BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Informasi adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan di era Globalisasi sekarang ini.Khususnya, Informasi akuntansi manajemen sangat dibutuhkan untuk organisasi dalam mengatasi ketidakpastian.Kondisi ini membawa organisasi dan manajemennya untuk melakukan restrukturisasi, rekapitalisasi serta reorganisasi dalam setiap kegiatan agar kompeten, efektif, dan efesien.Dibutuhkan suatu sistem perencanaan dan pengawasan yang terpadu. Segala sesuatu akan berjalan lebih baik apabila direncanakan dengan prinsip kehatihatian dan kematangan. Sebelum melaksanakan aktivitas, sebaiknya perusahaan terlebih dahulu membuat perencanaan kegiatan yang hendak dilaksanakan agar perusahaan mempunyai pedoman kerja dan dapat mencapai keuntungan yang maksimal. Salah satu tujuan perusahaan yang berorientasi profit motive adalah laba. Besar kecilnya laba yang diperoleh perusahaan merupakan tolak ukur kinerja manajemen.Manajemen harus mampu mengambil keputusan (decision making) yang akurat dan up to date.Di dalam pengambilan keputusan, manajemenmerupakan final decider. Manajemen dalam mengambil keputusan memerlukan suatu sistem pelaporan intern yang memadai, sehingga penyelewengan ataupun pemborosan dalam proses produksi dapat segera diatasi. Akuntansi manajemen merupakan akuntansi penghubung yang sistematis dan menyajikan informasi yang berguna serta dapat dipercaya untuk dapat membantu manajemen sebagai final decider. Akuntansi manajemen merupakan tools of management, yaitu suatu alat yang ampuh bagi manajemen dalam melaksanakan tugasnya. Investasi merupakan penanaman modal di luar perusahaan yang dapat berupa surat berharga atau aktifitas lain yang tidak digunakan secara langsung dalam kegiatan produktivitas perusahaan. Investasi jangka panjang sering disebut juga investasi permanen dan biasanya dilaporkan di neraca dalam perkiraan aktiva tidak lancar. Investasi jangka panjang merupakan sebagian dana yang ditanamkan dalam aktiva di luar kegiatan usaha pokok perusahaan, dengan tujuan memperoleh pendapatan terus menerus dalam jangka panjang. Manajemen puncak sering menghadapi masalah penambahan mesin-mesin baru untuk memenuhi bertambahnya permintaan terhadap produk perusahaan, dan masalah penggantian aktiva tetap yang sudah tidak ekonomis lagi pemakaiannya, serta masalah-masalah lain yang berhubungan dengan investasi. Pada PT. Cakra Buana Megah sebagai perusahaan konstruksi yang dimana pengadaan aktiva berpengaruh sangat signifikan pada keberhasilan produksi perusahaan yang dimana sangat mengandung ketidakpastian.Untuk itu manajemen perusahaan harus mendapat informasi yang tepat dan akurat, Pengambilan keputusan selalu berusaha mengumpulkan informasi untuk mengurangi ketidakpastian yang dihadapinya dalam pemilihan alternatif tindakan tersebut.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan adalah untuk memberikan gambaran secara nyata tentang peranan akuntansi manajemen sebagai dasar dalam pengambilan keputusan jangka panjang mengenai investasi aktiva tetap perusahaan pada PT. Cakra Buana Megah

