KATEGORI : ADVICE

Spongebob, Mewakili 7 Sifat Jelek Manusia

15 March 2013 08:34:54 Dibaca : 287

- Anda tahu Spongebob? Ya, sebuah spons laut berwarna kuning yang hidup bersama peliharaannya, Gary, seekor siput laut yang berperilaku sebagai kucing. Spongebob tinggal bertetangga dengan sahabatnya Patrick, seekor bintang laut; dan tetangga yang selalu memusuhinya Squidward, seekor gurita yang tidak senang bersosialisasi, memiliki sifat penggerutu, dan hobi bermain klarinet.
Kelucuan-kelucuan dalam cerita serial ini bersumber dari perilaku sehari-hari Spongebob yang polos, optimis, selalu ceria, dan memiliki prasangka baik terhadap siapapun. Terkadang perilaku ini membawa bencana, dimanfaatkan, atau terjadi salah paham kala disatukan dengan sifat-sifat mahluk lain yang tinggal di Bikini Bottom.
Tapi tahukah anda bahwa tokoh-tokoh dalam film serial spongebob mewakili sifat-sifat layaknya pada manusia, oke disini kita akan mulai membahas satu persatu watak karakter dalam film spongebob:

1. Sloth/kemalasan (patrick)


kemalasan adalah suatu hal yang dianggap dosa, termasuk kemalasan dalam bertindak. Jelas ini adalah sifat patrick. Dia tinggal di bawah batu sepanjang waktu dan tidak pernah melakukan apa-apa. Bahkan dalam episode “big pink loser”, dia mendapatkan penghargaan untuk tidak melakukan apa-apa paling lama.

2. Wrath/amarah (squidward)


Amarah melibatkan perasaan kebencian dan kemarahan. Squidward membenci hidupnya dan juga membenci Sponge Bob, dan sebagian besar waktunya dihabiskan untuk marah-marah.

3. Greed/keserakahan (mr. Krabs)


Jelas Mr. Krabs adalah tokoh yang sangat serakah terhadap uang. Bagaimana mungkin tidak? dia benar-benar berfikir bahwa uang adalah segalanya.

4. Envy/iri hati (plankton)


Plankton iri kepada mr. Krabs karena the krusty krab sangat sukses, sedangkan the chum bucket adalah sebuah kegagalan. Iri membuatnya ingin mencoba untuk mencuri formula rahasia krabby patty.

5. Gluttony/kerakusan (gary)


Saya benar-benar berpikir bahwa yang satu ini cukup lucu. Apakah Anda pernah memperhatikan Sponge Bob dimana dia selalu mengatakan, “jangan lupa untuk memberi makan, Gary” atau mengatakan, “Saya harus pergi makan Gary”. Gary bahkan lari saat Sponge Bob lupa untuk memberinya makan. kerakusan biasanya mengacu pada berlebihan dalam hal makan.

6. Pride/kebanggaan yang Berlebihan (sandy)


Sandy bangga terhadap siapa dirinya dan darimana dia berasal. Dia bangga pada kenyataan bahwa dia dari texas dan senang kalau semua orang tahu tentang itu. Dia juga bangga pada kenyataan bahwa dia adalah mamalia dan makhluk darat, seperti dalam episode “pressure”, dimana dia mencoba untuk membuktikan bahwa makhluk darat lebih baik daripada makhluk laut.

7. Lust/Nafsu (Sponge Bob)



Kelihatannya aneh dan penasaran pada awalnya. Nafsu dalam suatu definisi adalah, “kasih sayang berlebihan terhadap orang lain”. Ini jelas dialamatkan pada Sponge Bob. Dia menunjukkan cintanya kepada orang lain dengan semangat untuk berbuat baik dan membantu orang dan nafsu terhadap perkerjaannya yang terlalu berlebihan.
Itu semua adalah beberapa sifat yang terdapat dalam kartun Spongebob yang mungkin juga mewakili sifat jelek pada manusia, namun hal inilah yang membuat daya tarik kartun Spongebob hingga masih eksis sampai saat ini.

