ternak dan sebagainya. Pemanfaatan limbah pertanian sangat perlu kita lakukan agar tidak terjadi pencemaran lingkungan selain itu dapat dijadikan masukan/tambahan bagi petani ataupun masyarakat yang memanfaatkan limbah tersebut.

Masyarakat telah menyadari bahwa menggunakan bahan-bahan kimia non alami seperti pupuk dan pestisida sintetik serta hormon tumbuhan dalam memproduksi hasil pertanian ternyata menimbulkan efek terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Gaya hidup sehat menjadi trend bagi masyarakat dunia dan kini telah melembaga secara internasional yang diwujudkan melalui regulasi perdagangan global, makanan yang dikonsumsi mempunyai kandungan nutrisi tinggi dan ramah lingkungan.

B. PENGENALAN BOKASHI
Bokashi adalah suatu kata dalam bahasa jepang yang berarti “Bahan organik yang telah difermentasikan” jadi pupuk organik bokashi merupakan hasil fermentasi bahan organik dari limbah pertanian (kotoran ternak, jerami padi, sekam padi, serbuk gergaji, sampah, rumput dan lain-lain) yang diolah dengan menggunakan aktifator Effektif Microorganisme4 (EM4).

Tahun 1980-an, Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas Ryukyu, di Okinawa Jepang telah memperkenalkan konsef EM (Mikroorganisme Efektif) kepada pertanian yang alami.

Effektif Microorganisme4 (EM4) merupakan suatu kultur campuran berbagai mikro organisme yang terdiri dari bakteri pengurai bahan organik yang digunakan untuk proses pembuatan pupuk organik bokashi, yang dapat menjaga kesuburan tanah sehingga berpeluang untuk meningkatkan produksi dan menjaga kestabilan produksi. EM4 mengandung mikro organisme fermentasi yang terdiri dari bakteri asam laktat (Laktobacillus spp), bakteri Fotosintetik (Rhodopseudomonas spp), Actinomycetes, Streptomyces sp dan ragi.
a. Manfaat Pupuk Organik Bokashi
Menggemburkan tanah.
Menghasilkan unsur hara mikro dan makro yang cepat terserap oleh perakaran tanaman.
Mencegah timbulnya jamur pada pupuk kandang dan tanah lingkungan tanaman.
Merangsang pertumbuhan yang cepat dengan populasi maksimal.
Mengurangi penggunaan pupuk kimia 50% sampai 70%.
Menekan populasi perkembangan hama atau bakteri patogen sehingga mengurangi penggunaan insektisida, pestisida maupun fungisida.
b. Jenis – jenis Bokashi
Menurut bentuknya bokashi dibagi dalam 2 jenis yaitu Bokasih padat dan Bokashi cair, Bokashi padat terbuat dari limbah pertanian yang berbentuk padat, misalnya kotoran ternak, sampah organik, dll. Sedangkan pupuk bokashi cair terbuat dari kotoran ternak atau limbah pertanian lainnya yang diolah berbentuk cair dengan penambahan air sesuai anjuran.

C. CARA MEMBUAT BOKASHI (untuk 1 ton)
1. Bokashi Padat

Bahan: - Hijauan daun 200 kg (hijauan daun, sisa sayuran, jerami, sekam, dll) - Pupuk kandang 750 kg (kotoran kambing, ayam, sapi, dll) - Dedak/bekatul 50 kg - EM-4 1 liter - Larutan gula pasir, 1 kg per 10 liter air - Air secukupnya

Tahapan Pembuatan: 1. Potong sampah basah (3-5 cm), kecuali jika menggunakan sekam 2. Campurkan Sampah basah – pupuk kandang – dedak/bekatul, hingga rata 3. Larutkan EM-4 + Air gula ke dalam 200 liter air. 4. Siramkan larutan secara perlahan secara merata ke dalam campuran sampah basah-kotoran-dedak. Lakukan hingga kandungan air di adonan mencapai 30 – 40 %. Tandanya, bila campuran dikepal, air tidak keluar dan bila kepalan dibuka, adonan tidak buyar. 5. Hamparkan adonan di atas lantai kering dengan ketebalan 15 – 20 cm, lalu tutup dengan karung goni atau terpal selama 5 – 7 hari. 6. Agar suhu adonan tidak terlalu panas akibat fermentasi yang terjadi, adonan diaduk setiap hari hingga suhu dapat dipertahankan pada kisaran 45 – 50 derajad Celsius. 7. Setelah satu minggu, pupuk bokashi siap digunakan.