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Akuntansi Manajemen
Mulyadi (2001:11) informasi merupakan suatu fakta ,data, pengamatan, persepsi, atau sesuatu yang lain yang menambah pengetahuan. Hariadi (2002:3) Akuntansi manajemen merupakan identifikasi, pengukuran, pengumpulan, analisis, pencatatan, interpretasi, dan pelaporan kejadian-kejadian ekonomi suatu badan usaha yang dimaksudkan agar manajemen dapat menjalankan fungsi perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan.Sedangkan menurut Rudianto (2006:4) Akuntansi manajemen merupakan sistem alat, yakni jenis yang informasi dihasilkannya ditujukan kepada pihak- pihak internal organisasi, seperti manajer keuangan, manajer produksi, manajer pemasaran dan sebagainya guna pengambilan keputusan internal organisasi.Jadi, Akuntansi Manajemen adalah informasi akuntansi yang dilakukan intern perusahaan untuk merencanakan, mengindentifikasi, pengendalian, evaluasi dan pengambilan keputusan.
1. Hubungan Akuntansi Manajemen dengan Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Biaya
Perbedaan pokok antara akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan dinyatakan Halim dan Supomo (2005:11) yaitu: 1. Pemakai Informasi 2. Dasar Penyajian Informasi 3. Fokus Informasi 4. Orientasi Informasi 5. Tipe Informasi 6. Ketetapan Informasi
2. Jenis-Jenis Investasi
Mulyadi (2001:284) mengemukakan Investasi adalah pengaitan sumber-sumber dalam jangka panjang untuk menghasilkan laba dimasa yang akan datang. Investasi menurut RA Supriyono (2001:424) adalah Pemilihan sumber-sumber dalam jangka panjang yang bermanfaat pada beberapa periode akuntansi yang akan datang, sehingga pemilihan atau komitmen tersebut harus didasarkan pada tujuan perusahaan serta akibat- akibat ekonomisnya terhadap laba perusahaan dalam jangka panjang.
Mulyadi (2001:284) investasi dapat dibagi menjadi empat jenis berikut ini : 1. Investasi yang tidak menghasilkan laba (non-profit investment) 2. Investasi yang tidak dapat diukur labanya (non measureable profit investment) 3. Investasi dalam penggantian equipment (replacement investment) 4. Investasi dalam perluasan usaha (expansion investment).
3. Pengambilan Keputusan
Winardi (2001:112) mendefenisikan pengambilan Keputusan merupakan pilihan yang didasarkan atas kriteria tertentu mengenai alternatif kelakuan tertentu dari pada 2 buah alternatif atau lebih. Langkah-Langkah Pengambilan Keputusan Mulyadi (2001:115) menyatakan langkah- langkah dalam pengambilan keputusan meliputi, antara lain :
1. Pengakuan dan perumusan atau peluang
2. Pencarian tindakan alternatif dan pengkuantifikasian konsekuensi setiap tindakan alternative
3. Pemilihan alternatif optimum atau alternatif yang memuaskan
4. Implementasi dan penindaklanjutan
Menurut Mulyadi (2001:293) ada empat metode untuk menilai suatu usulan investasi, yaitu;
1. Payback Period
2. Average Return on investment
3. Present value
4. Discount Cash Flows
4. Jenis Informasi Akuntansi Manajemen Jenis informasi akuntansi manajemen yang dikemukakan oleh Halim dan Supomo (2005:7) adalah sebagai berikut:
1. Informasi Akuntansi Penuh (Full Accounting Information)
2. Informasi Akuntansi Diferensial (Differential Accounting)
3. Informasi Akuntansi Pertanggungjawaban (Responsibility Accounting)
5 Informasi Akuntansi Manajemen dalam Proses Pengambilan Keputusan Investasi
Penyusunan program merupakan proses perencanaan jangka panjang yang didalamnya manajemen merencanakan alokasi sumber daya (resources) kepada berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan dimasa yang akan datang untuk pelaksanaan strategi dalam pencapaian tujuan perusahaan. Di antara berbagai informasi yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi, informasi akuntansi manajemen, yang berupa aktiva diferensial pendapatan diferensial, dan atau biaya diferensial merupakan informasi penting untuk menilai kelayakan ekonomis suatu rencana investasi.
Informasi aktiva diferensial memberikan ukuran berapa jumlah dana tambahan yang akan ditanamkan pada penggantian aktiva tetap tertentu, sedangkan pendapatan diferensial dan biaya diferensial memberikan ukuran kenaikan produktivitas yang diperoleh dengan adanya penggantian aktiva tetap yang direncanakan tersebut. Oleh karena itu, meskipun untuk perhitungan laba perusahaan , biaya diperhitungkan berdasarkan azas waktu (accural basis), namun dalam perhitungan kriteria pemilihan investasi yang memperhitungkan nilai waktu uang, biaya yang diperhitungkan adalah biaya tunai.
Informasi akuntansi diferensial hanya digunakan untuk memilih salah satu alternatif dari 2(dua) atau lebih alternatif untuk menjadi keputusan pada masa-masa akan datang. Dengan kata lain, informasi yang digunakan dalam differential accounting adalah informasi mendatang (future estimate), dan informasi tersebut merupakan informasi mengenai perbedaan antara alternatif yang dihadapi pada pembuat keputusan (decision maker). Informasi akuntansi pertanggungjawaban masa lalu bermanfaat untuk menganalisis prestasi masingmasing manajer pusat pertanggung jawaban.
Untuk tujuan analisis prestasi tipe informasi ini dari pada informasi akuntansi biaya penuh, karena prestasi masing-masing manajer dapat lebih diidentifikasikan sesuai dengan pusat pertanggung jawaban yang dipimpinnya. Disamping itu, informasi akuntansi pertanggungjawaban masa lalu dapat membantu membangkitkan motivasi para manajer pusat pertanggungjawaban. Informasi akuntansi pertanggungjawaban yang menyangkut masa yang akan datang digunakan dalam kegiatan perencanaan, khususnya perencanaan tahunan, yang dikenal dengan nama anggaran (budget).PT. Cakra Buana Megah, peranan informasi akuntansi manajemen dalam proses pengambilan keputusan jangka panjang mengenai investasi aktiva tetap yaitu memutuskan untuk membeli atau menyewakan aktiva tetap yang didasarkan pada penghematan biaya.
Hasil penelitian Tilaar (2015) mengenai Analisis biaya diferensial dalam pengambilan keputusan membeli atau memproduksi sendiri bahan baku daging ayam olahan pada UD. Adi Paslah Manado menunjukan penggunaan informasi biaya diferensial membantu pengambil keputusan untuk memutusakan membeli dari luar daerah karena pendapatan diferensial lebih besar dari biaya diferensial dan dapat meningkatkan laba. Informasi aktiva diferensial memberikan ukuran berapa jumlah dana tambahan yang ditanamkan pada aktiva tetap tertentu, sedangkan pendapatan differensial memberikan ukuran kenaikan produktivitas yang diperoleh dengan adanya penghematan biaya aktiva tetap yang direncanakan tersebut.Peranan informasi akuntansi manajemen dalam pengambilan keputusan investasi di PT. Cakra Buana Megah dalam mengambil keputusan untuk membeli atau menyewa aktiva tetap adalah tipe akuntansi differensial.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dalam penulisan ini yaitu: PT. Cakra Buana Megah munggunakan informasi akuntansi differensial dalam pengambilan keputusan mengenai investasi apakah membeli atau menyewa aktiva tetap dimana informasi akuntansi manajemen digunakan untuk memilih salah satu alternatif investasi aktiva tetap yang ada, seperti pada saat pengambilan keputusan membeli atau menyewa excavator. PT. Cakra Buana Megah menggunakan konsep biaya relevan (relevant cost) dalam proses pengambilan keputusan jangka panjang mengenai investasi aktiva tetap.Prediksi biaya yang dibuat tidak tepat maka akan mengakibatkan kesalahan dalam pengambilan keputusan. Kesalahan menetapkan jumlah sumber ekonomi yang akan dialokasikan kepada program-program tertentu pada masa yang akan datang dapat mengakibatkan pemilihan program yang akan dilaksanakan tidak tepat.
3.2 Saran
Saran yang dapat penulis berikan sebagai bahan pertimbangan perusahaan yaitu: Penentuan biaya relevan harus didasarkan pada prediksi biaya masa depan dan informasi masa lalu untuk mengambil keputusan investasi aktiva tetap. Dalam proses perencanaan jangka panjang dimana manajemen merencanakan alokasi sumber daya maka manajemen memerlukan informasi akuntansi differensial untuk melakukan pemilihan program yang secara ekonomis terbaik bagi perusahaan diantara berbagai alternatif program yang mungkin dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyadi. 2001. Akuntansi Manajemen.Edisi Ketiga, Cetakan Ketiga. Salemba Empat, Jakarta.
Hariadi Bambang. 2002. Akuntansi Manajemen.Edisi 1, Cetakan Pertama. BPFE, Yogyakarta.
Sunarto, 2004.Akuntansi Biaya. Edisi Revisi. AMU S, Yogyakarta.

