Tugas Sosper

28 July 2016 10:32:09 Dibaca : 523

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam memasuki era globalisasi belakangan ini, tantangan dan persaingan untuk maju dalam segala bidang sangat ketat, maka dibutuhkan peran aktif yang tulus dari segenap lapisan masyarakat untuk menumbuh kembangkan pembangunan yang merata.
Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup atau semi terbuka, dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Masyarakat mengandung aspek dinamis yang bertempat tinggal di wilayah. Aspek dinamis ini mencerminkan dalam pola hubungan, cara-cara bergaul, cara hidup, dan cara-cara bertindak orang-orang yang ada disuatu wilayah tersebut. Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana struktur sosial masyarakat di Desa Dunggala Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango?
2. Bagaimana struktur ekonomi masyarakat Di Desa Dunggala Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui struktur sosial masyarakat Di Desa Dunggala Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango?
2. Untuk mengetahui struktur ekonomi masyarakat Di Desa Dunggala Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Struktur Masyarakat Desa
Masyarakat desa sering diartikan sebagai masyarakat tradisional dari masyarakat primitif (sederhana). Namun pandangan tersebut sebetulnya kurang tepat, karena masyarakat desa adalah masyarakat yang tinggal di suatu kawasan, wilayah, teritorial tertentu yang disebut desa. Sedangkan masyarakat tradisional adalah masyarakat. yang menguasaan ipteknya rendah sehingga hidupnya masih sederhana dan belum kompleks. masyarakat desa dinegara sedang berkembang seperti Indonesia, ukurannya terdapat pada masyarakat desa yaitu bersifat tradisional dan hidupnya masih sederhana, karena desa-desa di Indonesia pada umumnya jauh dari pengaruh budaya asing/luar yang dapat mempengaruhi perubahan-perubahan pola hidupnya. (Saragi, et al 2004)
2.2 Struktur Sosial
Struktur sosial adalah susunan bagaimana masyarakat itu terbentuk dalam
suatu susunan baik secara vertikal maupun horizontal, selain itu struktur sosial dapat dilihat dari aktivitas masyarakatnya sehari-hari dalam suatu komunitas. Begitu pula dengan struktur sosial di pedesaan yang pada umumnya aktivitas penduduknya adalah homogen, mulai dari mata pencaharian, hubungan sosial yang masih bersifat intens dan stratifikasi sosial yang berdasarkan kepemilikan lahan atau kepemilikan hewan ternak.
Dalam struktur sosial pedesaan secara umum adalah struktur sosial yang sederhana dengan tingkat kompleksitasnya masih rendah bukan hanya persoalan struktur yang sederhana namun pada struktur sosial pedesaan terdapat pola hubungan sosial dalam hubungan produksi antar kalangan peternak yang pada akhirnya pola hubungan tersebut akan membentuk suatu aktivitas lokal dan menjadi karakteristik tersendiri dari sebuah struktur sosial masyarakat.
Menurut Soekanto (1990), beberapa sosiolog menganggap bahwa kerjasama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang per orangan, antara kelompok manusia, maupun orang per orangan dengan kelompok manusia. Pada struktur sosial pedesaan, pola hubungan sosialnya seperti yang dijelaskan diatas terbentuk karena intensitas interaksi pada masyarakat.
2.3 Struktur Ekonomi
Istilah struktur dipakai untuk menunjukkan susunan atau komposisi dari sesuatu. Struktur ekonomi dipergunakan untuk menunjukkan komposisi atau susunan sektor-sektor ekonomi dalam suatu perekonomian. Sektor yang dominan atau yang diandalkan mempunyai kedudukan paling atas dalam struktur tersebut dan menjadi ciri khas dari suatu perekonomian.
Dikenal dua macam struktur ekonomi, yaitu struktur ekonomi agraris, ialah struktur ekonomi yang didominasi oleh sektor pertanian. Sektor pertanian menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar penduduknya. Pada umumnya Negara-negara berkembang (developing countries) termasuk Indonesia disebut Negara agraris, dan Negara-negara yang termasuk Negara-negara belum berkembang (under developed countries) yang pertaniannya masih sangat tradisional dikategorikan sebagai Negara agraris tradisional. Struktur ekonomi yang kedua ialah struktur ekonomi Industri, dimana struktur ekonomi didominasi oleh sektor industri.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pengamatan Struktur Sosial
3.1.1 Kelompok Masyarakat Petani
 Kelompok Tani
Kelompok Tani pada dasarnya adalah organisasi non formal di pedesaan yang ditumbuh kembangkan “dari, oleh dan untuk petani”. Berikut hasil wawancara salah satu anggota kelompok tani di Desa Dunggala, Kecamatan Tapa. Kabupaten Bone Bolango.
Nama : Kisman Huntoyungo
Umur : 50 Tahun
Kelompok tani : Brima Jaya
Tanaman yang di budidayakan : Tanaman Jagung dan Cabe rawit
Didesa Dunggala sudah terbentuk 4 kelompok tani yang terdiri dari:
1. Kelompok Tani Tekad Makmur
2. Kelompok Tani Brima Jaya
3. Kelompok Tani Biluanga Jaya
4. Kelompok Tani Biawu Jaya.
Kelompok Tani Brima Jaya memiliki anggota dengan jumlah 38 anggota. Berikut struktur kelompok tani Brima Jaya:
Ketua : Yakob Ibrahim
Sekretaris : Mustar Amu
Bendahara : Rustam Af’ali
3.1.2 Kelompok Pemuda Dan Keagamaan
 Karang Taruna
Karang Taruna adalah organisasi pemuda atau remaja Indonesia yang tersebar di wilayah desa/kelurahan. Sehingga karang taruna boleh dikatakan sebagai organisasi modern dan bukan organisai konvensional yang mengangkat pengurus dari kalangan keluarga, keturunan dan kerabat. Dikatakan organisasi modern adalah : “Organisasi dimana faktor-faktor yang bersifat pribadi tidak memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan. Organisai modern disebut juga sebagai organisai rasional dan legal, adalah organisasi yang dalam kegiatannya terdapat pemisahan yang tegas antara urusan pribadi dengan urusan organisasi”. (Saragi, 2004).
Adapun gambaran Kepengurusan Karang Taruna Desa Dunggala Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango adalah sebagai berikut:

 Kelompok Pemuda Keagamaan
Ketua : Bustamin Rauf
Sekretaris : Noviyanti Umar
Bendahara : Niken Ibrahim

3.1.3 Kelompok Organisasi Kewanitaan
Berikut struktur organisasi kewanitaan (PKK)

Adapun hasil wawancara mengenai Program Kerja PKK Desa Dunggala, Kec. Tapa, Kab. Bone Bolango:
• Bidang pangan : Membuat Kue
• Bidang Sandang : Kerajinan Tangan membuat anyaman
• Kelestarian Lingkungan : Menanam Pohon dan Kerja Bakti
• Bidang Lainnya : Lomba gerak Jalan dan lain-lain.
3.2 Pengamatan Struktur Ekonomi
3.2.1 Kepemilikan Lahan Pertanian
Berikut hasil wawancara salah satu anggota yang tergabung dalam kelompok tani Brima Jaya:
Nama : Kisman Huntoyungo
Umur : 50 Tahun
Luas Lahan : 1 ha
Lahan tersebut ditanaman tanaman jagung dan cabe rawit, hasil produksi dari kedua jenis tanaman tersebut sebagian di konsumsi sebagian lainnya di jual. Selama menunggu masa panen tiba, petani bekerja sampingan yaitu membantu keluargannya dengan pekerjaan sebagai buruh bangunan.
3.2.2 Kepemilikan Harta/Warisan
Nama : Kisman Huntoyungo
Umur : 50 Tahun
Harta : Tidak punya
3.2.3 Kepemilikan Usaha Dan Perekonomian
Nama : Samsia Bakari
Umur : 48 Tahun
Usaha : Kios
Untuk menghidupi keluarga beliau membuka usaha kios. Barang yang dijual berupa; beras, sabun, sampo, kopi, rokok dan minyak goreng. Barang tersebut dibutuhkan oleh penduduk disekitar tempat tersebut.
3.2.4 Luas Dan Produksi Pertanian
Nama : Kisman Huntoyungo
Luas Lahan : < 1 ha
Produksi Pertanian : Tanaman Pangan seperti Jagung dan Tanaman
Hortikultura seperti cabe rawit
3.2.5 Akses Pasar Dan Pemasaran Produksi
Untuk menjual produksi pertanian petani tersebut menjualnya melalui pengepul/tengkulak atau langsung dibawa ke pasar tradisional.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisis struktur masyarakat di Desa Dunggala Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango, yang diamati kelompok struktur sosial yaitu kelompok masyarakat pertanian yaitu kelompok tani lahan kering. Kelompok ini membudidayakan tanaman pangan berupa jagung dan tanaman hortikultura seperti cabe rawit.
Serta mengamati struktur ekonomi masyarakat desa, yaitu kelompok kepemilikan lahan pertanian, lahan yang diolah yaitu lahan sendiri karena sebagaian besar mata pencaharian penduduk desa yaitu sebagai petani.

DAFTAR PUSTAKA
Saragi P, Tumpal. 2004 Mewujudkan Otonomi Masyarakat Desa, Alternative
Pemberdayaan Desa, pen. Cipruy, Yogyakarta,
Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Press, Jakarta.

LAMPIRAN

Kepemilikan usaha Anggota kelompok tani

Kegiatan Keagamaan Desa Dunggala