penelitian bahasa

25 June 2013 23:18:06 Dibaca : 655

BAB 1

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Bahasa merupakan ciri identitas suatu bangsa. sekaligus menjadi alat pemersatu bangsa. Melalui bahasa kita dapat mengetahui hakikat manusia. Dengan kata lain bahasa adalah cermin diri kita. Bahasa adalah suatu alat untuk mengungkapapkan ide , gagasan, pikiran dan persaaan kita.

Berbicara langsung akan menyangkut semua bahasa yang digunakan sehari-hari termaksud bahasa yang tumbuh dan berkembang di negara kita. Sejak perkembangan rasa kebangsaan atau nasionalisme indonesia bahasa indonesia baru lahir pada awal abad ke 20. Dalam sumpah pemuda 1928 bahasa indonesia di akui sebagai hasil bahasa persatuan. Dan setelah indonesia memproklamasikan kemerdekaan, bahasa indonesia di resmikan sebagai bahasa negara, (ajip rosidi : 9). . Pada tanggal 18 agustus 1945 bahasa tersebut diundangkan menjadi bahasa yang dijumpai pemakain nya pada anggota keluarga dan masyarakat daerah. Sesuai dangan keberadaanya, maka bahasa daerah perlu memperoleh penggembangan karena bahasa ini turut memberikan andil yang besar dalam hal ini kosa kata. Penelitian, pembinaan, dan penggembangan bahasa daearh perlu mendapat perhatian yang serius.

Dalam perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia telah terjadi berbagai perubahan, terutama yang berkaitan dengan tatanan baru kehidupan dunia dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, khususnya tehnologi teknologi informasi, yang semakin sarat tuntutan dan tantangan globalisasi. (Ririen Ekoyanantiasih, (2006:2)

Keraf (1980:19) menyatakan bahwa dari sudut ilmu bahsa di Indonesia terdapat macam bahasa, setiap uku bangsa memiliki suatu bangsa sebagai alat bentuk komukasi antara anggota masyrakat. Sehubungan dengan hal ini pateda (1991 :74) mengatakan bahwa “Lembaga Bahsa Nasional mencatatat di indonesia terdapa kurang lebih 412 bahasa daerah sedangkan Pateda 92003:159) mengatakan bahwa bahasa daerah indonoseia terdapat 751 bahasa daerah.

Etnik gorontalo merupakan salah satu suku di Indonesia memang sejak dahulu telah memiliki satu bangsa bahasa pengantar dalam masyarakat dan kebudayaan yang disebut bahasa daerah Gorontalo. Dalam klasifikasi bahasa daearah Gorontalo termaksud bahasa daerah yang perlu dilestarikan oleh pemerintaha dan masyarakat agar bahasa ini senantiasa hidup dan dapat digunakan secara terus menerus oleh generasi muda.

Pungganaan bahasa Gorontalo adalah sebagai alat komunikasi antar sesama, berlangsung dalam kehidupan sehari dan dalam upacara adat. Disamping itu bahasa Gorontalo jugamenjadi alat penyampaian sastra, baik secara lisan maupun tulisan. (Hj. Farha Daulima, 2007:9-10)

Generasi muda sebagai penutur bahasa Gorontalo bertanggung jawab terhadap mati-hidupnya bahasa ini. Sebab sebagaimana bahasa –bahasa daerah lainya di Nusantara., bahsa memegang peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan suku gorontalo, baik sebagai alat pengantar dalam kebudayaan, maupun sebagai alat kominikasi antar masyarakat kita dapat meneruskan kebudayaan kepada generasi bila tidaka di lestarikan oleh penutur sendiri.

Mengingat betapa besarnya peranan bahasa Gorontalo dalam masyarakat dan demi terpeliharanya bahasa agar tidak punah dan tetap lestari., maka perlu diadakan penelusuran dan penelitian yang berkenaan dengan pengguna bahasa Gorontalo sekarang ini, baik sebagai pengantar dalam kebudayaaqn maupun dalam fungsinya sebagai alat komunikasi antar suku Gorontalo sendiri. Penelusuran ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang penggunaan bahasa Gorontalo dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat komunikasi di kalangan masyarakat. Dewasa ini penulis banyak menemukan kelompok-kelompok pengguna bahasa seperti peserta dididk, generasi muda, masyarakat bahkan lingkungan keluarga seakan-akan sudah meyepelekan bahasa gorontalo sebagai bahasa daearahnya sendiri, malah mereka enggan mengunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kenyataan diatas , maka timbul kekhwatiran akan punahnya bahasa daerah ini. Salah satu cara penulusuran adalah dengan mengamati, baik secara langsung para penutur dalam komunikasi. Hal ini masih terdapat sebagaian besar menggunakan tuturan mereka itu masih sesuai kaaidah dan bahkan sudah menyalahi kaidah bahasa itu sendiri. Selanjutnya kondsi yang lebih memprihatinkan lagi adanya penutur asal pakai saja artinya menggunakan bahasa saja bahasa Gorontalo dengan prinsip asal lawan bicaranya bisa dimengerti padahal bahasa yang digunakan menyimpang dari aturan yang sebenarnya. Adakah bahasa ini sudah bercampur baur dengan dialek Manado, bugis, atau Jawa. Tanpa disadari oleh penutur bahwa kesalahan ucap, kesalahan intonasi yang mereka lakukakan itu kan mengakibatkan kesalahan makna.

Dari pemaparan diatas peneliti mengangkat permasalahan tersebut menjadi tema penelitian dengan memfokuskan pada penelitian perkebunann tebu. Dengan formulasi judul “Perkembangan Bahasa Daerah Gorontalo akhir Abad XX”

B. RUMUSAN MASALAH

Maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

Bagaimana perkembangan bahasa daerah Gorontalo awal abad XX?Bagaimana kondisi pergaulan masyarakat dalam berbahasa daerah Gorontalo?C. KERANGKA TEORITIS DAN PENDEKATAN

Dalam penelitian ini, pendekatan teori konflik akan dapat kembuka jalan menuju pemahaman atas masalah yang di sampaikan. Untuk itu terlebih dahulu kita mengetahui sebab akibat terjadinya konflik. Dalam meneliti tentang suatu masalah, kita di tuntut untuk mengetahui permasalahan dan melaliu pendekatan apa yang kita lakukan.

Penelitian ini di dasarkan pada penelitian sosial, yang di dalamnya menyangkut pergaulan masyarakat yang menyangkut tentang cara berkomunakasi dalam masyarakat gorontalo pada abad ke xx, yang para remajanya sebagai pelopor sejarah, malah jarang menggunakan bahasa daerahnya sendiri.

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan pada masyarakatnya sendiri, agar dapat memantau langsung dan mengetahui alasan – alasan pada konflik penelitian ini.

D. MANFAAT DAN TUJUAN PENELITIANMengetahui perkembagan bahasa daearah Gorontalo.Mengetahui kondisi pergaulan masyarakat dalam berbahasa daearah Gorontalo.E. TINJAUAN PUSTAKA DAN SUMBER

Dalam langkah penelitian sejarah, pengumpulan data dan sumber merupakan langkah yang penting untuk kelengkapan penyusunan historiografi nanti. Adanya sumber tentunya sangat berpengaruh terhadap proses historiografi karena tidaklah mungkin kita merekonstruksi sebuah sejarah apabila bahan – bahannya (sumber) tidak tersedia. Kalaupun bisa, mungkin rekonstruksi itu tidak akan utuh dan kokoh. Pentingnya sebuah sumber ini dibuktikan dengan metode sejarah yang menempatkannya pada tahap pertama penelitian sejarah atau lebih kita kenal dengan heuristik.

Pada penelitian sejarah ini, penulis mencoba menggali sumber yang terdiri dari :

Hj. Farhan Daulana dalam buku Megenal Sastra Lisan Daerah Gorontalo (2007) membahas tentang usaha pelestarian budaya Gorontalo. Utamanya sastra, yang diciptakan oleh para leluhur kita, maka diusahakan himpunan sasatra lisan daerah.

