KATEGORI : ceritaQ

Resmi sudah hari ini, tanggal 02 Agustus 2012, band Peterpan mengganti namanya. Setelah lebih dua tahun tanpa nama dan publik dibuat penasaran, Ariel cs –Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David mentransformasikan nama baru Peterpan menjadi NOAH. Logo ini diperkenalkan dengan semua huruf ditulis kapital dan pada huruf A, garis penghubung dilambangkan dengan sebuah bulu. Tak lupa, latar belakang dengan warna merah menyala.

 

 

1343926114859767948

Logo Peterpan/kolom-biografi.blogspot.com

 

13439259671210109795

NOAH/ceritamu.com

 

Well, ada yangmenarik dengan nama baru ini. NOAH dalam bahasa Islam adalah nama Nabi Nuh. Tentu, hal ini sangat paradoks dengan nama sebelumnya, Peterpan.

 

Anda mengenal kisah Peterpan? Peterpan adalah nama seorang anak kecil yang tinggal di Neverland. Hidup bahagia dan tak pernah ingin menjadi orang dewasa. Dia punya kemampuan terbang tanpa alat dan kuncinya hanya satu, pikiran bahagia. Peter juga selalu ditemani seorang peri kecil, Thinker Bell. Suatu ketika, dia mengunjungi seorang anak manusia yang bernama Wendy. Alhasil, Wendy dan kedua adiknya berhasil diajak Peter ke Neverland. Malangnya, di sana Peter harus mengalahkan musuh terbesarnya, Kapten Hook. Kapten yang jahat ini ingin mengalahkan Peter dan caranya adalah dengan membuat Peter berpikir negatif. Untung, cara ini tidak berhasil karena ada teman-teman yang selalu menolongnya. Di akhir cerita, Wendy diajak Peter tinggal selamanya di Neverland. Akan tetapi, Wendy ingat kedua orangtuanya dan memilih untuk dewasa. Mungkin cerita berakhir sad ending bagi Peter, tapi pasti selalu ada hikmah di balik kesedihan.

 

 

13439255341180998459

Peterpan dan Wendy/winon.winoonaa.blogspot.com

 

Hmmm.. Dari nama Peterpan, bisa dibayangkan image yang terbentuk? Walaupun Peterpan adalah cerita anak-anak, tapi menurut saya, kisahnya sarat hikmah. Pengorbanan, ketulusan dan tentu keceriaan.

 

Beralih ke nama kedua, NOAH. Noah atau Nabi Nuh adalah salah satu dari lima Nabi yang mendapat predikat ‘Ulul Azmi. Lima nabi tersebut adalah NIMIM –Nabi Nuh, Nabi Isa, Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan Rasulullah Muhammad. Predikat ini diberikan karena ketabahan para Nabi dalam menghadapi kaumnya dan juga cobaan dari Allah. Nabi Nuh sendiri sangat terkenal dengan kapalnya.

 

Alkisah, kaum Nabi Nuh sangat bebal sekali ketika dinasihati. Selama ratusan tahun Nabi Nuh berdakwah, hanya sedikit umat yang mau mengikutinya. Hingga akhirnya, Allah mewahyukan bahwa kaum Nabi Nuh akan diberi cobaan berupa banjir besar. Oleh karena itu, Nabi Nuh diperintahkan membuat sebuah kapal besar di atas bukit. Alih-alih mengikuti, kaum Nabi Nuh malah menertawakannya dan menyebutnya sudah gila. Mereka pun berbondong-bondong pergi ke kapal Nabi Nuh hanya untuk membuang kotoran di sana. Hingga tibalah saat yang ditentukan, Nabi Nuh dan kaum yang beriman diperintahkan Allah swt. naik ke kapal. Saat azab banjir besar itu telah datang, ternyata ada seorang anak Nabi Nuh yang ikut terseret. Ketika Nabi Nuh ingin menolongnya, Allah berfirman bahwa anaknya tersebut bukanlah bagian dari keluarganya karena tidak beriman. Cerita Nabi Nuh banyak dikisahkan dalam Al Quran.

 

 

1343925748490220188

Jejak

 

Membayangkan kisah Nabi Nuh, maka kita akan belajar pada banyak hal. Keimanan Nabi Nuh pada Allah, pengorbanan Nabi Nuh dengan merelakan anaknya sendiri dan juga keteguhan hati walaupun terus dicela.