TEORI PORTOFOLIO DAN SINGLE INDEKS MODEL

22 December 2015 12:34:12 Dibaca : 1430

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini dengan adanya prinsip pasar bebas, investasi dalam bentuk kepemilikan aset finansial mulai diminati oleh masyarakat di Indonesia. Investasi pada saham menawarkan tingkat pertumbuhan keuntungan yang cepat dengan risiko yang juga sebanding. Untuk memperoleh tingkat return yang tinggi, maka investor harus berani menanggung risiko yang tinggi juga. Oleh karena itu, pemodal harus berhati-hati dalam menentukan saham mana yang akan dipilihnya untuk berinvestasi. Sebelum memutuskan untuk berinvestasi, hendaknya seorang investor melakukan analisis terhadap semua saham-saham yang ada dan kemudian memilih yang dianggap aman serta mampu menghasilkan keuntungan yang diharapkan. Salah satu cara untuk meminimumkan risiko adalah dengan melakukan diversifikasi atau menyebar investasinya dengan membentuk portofolio yang terdiri dari beberapa saham
Teori dasar pemilihan portofolio pertama kali dicetuskan oleh Harry M. Marko- witz (1952). Pemilihan portofolio membahas tentang permasalahan bagaimana meng-alokasikan penanaman modal agar dapat membawa keuntungan terbanyak namun dengan resiko yang terkecil. Pembentukan portofolio menyangkut identikasi saham- saham mana yang akan dipilih dan berapa proporsi dana yang akan ditanamkan pada masing-masing saham tersebut. Pemilihan portofolio dari banyak sekuritas dimaksudkan untuk mengurangi resiko yang ditanggung. Teori optimisasi sangat aplikatif pada permasalahan-permasalahan yang menyangkut pengoptimalan. Banyak metode- metode optimasi yang berkembang digunakan untuk merumuskan berbagai masalah misalnya dalam transportasi, manufaktur, penjadwalan kru maskapai penerbangan dan investasi.
Dalam membentuk suatu portofolio, akan timbul suatu masalah. Permasalahannya adalah terdapat banyak sekali kemungkinan portofolio yang dapat dibentuk dari kombinasi aktiva berisiko yang tersedia di pasar. Kombinasi ini dapat mencpai jumlah yang tidak terbatas. Kombinasi ini juga memasukkan aktiva bebas resiko dalam pembentukan portofolio. Jika terdapat kemungkinan portofolio yang jumlahnya tidak terbatas maka akan timbul pertanyaan portofolio mana yng akan dipilih oleh investor. Jika investor adalah rasional, maka mereka akan memilih portofolio yang optimal.
Portofolio optimal dapat ditentukan dengan model Markowitz atau dengan model Indeks Tunggal. Untuk menentukan porofolio yang optimal dengan model-model ini yang pertama kali dibutuhkan adalah menentukan portofolio yang efisien. Untuk model-model ini semua portofolio yang optimal adalah portofolio yang efisien, karena tiap-tiap investor mempunyai kurva berbeda yang tidak sama, portofolio optimal akan berbeda untuk masing-masing investor. Investor yang lebih menyukai resiko akan memilih portofolio dengan return yang lebih tinggi dengan membayar resiko yang juga lebih tinggi dibandingkan dengan investor yang kurang menyukai resiko. Jika aktiva tidak berisiko dipertimbangkan, aktiva ini dapat merubah portofolio optimal yang mungkin sudah dipilih investor.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah teori portopolio tersebut
2. Seperti apakah indekx model tersebut

1.3 Tujuan Penulisan
1. Dapat menjelaskan mengenai teori portopolio
2. Dapat menjelaskan mengenai index model

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teori Portopolio

A. Pengertian Teori Portopolio
Arti harfiah dari portofolio adalah sekumpulan surat-surat. Teori ini disebut sebagai teori portofolio yang mempelajari bagaimana investasi pada surat-surat berharga. Pada umumnya investor pada surat-surat berharga ( saham, obligasi dan sebagainya) memilih untuk memiliki berbagai jenis surat berharga sehingga mereka dikatakan membentuk portofolio.
Harry M. Markowitz mengembangkan suatu teori pada dekade 1950-an yang disebut dengan Teori Portofolio Markowitz. Teori Markowitz menggunakan beberapa pengukuran statistik dasar untuk mengembangkan suatu rencana portofolio, diantaranya expected return, standar deviasi baik sekuritas maupun portofolio, dan korelasi antar return. Teori ini memformulasikan keberadaan unsur return dan risiko dalam suatu investasi, dimana unsur risiko dapat diminimalisir melalui diversifikasi dan mengkombinasikan berbagai instrumen investasi kedalam portofolio. Pada tahun 1952 teori tersebut dipublikasi secara luas pada Journal of Finance.
Teori Portofolio Markowitz didasarkan atas pendekatan mean (ratarata) dan variance (varian), dimana mean merupakan pengukuran tingkat return dan varian merupakan pengukuran tingkat risiko. Teori Portofolio Markowitz ini disebut juga sebagai mean-Varian Model, yang menekankan pada usaha memaksimalkan ekspektasi return (mean) dan meminimumkan ketidakpastian/risiko (varian) untuk memilih dan menyusun portofolio optimal. Markowitz mengembangkan Index Model sebagai penyederhanaan dari Mean-Varian Model, yang berusaha untuk menjawab berbagai permasalahan dalam penyusunan portofolio, yaitu terdapatnya begitu banyak kombinasi aktiva berisiko yang dapat dipilih dan disusun menjadi suatu portofolio. Dari sekian banyak kombinasi yang mungkin dipilih, investor rasional pasti akan memilih portofolio optimal (efficient set).
Untuk menentukan penyusunan portofolio optimal dengan menggunakan Index Model, yang terutama dibutuhkan adalah penentuan portofolio yang efisien, sebab pada dasarnya semua portofolio yang efisien adalah portofolio yang optimal. Pada perkembangan berikutnya pada tahun 1963 William F. Sharpe mengembangkan Single Index Model (Model Indeks Tunggal) yang merupakan penyederhanaan Index model yang sebelumnya telah dikembangkan oleh Markowitz. Model Indeks Tunggal menjelaskan hubungan antara return dari setiap sekuritas individual dengan return indeks pasar. Model ini memberikan metode alternatif untuk menghitung varian dari suatu portofolio, yang lebih sederhana dan lebih mudah dihitung jika dibandingkan dengan metode perhitungan markowitz. Pendekatan alternatif ini dapat digunakan untuk dasar menyelesaikan permasalahan dalam penyusunan portofolio. Sebagaimana telah dirumuskan oleh markowitz, yaitu menentukan efficient set dari suatu portofolio, maka dalam Model indeks Tunggal ini membutuhkan perhitungan yang lebih sedikit.
B. Menentukan Portopolio yang Efisien
Portofolio yang efisien (efficient portfolio) didefinisikan sebagai portofolio yang memberikan return ekspektasi terbesar dengan resiko yang sudah tertentu atau memberikan resiko yang terkecil dengan return ekspektasi yang sudah tertentu. Portofolio yang efisien ini dapat ditentukan dengan memilih tingkat return ekspektasi tertentu dan kemudian meminimumkan resikonya atau menentukan tingkat resiko tertentu dan kemudian memaksimumkan return ekspektasinya. Investor yang rasional akan memilih portofolio yang efisien ini karena merupakan portofolio yang dibentuk dengan mengoptimalkan satu dari dua dimensi, yaitu return ekspektasi atau resiko portofolio.
Investor dapat memilih kombinasi dari aktiva-aktiva untuk membentuk portofolionya. Seluruh set yang memberikan kemungkinan porofolio yang dapat dibentuk dari kombinasi n-aktiva yang tersedia disebut dengan opportunity set atau attainable set. Semua titik di attainable set menyediakan semua kemungkinan portofolio baik yang efisien maupun yang tidak efisien yang dapat dipilih oleh investor. Akan tetapi investor yang rasional tidak akan memilih portofolio yang tidak efisien. Rasional investor hanya tertarik dengan porofolio yang efisien. Kumpulan (set) dari portofolio yang efisien ini disebut dengan efficient set atau efficient frontier.
Dua aktiva yang membentuk portofolio dapat berkorelasi antara lain :
• Korelasi Positif Sempurna : Dua buah aktiva A dan B, yaitu = +1
• Tidak Ada Korelasi Antara Sekuritas : Dua Aktiva A dan B, yaitu = 0
• Korelasi Negatif Sempurna : Dua Buah Aktiva A dan B, yaitu = -1