Dalam buku ini membahas sastra lisan Gorontalo berasal dari kegiatan masyarakat, karena perkembangan peradaban. Buku Mengenal Sastra Lisan daerah Gorontalo terdiri dari dua bab, yaitu bab I, membahas tentang latar belakang sastra lisan telah, Bab II , membahasa Sastra Lisan Gorontalo.

Riruen Ekoyanantiasih dalam buku Telaah Keantononiman dalam Bahasa melayu BetawiI (2006) buku ini membahas telaah keantoniman dalam bahasa melayu yang menghususkan pada kelas kata Verba dan adjektiva ini dikelompokan menjaadi tiga yaitu 1) antonim berketub, 2) antonim seimbang, dan antonim bertumpang tiding

Dalam buku ini juga membahas terbagi menjadi tiga bab, yaitu bab I, pendahuluan, Bab II kajian Terdahuluan dan kerangka teori, Bab III keantonim dalam bahasa melayu Betawi.

Ajip rosidi dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1991), buku ini membahas perkembangan sastra indonesia sejak abad ke-19, dan hasil-hasil sastra berbahasa melayu yang tidak ditulis oleh orang-orang yang berasal dari kepulauan Riau atau sumatra.

Dalam buku ini membahas terbagi menjadi enam bab yaitu Bab I membahas periode 1900-1933, Bab II Periode 1933-1942, Bab III Periode (1942-1945), Bab IV Periode Perkembangan 1945-1953, Bab V periode 1953-1961, Bab VI periode 1961-samapai sekarang.

Di samping kajian referensi, penulis mengakses internet pada tanggal 1 November 2012, dimana Samsi Pomalingi ternyata telah mengungkap Gorontalo di Era Globalisasi Bahasa. Hal ini sangat memberi gambaran terang untuk mengambil tema Perkembangan Bahasa Daerah Gorontalo. Untuk selanjutnya diperkaya dengan fakta lapangan untuk melihat dan mengambil data ada.Arsip baik itu dari ANRI maupun dari arsip tingkatan Kabupaten, Provinsi, maupun Pusat. Sejarah lisan yang tentunya melibatkan para pelaku – pelaku sejarah. Sejarah lisan memberikan sarana untuk rekonstruksi masa lalu yang lebih realistik dan berimbang, memungkinkan munculnya sosok – sosok pahlawan tidak saja dari kalangan pemimpin tetapi juga dari rakyat yang tidak dikenal. Sejarah menjadi lebih demokratis, memanusiakan manusia[1].

Teknik wawancara pada penelitian ini dilakukan dengan metode variasi dan menyesuaikan dengan kepribadian mereka (informan). Pilihan metodenya adalah obrolan ramah dan informal atau obrolan formal dengan pertanyaan yang lebih teratur.

F. Metode penelitian

Suatu penulisan yang bersifat ilmiah mustahil dilakukan tanpa didukung dengan keberadaan fakta-fakta. Apalagi penelitian sejarah keberadaan fakta sangat diperlukan, dianalisis dan dikembangkan untuk merekonstruksi peristiwa masa lampau sedangkan fakta tidak mungkin ditemukan tanpa tersedianya data. Berasal dari data-data itulah fakta dapat ditemukan setelah melalui proses interpretasi sedangkan data baru dapat ditemukan setelah melakukan penelusuran tehadap sumber-sumber sejarah. Sesuai dengan permasalahan yang dibahas, maka metode yang digunakan adalah metode sejarah. Menurut Louis Gottschalk yang dimaksud metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dari pengalaman masa lampau. Metode sejarah ini terdiri dari 4 tahap yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya, yaitu: heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi.

1. Heuristik

Sehubungan dengan jenis penelitian ini adalah metodologi sejarah maka penulis mencari sumber-sumber yang relavan dengan penelitian ini. Dengan metode sejarah itulah akan dikaji keaslian sumber data sejarah, kebenaran informasi sejarah. Sumber-sumber yang berupa sumber primer maupun skunder yaitu buku-buku, majalah, artikel, koran-koran, dan internet yang terkait dengan Perkembangan Bahasa Daerah Gorontalo Abad XX Kegiatan mencari dan menemukan sumber yang diperlukan. Berhasil tidaknya pencarian sumber pada dasarnya tergantung dari wawasan peneliti terhadap sumber yang diperlukan dan keterampilan teknis pengumpulan sumber. Ada dua sumber yang penulis gunakan yaitu sumber primer dan sekunder. Sumber primer adalah sumber asli yang berupa data atau dokumen serta informasi yang berkaitan dengan peristiwa dalam penulisan ini, sedangkan sumber sekunder adalah sumber penunjang berupa buku, majalah, Koran, dan internet, yang berkaitan dengan penulis

2. Kritik Sumber

Setelah data atau sumber sudah dikumpulkan maka langkah selanjutnya adalah menelaah dan mengkritik sumber-sumber yang ada. Dalam mengkritik ini penulis memakai dua aspek yaitu aspek eksternal dan internal, aspek eksternal adalah yang mempersoalkan apakah sumber itu memberikan informasi yang kita perlukan. Sedangkan internal dimulai setelah kritik eksternal memastikan sumber itu atau dokumen yang kita pakai adalah sumber yang benar. Terdapat dua jenis kritik sumber, eksternal dan Internal kritik eksternal dimaksud untuk menguji orientasi (keaslian) suatu sumber. Kritik internal dimaksudkan untuk menguji kredibilitas dan reliabilitas suatu sumber.

Sumber yang di kritik dalam penulisan ini mencakup dua aspek yaitu sumber primer dan sekunder, kemudian untuk menguji keabsahannya dilakukan dua kritik sumber yaitu secara ekstern dan intern,

Ekternal : yaitu melihat keaslian dari dokumen yang penulis ambil baik dari segi pengarang, sampul buku, tulisan, dan gaya bahasanya.Internal : yaitu darimana sumber itu penulis dapatkan, perpustakaan, atau arsip daerah maupun nasional

3. Interpretasi

Usaha ini merupakan penafsiran terhadap fakta-fakta yang diperoleh dari datadata yang telah diseleksi dan telah dilakukan kritik sumber. Fakta yang ada diperoleh dari arsip dan sebagian besar koran maupun majalah kemudian diseleksi dan dianalisis sesuai dengan permasalahan yang ada.

4. Historiografi

Historiografi merupakan penulisan sejarah dengan merangkaikan fakta-fakta menjadi kisah sejarah berdasarkan data-data yang sudah dianalisa. Disinilah pemahaman dan interpretasi atas fakta sejarah itu ditulis dalam bentuk kisah sejarah yang menarik dan logis

FONOLOGI

25 June 2013 23:09:12 Dibaca : 2143

“ FONOLOGI DALAM PENGAJARAN ”

Fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi – bunyi bahasa menurut fungsinya. Dengan demikian fonologi adalah merupakan sistembunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatakan bahwa fonologiadalah ilmu tentang bunyi bahasa. Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalahbidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.Dengan demikian, fonologi adalah merupakan sistem bunyi dalam bahasa Indonesia atau dapat juga dikatan bahwa fonologi adalah ilmu tentang bunyi bahasa. Ilmu-Ilmu yang Tercakup dalam Fonologi tataran ilmu bahasa dibagi dua bagian yakni fonetik dan fonemik :.

A. Fonetik Menurut Samsuri (1994), fonetik adalah studi tentang bunyi-bunyi ujar. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), fonetik diartikan:bidang linguistik tentang pengucapan (penghasilan) bunyi ujar atau fonetik adalah sistem bunyi suatu bahasa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fonetik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan alat ucap manusia, serta bagaimana bunyi itu dihasilkan. Chaer (2007) membagi urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, menjadi tiga jenis fonetik, yaitu:

1) Fonetik artikulatoris atau fonetik organis atau fonetik fisiologi, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja. Dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan.

2) Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam (bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getaranya, aplitudonya,dan intensitasnya.

3) Fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita. Dari ketiga jenis fonetik tersebut yang paling berurusan dengan dunialingusitik adalah fonetik artikulatoris, sebab fonetik inilah yang berkenaan dengan masalah bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan atau diucapkan manusia.Sedangkan fonetik akustik lebih berkenaan dengan bidang fisika, danfonetik auditoris berkenaan dengan bidang kedokteran.