 

Sudah lihat benang merahnya? Dari nama dulu, Peterpan, hingga sekarang diganti menjadi Noah, Ariel CS seakan ingin mengubah image. Dari yang asalnya hanya seorang peri biasa, kini sudah berubah menjadi nama seorang Nabi. Kalo dilihat-lihat sepertinya agak kurang nyambung ya. Tapi,

 

Alasan Ariel sendiri mengganti nama Peterpan menjadi NOAH cukup sederhana. Nama NOAH dinilainya simpel dan mewakili lagu-lagu yang akan dibawakan Ariel cs nanti.

 

Oh ya, sekedar tambahan informasi, besok single perdana NOAH juga akan diperdengarkan di seluruh Indonesia tepat jam 15.00. Sesaat setelah Peterpan ganti nama, #Welcome NOAH pun menjadi trending topic di dunia Twitter. Akun resmi mereka di Twitter juga sudah diganti dengan @NOAH_ID yang sebelumnya @newpeterpan band. Rupanya, pesona Ariel yang kemarin baru saja dibebaskan bersyarat, masih menyihir para Sahabat Peterpan. Eh, kan udah ganti nama ya, berarti juga diganti Sahabat Noah? Kita tunggu saja. :D

 

 

1343925914391407555

Welcome NOAH jadi tranding topic

 

Welcome NOAH! Good Bee Peter Pan! Selamat datang di kancah musik Indonesia…

Si Malin Kundang

15 October 2012 14:49:10 Dibaca : 204

Dahulu kala di Padang Sumatera Barat tepatnya di Perkampungan Pantai Air Manis ada seorang janda bernama Mande Rubayah. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Malin Kundang. Malin sangat disayang oleh ibunya, karena sejak kecil Malin Kundang sudah ditinggal mati oleh ayahnya.

 

Malin dan ibunya tinggal di perkampungan nalayan. Ibunya suah tua ia hanya bekerja sebagai penjual kue. Pada suatu hari Malin jatuh sakit. Tubuhnya mendadak panas sekali. Mande Rubayah tentu saja sangat bingung. Tidak pernah Malin jatuh sakit seperti ini. Mande Rubayah berusaha sekuatnya unuk mengabobati Malin dengan mendatangkan tabib.

 

Nyawa Malin yang hampir melayang itu akhirnya dapat diselamatkan berkat usaha keras ibunya. Setelah sembuh dari sakitnya ia makin disayang. Demikianlah Mande Rubayah sangat menyayangi anaknya. Sebaliknya Malin juga amat sayang kepada ibunya.

 

Ketika sudah dewasa, Malin berpamitan kepada ibunya untuk pergi merantau. Pada saat itu memang ada kapal besar yang merapat di Pantai Air Manis.

 

“Bu, ini kesempatan yang baik bagi saya,” kata Malin. “Belum tentu setahun sekali ada kapal besar merapat di pantai ini. Saya berjanji akan merubah nasib kita sehingga kita akan menjadi kaya raya.”

 

Meski dengan berat hati akhirnya Mande Rubayah mengijinkan anaknya pergi. Malin dibekali dengan nasi berbungkus daun pisang sebanyak tujuh bungkus.

 

Hari-hari berlalu terasa lambat bagi Mande Rubayah. Setiap pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut. Ia bertanya-tanya dalam hati, sampai di manakah anaknya kini? Jika ada ombak dan badai besar menghempas ke pantai, dadanya berdebar-debar. Ia mengadahkan kedua tangannya ke aas sembari berdo’a agar anaknya selamat dalam pelayaran. Jika ada kapal yang datang merapat ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya. Tetapi semua awak kapal atau nahkoda tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Malin tidak pernah menitipkan barang atau pesan apapun kepada ibunya.

 

Itulah yang dilakukan Mande Rubayah setiap hari selama bertahun-tahun. Tubuhnya semakin tua dimakan usia. Jika berjalan ia mulai terbungkuk-bungkuk.

 

Pada suatu hari Mande Rubayah mendapat kabar dari nakhoda yang dulu membawa Malin bahwa sekarang malin telah menikah dengan seorang gadis cantik putri seorang bangsawan kaya raya. Ia turut gembira mendengar kabar itu. Ia selalu berdo’a agar anaknya selamat dan segera kembali menjenguknya.

 

“Ibu sudah tua Malin, kapan kau pulang...” rintih MANDE RUBAYAH tiap malam.