C. Pemilihan Portofolio Optimal
Portofolio optimal merupakan pilihan dari berbagai sekuritas dari portofolio efisien. Portofolio yang optimal ini dapat ditentukan dengan memilih tingkat return ekspektasi tertentu dan kemudian meminimumkan risikonya, atau menentukan tingkat risiko yang tertentu dan kemudian memaksimumkan return ekspektasinya. Investor yang rasional akan memilih portofolio optimal ini karena merupakan portofolio yang dibentuk dengan mengoptimalkan satu dari dua dimensi, yaitu return ekspektasi atau risiko portofolio.
Dalam memilih portofolio yang optimal ada beberapa pendekatan yaitu:
a) Portofolio optimal berdasarkan preferensi investor
Portofolio optimal berdasarkan preferensi investor mengasumsikan hanya didasarkan pada return ekspektasi dan risiko dari portofolio secara implisist yang menganggap bahwa investor mempunyai fungsi utility yang sama atau berada pada titik persinggungan utiliti investor dengan effiicient set. (Jogiyanto, 2000: 193).
Tiap investor mempunyai tanggapan risiko yang berbeda-beda. Investor yang mempunyai tanggapan kurang menyukai risiko mungkin akan memilih portofolio di titik B. Tapi, investor lainnya mungkin mempunyai tanggapan risiko berbeda, sehingga mereka memilih portofolio yang lainnya selama portofolio tersebut merupakan portofolio efisien yang masih berada di efficient set. Portofolio mana yang akan dipilih investor tergantung dari fungsi utilitinya masing-masing.
Untuk investor ke-1, portofolio optimal adalah berada di titik C1 yang memberikan kepuasan kepada investor ini sebesar U2. jika investor ini rasional, dia tidak akan memilih portofolio D1 karena walaupun portofolio ini tersedia dan dapat dipilih yang berada di attainable set, tapi bukan portofolio yang efisien, sehingga akan memberikan kepuasan sebesar U1 yang lebih rendah dibandingkan dengan kepuasan sebesar U2. Investor akan memilih portofolio yang memberikan kepuasan yang tertinggi.
b) Portofolio optimal berdasarkan model Markowitz
Dalam pendekatan ini pemilihan portofolio investor didasarkan pada preferensi mereka terhadap return yang diharapkan dan risiko masing-masing pilihan portofolio, kontribusi yang sangat pentinga bagi investor adalah bagaimana seharusnya melakukan deversifikasi secara optimal. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dari model markowitz menurut yaitu; (Tandelilin,2001: 79)
• Semua titik portofolio yang ada dalam permukaan efisien mempunyai kedudukan yang sama antara satu dengan lainnya.
• Model Markowitz tidak memasukkan isu bahwa investor boleh meminjam dana untuk membiayai portofolio pada aset yang berisiko dan Model Markowitz juga belum memperhitungkan kemungkinan investor untuk melakukan investasi pada aset bebas risiko.
• Dalam kenyataanya, investor yang berbeda-beda akan mengestimasi imput yang berbeda pula ke dalam model Markowitz, sehingga garis pemukaan efisien yang dihasilkan juga berbeda-beda bagi masing-masing investor.

c) Portofolio optimal dengan adanya simpanan dan pinjaman bebas risiko.
Aktiva bebas risiko adalah aktiva yang mempunyai return ekspektasi tertentu dengan varian return (risiko) yang sama dengan nol, karena variannya sama dengan nol, maka kovarian antara bebas resiko juga sama dengan nol. Aktiva bebas risiko misalnya Sertifikat Bank Indonesia (SBI), karena variannya (deviasi standar ) = 0 kovarian antara bebas aktiva bebas risiko dengan aktiva berisiko yang lainnya akan menjadi sama dengan nol sebagai berikut; (jogiyanto, 2000: 195)
sBRi = rBRi . sBR . si
Dari pernyataan di atas, maka aset bebas risiko merupaka aset yang tingkat returnnya di masa depan sudah dapat dipastikan pada saat ini karena ditunjukkan oleh varians yang sama dengan nol.
d) Portofolio optimal berdasarkan model Indeks Tunggal
Model indeks tunggal dapat digunakan sebagai alternatif dari model Markowitz untuk menentukan efficient set dengan perhitungan yang lebih sederhana. Model ini merupakan penyederhanaan dari model Markowitz. Model ini dikembangkan oleh William Sharpe (1963) yang disebut dengan (single-index model), yang dapat digunakan untuk menghitung return ekspektasi dan risiko portofolio.(Jogiyanto, 2000: 203)
Model indeks tunggal didasarka pada pengamatan bahwa harga dari suatu skuritas berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar dan memepunyai reaksi yang sama terhadap suatu faktor atau indeks harga saham gabungan (IHSG), karena return dari suatu sekuritas dan return dari indeks pasar yang umum dapat ditulis sebagai berikut; (Halim, 2003: 78)
Ri = ai +bi . RM + ei
Ri = return sekuritas ke-i
ai = nilai ekspektasi dari return sekuritas yang independen terhadap return pasar
bi = Beta yang merupakan koefisien yang mengukur perubahan Ri akibat dari perubahan RM
RM = tingkat return dari indeks pasar, juga merupakan suatu variabel Acak
ei = kesalahan residual yang merupakan variabel acak dengan nilai ekspektasinya sama dengan nol atau E(ei) = 0
e) Portofolio optimal berdasarkan model Indeks Ganda
Model indeks ganda menganggap ada faktor lain selain IHSG yang dapat mempengaruhi terjadinya korelasi antar efek. dalam upaya mengestimasi ekspekted return, standar deviasi dan kovarian efek secara akurat model indeks ganda lebih berpotensi sebab actual return efek tidak hanya sensitif terhadap perubahan IHSG atau ada faktor lain yang mungkin mempengaruhi return efek, seperti tingkat bunga bebas risiko. (Halim, 2003: 82). Dalam bentuk persamaan, model indek berganda untuk saham individual.