B. Fonemik Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi sebagai pembeda makna. Terkait dengan pengertian tersebut,fonemik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) diartikan:

(1) bidang linguistik tentang sistem fonem;

(2) sistem fonem suatu bahasa;

(3) prosedur untuk menentukan fonem suatu bahasa.

Jika dalam fonetik kita mempelajari segala macam bunyi yang dapat dihasilkan oleh alat-alat ucap serta bagaimana tiap-tiap bunyi itu dilaksanakan,maka dalam fonemik kita mempelajari dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan, bunyi ujaran yang manakah yang dapat mempunyai fungsi untuk membedakan arti. Chaer (2007) mengatakan bahwa fonemik mengkaji bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Misalnya bunyi [l], [a], [b]dan [u]; dan [r], [a], [b] dan [u] jika dibandingkan perbedaannya hanya pada bunyi yang pertama, yaitu bunyi [l] dan bunyi [r].Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua bunyi tersebut adalah fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia, yaitu fonem /l/ dan fonem /r/.

Sebagai bidang yang berkosentrasi dalam deskripsi dan analisis bunyi-bunyi ujar, hasil kerja fonologi berguna bahkan sering dimanfaatkan oleh cabang-cabang linguistik yang lain, misalnya morfologi, sintaksis, dansemantik. 1) Fonologi dalam cabang morfologi Bidang morfologi yang kosentrasinya pada tataran struktur internal katasering memanfaatkan hasil studi fonologi, misalnya ketika menjelaskan morfem dasar {butuh} diucapkan secara bervariasi antara [butUh] dan[bUtUh] serta diucapkan [butuhkan] setelah mendapat proses morfologis dengan penambahan morfem sufiks {-kan}.2) Fonologi dalam cabang sintaksis Bidang sintaksis yang berkosentrasi pada tataran kalimat, ketika berhadapan dengan kalimat kamu berdiri. (kalimat berita), kamu berdiri?(kalimat tanya), dan kamu berdiri! (kalimat perintah) ketiga kalimat tersebut masing-masing terdiri dari dua kata yang sama tetapi mempunyai maksud yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dijelaskan dengan memanfaatkan hasil analisis fonologis, yaitu tentang intonasi, jedah dan tekanan pada kalimat yangternyata dapat membedakan maksud kalimat, terutama dalam bahasa Indonesia. 3) Fonologi dalam cabang semantik Bidang semantik, yang berkosentrasi pada persoalan makna katapun memanfaatkan hasil telaah fonologi. Misalnya dalam mengucapkan sebuahkata dapat divariasikan, dan tidak. Contoh kata [tahu], [tau], [teras] dan [t∂ras]akan bermakna lain. Sedangkan kata duduk dan didik ketika diucapkan secara bervariasi [dudU?], [dUdU?], [didÄ«?], [dÄ«dÄ«?] tidak membedakan makna.

1. Pengertian Fonem menurut Santoso (2004) menyatakan bahwa fonem adalah setiap bunyi ujaran dalam satu bahasa mempunyai fungsi membedakan arti. Bunyi ujaranyangmembedakan arti ini disebut fonem. Tidak berbeda dengan pendapat tadi, dalamKamus Besar Bahasa Indonesia (1997) tertulis bahwa yang dimaksud fonem adalahsatuan bunyi terkecil yang mampu menunjukkan kontras makna. Jadi, dapat disimpulkan bahwa fonem adalah satuan bunyi bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem tidak dapat berdiri sendiri karena belum mengandung arti.

2. Jenis-jenis Fonem Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada 32 buah fonem, yang terdiri atas:

a. fonem vokal 6 buah(a, i. u, e, ∂, dan o),

b. fonem diftong 3 buah, dan

c. fonem konsonan 23 buah(p, t, c, k, b, d, j, g, m, n, n, η, s, h, r, l,w, dan z).

a) Fonem vokal yang dihasilkan tergantung dari beberapa hal berikut.

1) Posisi bibir (bentuk bibir ketika mengucapkan sesuatu bunyi).

2) Tinggi rendahnya lidah (posisi ujung dan belakang lidah ketika mengucapkan bunyi.

3) Maju-mundurnya lidah (jarak yang terjadi antara lidah dan lengkung kaki gigi).

Menurut posisi lidah yang membentuk rongga resonansi, vokal-vokal digolongkan: Vokal tinggi depan dengan menggerakkan bagian depan lidah ke langit- langit sehingga terbentuklah rongga resonansi, seperti pengucapan bunyi [i]. Vokal tinggi belakang diucapkan dengan kedua bibir agak maju dan sedikit membundar, misalnya /u/. Vokal sedang dihasilkan dengan menggerakkan bagian depan dan belakang lidah ke arah langit-langit sehingga terbentuk ruang resonansi antara tengah lidah dan langit-langit, misalnya vokal [e]. Vokal belakang dihasilkan dengan menggerakkan bagian belakang lidah ke arah langit-langit sehingga terbentuk ruang resonansi antara bagian belakang lidah dan langit-langit, misalnya vokal [o]. Vokal sedang tengah adalah vokal yang diucapkan dengan agak menaikkan bagian tengah lidah ke arah langit-langit, misalnya Vokal / / . Vokal rendah adalah vokal yang diucapkan dengan posisi lidah mendatar, misalnya vokal /a/. Menurut bundar tidaknya bentuk bibir, vokal dibedakan atas: Vokal bundar: /a/, /o/, dan /u/; Vokal tak bundar: /e/, /É™/, dan /i/. Menurut renggang tidaknya ruang antara lidah dengan langit-langit, vokaldibedakan atas: Vokal sempit: /É™/, /i/, dan /u/; Vokal lapang: /a/, /e/, /o/.Jadi /a/ misalnya, adalah vokal tengah, rendah, bundar, dan lapang.

b) Fonem diftong Diftong dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan sebagai vokal yang berubah kualitasnya. Dalam sistem tulisan, diftong dilambangkan oleh dua huruf vokal. Kedua huruf vokal itu tidak dapat dipisahkan. Bunyi /aw/ pada kata pulau adalah diftong, sehingga <au> pada suku kata –au tidak dapat dipisahkan menjadi la-u seperti pada kata mau.

c) Fonem Konsonan adalah bunyi bahasa yang ketika dihasilkan mengalami hambatan-hambatan pada daerah artikulasi tertentu. Kualitasnya ditentukanoleh tiga faktor : Keadaan pita suara (merapat atau merenggang - bersuara atau tak bersuara). Penyentuhan atau pendekatan berbagai alat ucap/artikulator (bibir, gigi, gusi, lidah, langit-langit).

Cara alat ucap tersebut bersentuhan/berdekatan. Fonem konsonan dapat digolongkan berdasarkan tiga kriteria: posisi pitasuara, tempat artikulasi, dan cara artikulasi. Berdasarkan posisi pita suara, bunyi bahasa dibedakan ke dalam dua macam, yakni bunyi bersuara dan bunyi tak bersuara. (Samsuri, 1994, Supriyadi, dkk. 1992, Santoso, 2004 dan Depdikbud,1988). Bunyi bersuara terjadi apabila pita suara hanya terbuka sedikit, sehingga terjadilah getaran pada pita suara itu. Yang termasuk bunyi bersuara antara lain, bunyi /b/, /d/, /g/, /m/, /n/, /ñ/, /j/, /z/, /r/, /w/ dan /y/. Tak bersuara terjadi apabila pita suara terbuka agak lebar, sehingga tidak ada getaran pada pita suara. Yang termasuk bunyi tak bersuara, antara lain /k/, /p/, /t/, /f/, /s/, dan /h/.Ø Berdasarkan tempat artikulasinya, kita mengenal empat macam konsonan, yakni: Konsonan bilabial adalah konsonan yang terjadi dengan cara merapatkan kedua belah bibir, misalnya bunyi /b/, /p/, dan /m/. Konsonan labiodental adalah bunyi yang terjadi dengan cara merapatkan gigi bawah dan bibir atas, misalnya /f/. Konsonan laminoalveolar adalah bunyi yang terjadi dengan cara menempelkan ujung lidah ke gusi, misalnya /t/ dan /d/. Konsonan dorsovelar adalah bunyi yang terjadi dengan cara menempelkan pangkal lidah ke langit-langit lunak, misalnya /k/ dan /g/.Ø Menurut cara pengucapanya/cara artikulasinya, konsonan dapat dibedakan sebagai berikut: Konsonan letupan (eksplosif) yakni bunyi yang dihasilkan dengan menghambat udara sama sekali ditempat artikulasi lalu dilepaskan, seperti [b], [p], [t], [d], [k], [g], [?], dan lain-lain.

