Klasifikasi Agroforestri

23 March 2016 13:55:22 Dibaca : 873


KLASIFIKASI AGROFORESTRI


Pengklasifikasian agroforestri dapat didasarkan pada berbagai aspek sesuai dengan perspektif dan kepentingannya yang akan sangat membantu dalam menganalisis setiap bentuk implementasi agroforestri yang dijumpai di lapangan secara lebih mendalam, guna mengoptimalkan fungsi dan manfaatnya bagi masyarakat atau para pemilik lahan.
a. Klasifikasi Berdasarkan Komponen Penyusunnya
Komponen penyusun utama agroforestri adalah komponen kehutanan (atau tanaman berkayu/woody plants), pertanian (atau tanaman non-kayu), dan peternakan (atau binatang ternak/pasture).
1. Agrisilvikultur (Agrisilvicultural systems), sistem agroforestri yang mengkombinasikan komponen kehutanan dengan komponen pertanian.
2. Silvopastura (Silvopastural systems), sistem agroforestri yang meliputi komponen kehutanan dengan komponen peternakan.
3. Agrosilvopastura (Agrosilvopastural systems), pengkombinasian komponen kehutanan dengan pertanian sekaligus peternakan pada unit manajemen lahan yang sama.
b. Klasifikasi Berdasarkan Istilah Teknis Yang Digunakan
Sistem agroforestri, didasarkan pada komposisi biologis serta pengaturannya, tingkat pengelolaan teknis atau ciri-ciri sosial-ekonominya. Contoh : agrisilvikultur, silvopastura, agrosilvopastura.
Sub-sistem agroforestri, memiliki ciri-ciri yang lebih rinci dan lingkup yang lebih mendalam. Contoh: tanaman lorong (alley cropping), tumpangsari dan lain-lain.
Praktek agroforestri, lebih menjurus kepada operasional pengelolaan lahan yang khas dari agroforestri yang murni didasarkan pada kepentingan/kebutuhan ataupun juga pengalaman dari petani lokal atau unit manajemen yang lain yang di dalamnya terdapat komponen-komponen agroforestri.
Teknologi agroforestri, inovasi atau penyempurnaan melalui intervensi ilmiah terhadap sistem-sistem atau praktek-praktek agroforestri yang sudah ada untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar.
c. Klasifikasi Berdasarkan Masa Perkembangannya
1. Agroforestri tradisional/klasik (traditional/classical agroforestry), umumnya tata tanam dan pola tanam tidak teratur.
2. Agroforestri modern (modern atau introduced agroforestry), umumnya hanya melihat pengkombinasian antara tanaman keras atau pohon komersial dengan tanaman sela terpilih dan teratur.
d. Klasifikasi Berdasarkan Zona Agroekologi
Menurut Nair (1989), klasifikasi agroforestri dapat juga ditinjau dari penyebarannya atau didasarkan pada zona Agroekologi, yaitu:
(1)Agroforestri pada di wilayah tropis lembab dataran rendah (lowland tropical humid tropic);
(2)Agroforestri pada wilayah tropis lembab dataran tinggi (high-land tropical humid tropic);
(3)Agroforestri pada wilayah sub-tropis lembab dataran rendah (lowland humid sub-tropic);
(4)Agroforestri pada wilayah sub-tropis dataran tinggi (highland humid sub-tropic).
Didasarkan pada zona klimatis utama di Indonesia, terdapat 5 wilayah yaitu:
(a) Zona Monsoon (Jawa dan Bali),
(b) Zona Tropis Lembab (Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi),
(c) Zona Kering atau Semi Arid (Nusa Tenggara)
(d) Zona Kepulauan (Kepuluan Maluku),
(e) Zona Pegunungan (Jawa, Sumatera, atau di Papua).
e. Klasifikasi Berdasarkan Orientasi Ekonomi
1. Agroforestri skala subsisten (Subsistence agroforestry), diusahakan oleh pemilik lahan sebagai upaya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
2. Agroforestri skala semi-komersial (Semi-commercial agroforestry)
3. Agroforestri skala komersial (Commercial agroforestry), kegiatan ditekankan untuk memaksimalkan produk utama, yang biasanya hanya dari satu jenis tanaman saja dalam kombinasi yang dijumpai.
f. Klasifikasi Berdasarkan Sistem Produksi
1. Agroforestri berbasis hutan (Forest Based Agroforestry)
2. Agroforestri berbasis pada pertanian (Farm based Agroforestry)
3. Agroforestri berbasis pada keluarga (Household based Agroforestry)
4. Agroforestri pada tingkat tapak (skala plot)
5. Agroforestri pada tingkat bentang lahan