Sifat-Sifat Buruk Yang dapat Menyebabkan Sakit

23 February 2013 14:36:57 Dibaca : 209

Ketahuilah sahabatku, bahwa sifat-sifat buruk dan kondisi emosi kita yang kurang stabil dapat menyebabkan kita terserang suatu penyakit. Apalagi bila kita selalu memiliki pikiran yang negatif dan memiliki kepribadian yang “buruk”, maka secara tidak langsung akan memperburuk kondisi kesehatan kita.
Lalu, sifat negatif apa saja sih, yang dapat menyebabkan tubuh kita kurang sehat? inilah diantaranya

 

1. Rasa Bosan (sakit kepala, athritis, dan jantung)
Rasa bosan yang menghantui seseorang memang sangat erat kaitannya dengan sakit kepala. Rasa bosan biasanya dapat melahirkan emosi negatif pada tubuh seseorang. Sehingga dengan mudah meningkatkan stress dan memperlemah sistem kekebalan tubuh yang tentunya akan mempermudah terjangkitnya suatu peenyakit, terutama sakit kepala

 

2. Rasa Cemas dan Panik berlebihan (gangguan lambung)
Salah seorang dosen kedokteran dari Universitas Nort Caroline, Douglas Drossman , pernah melakukan penelitian terhadap beberapa orang wanita, yang hasilnya adalah wanita yang selalu merasa cemas dan panik yang sangat berlebihan terhadap hal-hal kecil sekalipun akan sangat mudah terserang gangguan pada lambungnya.

 

3. Tidak Sabaran dan Emosional atau Gampang Marah (penyakit jantung dan stroke)
Ketika seseorang sedang marah, maka tekanan darahnya akan cepat naik dan pernapasannya akan semakin cepat sehingga otot menjadi tegang. Hal ini tentunya akan mengganggu sistem peredaran darah pada jantung seseorang yang seharusnya berjalan normal tanpa tekanan. Dan bila hal ini berlarut-larut tidak tertutup kemungkinan seseorang itu akan mudah terkena penyakit jantung dan akhirnya dapat menyebabkan stroke.

 

4. Tidak Percaya Diri dan Rendah Diri yang Berlebihan (gampang Sakit)
Orang yang memiliki sifat rendah diri biasanya memiliki hubungan yang sangat buruk dengang lingkungan sekitarnya, begitu juga dengan keluarga terdekatnya. Dimungkinkan bahwa tubuhnyapun memiliki respon yang sama terhadap penyakit didalam tubuhnya. Yangmana tubuhnyapun memiliki protecksi yang sangat rendah terhadap penyakit. Sehingga ketika virus penyebab suatu penyakit itu datang, maka dengan sangat mudah menjangkiti tubuhnya. Dan begitu juga dalam hal proses penyembuhannya akan semakin terhambat akibat kurangnya respon positif yang ada dalam tubuhnya.

15 Sifat Buruk Manusia

23 February 2013 14:35:27 Dibaca : 174

15 Sifat buruk yaitu :

  • Manusia itu LEMAH
  • Manusia itu suka TERGESA-GESA
  • Manusia itu suka BERKELUH KESAH
  • Manusia itu SUKA MEMBANTAH
  • Manusia itu KIKIR
  • Manusia itu DZOLIM dan BODOH
  • Manusia itu suka BERANGAN-ANGAN
  • Manusia itu PELUPA
  • Manusia itu GAMPANG TERPERDAYA
  • Manusia itu mudah LALAI
  • Manusia itu PENAKUT/GAMPANG KHAWATIR
  • Manusia itu SUKA MENGKUFURI NIKMAT
  • Manusia itu SUKA MENURUTI PRASANGKA
  • Manusia itu suka BERLEBIH-LEBIHAN
  • Manusia itu GAMPANG BERSEDIH HATI

 

 

Nasehat Para Tokoh Islam Terkenal

23 February 2013 12:11:23 Dibaca : 178

Alangkah baiknya jika engkau tetap manis

Meski hidup itu sendiri adalah pahit.

Dan alangkah baiknya jika engkau rela

Walaupun manusia penuh dengan kemurkaan.

Alangkah baiknya di antara aku dan engkau

tetap terjalin hubungan yang mesra

Walaupun di antara aku dengan seluruh alam telah hancur.

Jika benar-benar dari pihak engkau ada yang jujur,

maka segala urusan mudahlah dihadapi.

Sebab tiap-tiap yang ada di antara tanah itu

adalah semata-mata tanah belaka.

(Imam Syafi’i)

 

Siapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan

maka berarti berusaha untuk menghilangkan nikmat itu,

dan siapa yang bersyukur atas nikmat itu

berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat kukuh.

(Al Hikam)

 

Ajaib masalah Islam ini

Sesungguhnya seluruhnya adalah kebajikan,

kebaikan, persaudaraan, saling menasihati dengan kebenaran,

saling menasihati dengan sabar

Bukankah risalahnya adalah rahmat bagi seluruh alam ?

(Al Lewa Al Islamy)

 

“Janganlah kamu melihat kepada kecilnya kesalahan, tetapi lihatlah kepada maha besarNya Dzat yang kamu tentang.”