Konsonan nasal (sengau) adalah bunyi yang dihasilkan dengan menutup alur udara keluar melalui rongga mulut tetapi dikeluarkan melalui rongga hidung seperti fonem [n, m, ñ, ]; Konsonan lateral yakni bunyi yang dihasilkan dengan menghambat udara sehingga keluar melalui kedua sisi lidah seperi [l]; Konsonan frikatif yakni bunyi yang dihasilkan dengan menghambat udara pada titik artikulasi lalu dilepaskan secara frikatif misanya [f], [s]; Konsonan afrikatif yaitu bunyi yang dihasilkan dengan melepas udara yang keluar dari paru-paru secara frikatif, misalnya [c] dan [z]; Konsonan getar yakni bunyi yang dihasilkan dengan mengartikulasikan lidah pada lengkung kaki gigi kemudian dilepaskan secepatnya dan diartikulasikan lagi seprti [r] pada jarang.C. Pengertian Morfologi Bahasa Indonesia Ramlan (1978:19) menjelaskan bahwa morfologi ialah bagian dari ilmubahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kataserta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan kata danarti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajariseluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu,baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Nida (1949:1) menjelaskan bahwa morfologi adalah studi tentang morfemdan susunannya di dalam pembentukan kata.Susunan morfem yang diaturmenurut morfologi suatu bahasa meliputi semua kombinasi yang membentukkata atau bagian dari kata. Verhaar (2004:97) juga menjelaskan bahwa morfologi adalah cabanglunguistik yang mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagaisatuan gramatikal.Jadi dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah cabangilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk pembentukan kata.

MARFOLOGI

Morfem Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) dinyatakan bahwa morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna, secara relatif stabil dan tidak dibagi atas bagian bermakna lebih kecil. Lyons (1968:80) menyatakan bahwa morfem adalah unit analisis gramatikal yang terkecil. Katamba(1993:24) menjelaskan bahwa morfem adalah perbedaan terkecil mengenai makna kata atau makna kalimat atau dalam struktur gramatikal. Jadi dapat disimpulkan bahwa morfem adalahsatuan bahasa terkecil yang bermakna.

1. Prinsip Mengenal Morfem Edi Subroto (1976:40) mengemukakan tentang ciri morfem, bahwa

a. morfem adalah satuan terkecil di dalam tingkatan morfologi yang bisa ditemukan lewat analisis morfologi,

b. morfem selalu merupakan satuanterkecil yang berulang-ulang dalam pemakaian bahasa (dengan bentuk yanglebih kurang sama) dengan arti gramatikal tertentu yang lebih kurang sama pula. Samsuri (1992) mengemukakan tiga prinsip pokok pengenalan morfem.

(1) Bentuk-bentuk yang berulang yang mempunyai pengertian yang sama,termasuk morfem yang sama.

(2) Bentuk-bentuk yang mirip (susunan fonem-fonemnya) yang mempunyai pengertian yang sama,termasuk morfem yang sama, apabila perbedaan-perbedaannya dapat diterangkan secara fonologis.

(3) Bentuk-bentuk yang berbeda susunan fonem-fonemnya, yang tidak dapat diterangkan secara fonologis perbedaan-perbedaannya, masih bisa dianggap sebagai alomorf-alomorf dari morfem yang sama atau mirip, asal perbedaan itu dapat diterangkan secara morfologis.

Wujud Morfem Samsuri (1982:182) yang juga dikutip oleh Prawirasumantri (1985:138) memaparkan hasil penelitian para pakar terhadap bahasa-bahasa di dunia.Pada dasarnya, wujud morfem bahasa itu ada lima macam, yaitu :

a) Morfem berwujud fonem atau urutan fonem segmental. Berdasarkan hal itu, morfem dapat berwujud sebuah fonem missal: -i ataulebih dari satu fonem misalnya: ber-, makan, juang. Contoh diatas, merupakan morfem-morfem bahasa Indonesia.

b) Morfem terdiri atas gabungan fonem segmental dengan suprasegmental (prosodi). Sebagai contoh urutan fonem /bottar/ dalam bahasa Batak Toba belum mengandung pengertian yang penuh atau maknanya masih meragukan. Urutan fonem tersebut akan jelas apabila ditambah oleh tekanan pada suku pertama atau kedua, /bóttar/ atau /bottár/. Yang pertama maknanya “darah” sedang kata kedua bermakna “anggur”.

c) Morfem berwujud fonem-fonem prosodi (suprasegmental). Dalam tuturan, fonem-fonem suprasegmental iniselalu bersama-samadenganfonem segmental. Apabila ada fonem-fonem segmental bersama-samadengan fonem supra segmental maka pengertiannya menjadi rangkap, yaknifonem-fonem suprasegmental menyatakan konsep atau pengertian yang lainnya. Morfem-morfem seperti itu banyak terdapat pada bahasa Indian Amerika dan bahasa-bahasa Afrika, yakni morfem yang berwujud suprasegmental atau prosodi nada.

d) Morfem berwujud gabungan fonem suprasegmental(prosodi) dengan kesuprasegmentalan (keprosodian) yakni intonasi atau kalimat. Yang lazim digunakan pada morfem ini ialah gabungan nada denganpersendian.

e) Morfem bisa berwujud kekosongan (Tanwujud). Yang dimaksud dengankekosongan di sini yaitu bahwa morfem tersebut bermanifestasikan dengan kekosongan yang biasa disebut dengan morfen zeroatau morfem tanwujud yang bisa disimbolkan Ø.

2. Jenis-Jenis MorfemBerdasarkan kriteria tertentu, morfem dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis. Penjenisan ini dapat ditinjau dari dua segi yakni hubungannya dan distribusinya (Samsuri,1982:186; Prawirasumantri, 1985:139).

a) Ditinjau dari Hubungannya Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, dapat dilihat dari hubungan struktural dan hubungan posisi.

1) Ditinjau dari Hubungan Struktur Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu morfem bersifat aditif (tambahan) yang bersifat replasif(penggantian), dan yang bersifat substraktif (pengurangan). Morfem yang bersifat aditif yaitu morfem-morfem yang biasa yang pada umumnya terdapat pada semua bahasa, seperti pada urutan putra, tunggal, -nya, sakit. Unsur-unsur morfem tersebut tidak lain penambahan yang satu dengan yang lain. Morfem yang bersifat replasif yaitu morfem-morfem berubah bentuk atauberganti bentuk dari morfem asalnya. Perubahan bentuk itu mungkin disebabkan oleh perubahan waktu atau perubahan jumlah. Contoh morfem replasif ini terdapat dalam bahasa Inggris. Untuk menyatakan jamak, biasanya dipergunakan banyak alomorf. Bentuk-bentuk /fiyt/, /mays/, /mεn/ masing-masing merupakan dua morfem /f…t/, /m…s/, /m…n/ dan /iy ← u/, /ay ←aw/, /ε/, /æ/. Bentuk-bentuk yang pertama dapat diartikan masing-masing kak, tikus, dan orang, sedangkan bentuk-bentuk yang kedua merupakan alomorf-alomorf jamak. Bentuk-bentuk yang kedua inilah yang merupakan morfem-morfem atau lebih tepatnya alomorf-alomorf yang bersifat penggantian itu, karena /u/ diganti oleh /iy/ pada kata foot dan feet, /aw/ diganti oleh /ay/ pada kata mouse dan mice, dan /æ/ diganti oleh / ε/ pada kataman dan men. Morfem bersifat substraktif, misalnya terdapat dalam bahasa Perancis.Dalam bahasa ini, terdapat bentuk ajektif yang dikenakan pada bentuk betinadan jantan secara ketata bahasaan.

