ARSIP BULANAN : February 2013

Produksi Pertanian Butuh Sentuhan Wirausahawan Agribisnis

27 February 2013 10:45:34 Dibaca : 205

Pemerintah selama ini telah menetapkan kebijakan berupa peningkatkan kebijakan produksi padi menjadi 5-7 juta ton per tahun dan swasembada gula, kedelai serta daging ternak. Mestinya ini menjadi peluang besar bagi entrepreneur untuk bergerak di sektor agribisnis. Namun hal ini tidak terjadi. Pengusaha muda lebih tertarik menggeluti usaha kontraktor, ekspor-impor, dan perdagangan

Wakil Rektor Bidang Bisnis dan Komunikasi, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Ir Arif Imam Soeroso menekankan pentingnya pendidikan tinggi pertanian dalam meningkatkan kualitas SDM di bidang agribisnis. “Belum majunya pertanian Indonesia karena minimnya akhlak mayoritas praktisi agribisnis dan pertanian. IPB berusaha memberikan bekal pada mahasiswanya berupa berbagai ilmu dasar, softskill,program-program kewirausahaan yang nanti sangat berharga ketika mereka lulus,” jelas Dr Imam di Jakarta, Senin (2/4/2012).

Lulusan IPB banyak bergerak di berbagai bidang termasuk publistik, Dr Imam mengatakan hasil survei menunjukkan lulusan IPB 35 persen masih bergerak di bidang pertanian, 65 persen bergerak di bidang yang terkait pertanian.

“Kemampuan fleksibilitas lulusan IPB bekerja di berbagai bidang, ini menunjukkan keunggulan pendidikan IPB yang mampu menciptakan SDM handal dan bisa bergerak di berbagai sektor khususnya pertanian,” ujarnya.

Mirisnya lagi, sambung Imam, kurang dari 10 persen pengusaha muda yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang menekuni agribisnis. Padahal dari segi potensi dan peluang usaha agribisnis Indonesia sangat besar. Kondisi ini terjadi karena Indonesia tidak memberikan ruang kondusif bagi kelahiran para wirausaha agribisnis.

Seringkali ada entrepreneur baru yang mencoba bidang agribisnis harus terhenti, karena terhambat berbagai aturan dan keterbatasan infrastruktur. “Kadang kita masih terjerat pikiran instan, maunya banyak wirausahawan agribisnis yang terlahir,” ujar dia.

Menjadi wirausahawan handal dan berhasil membutuhkan proses minimal 3-5 tahun berusaha. ”Bila sudah mapan bisnisnya, wirausahawan tersebut dapat membuka lapangan pekerjaan dan menyumbang Product Domestic Bruto (PDB),

Wirausahawan Petani

27 February 2013 10:43:39 Dibaca : 290

Sebelumnya perkenankan saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1432 H. Saya mohon maaf jika ada tulisan dan komentar saya dalam  blog ini yang kurang berkenan di hati teman-teman blogger sekalian.

Saya membawa oleh-oleh dari perjalanan mudik tahun ini. Oleh-olehnya bukan berupa makanan, melainkan sebuah cerita. Ya, saya akan menceritakan dua orang sepupu saya yang berwirausaha. Bidang wirausaha yang mereka geluti mungkin agak jarang ditemui, yaitu bertani.

Sepupu petani saya yang pertama adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ia mengaku tidak mau disuruh-suruh oleh orang lain, sehingga ia memutuskan untuk menjalani hidup sebagai petani. Ia menggarap lahan pertanian milik keluarga dan telah berhasil beberapa kali panen. Berikut adalah cuplikan wawancara saya dengannya.