Aplikasi: Untuk tanaman tahunan semisal karet, coklat, dan lainnya, gunakan bokashi padat sebagai pupuk dasar. Dua kilogram bokashi diaduk dengan tanah lalu dibenamkan di lubang tanam. 2.. Bokashi Cair (untuk 200 liter)

Bahan: - Pupuk kandang 30 kg (kotoran kambing, ayam, sapi, dll) - Hijauan daun (secukupnya) - EM-4 1 liter - Gula pasir 1 kg - Terasi 1 kg - Air bersih 200 liter - Dapat pula ditambah 2 kg pupuk NPK untuk memperkaya nutrisi

Tahapan Pembuatan: 1. Pupuk kandang dihaluskan 2. Gula pasir – Terasi – EM-4 – NPK dilarutkan dalam air 3. Campuran pupuk kandang dan larutan gula dimasukkan ke dalam drum plastik kemudian ditambahkan air bersih hingga volumenya mencapai 200 liter. 4. Drum ditutup rapat. Setiap hari dibuka dan diaduk selama 15 menit. 5. Bokashi cair akan siap digunakan setelah 5 – 7 hari.

Aplikasi: 1 liter bokashi dicampur dengan 9 liter air bersih. Selanjutnya, siramkan pada tanah di sekitar tanaman atau disemprotkan pada daun sebanyak 0,25 – 1 liter tergantung jenis tumbuhan.

Sumber:
www.deptan.go.id/feati/teknologi/BOKASHI.pdf
http://pertanianasahan.blogspot.com
www.deptan.go.id/daerah_new/banten/dispertanak.../artikel_12.htm
http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-Undergraduate-22566-1.%20ABSTRAK.pdf

-----*Salam Spirit & Sukses*-----

Semoga bermanfaat..

A. PENDAHULUAN
Limbah pertanian merupakan sisa-sisa hasil pertanian yang berasal dari tumbuhan dan hewan ternak misalnya sisa dari pemanenan hasil tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, sampah rumah tangga, kotoran hewan ternak dan sebagainya. Pemanfaatan limbah pertanian sangat perlu kita lakukan agar tidak terjadi pencemaran lingkungan selain itu dapat dijadikan masukan/tambahan bagi petani ataupun masyarakat yang memanfaatkan limbah tersebut.

Masyarakat telah menyadari bahwa menggunakan bahan-bahan kimia non alami seperti pupuk dan pestisida sintetik serta hormon tumbuhan dalam memproduksi hasil pertanian ternyata menimbulkan efek terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Gaya hidup sehat menjadi trend bagi masyarakat dunia dan kini telah melembaga secara internasional yang diwujudkan melalui regulasi perdagangan global, makanan yang dikonsumsi mempunyai kandungan nutrisi tinggi dan ramah lingkungan.

B. PENGENALAN BOKASHI
Bokashi adalah suatu kata dalam bahasa jepang yang berarti “Bahan organik yang telah difermentasikan” jadi pupuk organik bokashi merupakan hasil fermentasi bahan organik dari limbah pertanian (kotoran ternak, jerami padi, sekam padi, serbuk gergaji, sampah, rumput dan lain-lain) yang diolah dengan menggunakan aktifator Effektif Microorganisme4 (EM4).

Tahun 1980-an, Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas Ryukyu, di Okinawa Jepang telah memperkenalkan konsef EM (Mikroorganisme Efektif) kepada pertanian yang alami.

Effektif Microorganisme4 (EM4) merupakan suatu kultur campuran berbagai mikro organisme yang terdiri dari bakteri pengurai bahan organik yang digunakan untuk proses pembuatan pupuk organik bokashi, yang dapat menjaga kesuburan tanah sehingga berpeluang untuk meningkatkan produksi dan menjaga kestabilan produksi. EM4 mengandung mikro organisme fermentasi yang terdiri dari bakteri asam laktat (Laktobacillus spp), bakteri Fotosintetik (Rhodopseudomonas spp), Actinomycetes, Streptomyces sp dan ragi.
a. Manfaat Pupuk Organik Bokashi
Menggemburkan tanah.
Menghasilkan unsur hara mikro dan makro yang cepat terserap oleh perakaran tanaman.
Mencegah timbulnya jamur pada pupuk kandang dan tanah lingkungan tanaman.
Merangsang pertumbuhan yang cepat dengan populasi maksimal.
Mengurangi penggunaan pupuk kimia 50% sampai 70%.
Menekan populasi perkembangan hama atau bakteri patogen sehingga mengurangi penggunaan insektisida, pestisida maupun fungisida.
b. Jenis – jenis Bokashi
Menurut bentuknya bokashi dibagi dalam 2 jenis yaitu Bokasih padat dan Bokashi cair, Bokashi padat terbuat dari limbah pertanian yang berbentuk padat, misalnya kotoran ternak, sampah organik, dll. Sedangkan pupuk bokashi cair terbuat dari kotoran ternak atau limbah pertanian lainnya yang diolah berbentuk cair dengan penambahan air sesuai anjuran.