2) Ditinjau dari Hubungan Posisi Dilihat dari hubungan posisinya, morfem pun dapat dibagi menjadi tiga macam yakni ; morfem yang bersifat urutan, sisipan, dan simultan. Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem imbuhan dan morfem lainnya. Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian yaitu /ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan yakni yang satu terdapat sesudah yang lainnya. Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat kita lihat dari kata / telunjuk/.Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa Indonesia di samping telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi / t…unjuk/+/-e1-/. Morfem simultan atau disebut pula morfem tidak langsung terdapat pada kata-kata seperti /k∂hujanan/. /k∂siaηgan/ dan sebagainya. Bentuk /k∂hujanan/terdiri dari /k∂…an/ dan /hujan/, sedang /kesiangan/ terdiri dari /ke…an/ dan/siaη/. Bentuk /k∂-an/ dalam bahasa Indonesia merupakan morfem simultan,terbukti karena bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk /k∂hujan/ atau/hujanan/ maupun /k∂siaη/ atau /sianaη/. Morfem simultan itu sering disebut morfem kontinu (discontinous morpheme).

b) Ditinjau dari Distribusinya Ditinjau dari distribusinya, morfem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu morfem bebas dan morem terikat.

1) Morfem Bebas Menurut Santoso (2004), morfem bebas adalah morfem yangmempunyai potensi untuk berdiri sendiri sebagai kata dan dapat langsung membentuk kalimat. Dengan demikian, morfem bebas merupakan morfem yang diucap kata sendiri; seperti: gelas, meja, pergi dan sebagainya. Morfem bebas sudah termasuk kata. Tetapi ingat, konsep kata tidak hanya morfem

bebas, kata juga meliputi semua bentuk gabungan antara morfem terikat dengan morfem bebas, morfem dasar dengan morfem dasar.Jadi dapat dikatakan bahwa morfem bebas itu kata dasar.

2) Morfem Terikat Morfem terikat yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, misalnya : di-, ke-, -i, se-, ke-an. Disamping itu ada bentuk lain seperti juang, gurau, yang selalu disertai oleh salah satu imbuhan baru dapat digunakan dalam komunikasi yang wajar. Samsuri (1982:188 )menamakan bentuk-bentuk seperti bunga, cinta,sawah, dan kerbau dengan istilah akar; bentuk-bentuk seperti di-,ke-, -i, se-,ke-an dengan nama afiks atau imbuhan; dan juang, gurau dengan istilah pokok. Sementara itu Verhaar (1984:53)berturut-turut dengan istilah dasar afiksatau imbuhan dan akar. Selain itu ada satu bentuk lagi seperti belia, renta, siuryang masing-masing hanya mau melekat pada bentuk muda, tua, dan simpang,tidak bisa dilekatkan pada bentuk lain. Bentuk seperti itu dinamakan morfemunik. Dalam bahasa-bahasa tertentu, ada pula bentuk-bentuk biasanya sangat pendek yang mempunyai fungsi “memberikan fasilitas”, yaitu melekatnya afiks atau bagi afiksasi selanjutnya. Contoh dalam bahasa Sansekerta, satuan /wad/„menulis‟ tidak akan dibubuhi afiks apabila tidak didahului dengan pembubuhan satuan /a/ sehingga terjelma bentuk sekunder atau bentuk keduayakni satuan /wada/ yang dapat yang dapat memperoleh akhiran seperti wadati, wadama. Bentuk /a/ seperti itu disebut pembentuk dasar. Sehubungan dengan distribusinya, afiks atau imbuhan dapat pula dibagi menjadi imbuhan terbuka dan tertutup. Imbuhan terbuka yaitu imbuhan yang setelah melekat pada suatu benda masih dapat menerima kehadiran imbuhan lain. Sebagai contoh afiks /p∂r/ setelah dibubuhakn pada satuan /b∂sar/menjadi perbesar /p∂rb∂sar/. Satuan /p∂rb∂sar/ masih menerima afiks lainseperti /di/ sehingga menjadi /dip∂rb∂sar/. Imbuhan /p∂r/ dinamakan imbuhan terbuka, karena masih dapat menerima kehadiran afiks /di/. Sedangkan yang dimaksud dengan imbuhan tertutup ialah imbuhan atau afiks yang setelah melekat pada suatu bentuk tidak dapat menerima kehadiran bentuk lain,misalnya afiks /di/ setelah melekat pada satuan /baca/ menjadi /dibaca/ tidakdapat menerima kehadiran afiks lainnya. Afiks /di/ itulah merupakan contohafiks atau imbuhan tertutup.E. Kata Ulang Bahasa Indonesia Proses perulangan atau reduplikasi adalah pengulangan bentuk,baikseluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan disebut kata ulang, sedangkan bentuk yang diulang merupakan bentuk dasar (Ramlan, 1980). Pengulangan merupakan pula suatu proses morfologis yang banyak terdapat pada bahasa Indonesia.

3. Jenis-jenis Kata Ulang Bahasa Indonesia Berdasarkan macamnya, menurut Keraf (1978) bentuk perulangan dalam bahasa Indonesia terdiri atas empat bentuk seperti berikut :

a) Kata ulang suku kata awal (dwipurna). Dalam bentuk perulangan macam ini, vokal dari suku kata awal mengalami pelemahan bergeser ke posisi tengah menjadi ê (pepet). Contoh: Tangga tetangga Pohon pepohonan Laki lelakib) Kata ulang murni (dwilingga). Bentuk kata ulang terjadi dengan mengulang seluruh unsur dasar secara utuh.Kata ulang seperti ini disebut juga kata ulang utuh. Contoh: (Buku buku-buku Bangku bangku-bangku Rumah rumah-rumah) Kata ulang yang terjadi atas seluruh suku kata, tetapi pada salah satu unsurkata ulang tersebut mengalami perubahan bunyi fonem. Kata ulangsemacam ini biasa disebut kata ulang salin suara atau kata ulang berubah bunyi. Contoh: Gerak gerak-gerik Sayur sayur-mayur Balik bolak-balikd) Kata ulang yang mendapat imbuhan atau kata ulang berimbuhan. Contoh: Anak anak-anakan Main main-mainan Kuda kuda-kudaan

4. Makna Kata Ulang Sesuai dengan fungsi perulangan dalam pembentukan jenis kata,makna struktural kata ulang menurut Keraf (1978) adalah sebagai berikut :

a) Perulangan mengandung makna banyak yang tak tentu. Perhatikan contohberikut: - Kuda-kuda itu berkejaran di padang rumput. - Buku-buku yang dibelikan kemarin telah dibaca.

b) Perulangan mengandung makna bermacam-macam.Contoh: - Pohon-pohonan perlu dijaga kelestariannya. - Daun-daunan yang ada dipekarangan sekolah sudah menumpuk. - Ibu membeli sayur-sayuran di pasar. - Harga buah-buahan sekarang sangat murah.

c) Makna lain yang dapat diturunkan dari suatu kata ulang adalah menyerupaiatau tiruan dari sesuatu. Contoh: - Anak itu senang bermain kuda-kudaan. (menyerupai atau tiruan kuda) - Mereka sedang bermain pengantin-pengantinan di pekarangan rumah.(menyerupai atau tiruan pengantin) - Andi berteriak kegirangan setelah dibelikan ayam-ayaman.(menyerupai atau tiruan ayam)

d) Mengandung makna agak atau melemahkan dari.Contoh: - Perilakunya kebarat-baratan sehingga tidak disenangi oleh teman- temanya. Sifatnya masih kekanak-kanakan. - Mukanya kemerah-merahan.

e) Menyatakan makna intensitas. Makna intensitas terdiri dari: Ø Intensitas kualitatif, contohnya: - Pukullah kuat-kuat. - Anak itu belajar sebaik-baiknya. - Burung itu terbang setinggi- ng makna kolektif tingginya. - Agar tidak terlambat, ia berjalan secepat-cepatnya. Intensitas kuantitatif, contohnya: - Kuda-kuda itu berlari kencang. - Anak-anak bermain bola di pekarangan sekolah. - Ayah membawabuah-buahan dari Malang. - Rumah-rumah di kampung itu tertata dengan rapi. Intensitas frekuentatif. Contoh: - Iameng eleng-gelengkan kepalanya. - Iamondar-mandir saja sejak tadi. - Anak itu menyanyi sambil memukul-mukul meja.f) Perulangan pada kata kerja mengandung makna saling atau pekerjaan yang berbalasan. Contoh: - Kita harus tolong-menolong. - Tentara sedang tembak-menembak dengan seru. - Mereka tendang-menendang dan tinju-meninju saat sedang berkelahi.g) Perulangan pada kata bilangan mengandung kata kolektif.