 

Namun hingga berbulan – bulan semenjak ia menerima kabar malin belum juga datang menengoknya. Namun ia yakin bahwa pada suatu saat Malin pasti akan kembali.

 

Harapannya terkabul. Pada suatu hari yang cerah dari kejauhan tampak sebuah kapal yang indah berlayar menuju pantai. Kapal itu megah dan bertingkat – tingkat. Orang kampung mengira kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira.

 

Ketika kapal itu mulai merapat, tampak sepasang muda mudi berdiri di anjungan. Pakaian mereka berkilauan terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum. Mereka nampak bahagia karena disambut dengan meriah.

 

Mande Rubayah ikut berdesakan melihat dan mendekati kapal. Jantungnya berdebar keras. Dia sangat yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah anak kesayangannya si Malin Kundang.

 

Belum lagi tetua desa sempat menyambut, Ibu Malin terlebih dahulu menghampiri Malin. Ia langsung memeluk malin erat – erat. Seolah takut kehilangan anaknya lagi.

 

“Malin, anakku,” katanya menahan isak tangis karena gembira.

 

“Mengapa begitu lamanya kau tidak memberi kabar?”

 

Malin terpana karena dipeluk wanita tua renta yang berpakaian compang – camping itu. Ia tak percaya bahwa wanita itu adalah ibunya. Seingat Malin, ibunya adalah seorang wanita berbadan tegar yang kuat menggendongnya kemana saja. Sebelum dia sempat berpikir dengan tenang, istrinya yang cantik itu meludah sambil berkata, “Cuih! Wanita buruk inikah ibumu? Mengapa kau membohongi aku?”

 

lalu dia meludah lagi. “Bukankah dulu kau katakan ibumu adalah seorang bangsawan sederajad dengan kami?”

 

Mendengar kata – kata istrinya, Malin Kundang mendorong wanita itu hingga terguling ke pasir. Mande Rubayah hampir tidak percaya pada perikau anaknya, ia jatuh terduduk sambil berkata, “Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, nak!”

 

Malin Kundang tidak menghiraukan perkataan ibunya. Pikirannya kacau karena ucapan istrinya. Seandainya wanitaitu benar ibunya, dia tidak akan mengakuinya. Ia malu kepada istrinya. Melihat wanita itu beringsut hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil berkata, “Hai, perempuan tua! Ibuku tidak seperti engkau! Melarat dan dekil!”

 

Wanita tua itu terkapar di pasir. Orang banyak terpana dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Tak disangka Malin yang dulu disayangi tega berbuat demikian. Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia sadar, Pantai Air Manis sudah sepi. Dilaut dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Hatinya perih seperti ditusuk-tusuk. Tangannya ditadahkannya ke langit. Ia kemudian berseru dengan hatinya yang pilu,“Ya, Allah Yang Maha Kuasa, kalau dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang dia benar anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan-Mu, Ya Tuhan ...!”

 

Tidak lama kemudian cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya. Entah bagaimana awalnya tiba-tiba datanglah badai besar. Menghantam kapal malin kundang. Disusul sambaran petir yang menggelegar. Seketika kapal itu hancur berkeping-keping. Kemudian terhempas ombak hingga ke pantai.

 

Ketika mathari pagi memancarkan sinarnya, badai telah reda. Di kaki bukit terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu. Itulah kapal Malin Kundang. Tak jauh dari tempat itu nampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia. Konon itulah tubuh Malin Kundang anak durhaka yang kena kutuk ibunya menjadi batu. Disela-sela batu itu berenang-renang ikan teri, ikan belanak dan ikan tengiri. Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.

 

Demikianlah sampai sekarang jika ada ombak besar menghantam batu-batu yang mirip kapal dan manusia itu, terdengar bunyi seperti lolongan jeritan manusia. Sungguh memilukan kedengarannya. Kadang-kadang bunyinya seperti orang meratap menyesali diri. “Ampuuuun, Bu ... ! Ampuuuun... Buuuuu ... !” konon itulah suara si Malin Kundang.

 

Orang yang durhaka kepada orang tuanya terutama kepada ibunya, orang tersebut tidak akan bisa masuk surga kecuali setelah mendapat pengampunan dari ibunya.

Sedikit Tentang Sejarah Kota Surabaya.