D. Aktiva Berisiko Versus Aktiva Bebas Risiko
Aktiva berisiko, merupakan aktiva dimana pengembalian yang akan diterima di masa depan bersifat tidak pasti. Sebagai contoh, seorang investor membeli saham GM hari ini dan bermaksud untuk memegang saham tersebut hingga 1 tahun. Pada saat dilakukan pembelian saham, investor tidak mengetahui besar pengembalian yang akan diterimanya. Pengembalian yang diterima akan tergantung dari harga saham GM satu tahun mendatang dan pendapatan yang diperoleh investor selama 1 tahun. Maka, dapat disimpulkan saham merupakan aktiva berisiko. Bahkan sekuritas yang diterbitkan oleh pemerintah (obligasi) merupakan aktiva berisiko. Contohnya, obligasi yang jatuh tempo 30 tahun, investor tidak mengetahui berapa besar pengembalian yang diterimanya jika obligasi ini hanya disimpan selama 1 tahun. Hal ini terjadi karena perubahan suku bunga akan mempengaruhi pengembalian investasi pada obligasi tersebut selama satu tahun.
Aktiva bebas risiko, aktiva yang pengembalian masa depannya dapat diketahui dengan pasti. Aktiva bebas risiko umumnya merupakan kewajiban jangka pendek dari pemerintah. Sebagai contoh, jika investor membeli sekuritas pemerintah dengan jangka jatuh tempo 1 tahun dan berniat untuk menyimpan sekuritas tersebut hingga saat jatuh temponya, maka besar pengembalian satu tahun mendatang akan diketahui dengan pasti.
E. Mengukur Pengembalian Diharapkan dari Suatu Portofolio
Investor seringkali dihadapkan pada pilihan antara aktiva berisiko. Di sini akan dilihat cara pengukuran pengembalian yang diharapkan dari aktiva berisiko dan dari portofolio aktiva berisiko. Pengembalian actual dari suatu portofolio aktiva sepanjang periode tertentu secara langsung dapat diperhitungkan sebagai berikut:

dimana:
Rp = tingkat pengembalian portofolio selama periode berjalan
Rg = tingkat pengembalian aktiva g selama periode berjalan
Wg = bobot aaktiva g pada portofolio (yaitu aktiva g sebagai bagian dari nilai pasar keseluruhanportofolio)
G = jumlah aktiva pada portofolio Secara ringkas,
Persamaan (1) dapat dinyatakan sebagai berikut:

....2
Persamaan (2) menunjukkan bahwa pengembalian atas portofolio dari aktiva G (Rp) sama dengan jumlah berat aktiva individual dalam portofolio dikalikan pengembaliannya bagi setiap aktiva g. pengembalian portofolio Rp seringkali disebut ( pengembalian selama periode penyimpanan (ex post return). Sebagai contoh, berikut ini adalah portofolio yang terdiri dari tiga aktiva:

Nilai total pasar portofolio adalah $25juta,maka:
R1 = 12% dan w1 = $6 juta/$25 juta = 0,24 atau24%
R2 = 10% dan w2 = $8 juta/$25 juta = 0,32 atau 32%
R3 = 5% dan w3 = $11 juta/$25 juta = 0,44 atau 44%
Perhatikan bahwa jumlah dari bobot aktiva sama dengan 1. Apabila dimasukkan pada Persamaan (1) diperoleh:Rp = 0,24 (12%) + 0,32 (10%) + 0,44 (5%) = 8,28%
Pengembalian Diharapkan dari Portofolio Aktiva Berisiko
Persamaan (1) menunjukkan cara perhitungan pengembalian actual dan portofolio selama periode waktu tertentu. Dalam pengelolaan portofolio, investor juga ingin mengetahui pengembalian yang diharapkan dari portofolio aktiva berisiko. Pengembalian yang diharapkan dari portofolio adalah rata-rata tertimbang dari pengembalian yang diharapkan dari setiap aktiva pada portofolio. Nilai yang diberikan kepada pengembalian yang diharapkan dari setiap aktiva merupakan persentase dari nilai pasar aktiva terhadap nilai nilai pasar total portofolio,yaitu:
..3

E(….) menunjukkan harapan, dan E (Rp) terkadang disebut pengembalian exante atau pengembalian diharapkan dari portofolio sepanjang periode waktu tertentu.
Pengembalian yang diharapkan dari aktiva berisiko dihitung sebagai berikut:
• Harus diketahui distribusi probabilitas bagi tingkat pengembalian yang mungkin dapat yang dihasilkan. Distribusi probabilitas merupakan fungsi yang menghubungkan peluang terjadinya suatu peristiwa dengan penghasilan yang mungkin dihasilkan bagi varia belacak.
• Setelah distribusi probabilita diketahui, kemudian dicari nilai yang diharapkan dari variabel acak yang merupakan rata-rata tertimbang penghasilan yang mungkin, dimana bobot/timbangan merupakan probabilita yang berhubungan dengan penghasilan yang mungkin.
Nilai diharapkan dari pengembalian aktiva, seterusnya digunakan istilah pengembalian diharapkan. Secara matematis, pengembalian yang diharapkan dinyatakan sebagaiberikut:
….4
Dimana:
rn = tingkat pengembalian ke-n yang mungkin bagi aktiva i.
pn = probabilita memperoleh tingkat pengembalian n bagi aktiva i.
h penghasilan yang mungkin bagi tingkat pengembalian.
Diasumsikan seseorang ingin melakukan investasi, saham XYZ, yang memiliki distribusi probabilita bagi tingkat pengembalian selama periode waktu tertentu, ditunjukkan Tabel 3-1. Dalam praktiknya, distribusi probabilita didasarkan pada pengembalian historis.