TIGA KATA YANG TERLAMBAT

25 June 2013 23:02:03 Dibaca : 305

cerita pendek ini karya dari randy namun saya meminta izin kepadanya agar cerita ini bisa di muat di postingan saya agar bisa bermanfaat bagi org banyak...

TIGA KATA YANG TERLAMBAT

Seperti biasa, suara tertawa ibuku terdengar nyaring di telinga. Aku pun mulai tak nyaman disertai konsentrasi yang semakin memudar. Sejenak aku berpikir, “Apa sih serunya sebuah sinetron di televisi? Apa lagi ceritanya selalu berakhir sama dengan pernikahan atau kematian si tokoh utama?” gumam aku sendiri. Namun, aku teringat akan tugas biologi yang belum aku selesaikan malam ini. Aku coba fokuskan mata ini pada tugas tersebut dan mematikan saluran telingaku dari suara-suara yang menggoda, termasuk suara tertawaan ibuku .

Hampir satu jam sudah aku duduk di depan meja belajar malam ini. Banyak buku biologi kelas IX yang tersebar merata di seluruh penjuru meja belajarku. Selain itu suasana mengantuk mulai menerpa tapi dibalik itu aku sedikit tersenyum puas karena tugas biologi ku sudah selesai.

“Alhamdulillah, sudah selesai…” Kataku dalam hati
“Randy…!” Panggil ibuku dengan nada bass tinggi
“Iya bu, Ada apa?” Jawab aku sambil membereskan buku yang berantakan di atas meja belajar
“Ini Hp mu ada sms.” Kata Ibu.
“Sebentar bu.” Aku menjawab sambil berjalan menuju ruang keluarga
Aku mengambil Hp ku yang berada di atas lemari kecil tak jauh dari tempat ibu menonton televisi. Terdapat 2 pesan masuk di Hp ku, setelah aku buka ternyata sms yang pertama dari Indosat dan sms yang kedua cuma nomor doang. Aku hapus langsung sms yang pertama tanpa membacanya.

“Maaf ganggu, PR biologi tu halaman berapa ya?” Tanya Seseorang yang punya nomor GJ di Hp ku.
“Ohh.., itu halaman 32-24.” Jawabku dengan mengirim pesan balik ke nomor itu.
“Ealaaahh, Ya sudah. Makasih ya.” Balasnya kemudian.
“Iya, sama-sama. Tapi ini nomornya siapa ya..?” Tanyaku heran.
“Ini aku, Tiya.” Jawabnya Singkat.

Akupun tidak membalas smsnya setelah itu karena aku sudah sangat mengantuk dan tidak menghiraukan sms yang masuk ke Hp ku.

Di sekolah seperti biasa, aku sering bertemu dengan Tiya. Maklum kami memang satu kelas. Tapi aku sering cuek ke dia, jadi tak pernah ada suasana yang spesial antara aku dan dia. Meski begitu aku tak dapat membohongi diriku kalau aku mengagumi dia. Apalagi dia adalah cewek yang pandai, rajin serta seorang Ketua Osis di sekolah ku. Namun sekali lagi aku tidak pernah berpikir untuk jadi seseorang yang spesial buat dia.

Cerita pun mulai berubah, semenjak Tiya sms aku pada malam itu, kami jadi sering sms-an tiap malam. Pertama sih saling tanya soal pelajaran, namun lama-lama kami jadi ketagihan dan mulai membahas di luar materi pelajaran. Semisal Hobi, Teman, Kesukaan dan lain-lain.

Pokoknya bisa dibilang mesra deh kalau kami sms-an, walau belum jadian.tapi, kedekatan diantara kami sudah seperti orang yang berpacaran.

Empat bulan berlalu, rasa suka terhadap Tiya pun tak bisa dibendung oleh hati ini. Ingin rasanya aku mengucapkan sejujurnya ke dia. Cuma 3 kata yang mungkin terlalu lama terhenti di kerongkongan ku. “AKU SUKA KAMU “. Kalimat itu yang hingga pada akhirnya belum aku ucapkan ke dia.

Waktu perpisahan sekolah pun telah tiba, pihak sekolah ku mengadakan perkemahan guna memberi kenangan terindah bagi para siswa-siswi kelas IX. Aku berpikir mungkin saat perkemahan itulah aku akan bisa menyatakan perasaan ku kepada Tiya yang selama ini sangat memeras tenaga karena terlalu lama ku pendam di hati.

Persiapan raga dan mental telah selesai aku rampungkan, lidah telah siap guna meluncurkan semua kata-kata yang indah hanya untuk dia, yakni Tiya. Aku bergegas menemui Tiya yang sedang berada di pos sekretariat perkemahan. Langkah demi langkah aku tapaki, walau belum jelas apa yang akan aku dapatkan darinya. Tapi aku yakin, aku harus mencoba untuk mengatakan hal itu ke dia.
Langkah terakhir dan aku telah berada di pos sekretariat perkemahan. Suasana disana cukup mendukung, tak banyak orang yang ada disana. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju ke tempat Tiya duduk.

“Tiya ...! Aku mulai membuka pembicaraan.
“Oh iya, ada apa Ran?” Jawab Tiya dengan senyum manisnya.
“Ehhhh… Bisa bicara sebentar nggak?” Kataku sedikit gugup.
“Emang mau bicara apa?” Katanya dengan sedikit heran.
“Sebenarnya aku…” Aku kembali gugup.

Kali ini aku benar-benar tak bisa mengatakan apa-apa. Lidahku seolah telah tenggelam dalam adonan semen yang cepat kering dan mengeras. Sementara dalam kebingunganku, Tiya masih menunggu apa yang akan aku bicarakan ke dia. Dahinya sedikit mengerut tanda bahwa dia benar-benar penasaran.

Pada malam itu Nazir datang ke rumahku untuk mengerjakan tugas bahasa indonesia. Setelah beberapa lama kami mengerjakan tugas akhirnya telah selesai. Kemudian aku menceritakan pada Nazir tentang perasaanku ke Tiya. “ingin rasanya aku mengatakan yang sebenarnya. Namun, entah ada angin apa .. ? mengapa setiap kali aku ingin mengatakan perasaan ini kepadanya mulutku seperti sedang terkunci dan gendang suaraku seperti telah menghilang serta perasaan yang tak menentu ketika berada di dekat Tiya. Menatap matanya saja aku tidak mampu apa lagi berbicara langsung dengannya .. !” kataku dengan nada yang sedikit marah demgan diriku sendiri. “Ran,sebaiknya besok kau utarakan saja perasaanmu ini kepadanya. Diterima atau ditolak itu urusan belakang asalkan kau sudah mengatakan yang sebernya kepada Tiya.” Kata Nazir sambil memegang bahuku dengan nada sedikit menyemangatiku. Setelah beberapa lama berbicara tak terasa malam sudah semakin larut. Nazir pun bergegas pulang ke rumahnya. Karena sudah di telepon oleh ibunya.

Keesokan harinya seperti biasa aku masuk sekolah lebih dulu dari mereka dengan perasaan sedikit tak sabar ingin melihat wajah sang pujaan hati. Beberapa menit kemudian Tiya datang.

“Heehh… Randy! Kok ngelamun?” Kata Tiya sambil menepuk tangan kiriku.
“Oh iya-iya, Maaf.” Aku tersadar kembali.
“Jadi, Mau bicara apa?”Tiya menanyakan kembali apa yang aku akan katakan padanya kemarin. Tanya dia dengan ekspresi wajah yang dipenuhi rasa penasaran.
“Ngg…ggaak jadi deh. Lain kali aja”. Jawabku dengan nada lirih.
“Kalau gitu aku kembali dulu ke tenda.” Pintaku sambil memalingkan badan dan siap berjalan pergi
“Oh… yaudah kalau gitu. Salam buat Ahmad ya.” Jawabnya kepadaku.