C. CARA MEMBUAT BOKASHI (untuk 1 ton)
1. Bokashi Padat

Bahan: - Hijauan daun 200 kg (hijauan daun, sisa sayuran, jerami, sekam, dll) - Pupuk kandang 750 kg (kotoran kambing, ayam, sapi, dll) - Dedak/bekatul 50 kg - EM-4 1 liter - Larutan gula pasir, 1 kg per 10 liter air - Air secukupnya

Tahapan Pembuatan: 1. Potong sampah basah (3-5 cm), kecuali jika menggunakan sekam 2. Campurkan Sampah basah – pupuk kandang – dedak/bekatul, hingga rata 3. Larutkan EM-4 + Air gula ke dalam 200 liter air. 4. Siramkan larutan secara perlahan secara merata ke dalam campuran sampah basah-kotoran-dedak. Lakukan hingga kandungan air di adonan mencapai 30 – 40 %. Tandanya, bila campuran dikepal, air tidak keluar dan bila kepalan dibuka, adonan tidak buyar. 5. Hamparkan adonan di atas lantai kering dengan ketebalan 15 – 20 cm, lalu tutup dengan karung goni atau terpal selama 5 – 7 hari. 6. Agar suhu adonan tidak terlalu panas akibat fermentasi yang terjadi, adonan diaduk setiap hari hingga suhu dapat dipertahankan pada kisaran 45 – 50 derajad Celsius. 7. Setelah satu minggu, pupuk bokashi siap digunakan.

Aplikasi: Untuk tanaman tahunan semisal karet, coklat, dan lainnya, gunakan bokashi padat sebagai pupuk dasar. Dua kilogram bokashi diaduk dengan tanah lalu dibenamkan di lubang tanam. 2.. Bokashi Cair (untuk 200 liter)

Bahan: - Pupuk kandang 30 kg (kotoran kambing, ayam, sapi, dll) - Hijauan daun (secukupnya) - EM-4 1 liter - Gula pasir 1 kg - Terasi 1 kg - Air bersih 200 liter - Dapat pula ditambah 2 kg pupuk NPK untuk memperkaya nutrisi

Tahapan Pembuatan: 1. Pupuk kandang dihaluskan 2. Gula pasir – Terasi – EM-4 – NPK dilarutkan dalam air 3. Campuran pupuk kandang dan larutan gula dimasukkan ke dalam drum plastik kemudian ditambahkan air bersih hingga volumenya mencapai 200 liter. 4. Drum ditutup rapat. Setiap hari dibuka dan diaduk selama 15 menit. 5. Bokashi cair akan siap digunakan setelah 5 – 7 hari.

Aplikasi: 1 liter bokashi dicampur dengan 9 liter air bersih. Selanjutnya, siramkan pada tanah di sekitar tanaman atau disemprotkan pada daun sebanyak 0,25 – 1 liter tergantung jenis tumbuhan.


Sumber:
www.deptan.go.id/feati/teknologi/BOKASHI.pdf
http://pertanianasahan.blogspot.com
www.deptan.go.id/daerah_new/banten/dispertanak.../artikel_12.htm
1 Komentar

PERTANIAN MASA DEPAN

06 February 2014 00:16:46 Dibaca : 379

Pertanian berkelanjutan mengambil berbagai bentuk, tetapi pada intinya adalah penolakan pada pendekatan produksi industri makanan yang dikembangkan selama abad ke-20. Sistem ini, dengan kepercayaan pada monokultur, mekanisasi, pupuk & pestisida kimia, bioteknologi dan subsidi pemerintah, telah membuat makanan yang berlimpah dan terjangkau.

Namun, ekologis dan nilai sosial telah menurun curam, seperti erosi; pencemaran tanah dan sumber daya air, hilangnya keanekaragaman hayati seperti: deforestasi, penyalahgunaan tenaga kerja, dan kemerosotan pertanian keluarga.
 