14 October 2012 10:02:06 Dibaca : 207

Sejarah Kota Surabaya – Menurut cerita yang beredar dimasyarakat, asal usul nama Surabaya berasal dari cerita mitos masyarakat yaitu pertempuran antara sura (ikan hiu) dan baya dan akhirnya menjadi kota Surabaya. Kota Surabaya merupakan kota terbesar kedua di indonesia setelah Kota Jakarta. Surabaya sebagai ibukota Provinsi Jawa Timur, Indonesia dengan jumlah penduduk metropolisnya yang mencapai 3 juta jiwa. Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia timur. Surabaya juga terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah. Secara geografis, Kota Surabaya terletak di tepi pantai utara provinsi Jawa Timur. Wilayahnya berbatasan dengan Selat Madura di Utara dan Timur, Kabupaten Sidoarjo di Selatan, serta Kabupaten Gresik di Barat. Berikut ini dapat kita pelajari tentang sejarah kota Surabaya dari sebelum kedatangan belanda, zaman hindia belanda hingga pertempuran mempertahankan Surabaya.

 

Sejarah Kota Surabaya Sebelum Kedatangan Belanda
Surabaya dulunya merupakan gerbang Kerajaan Majapahit, yakni di muara Kali Mas. Bahkan hari jadi Kota Surabaya ditetapkan sebagai tanggal 31 Mei 1293. Hari itu sebenarnya merupakan hari kemenangan pasukan Majapahit yang dipimpin Raden Wijaya terhadap pasukan kerajaan Mongol utusan Kubilai Khan. Pasukan Mongol yang datang dari laut digambarkan sebagai ikan SURO (ikan hiu/berani)dan pasukan Raden Wijaya yang datang dari darat digambarkan sebagai BOYO (buaya/bahaya), jadi secara harfiah diartikan berani menghadapi bahaya yang datang mengancam. Maka hari kemenangan itu diperingati sebagai hari jadi Surabaya.

 

Pada abad ke-15, Islam mulai menyebar dengan pesat di daerah Surabaya. Salah satu anggota wali sanga, Sunan Ampel, mendirikan masjid dan pesantren di daerah Ampel. Tahun 1530, Surabaya menjadi bagian dari Kesultanan Demak.

Pesan Sponsor

 

Menyusul runtuhnya Demak, Surabaya menjadi sasaran penaklukan Kesultanan Mataram: diserbu Panembahan Senopati tahun 1598, diserang besar-besaran oleh Panembahan Seda ing Krapyak tahun 1610, diserang Sultan Agung tahun 1614. Pemblokan aliran Sungai Brantas oleh Sultan Agung akhirnya memaksa Surabaya menyerah. Tahun 1675, Trunojoyo dari Madura merebut Surabaya, namun akhirnya didepak VOC pada tahun 1677.

 

Dalam perjanjian antara Paku Buwono II dan VOC pada tanggal 11 November 1743, Surabaya diserahkan penguasaannya kepada VOC.

 

Serajah Kota Surabaya pada Zaman Hindia Belanda
Pada zaman Hindia-Belanda, Surabaya berstatus sebagai ibukota Karesidenan Surabaya, yang wilayahnya juga mencakup daerah yang kini wilayah Kabupaten Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang. Pada tahun 1905, Surabaya mendapat status kotamadya (Gemeente). Pada tahun 1926, Surabaya ditetapkan sebagai ibukota provinsi Jawa Timur. Sejak itu Surabaya berkembang menjadi kota modern terbesar kedua di Hindia-Belanda setelah Batavia.

 

Sebelum tahun 1900, pusat kota Surabaya hanya berkisar di sekitar Jembatan Merah saja. Sampai tahun 1920-an, tumbuh pemukiman baru seperti daerah Darmo, Gubeng, Sawahan, dan Ketabang. Pada tahun 1917 dibangun fasilitas pelabuhan modern di Surabaya.

 

Tanggal 3 Februari 1942, Jepang menjatuhkan bom di Surabaya. Pada bulan Maret 1942, Jepang berhasil merebut Surabaya. Surabaya kemudian menjadi sasaran serangan udara Sekutu pada tanggal 17 Mei 1944.

 

Sejarah Kota Surabaya, Pertempuran Mempertahankan Surabaya
Setelah Perang Dunia II usai, pada 25 Oktober 1945, 6000 pasukan Inggris-India yaitu Brigade 49, Divisi 23 yang dipimpin Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby mendarat di Surabaya dengan perintah utama melucuti tentara Jepang, tentara dan milisi Indonesia. Mereka juga bertugas mengurus bekas tawanan perang dan memulangkan tentara Jepang. Pasukan Jepang menyerahkan semua senjata mereka, tetapi milisi dan lebih dari 20000 pasukan Indonesia menolak.