Saya (A) : Sekarang sedang menanam apa mas?
Sepupu 1 (S1): Sekarang sedang menanam ketimun. Tadi sebelum berangkat ke sini (tempat pertemuan keluarga .red) sempet panen dulu.
A:  Biasanya kalau panen seberapa banyak mas?
S1: Beberapa kuintal biasanya.
A: Yang mengerjakan lahannya ada berapa orang?
S1: Ada 4 orang termasuk saya.
A: Mas juga ikut kerja?
S1: Iya lah. Kalau prinsip saya tidak ada majikan dan bawahan. Semua kerja bersama-sama. Toh, saya juga dapat penghasilan dari kerja mereka.
A: Terus pembagian keuntungannya bagaimana? Bagi hasil?
S1: Enggak. Mereka dapat gaji. Kalau di sana (tempat dia tinggal .red) biaya tenaga kerja terhitung murah. Mereka saya kasih Rp. 10.000,- untuk kerja mulai dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang, dan masih saya tambahin jajan dan rokok. Kalau misalkan mau kerja sorenya, saya tambahi lagi Rp. 10.000,- dari jam 1 siang sampai jam 5 sore, tapi kalau yang sore tidak dikasih tambahan lagi.
A: Terus soal hama gitu ada ga?
S1: Ada lah. Biasanya disemprot rutin.
A: Kalau soal pupuk gimana?
S1: Kalau pupuk pakai campuran pupuk kandang dan pupuk kimia.
A: Kalau musim kemarau sekarang biasanya nanam ketimun ya mas?
S1: iya. Tapi biasanya berganti-ganti. Yang pasti ga boleh berhenti nanam. Harus nanam terus.
A: Kalau musim penghujan nanam padi ga?
S1: Wah, kalau nanam padi sekarang sering ruginya. Musim penghujan lebih menguntungkan nanam cabe. Sekitar 90 hari sudah bisa panen.

Begitu kurang lebih wawancara singkat saya dengan sepupu petani saya yang pertama. Pertanian yang sesungguhnya ternyata jauh lebih kompleks daripada pertanian dalam Farmville. Hehe.. Mari kita lanjutkan. Sepupu saya yang kedua baru lulus sarjana perikanan di tempat kuliah saya dulu. Saat ini ia sedang menunggu wisuda. Bersama teman-temannya ia juga bertani, namun bukan bertani tanaman melainkan ikan. Berikut wawancara saya dengannya.

A: Gimana tuh dik ceritanya bisa bertani ikan?
Sepupu 2 (S2): Iya dulu ada program pengembangan wirausaha dari salah satu bank di Indonesia yang bekerja sama dengan himpunan alumni universitas. Saya dan teman-teman membuat proposal untuk diajukan ke program tersebut. Dari 30 juta dana yang diusulkan, alhamdulillah kami mendapat 18 juta. Uang tersebut kami gunakan untuk menyewa kolam dan mulai melakukan pembibitan ikan. Kebetulan yang dipilih ikan Nila Merah.
A: Terus nanti hasilnya dijual ke siapa?
S2: Hasilnya nanti dijual ke petani ikan mas. Yang kami lakukan adalah pembibitan ikan. Jadi kami merawat mulai dari telur sampai anakan ikan untuk dijual ke para petani ikan.
A: Terus telur ikannya dapat dari mana?
S2: Ya kami beli indukan ikan. Dari indukan tersebut kami lakukan proses pemijahan hingga menghasilkan telur. Kemudian telur tersebut kami tetaskan dan dibesarkan.
A: Berapa kolam yang dipakai?
S2: Sementara ini baru memakai 4 kolam. Ikan-ikan dikelompokkan berdasarkan ukurannya pada kolam-kolam tersebut.
A: Terus sekarang bagaimana?
S2: Sudah dua kali panen. Sekarang program wirausaha tersebut sudah selesai dan teman-teman sudah mulai bubar. Tapi sekarang saya lanjutkan dengan satu teman saya dan seorang pegawai. Kemarin coba masukin ke program wirausaha yang lain dan rencananya dananya akan cair bulan depan.