(Bilal bin Sa’ad)

 

Apabila melaksanakan perintah Allah SWT,

maka tanggalkanlah pandangan manusia yang tertuju kepadamu,

dan tanggalkanlah kepentingan pribadimu,

semua hendaknya engkau tujukan semata-mata kepada Allah saja.

(Abdul Qadir Jailani)

 

Islam memiliki dinding dan pintu yang kuat.

Dinding Islam itu ialah kebenaran dan pintunya ialah keadilan.

islam akan tetap jaya, selama penguasa-penguasa bersikap keras dan tegas,

tetapi itu dilakukan tidak berarti mesti dengan pedang dan cemeti,

melainkan dengan hak dan keadilan.

(Said bin Suwaid)

 

Tidak ada kebaikan bagi pembicaraan kecuali dengan amalan.

Tidak ada kebaikan bagi harta kecuali dengan kedermawanan.

Tidak ada kebaikan bagi sahabat kecuali dengan kesetiaan.

Tidak ada kebaikan bagi shadaqah kecuali niat yang ikhlas.

Tidak ada kebaikan bagi kehidupan kecuali kesehatan dan keamanan.

(Al-Ahnaf bin Qais)

 

Demi engkau,

Apakah arti manusia

selain arti agamanya

karena itu, janganlah tinggalkan taqwa

karena bergantung kepada turunan !

Buktinya, Islam telah mengangkat (Sang Budak) Salman Al-Farisi

Dan menjauhkan kebangsawanan Abu Lahab Karena Syirik.

(Al Lewa Al Islami)

 

Lima macam obat hati yaitu:

1. Membaca Al-qur’an dan memahami artinya.

2. Mengosongkan perut jangan terlalu kenyang

3. Bangun malam untuk Shalat

4. Berendah diri kehadirat Allah tatkala dini hari

5. Sering duduk bersama orang-orang salah yang baik.

(Ahli Tasawuf)

 

“Putaran waktu akan memperlihatkan kepada kita

peristiwa2 yang mengejutkan dan memberikan peluang

kepada kita untuk berbuat.

Dunia akan melihat bahwa dakwah kita adalah hidayah,

kemenangan dan kedamaian yang dapat menyembuhkan ummat

dari rasa sakit yang tengah dideritanya.

Setelah itu tibalah giliran kita untuk memimpin dunia,

karena bumi tetap akan berputar

dan kejayaan itu akan kembali kepada kita.

hanya Allah-lah harapan kita satu-satunya.”

(Hasan Al Bana)

Nasehat Imam al-Ghazali

23 February 2013 12:07:19 Dibaca : 225

"Ilmu itu cahaya", demikian petuah masyhur dari para Hukama' dan orang-orang saleh. Ibnu Mas'ud r.a., salah satu Sahabat Nabi berwasiat, bahwa hakekat ilmu itu bukanlah menumpuknya wawasan pengetahuan pada diri seseorang, tetapi ilmu itu adalah cahaya yang bersemayam dalam kalbu.Kedudukan ilmu dalam Islam sangatlah penting. Rasulullah saw., bersabda: "Sesungguhnya Allah swt., para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi hingga semut dalam tanah, serta ikan di lautan benar-benar mendoakan bagi pengajar kebaikan". (HR. Tirmidzi). Nabi juga bersabda: "Terdapat dua golongan dari umatku, apabila keduanya baik, maka manusia pun menjadi baik dan jika keduanya rusak maka rusaklah semuanya, yakni golongan penguasa dan ulama" (HR. Ibnu 'Abdil Barr dan Abu Naim dengan sanad yang lemah).

Mengingat kedudukannya yang penting itu, maka menuntut ilmu adalah ibadah, memahaminya adalah wujud takut kepada Allah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah dan mengingatnya adalah tasbih. Dengan ilmu, manusia akan mengenal Allah dan menyembah-Nya. Dengan ilmu, mereka akan bertauhid dan memuja-Nya. Dengan ilmu, Allah meninggikan derajat segolongan manusia atas lainnya dan menjadikan mereka pelopor peradaban.