 

26 Oktober 1945, tercapai persetujuan antara Bapak Suryo, Gubernur Jawa Timur dengan Brigjen Mallaby bahwa pasukan Indonesia dan milisi tidak harus menyerahkan senjata mereka. Sayangnya terjadi salah pengertian antara pasukan Inggris di Surabaya dengan markas tentara Inggris di Jakarta yang dipimpin Letnan Jenderal Sir Philip Christison.

 

27 Oktober 1945, jam 11.00 siang, pesawat Dakota AU Inggris dari Jakarta menjatuhkan selebaran di Surabaya yang memerintahkan semua tentara Indonesia dan milisi untuk menyerahkan senjata. Para pimpinan tentara dan milisi Indonesia marah waktu membaca selebaran ini dan menganggap Brigjen Mallaby tidak menepati perjanjian tanggal 26 Oktober 1945.

 

28 Oktober 1945, pasukan Indonesia dan milisi menggempur pasukan Inggris di Surabaya. Untuk menghindari kekalahan di Surabaya, Brigjen Mallaby meminta agar Presiden RI Soekarno dan panglima pasukan Inggris Divisi 23, Mayor Jenderal Douglas Cyril Hawthorn untuk pergi ke Surabaya dan mengusahakan perdamaian.

 

29 Oktober 1945, Presiden Soekarno, Wapres Mohammad Hatta dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin Harahap bersama Mayjen Hawthorn pergi ke Surabaya untuk berunding.

 

Pada siang hari, 30 Oktober 1945, dicapai persetujuan yang ditanda-tangani oleh Presiden RI Soekarno dan Panglima Divisi 23 Mayjen Hawthorn. Isi perjanjian tersebut adalah diadakan perhentian tembak menembak dan pasukan Inggris akan ditarik mundur dari Surabaya secepatnya. Mayjen Hawthorn dan ke 3 pimpinan RI meninggalkan Surabaya dan kembali ke Jakarta.

 

Pada sore hari, 30 Oktober 1945, Brigjen Mallaby berkeliling ke berbagai pos pasukan Inggris di Surabaya untuk memberitahukan soal persetujuan tersebut. Saat mendekati pos pasukan Inggris di gedung Internatio, dekat Jembatan merah, mobil Brigjen Mallaby dikepung oleh milisi yang sebelumnya telah mengepung gedung Internatio.

 

Karena mengira komandannya akan diserang oleh milisi, pasukan Inggris kompi D yang dipimpin Mayor Venu K. Gopal melepaskan tembakan ke atas untuk membubarkan para milisi. Para milisi mengira mereka diserang / ditembaki tentara Inggris dari dalam gedung Internatio dan balas menembak. Seorang perwira Inggris, Kapten R.C. Smith melemparkan granat ke arah milisi Indonesia, tetapi meleset dan malah jatuh tepat di mobil Brigjen Mallaby.

 

Granat meledak dan mobil terbakar. Akibatnya Brigjen Mallaby dan sopirnya tewas. Laporan awal yang diberikan pasukan Inggris di Surabaya ke markas besar pasukan Inggris di Jakarta menyebutkan Brigjen Mallaby tewas ditembak oleh milisi Indonesia.

 

Letjen Sir Philip Christison marah besar mendengar kabar kematian Brigjen Mallaby dan mengerahkan 24000 pasukan tambahan untuk menguasai Surabaya.

 

9 November 1945, Inggris menyebarkan ultimatum agar semua senjata tentara Indonesia dan milisi segera diserahkan ke tentara Inggris, tetapi ultimatum ini tidak diindahkan.

 

10 November 1945, Inggris mulai membom Surabaya dan perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Dua pesawat Inggris ditembak jatuh pasukan RI dan salah seorang penumpang Brigadir Jendral Robert Guy Loder-Symonds terluka parah dan meninggal keesokan harinya.

 

20 November 1945, Inggris berhasil menguasai Surabaya dengan korban ribuan orang prajurit tewas. Lebih dari 20000 tentara Indonesia, milisi dan penduduk Surabaya tewas. Seluruh kota Surabaya hancur lebur.

 

Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami pasukan Inggris pada dekade 1940an. Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan Bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah.