Demikian kira-kira wawancara saya dengan sepupu saya yang kedua. Menarik, saat ini banyak muda-mudi yang telah mulai terjun dalam wirausaha, namun tidak banyak yang melakukan wirausaha di bidang pertanian dan pengolahan sumber daya alam. Cerita ini semoga dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman yang ingin melakukan wirausaha. Bukankah negara kita ini negara agraris yang gemah ripah loh jinawi? Mari kita berwirausaha dengan mengembangkan bidang pertanian negeri kita.

Bangkitkan Semangat Pemuda menjadi Wirausaha Bidang Pertanian

27 February 2013 10:42:38 Dibaca : 225

Pertanian merupakan salah satu basis ekonomi kerakyatan di Indonesia. Pertanian pula yang menjadi penentu ketahanan, bahkan kedaulatan pangan. Namun, sektor pertanian sebagai salah satu faktor yang mengindikasikan tingkat kesejahteraan dan peradaban suatu bangsa, kini semakin tidak diminati generasi muda. Banyak yang mengidentikkan dunia pertanian dengan pekerjaan kelas rendahan.

Akan tetapi, dikatakan oleh Drs. Sudrajat Rasyid, M.M., staf Deputi Kewirausahaan Pemuda dan Pemasyarakatan Industri Olahraga, Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, bahwa pada kenyataannya masih ada pemuda yang bekerja di sektor pertanian meskipun jumlahnya relatif sedikit. Hampir 60% SDM pertanian berusia di atas 50 tahun dengan tingkat pendidikan rendah.

Saat ini sudah mulai ada pemuda yang berbisnis di bidang pertanian ini. Untuk menarik lebih banyak generasi muda berkecimpung di bidang ini, maka perlu dibuka akses yang lebih besar pada pemuda, terutama yang telah menyelesaikan pendidikan setingkat SMA serta perguruan tinggi untuk membuka usaha berbasis pertanian. Di samping hal tersebut, juga dengan mengembangkan berbagai program pelatihan kewirausahaan sektor pertanian,jelasnya di Auditorium Fakultas Pertanian UGM, Rabu (15/7).

Adanya usaha yang sistemik dan sistematik untuk mengembangkan sektor pertanian sebagai basis usaha ekonomi, industri, dan bisnis kreatif, integrasi mata rantai industri hulu-hilir, juga merupakan upaya yang harus segera diwujudkan. Lebih lanjut dikatakan Sudrajat dalam Seminar Nasional.Bangkitkan Semangat Generasi Muda Indonesia dalam Bidang Pertanian, dari keseluruhan upaya tersebut, jangan dilupakan pula untuk melakukan promosi, eksebisi karya, dan produk wirausaha muda berbasis pertanian.

Ditambahkan Sudrajat, Kementerian Pemuda dan Olahraga melalui Deputi Kewirausahaan Pemuda dan Industri Olahraga berupaya memfasilitasi perluasan dan penguatan jaringan kemitraan bisnis wirausaha muda di dalam dan luar negeri. Di samping itu, juga diadakan pelatihan kader wirausaha muda dan pembentukan inkubator bisnis wirausaha muda di bidang pertanian.

Dengan langkah-langkah tersebut, imbuh Sudrajat, ke depannya diharapkan pemuda mampu menjadi prime mover kebangkitan ekonomi, industri, dan bisnis kreatif sektor pertanian yang berakar di masyarakat. Dituturkan olehnya, Dengan tumbuhnya wirausaha muda di bidang pertanian ini diharapkan akan mempercepat penanggulangan pengangguran dan pengentasan kemiskinan. Selain itu, kekuatan ketahanan dan kedaulatan pangan segera terwujud dan pada akhirnya menjadikan Indonesia menjadi sebuah negara industri pertanian yang maju.

Sementara itu, Ir. Tri Wibowo Susilo, M.B.A., Direktur Utama Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), mengatakan hingga saat ini sebagian besar kebutuhan pangan Indonesia masih dipenuhi dengan produk-produk pertanian impor. Sebagai contoh, untuk memenuhi kebutuhan pangan tempe-tahu, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta ton kedelai. Sementara untuk industri susu, masih mengimpor bahan baku kurang lebih 150 juta ton. Pemenuhan kebutuhan tepung dan telur bahkan masih sepenuhnya (100%) mendatangkan dari luar negeri.