Tabel 1. Distribusi probabilita Tingkat Pengembalian Bagi Saham XYZ

Dimasukkan ke dalam Persamaan (4) akan diperoleh:
E(RXYZ) = 0,50 (15%) + 0,30 (10% + 0,13 (5%) + 0,05 (0%) + 0,02 (-5%) = 11%

Maka, 11% merupakan nilai atau rata-rata hitung (mean) yang diharapkan dari distribusi probabilita bagi tingkat pengembalian saham XYZ..

2.2 Model Indeks Tunggal (Index Model)
William Sharpe (1963) mengembangkan model yang disebut dengan model indeks tunggal (single-index model). Model ini dapat digunakan untuk menyederhankan perhitungan. disamping itu, model indeks tunggal dapat juga digunakan untuk menghitung return ekspektasi dan resiko portofolio.
1. Model Indeks Tunggal dan Komponen Returnnya
Model indeks tunggal didasarkan pada pengamatan bahwa sekuritas berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar. Secara khusus dapat diamati bahwa kebanyakan saham cenderung mengalami kenaikan harga jika indeks harga saham naik. Kebalikannya juga benar, yaitu jika indeks harga saham turun, kebanyakan saham mengalami penurunan harga. Hal ini menyarankan bahwa return-return sekuritas mungkin berkorelasi karena adanya reaksi umum (common response) terhadap perubahan-perubahan nilai pasar. Dengan dasar ini, return dari suatu sekuritas dan return dari indeks pasar yang umum dapat dituliskan sebagai hubungan :
Ri = ai + βi.Rm
Keterangan :
Ri = return sekuritas i,
ai = adalah bagian dari keuntungan saham i yang tidak dipengaruhi oleh perubahan pasar. Variabel ini merupakan variable yang acak
βi = adalah beta, yaitu parameter yang mengukur perubahan yang diharapkan pada Ri jika terjadi perubahan pada Rm.
Rm = adalah tingkat keuntungan indeks pasar. Variable ini merupakan variable yang acak.

Parameter ai menunjukkan komponen tingkat keuntungan yang tidak terpengaruh oleh perubahan indeks pasar. Parameter ini bisa dipecah menjadi dua yaitu αi (alpha) yang menunjukkan nilai pengharapan dari ai dan ei yang menunjukkan elemen acak dari ai. Dengan demikian maka :
ai = αi + ei
Subtitusikan persamaan diatas kedalam rumus sebelumnya, maka didapatkan persamaan model indeks tunggal sebagi berikut :
Ri = αi + βi . RM + ei
Keterangan :
αi = nilai ekspektasi dari return sekuritas yang independen terhadap return pasar,
ei = kesalahan residu yang merupakan variabel acak dengan nilai ekspektasinya sama
dengan nol atau E (ei)=0.
Persamaan tersebut hanyalah memecah tingkat keuntungan suatu saham menjadi dua bagian, yaitu yang independen dari perubahan pasar dan yang dipengaruhi pasar. βi menunjukkan kepekaan tingkat keuntungan suatu saham terhadap tingkat keuntungan indeks pasar. βi sebesar 2 menunjukkan bahwa kalau terjadi kenaikan (penurunan) tingkat keuntungan indeks pasar sebesar 10% maka akan terjadi kenaikan (penurunan) Ri sebesar 20%.
Bentuk return ekspektasi (expected return). Return ekspektasi dari model ini dapat diderivasi dari model sebagai berikut :
E(Ri)= E (αi + βi . RM + ei)
Nilai ekspektasi dari suatu konstanta adalah bernilai konstanta itu sendiri, mak E(αi) = αi dan (βi.RM) = βi.E(RM) dan secara konstruktif nilai E(ei) = 0, maka return ekspektasi model indeks tunggal, deviasi tingkat keuntungan dan covariance dapat dinyatakan sebagai :
• Tingkat keuntungan yang diharapkan : E(Ri) = αi + βi . E(RM)
• Variance tingkat keuntungan : σi2 = βi2 . σm2 + σei2
• Covariance tingkat keuntungan sekuritas i dan j : σij = βi .βj .σm2
2. Asumsi-Asumsi
Asumsi-asumsi utama dari model indeks tunggal adalah kesalahan residu dari sekuritas ke-i tidak berkovari dengan kesalahan residu sekuritas ke-j. Asumsi model indeks tunggal dapat dirumuskan
E(ei. [RM . E(RM)])= 0
Asumsi-asumsi dari model indeks tunggal mempunyai implikasi bahwa sekuritas-sekuritas bergerak bersama-sama bukan karena efek pasar melainkan karena mempunyai hubungan yang umum terhadap indeks pasar. Asumsi-asumsi ini digunakan untuk menyederhanakan masalah.

3. Varian Return Sekuritas Model Indeks Tunggal
Secara umum, varian return dari suatu sekuritas dapat dinyatakan sebagai berikut:
σi2 = βi2 . σm2 + σei2
Risiko (varian return) sekuritas yang dihitung berdasarkan model ini terdiri dari dua bagian: risiko yang berhubungan dengan pasar (market related risk) yaitu βi2 . σm2 dan risiko unik masing-masing perusahaan (unique risk) yaitu σei2