 

Karena sengitnya pertempuran dan besarnya korban jiwa, setelah pertempuran ini, jumlah pasukan Inggris di Indonesia mulai dikurangi secara bertahap dan digantikan oleh pasukan Belanda. Pertempuran tanggal 10 November 1945 tersebut hingga sekarang dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Petani Toili Beralih ke Tambang Emas

25 September 2012 15:33:02 Dibaca : 149

(ANTARA) - Petani yang selama ini menggantungkan hidup mereka pada sektor pertanian padi di Toili, Kabupaten Banggai, kini beralih ke tambang emas."Saya cukup khawatir, Toili yang selama ini menjadi sentra produksi beras terbesar di kabupaten itu bisa terancam kekurangan kebutuhan pokok dimaksud," kata Kepala Dinas Pertanian Sulteng Abdullah Kawulusan di Palu, Jumat.Ia mengatakan, belakangan ini ada sebagian petani di dataran Kecamatan Toili yang tidak lagi mengolah sawah mereka. Mereka lebih memilih untuk bekerja sebagai buruh di tambang emas, karena mungkin penghasilannya lebih bagus. Padahal, kata Kawulusan, harga beras di tingkat petani saat ini cukup bagus. Harga beras di tingkat produsen berkisar Rp5.300 sampai Rp5.400/kg, naik dari sebelumnya hanya Rp4.700 sampai Rp4.800/kg. Kenaikkan harga beras, menyusul kebijakan pemerintah yang telah meningkatkan standar harga pembelian beras menjadi Rp5.060/kg, dan sebelumnya Rp4.600/kg. Semestinya, dengan membaiknya harga beras diharapkan petani makin bergairah meningkatkan produksi. Namun kenyataanya, justru di tengah-tengah membaiknya harga beras, sebagian petani padi di daerah-daerah pertambangan emas, khususnya di Kabupaten Banggai justru beralih bekerja sebagai buruh tambang. Menurut dia, tindakan itu sangat keliru. "Tapi itu sudah pilihan mereka," katanya.


Selain petani itu sendiri yang beralih profesi, juga banyak buruh tani di Toili yang telah mengalihkan pekerjaan mereka menjadi buruh tambang emas.
Akibatnya, petani di wilayah itu kesulitan melakukan panen tepat pada waktunya, sebab banyak buruh tani yang telah bekerja di lokasi-lokasi pertambangan emas di daerah yang terletak dibagian Timur Sulteng. Kepala Bidang Pelayanan Publik Perum Bulog Divisi Regional Sulteng Makkeng Ali secara terpisah membenarkan, petani di Toili banyak yang tidak lagi mengolah sawah mereka. Selain karena kesulitan buruh tani, juga ada sebagian petani yang sengaja tidak lagi mengelolah sawah, dan memilih menjadi pekerja tambang. Akibatnya, padi yang seharusnya sudah waktunya untuk dipanen, tidak bisa dipanen karena petani kesulitan mendapatkan buruh tani. Ia mengatakan, pengadaan beras di Kabupaten Banggai yang selama ini menjadi salah satu daerah di Sulteng sebagai pemasok beras stok nasional di provinsi ini relatif kecil. "Bayangkan saja selama Januari sampai medio November 2010 ini, realisasi pengadaan beras di daerah itu baru sekitar 200 ton," katanya. Padahal, pada musim panen tahun-tahun sebelumnya, realisasi pengadaan beras di Kabupaten Banggai rata-rata diatas 2.000 ton. Sementara total pengadaan beras di Sulteng saat ini baru mencapai 5.000 ton dari target 10.000 ton.

 

 

Kembalikan Toili Seperti Yang Dulu.

14 September 2012 09:50:22 Dibaca : 121

toili adalah sebuah kecamatan yang terletak di kabupaten banggai sulawesi tengah, yang mana dulu kecamatan ini masih tertata rapi dengan semua sumberdaya yang ada baik itu dari peternakan, pertanian,perkebunan, perikanan, pertambangan dan masih banyak lagi, tetapi melihat kondisi saat ini terliohat sangat mengerikan dengan pemandangan lumpur yang meluas sehingga memaksakan hutan sebagai sasaran amuk masa untk mencari yang namanya EMAS. jalan yang dulunya mulus sekarang yang sudah menjadi berlubang - lubang, gunung yang dulunya hijau menjadi merah karna tertutup LUMPUR, dan sering terjadi perampokan, pencurian, bahkan pembunuhan.