Ditengah perjalanan menuju tenda, aku masih merenungi kejadian beberapa menit lalu. Seribu cemoohan dari dalam diriku sendiri terdengar sangat berisik. Benar dan tak salah jika aku harus mengakui kalau aku tak punya mental juara, yakni mental juara di hati wanita yang aku cinta.
Dalam renunganku tersebut, aku sedikit tersadar mengenai kalimat terakhir yang diucapkan Tiya kepadaku tadi. Terselip tanda tanya mengapa dia menitipkan salam kepada Ahmad? Apakah itu hanya salam biasa atau lebih? Apakah ada hubungan di antara mereka?.
Aku belum selesai menyimpulkan jawabanku ketika sosok pria mengagetkanku.

“Woyy.. Ada apa Ran?” Kata Maulana sembari memegang lenganku.
“Gak ada apa-apa.” Jawabku tak bersemangat.
“Ayolah jujur aja? Ada apa?.” Desak Maulana.
“Apa kamu tahu hubungan antara Tiya dan Ahmad?” Tanyaku ke dia.
“Hmmm.. aku tahu kamu suka ke Tiya, Ran. Kamu juga sudah sering cerita ke aku tentang rasamu itu. Tapi sekarang Tiya sudah jadian sama Ahmad.” Jelas Maulana kepadaku.
“Jadi, dugaanku benar. Aku terlalu terlambat.” Kataku dengan nada lirih sambil menahan nafas yang mulai tersendat-sendat.
“Sudahlah, Ambil hikmahnya aja. Lagi pula jodoh itu sudah diatur oleh-Nya.” Kata Nazir mencoba menyemangati aku.
“Tapi…” Aku ingin membantahnya, Namun Maulana langsung memotong pembicaraanku.
“Tak usah .. ! tapi, Kalau pun kamu membantah kata-kataku tadi, itu tak membantu. Tak akan mengubah keadaan. Justru kamu akan di pengaruhi oleh amarah. Sekarang ayo kembali ke tenda, kita istirahat dulu. Nanti sore kegiatan perkemahan sudah dimulai.” Kata Nazir yang penuh dengan kesabaran menegingatkan aku.
“Makasih” Jawabku pendek.

Hembusan angin malam terasa menyejukkan. Apalagi disertai alunan musik pop yang terdengar sangat nyaring bersama suara sorak-sorak para peserta perkemahan. Lapangan yang tadi siang bagaikan padang pasir tandus telah terisi oleh puluhan bahkan ratusan orang. Di depan mereka telah berdiri sebuah panggung megah guna acara pentas seni pada malam ini. Aku tak ikut menyaksikan acara tersebut, aku hanya diam di tenda dan hanya bertugas untuk menjaga tenda kelompokku. Rasa kecewa masih menyelimuti raga dan juga jiwaku. Walau mungkin penjelasan dari Maulana sudah cukup jelas kalau Tiya sudah menjalin hubungan dengan Ahmad, Tapi aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri. Tentang semua keputusan yang aku ambil ternyata tak ada yang memerdekakan hati ini. Pilihan untuk menutup mulut terhadap rasa cinta telah berdampak pada sebuah penyesalan yang tak ternilai derajatnya. Namun, Aku teringat bahwa itu semua adalah resiko. Tak ada sesuatu keputusan yang tak memiliki resiko, semuanya pasti punya. Hanya keberanian yang bisa meminimalkan resiko itu. Dan benar, hanya keberanian.

Tak terasa bulan pun mulai meninggi dan jam di tangan telah membentuk sudut 90 derajat pada jarum pendek menunjuk angka 9. Aku mulai berhenti berbicara dengan diriku sendiri. Akupun pada akhirnya mendapat kesimpulannya. Semua yang terlambat pasti di belakangnya ada sesuatu yang tepat untuk didapat. Itulah sepenggal kalimat yang mungkin bisa aku kembangkan untuk kedepannya. Dan untukmu Tiya, aku harap engkau bahagia bersama Ahmad. Semoga engkau bahagia dengan pilihanmu

 

ilmu/pengetahuan

25 June 2013 22:50:44 Dibaca : 268

masih dengan postingan materi yang mungkin bisa bermanfaat untuk kita semua.. d postingan ini akan banyak di jelaskan tentang ilmu pengetahuan itu ap.. oke kita lansung saja pada  materinya..

 

A. Definisi Ilmu Pengetahuan

Menurut “ensiklopedia Indonesia” ilmu pengetahuan adalah suatu sistem dari berbagai pengetahuan yang masing-masing didapatkan sebagai hasil pemeriksaaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan menggunakan metode-metode tertentu. Ilmu pengetahuan prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematiskan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalamandan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.[1]

Ilmu pengetahuan diambil dari kata bahasa inggris science , yang berasal dari bahasa latin scientia dari bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari, mengetahui.[2] Ilmu pengetahuan adalah suatu proses pemikiran dan analisis yang rasional, sistematik, logis, dan konsisten.

B. Perbedaan Ilmu Pengetahuan Dengan Pengetahuan Biasa

Apabila kita memperbandingkan antara pengetahuan biasa dengan ilmu pengetahuan dapat dikatakan sebagai berikut :

Pengetahuan biasa( knowledge/ common sense): tidak memandang sebab-sebabnya, tidak mencari rumusan secara obyektif, tidak menyelidiki obyeknya, tidak ada sintesis, tidak bermetode dan bersistem.Ilmu pengetahuan (science) : mementingkan sebab-sebabnya, mencari rumusan, menyelidiki obyek, melakukan sintesis, bermetode dan bersistem.[3]

Perbedaan antara ilmu pengetahuan dengan pengetahuan biasa terlihat dari sifat sistematik dan cara memperolehnya[4]

C. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan

Klasifikasi atau penggolongan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan atau perubahan sesuai dengan semangat zaman[5]. Terdapat banyak pandangan yang terkait dengan klasifikasi ilmu pengetahuan yang dapat kita temui. Pada makalah ini kami akan mengklasifikasikan ilmu pengetahuan menurut subyeknya dan obyeknya.

Menurut subyeknya

1) Teoritis

a. Nomotetis: ilmu yang menetapkan hukum-hukum yang universal berlaku, mempelajari obyeknya dalam keabstrakannya dan mencoba menemukan unsur-unsur yang selalu terdapat kembali dalam segala pernyataannya yang konkrit bilamana dan di mana saja, misalnya adalah ilmu alam, ilmu kimia, sosiologi, ilmu hayat dan sebagianya.

b. Ideografis (ide: cita-cita, grafis: lukisan), ilmu yang mempelajari obyeknya dalam konkrit menurut tempat dan waktu tertentu, dengan sifat-sifatnya yang menyendiri (unik). Misalnya ilmu sejarah, etnografi (ilmu bangsa-bangsa), sosiologi dan sebagainnya.

2) Praktis (applied science/ ilmu terapan): ilmu yang langsung ditujukan kepada pemakaian atau pengalaman pengetahuan itu, jadi menentukan bagaimanakah orang harus berbuat sesuatu, maka ini pun diperinci lebih lanjut yaitu :

a. Normatif, ilmu yang memesankan bagaimanakah kita harus berbuat, membebankan kewajiban-kewajiban dan larangan-laramgan misalnya: etika (filsafat kesusilaan/filsafat moral)

b. Positif, (applied dalam arti sempit) yaitu ilmu yang mengatakan bagaimanakah orang harus berbuat sesuatu , mencapai hasil tertentu. Misalnya adalah ilmu pertanian, ilmu teknik, ilmu kedokteran dan sebagainnya.

Kedua macam ilmu pengetahuan ini saling melengkapi, jadi walaupun dibedakan tetap tidak boleh dipisahkan. Kebanyakan ilmu pengetahuan mempunyai bagian teoritis disamping bagian praktis, sehingga sering sulit diterapkan dimana suatu ilmu harus dimasukkan dalam pembagian ini, ilmu teoritis, biasannya dapat berdiri sendiri terlepas dari ilmu praktis,akan tetapi ilmu praktis selalu mempunyai dasar yang teoritis.

Menurut Obyeknya (terutama obyek formalnya atau sudut pandangnya)

1) Universal/umum: meliputi keseluruhan yang ada,seluruh hidup manusa, misalnnya: teologi/agama dan filsafat.