4. Kovarian Return Antara Sekuritas Model Indeks Tunggal
Secara umum, kovarian return antara dua sekuritas i dan j dapat dirumuskan:
σij= βi. Βi. σM2
5. Parameter-Parameter input untuk Model Markowitz
Model indeks tunggal dapat digunakan untuk menghitung return ekspektasian (E(R)) , varian dari sekuritas σei2 dan kovarian anatar sekuritas (σij) yang merupakan parameter-parameter input untuk analisis portofolio menggunakan model Markowitz. Model Markowitz ini digunakan untuk menghitung return ekspektasian dan risiko portofolio dengan menggunakan hasil indeks tunggal sebagai input perhitungan Model Markowitz.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teori Portofolio Markowitz didasarkan atas pendekatan mean (ratarata) dan variance (varian), dimana mean merupakan pengukuran tingkat return dan varian merupakan pengukuran tingkat risiko. Teori Portofolio Markowitz ini disebut juga sebagai mean-Varian Model, yang menekankan pada usaha memaksimalkan ekspektasi return (mean) dan meminimumkan ketidakpastian/risiko (varian) untuk memilih dan menyusun portofolio optimal.
Model indeks tunggal didasarkan pada pengamatan bahwa sekuritas berfluktuasi searah dengan indeks harga pasar. Secara khusus dapat diamati bahwa kebanyakan saham cenderung mengalami kenaikan harga jika indeks harga saham naik. Kebalikannya juga benar, yaitu jika indeks harga saham turun, kebanyakan saham mengalami penurunan harga.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.slideshare.net/trisnadi16983/model-indeks-tunggal
http://jurnal-sdm.blogspot.co.id/2009/10/teori-portofolio-definisi-dan-evaluasi.html

 

ASAS - ASAS HUKUM PERPAJAKAN

22 December 2015 12:32:49 Dibaca : 500

ASAS – ASAS HUKUM PERPAJAKAN

1. PENDAHULUAN
Dalam tiap-tiap masyarakat, ada hubungan antara manusia dengan manusia, dan selalu ada peraturan yang mengikatnya yaitu hukum. Hukum mengatur tentang hak dan kewajiban manusia. Hak untuk memperoleh gaji / upah dari pekerjaan membawa kewajiban untuk menghasilkan atau untuk bekerja.
Demikian juga dengan pajak, hak untuk mencari dan memperoleh penghasilan sebanyak-banyaknya membawa kewajiban menyerahkan sebagian kepada negara dalam bentuk untuk membantu negara dalam meninggikan kesejahteraan umum. Begitu pula hak untuk memperoleh dan memiliki gedung, mobil dan barang lain membawa kewajiban untuk menyumbang kepada negara.
Cort Van der Linden berpendapat bahwa pajak adalah kewajiban penduduk negara untuk dapat menetap serta berusaha dalam negara itu dan memperoleh perlindungan. Jadi penduduk negara berhak untuk memperoleh perlindungan (hukum dan sosial ekonomi). Untuk itu penduduk negara berkewajiban membayar pajak kepada negara.

2. PERMASALAHAN
a) Pengertian Pajak
Adapun yang dimaksudkan dengan pajak ialah iuran kepada negara yang terhutang oleh yang wajib membayrnya (wajib pajak) berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapat prestasi (balas jasa) kembali yang langsung.[2] Sedangkan menurut Prof. Dr. MJH, Smeeth, pajak yaitu prestasi pemerintah yang terhutang melalui norma-norma umum dan yang dapat dipaksakan,
Dari definisi-definisi di atas, ternyata terdapat istilah “yang dapat dipaksakan” atau istilah wajib yang mengandung pengertian bahwa kalau wajib pajak itu tidak mau membayar pajak yang dibebankan kepadanya, maka hutang pajak itu dapat ditagih secara paksa, misalnya dengan penyitaan.
Manfaat atau guna pajak itu sendiri ialah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum sehubungan dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan dan kesejahteraan rakyat. Jadi hasil atau imbalan yang kita peroleh dari pembayaran pajak ini tidak dapat kita peroleh secara langusng. Karena prestasi yang diberikan oleh pemerintah ini merupakan sarana dan prasarana untuk kepentingan umum yang manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat, seperti sekolah-sekolah negeri dan sebagainya. Dengan memenuhi kewajiban membayar pajak, seorang wajib pajak sebagai warga negara yang baik telah membantu pemerintah dalam membiayai rumah tangga negara dan pembangunan negara.
Ciri-ciri pajak :
1) Pajak dipungut berdasar peraturan perundangan yang berlaku
2) Pajak dipungut oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah
3) Pajak tidak menimbulkan adanya kontra prestasi dari pemerintah secara langsung
4) Pajak dipungut untuk membiayai pengeluaran pemerintah
5) Pajak berfungsi sebagai pengatur anggaran negara.[5]
Sehubungan dengan adanya ciri-ciri di atas, maka pajak berbeda dengan retribusi. Pada retribusi pembayaran tersebut memang ditujukan semata-mata oleh si pembayar untuk memperoleh suatu prestasi tertentu dari pemerintah, misalnya pembayaran karena pemberian suatu izin oleh pemerintah.
b) Macam-macam Pajak
Pajak dapat dibagi dua golongan, yaitu :
- Pajak langsung ialah pajak yang harus dipikul sendiri oleh si wajib pajak dan tidak dilimpahkan kepada orang lain.
Misalnya : pajak seorang pengusaha dibayar dari pendapatan atau labanya sendiri sehingga pada dasarnya pajak ini tidak menaikkan harga barang yang diproduksi oleh pengusaha itu.
Contoh pajak langsung : pajak penghasilan, pajak kekayaan, pajak rumah tangga, pajak perseroan, pajak bumi dan bangunan dan sebagainya.
- Pajak tidak langsung ialah pajak yang dibayar oleh si wajib pajak tetapi oleh wajib pajak ini dibebankan kepada orang lain yang membeli barang-barang yang dihasilkan olehnya.
Pajak ini akhirnya dapat menaikkan harga, karena dibebankan kepada pembeli dan karena itu hanya dibayar kalau terjadi transaksi yang menimbulkan pajak tersebut.
Misalnya : pajak penjualan, pajak pembangunan, bea materai, bea balik nama dan sebagainya.
c) Pengertian Hukum Pajak
Hukum pajak ialah hukum yang mengatur hubungan antara pemerintah dengan para wajib pajak, yang antara lain menerangkan :
• Siapa-siapa wajib pajak
• Obyek-obyek apa yang dikenakan pajak
• Kewajiban wajib pajak terhadap pemerintah
• Timbul dan hapusnya hutang pajak.
• Cara penagihan pajak
• Cara mengajukan keberatan dan banding pada peradilan pajak.
Dalam penyusunan peraturan perpajakan ini harus diperhatikan banyak hal, antara lain kemampuan wajib pajak, keadilan dalam pembebanan pajak, keadaan keuangan negara, keadaan ekonomi masyarakat dan cara-cara pelaksanaannya.
d) Hak dan Kewajiban Wajib Pajak
Kewajiban pajak itu timbul setelah memenuhi dua syarat, yaitu :
1) kewajiban pajak subyektif ialah kewajiban pajak yang melihat orangnya. Misalnya : semua orang atau badan hukum yang berdomisili di Indonesia memenuhi kewajiban pajak subyektif.
2) Kewajiban pajak obyektif ialah kewajiban pajak yang melihat pada hal-hal yang dikenakan pajak. Misalnya : orang atau badan hukum yang memenuhi kewajiban pajak kekayaan adalah orang yang punya kekayaan tertentu, yang memenuhi kewajiban pajak kendaraan ialah orang yang punya kendaraan bermotor dan sebagainya.[10]
Kewajiban wajib pajak
Dalam menghitung jumlah yang dipakai untuk dasar pengenaan pajak, diperlukan bantuan dari wajib pajak dengan cara mengisi dan memasukkan Surat Pemberitahuan (SPT). Setiap orang yang telah menerima SPT pajak dari inspeksi pajak mempunyai kewajiban :
a. Mengisi SPT pajak itu menurut keadaan yang sebenarnya
b. Menandatangani sendiri SPT itu
c. Mengembalikan SPT pajak kepada inspeksi pajak dalam jangka waktu yang telah ditentukan.[11]
Wajib pajak harus memenuhi kewajibannya membayar pajak yang telah ditetapkan, pada waktu yang telah ditentukan pula. Terhadap wajib pajak yang tidak memenuhi kewajibannya membayar pajak, dapat diadakan paksaan yang bersifat langsung, yaitu penyitaan atau pelelangan barang-barang milik wajib pajak.
Hak-hak Wajib Pajak
Wajib pajak mempunyai hak-hak sebagai berikut :
1. Mengajukan permintaan untuk membetulkan, mengurangi atau membebaskan diri dari ketetapan pajak, apabila ada kesalahan tulis, kesalahan menghitung tarip atau kesalahan dalam menentukan dasar penetapan pajak.
2. Mengajukan keberatan kepada kepala inspeksi pajak setempat terhadap ketentuan pajak yang dianggap terlalu berat.
3. Mengajukan banding kepada Majelis Pertimbangan Pajak, apabila keberatan yang diajukan kepada kepala inspeksi tidak dipenuhi.
4. Meminta mengembalikan pajak (retribusi), meminta pemindah bukuan setoran pajak ke pajak lainnya, atau setoran tahun berikutnya.
5. Mengajukan gugatan perdata atau tuntutan pidana kalau ada petugas pajak yang menimbulkan kerugian atau membocorkan rahasia perusahaan / pembukuan sehingga menimbulkan kerugian pada wajib pajak.
3. KESIMPULAN
Pajak ialah iuran wajib kepada negara berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapat prestasi (balas jasa) kembali secara langsung, manfaat atau guna pajak yaitu untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum sehubungan dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan dan kesejahteraan rakyat. Pajak dibagi dalam dua macam yaitu pajak langsung dan pajak tidak langsung, disamping itu wajib pajak pun mempunyai kewajiban dan hak-hak sebagai seorang wajib pajak. Hukum pajak ialah hukum yang mengatur hubungan antara pemerintah dan wajib pajak.