Kenyataan ini menunjukkan kalau sebenarnya masyarakat kita sudah terjebak dan terbuai dalam budaya yang serba instan, lebih memilih yang sudah ada daripada repot-repot mengolahnya sendiri. Padahal, Indonesia merupakan negara yang kaya dan memiliki peluang yang cukup besar untuk bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri, ujarnya. (Humas UGM/Ika)

Tularkan Jiwa Wirausaha Pertanian

27 February 2013 10:41:06 Dibaca : 197

Menjabat selama beberapa waktu sebagai anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, mengilhami Ma’mur Hasanuddin untuk menularkan wirausaha pertanian melalui pesantren miliknya.

Demi menumbuhkan minat berwirausaha tani, Ma’mur berniat untuk memasukkan bidang tersebut dalam kurikulum sekolah. Saat ini, upaya tersebut telah dimulai dengan mengajak santrinya berkebun. Ma’mur mengakui tidak mudah menanamkan wirausaha pertanian kepada para santri, karena usia mereka yang relatif muda. Selain itu, mereka juga belum merasakan perlunya wirausaha ke depan.

Untuk itu, bapak tujuh anak tersebut berupaya menumbuhkan minat dengan membiasakan para santri akrab dengan bidang pertanian dan membiarkan mereka melihat hasilnya. “Kesulitan lainnya, mereka berasal dari latar belakang yang berbeda,” tuturnya kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (8/10).

Saat ini, kata dia, minat generasi muda terhadap pertanian sangat kurang karena mereka lebih tertarik dengan bidang-bidang nonpertanian, seper ti jasa keuangan, teknologi informasi, industri, dan lain sebagainya. Sedangkan pertanian makin di tinggalkan di tengah berbagai permasalahan yang membelitnya, seperti perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan serbuan produk impor.

Padahal, pertanian adalah salah satu sektor paling menjanjikan karena pangan merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi dan tidak bisa ditunda. Menjadi wira usaha tani juga tidak harus menjadi petani tradisional tetapi bisa melalui pengusahaan pertanian yang efisien dengan teknologi.

Pertanian

27 February 2013 10:39:24 Dibaca : 213
Kegiatan pertanian yang meliputi budaya bercocok tanam dan memelihara ternak merupakan kebudayaan manusia paling tua. Tetapi dibandingkan dengan sejarah keberadaan manusia, kegiatan bertani ini termasuk masih baru. Sebelumnya, manusia hanya berburu hewan dan mengumpulkan bahan pangan untuk dikonsumsi.  
AgrBC.jpg (37385 bytes) Sejalan dengan peningkatan peradaban manusia, pertanianpun berkembang menjadi berbagai sistem. Mulai dari sistem yang paling sederhana sampai sistem yang canggih dan padat modal. Berbagai teknologi pertanian dikembangkan guna mencapai produktivitas yang diinginkan.

Di lain fihak, ilmu pertanianpun berkembang. Ilmu pertanian kemudian tumbuh bercabang-cabang, terspesialisasi, seperti misalnya agronomi, ilmu tanah, sosial ekonomi, proteksi tanaman, dsb.

 
  Kemajuan ilmu dan teknologi, peningkatan kebutuhan hidup manusia, memaksa manusia untuk memacu produktifitas menguras lahan, sementara itu daya dukung lingkungan mempunyai ambang batas toleransi. Sehingga, peningkatan produktivitas akan mengakibatkan kerusakan lingkungan, yang pada ujungnya akan merugikan manusia juga. Berangkat dari kesadaran itu maka muncullah tuntutan adanya sistem pertanian berkelanjutan.

Sejarah Pertanian ] [ Budidaya Pertanian ] [ Sistem Pertanian Berkelanjutan ] [ Biologi ]