Oleh karena itu, sebelum menuntut ilmu, Imam al-Ghazali mengarahkan agar para pelajar membersihkan jiwanya dari akhlak tercela. Sebab ilmu merupakan ibadah kalbu dan salah satu bentuk pendekatan batin kepada Allah. Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali dengan membersihkan diri dari hadas dan kotoran, demikian juga ibadah batin dan pembangunan kalbu dengan ilmu, akan selalu gagal jika berbagai perilaku buruk dan akhlak tercela tidak dibersihkan. Sebab kalbu yang sehat akan menjamin keselamatan manusia, sedangkan kalbu yang sakit akan menjerumuskannya pada kehancuran yang abadi. Penyakit kalbu diawali dengan ketidaktahuan tentang Sang Khalik (al-jahlu billah), dan bertambah parah dengan mengikuti hawa nafsu. Sedangkan kalbu yang sehat diawali dengan mengenal Allah (ma'rifatullah), dan vitaminnya adalah mengendalikan nafsu. (lihat al-munqidz min al-dhalal)

Sebagai amalan ibadah, maka mencari ilmu harus didasari niat yang benar dan ditujukan untuk memperoleh manfaat di akherat. Sebab niat yang salah akan menyeret kedalam neraka, Rasulullah saw., bersabda: "Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk tujuan berkompetisi dan menyaingi ulama, mengolok-olok orang yang bodoh dan mendapatkan simpati manusia. Barang siapa berbuat demikian, sungguh mereka kelak berada di neraka. (HR. Ibnu Majah)

Diawali dengan niat yang benar, maka bertambahlah kualitas hidayah Allah pada diri para ilmuwan. "Barang siapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah hidayahnya, niscaya ia hanya semakin jauh dari Allah", demikian nasehat kaum bijak. Maka saat ditanya tentang fenomena kaum intelektual dan fuqaha yang berakhlak buruk, Imam al-Ghazali berkata: "Jika Anda mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakekat ilmu akherat, niscaya Anda akan paham bahwa yang sebenarnya menyebabkan ulama menyibukkan diri dengan ilmu itu bukan semata-mata karena mereka butuh ilmu itu, tapi karena mereka membutuhkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah". Selanjutnya beliau menjelaskan makna nasehat kaum bijak pandai bahwa 'kami mempelajari ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itu pun enggan kecuali harus diniatkan untuk Allah', berarti bahwa "Ilmu itu tidak mau membuka hakekat dirinya pada kami, namun yang sampai kepada kami hanyalah lafaz-lafaznya dan definisinya".(Ihya' 'Ulumiddin)

Ringkasnya, Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu saja tanpa amal adalah junun (gila) dan amal saja tanpa ilmu adalah takabbur (sombong). Junun berarti berjuang berdasarkan tujuan yang salah. Sedangkan takabbur berarti tanpa memperdulikan aturan dan kaedahnya, meskipun tujuannya benar. Maka dalam pendidikan Islam, keimanan harus ditanamkan dengan ilmu; ilmu harus berdimensi iman; dan amal mesti berdasarkan ilmu. Inilah sejatinya konsep integritas pendidikan dalam Islam yang berbasis ta'dib. Ta'dib berarti proses pembentukan adab pada diri peserta didik. Maka dengan konsep pendidikan seperti ini, akan menghasilkan pelajar yang beradab, baik pada dirinya sendiri, lingkungannya, gurunya maupun pada Penciptanya. Sehingga terjadi korelasi antara aktivitas pendidikan, orientasi dan tujuannya.

Ketika seseorang mempelajari ilmu-ilmu kedokteran, kelautan, tehnik, komputer dan ilmu-ilmu fardhu kifayah lainnya, maka mereka tidak memfokuskan niatnya pada nilai-nilai ekonomi, sosial, budaya, politik, atau tujuan pragmatis sesaat lainnya. Tapi kesemuanya ini dipelajarinya dalam rangka meningkatkan keimanan dan bermuara pada pengabdian pada Sang Pencipta. Disorientasi pendidikan diawali dengan hilangnya integritas nilai-nilai ta'dib dalam pendidikan (sekularisasi). Sekularisasi dalam dunia pendidikan berjalan dengan dua hal: (a) menempatkan ilmu-ilmu fardhu 'ain yang dianggap tidak menghasilkan nilai ekonomi dalam skala prioritas terakhir, atau dihapus sama sekali. Sehingga mahasiswa kedokteran misalnya, tidak perlu dikenalkan pelajaran-pelajaran agama. (b) mengutamakan pencapaian-pencapaian formalitas akademik. Sehingga keberhasilan seorang pelajar hanya ditentukan dari hasil nilai ujian yang menjadi ukuran pencapaian ilmu dan keberhasilan sebuah lembaga pendidikan.

Maraknya aksi corat-coret baju seragam, iring-iringan konvoi dan beragam ekspresi negatif lainnya ketika merayakan kelulusan ujian, menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan kita masih difokuskan untuk pemenuhan komuditas perut yang sarat dengan nilai-nilai hedonis. Padahal Ali bin Abi Talib ra., telah mengingatkan: "Barang siapa yang kecenderungannya hanya pada apa yang masuk kedalam perutnya, maka nilainya tidak lebih baik dari apa yang keluar dari perutnya". Wallahu a'lam wa ahkam bis shawab