Pyramid Farm
 
Image courtesy Eric Ellingsen and Dickson Despommier
 
Vertical Farm Project The Pyramid Farm, dirancang oleh guru vertical farm Dickson Despommier di New York Columbia University dan Eric Ellingsen dari Illinois Institute of Technology, adalah salah satu cara untuk mengatasi kebutuhan membengkaknya pertumbuhan penduduk di planet ini dengan lahan pertanian terbatas. Tim desain tim di seluruh dunia telah berputar haluan ke konsep pencakar langit yang berfungsi sebagai kebun pencakar langit yang futuristik – atau sebagai tambahan bagi kebutuhan penduduk kota. Selain menanam buah-buahan dan sayuran, Pyramid Farm yang termasuk sistem pemanasan dan konversi limbah menjadi air dan bahan bakar karbon untuk mesin dan lampu, menurut Inhabitat.com.
 
Skyfarm
 
Image courtesy Gordon Graff, Vertical Farm Project
 
Gordon Graff di di University of Waterloo di Ontario memikirkan Skyfarm 59-lantai dengan konsep bersih yang menurut beberapa kritikus yang dianggap tdk dpt dinaiki ke gawang vertical farm – menghasilkan listrik cukup untuk replikasi output matahari pada biaya yang wajar. Meskipun hydroponic peternakan akan mengkonsumsi sekitar 82 juta kilowat jam per tahun, menurut Toronto Star, sebuah pabrik biogas penukaran pembakaran methane dari limbah peternakan akan menyediakan sekitar 50 persen dari energi. Sisa bahan bakar yang dibutuhkan dapat berasal dari sampah kota.
 
Seawater Vertical Farm
 
Image courtesy Cristiana Favretto and Antonio Girardi, StudioMobile
 
Seawater Vertical Farm adalah konsep arsitek Italia Cristiana Favretto dan Antonio Girardi upaya untuk mengatasi meningkatnya permintaan untuk irigasi di era terbatasnya sumber air tawar. Solusi yang ditawarkan menggunakan penguapan air laut untuk melembabkab greenhouses. Sebagian dari uap air di udara ini kemudian diubah menjadi air tawar untuk mengairi tanaman, dijelaskan pada situs www.studiomobile.com. Konsep direncanakan di Dubai, dimana air tawar dan tanaman lokal langka.
 
Vertical Farm-Type O concept
 
Image courtesy Oliver Foster, Vertical Farm Project
 
Mengetahui bahwa berbagai jenis tanaman yang berbeda persyaratan pertumbuhan , Oliver Foster dari Queensland University of Technology merancang Vertikal Farm Jenis O-konsep.




Eco-Laboratory
 
Image courtesy Weber Thompson, Vertical Farm Project
 
The Eco-Laboratorium, dibuat oleh Seattle, perusahaan arsitektur Weber Thompson berbasis di Washington, adalah bangunan 12-lantai dan bertingkat tinggi yang kompleks campuran Residences dengan taman yang memproduksi makanan untuk lingkungan setempat. Perusahaan memperkirakan bahwa penjualan tomat dan selada yang dikembangkan dari kebun hydroponic dapat memperoleh sekitar satu juta dolar AS per-tahun, berdasarkan pendapatan minus base biaya produksi Rancangan kelayakan ekonomi yang masuk akal versi yang nyata dalam beberapa tahun, tim catatan.
 
Living Skyscraper
 
Image courtesy Blake Kurasek, Vertical Farm Project
 
Vertical farm – Rosenstiehl
 
Image courtesy Augustin Rosenstiehl, Atelier SOA Architects, Vertical Farm Project
“Suatu vertikal farm harus disesuaikan untuk tempat tertentu,” kata Augustin Rosenstiehl dari Atelier SOA Architects di Paris kepada New York Times pada bulan Juli 2008. Sebagai contoh, akan sia-sia untuk membangun suatu vertical-farm didalam kota besar yang hanya untuk menanam bji-bijian jika pertumbuhan dipedesaan masih baik. Karena itu Rosenstiehl telah menyusun beberapa konsep yang berbeda untuk tanaman pangan di lingkungan perkotaan, termasuk satu di atas dengan penempatan tubin angin untuk menghasilkan listrik.
 
Vertical farm – Chris Jacobs
 
Image courtesy Chris Jacobs and Dickson Despommier, Vertical Farm Project
sumber: http://taradigadingdangdong.wordpress.com/category/architecture/