2) Khusus: hanya mengenai salah satu lapangan tertentu dan kehidupan manusia, jadi obyeknya terbatasa, hanya ini saja atau itu saja.inilah yang biasannya disebut” ilmu pengetahuan”.

Ini diperinci lagi atas:

a. Ilmu-ilmu alam (natural scienses, natuurwetenschappen)

Ilmu yang mempelajari barang-barang menurut keadaanya di alam kodrat saja, terlepas dari pengaruh manusia dan mencari hukum-hukum yang mengatur apa yang terjasi di dalam alam, jadi terperinci lagi menurut obyeknya. Termasuk di dalamnya adalah: ilmu alam, ailmu fisika, ilmu kimia, ilmu hayat dan sebainnya.

b. Ilmu pasti (mathematics)

Ilmu yang memandang barang-barang, terlepas dari isinya hanya menurut besarnya. Jadi mengadakan abstaraksi barang-barang itu. Ilmunya dijabarkan secara logis berpangkal pada beberapa asas-asas dasar (axioma). Termasuk di dalamnya adalah: ilmu pasti, ilmu ukur, ilmu hitung, ilmu al jabar dan sebagainnya.

c. Ilmu-ilmu kerohanian / kebudayaan (geisteswisssen-schaften/social-sciences)

Ilmu yang mempelahari hal-hal dimana jiwa manusia memegang peranan yang menentukan. Yang dipandang bukan barang-barang seperti di alam dunia, terlepas dari manusia, melainkan justru sekadar mengalami pengaruh dari manusia. Termasuk misalnnya: ilmu sejarah, ilmu mendidik, ilmu hukum , ilmu ekonomi, ilmu sosiologi, ilmu bahasa dan sebagainnya.

Ketiga macam ilmu pengetahuan ini juga dibeda-bedakan tetapi jangan sampai dipisah-pisahkan, kerna memang berhubungan satu sama lain dan saling mempengaruhi dan melengkapi.[6]

D. Klasifikasi Ilmu Pengetahuan Menurut Para Filsuf

Dalam sub tema ini, kami mengambil beberapa contoh klasifikasi ilmu pengetahuan menurut para filsuf, antara lain :

1) Cristian Wolff

Cristian Wolff mengklasifikasikan ilmu pengetahuan ke dalam tiga kelompok besar , yakni ilmu pengetahuan empiris, matematika, dan filsafat. Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut Cristian Wolff dapat diskemakan sebagai berikut :

a. Ilmu pengetahuan empiris

1. Kosmologis empiris

2. Psikologis empiris

b. Matematika

1. Murni : aritmatika, geometri, aljabar

2. Campuran : mekanika, dan lain-lain

c. Filsafat

1. Spekulatif (metafisika)

a. umum:ontologi

b. khusus: psikologi, kosmologi, theologi

2. Praktis

a. intelek: logika

b. kehendak; ekonomi, etika, politik.

c. pekerjaan fisik: tekhnologi

2) Auguste Comte

Pada dasarnya penggolongan ilmu pengetahuan yang dikemukakan Auguste Comte sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan bahwa gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih dahulu. Kemudian disusul dengan gejala pengetahuan yang semakin lama semakin rumit atau kompleks dan semakin kongkret. Karena dalam mengemukakan penggolongan ilmu pengetahuan, Auguste Comte memulai dengan mengamati gejala-gejala yang paling sederhana, yaitu gejala yang letaknya paling jauh dari suasana kehidupan sehari-hari. Urutan dalam penggolongan ilmu pengetahuan Auguste Comte sebagai berikut:

1. Ilmu pasti (matematika)

2. Ilmu perbintangan (astronomi)

3. Ilmu alam (fisika)

4. Ilmu kimia

5. Ilmu hayat (fisiologi atau biologi)

6. Fisika sosial (sosiologi)

Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut Auguste Comte secara garis besar dapat diklasifikasikan sebagi berikut:

1. Ilmu pengetahuan

a. Logika (matematika murni)

b. Ilmu pengetahuan empiris (astronomi, fisika, biologi, sosiologi)

2. Filsafat

a. Metafisika

b. Filsafat ilmu pengetahuan[7]

resensi

25 June 2013 22:47:26 Dibaca : 596

ass. postingan ini menampilkan data dari resensi sebuah buku ekonomi.. semoga bermanfaat.

 

Resensi buku

Judul buku : ekonomi manajerial dengan pendekatan matematis

Penulis : Prof . Dr. H. Aulia Tasman, S.E., M.Sc. dan

Prof. Dr. H. M. Haviz Aima, M.S

Penerbit : Raja Grafindo Persada

Tahun terbit : 2012

Jumlah halaman : xiv + 268 Halaman

Ekonomi manajerial adalah aplkasi dari teori ekonomi dan pengetauan alat analisis untuk menerangkan bagaimana organisasi orientasi prifit atau nonprofit dapat mencapai tugas atau tujuan secara paling efisien. Penggunaan konsep ekonomi dan metodologi ilmu keputusan untuk memcahkan masalah-masalah keputusan manajerial, yang orientasi akhir adalah untuk mencapai pemecahan optimal terhadap masalah-masalah keputusan manajerial. dalam buku ini banyak membahas tentang optimasi ekonomi yang didalamnya mencakup tentang memaksimalkan nilai perusahaan, metode penyajian hubungan ekonomi, kaidah penurunan fungsi. Teori perilaku konsumen yang didalamnya mencakup tentang pendekatan utility, pendekatan kurva indiferens, marginal rate of substitution (MRS), garis anggaran ( budget line), dan keseimbangan konsumen. Teori perpintaan yang didalamnya mencakup tentang penurunan kurva permintaan dan permintaan pasar. Teori produksi yang didalamnya mencakup tentang mekanisme sistem produksi, fungsi peoduksi, produksi optimal dan skala pengembalian. Teori biaya yang didalamnya mencakup tentang biaya produksi jangka pendek, hubungan antara biaya produksi dengan funsi produksi, biaya produksi jangka panjang, dan hubungan fungsi kepuasan biaya, dan permintaan. Struktur pasar dan harga yang didalamnya mencakup tentang pengertian, pasar persaingan sempurna, pasar persaingan tidak sempurna, dan determinasi harga. Konsep mekanisme keuntungan yang didalamnya mencakup tentang pengantar tentang konsep mekanisme keuntungan, mekanisme keuntungan dua-input, mekanisme dengan kendala biaya, iscoline, penurunan fungsi permintaan faktor, fungsi penawaran output, fungsi laba maksimum,dan profertas fungsi laba maksimum. Pengukuran angka indeks yang didalamnya mencakup tentang pengantar, kerangka konseptual dan notasi, indeks harga output, indeks harga input, indeks kualitas output, indeks kualitas input, dan transitivitas dalam perbandingan multilateral. Pengukuran efisiensi yang didalamnya mencakup tentang pengertian pengukuran efisiensi, fungsi produksi dan efisiensi input, ukuran orientasi input, orientasi pengukuran – output, model DEA untuk konstant returns to scale, dan efisiensi- stochhastic frontier. Konsep dasar produksitivitas yang disalamnya membahas tentang pengantar, total fackor produktivity, perubahan teknologi dan fungsi produksi, perubahan teknologi autonomus dan induced, endergones theory perubahan teknologi, dan difusi teknologi. Dan yang terakhir yang dibahas dalam buku ini yakni dekomposisi total factor produktivity yang didalamnya mencakup tentang pengantar TFP, pengukuran TFP- pendekatan angka indeks, pengukuran TFP- pendekatan nonparametrik, dan pengukuran TFP- pendekatan ekonometrik.

Keunggulan dalam buku ini yakni buku ini mebahas tentang ekonomi manajerial secara lengkap mulai dari teori sampai pada implementasinya, dan buku ini mudah dimengerti, dari segi sampul buku ini sangat menarik untuk dibaca, dan dari struktur penulisan dan gambar pada buku ini sangat baik. Akan tetapi kelemahan dalam buku ini penulis banyak mengutip dan mengambil beberapa contoh dan paparan yang telah dibuat oleh ekonomi lain.