DAFTAR PUSTAKA
H. Bohari, SH., M.S., Pengantar Hukum Pajak, Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada, 2002.
Drs. C.S.T Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1989.
Prof. H. A. M. Effendy, SH., Pengantar Tata Hukum Indonesia, Semarang : 1994.
H. Bohari, SH., M.S., Pengantar Hukum Pajak, Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 21-22
Drs. C.S.T Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1989, hlm. 324
H. Bohari, SH., M.S., op.cit., hlm. 23-24
Prof. H. A. M. Effendy, SH., Pengantar Tata Hukum Indonesia, Semarang : 1994, hlm.93
Ibid., hlm. 93-94

 

persekutuan

26 February 2015 08:16:51 Dibaca : 1330

PEMBENTUKAN PERSEKUTUAN

Pengertian persekutuan (Patnership) :

Menurut Suparwoto (1997, hal 1) persekutuan dapat didefinisikan sebagai suatu gabungan atau asosiasi dari dua individu atau lebih untuk memiliki dan menyelenggarakan suatu usaha secara bersama dengan tujuan untuk memperoleh laba. Persekutuan dapat didirikan oleh baik oleh dua orang atau lebih yang semuanya mempunyai usaha atau pun belum memiliki usaha. Firma merupakan salah satu bentuk dari persekutuan dan pendiri-pendirinya merupakan pemilik dari firma tersebut yang disebut dengan anggota-anggota atau sekutu-sekutu firma.

Tujuaan pendirian persekutuan biasanya adalah untuk memperluas usaha dan menambah modal agar lebih dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain serta meningkatkan laba.

Perbedaan Perseroan Terbatas (PT) dengan persekutuan antara lain:

umur persekutuan terbatas dan secara hukum dinyatakan bubar jika ada perubahan dalam komposisi sekutu atau anggota, tetapi secara ekonomis dapat terus beroperasi untuk melanjutkan usahanya tanpa perlu dilikuidasi, sedangkan umur suatu perseroaan terbatas dianggap tidak terbatas meskipun perubahan komposisi pemilikan perusahaan tidak mengakibatkan berakhirnya umur perseroan.Perijinan pendirian persekutuan lebih mudah dibandingkan dengan pendirian Perseroan Terbatas yang membutuhkan prosedur yang lebih sulit dan lama.Tanggungjawab setiap anggota persekutuan dalam bentuk Firma tidak terbatas bahkan sampai harta milik pribadinya, sedangkan kewajiban pemegang saham hanya terbatas sampai sebesar modal yang ditanamkan atau yang diinvestasikan.Masing-masing anggota persekutuan dalam firma terlibat aktif dalam pengelolaan firma secara langsung, sedangkan pemegang saham bisa tidak aktif dalam pengelolaan perseroan. Mereka memilih dewan direksi untuk melaksanakan pengelolaan perseroan.

Perusahaan dengan bentuk persekutuan dapat dijumpai pada berbagai jenis perusahaan seperti perusahaan penerbitan, perusahaan perdagangan, perusahaan jasa.

Ada beberapa kepada kreditur dan persekutuan tersebut tidak mampu untuk membayarnya, maka kreditur tersebut berhak menagihnya kepada anggota-anggota persekutuan sampai harta milik pribadinya.Memiliki hak di dalam persekutuan (ownership of onterest in a Parnership), artinya bahwa kekayaan masing-masing anggota yang telah ditanamkan dalam bersekutuan merupakan kekayaan bersama dan tidak bisa dipisah-pisahkan secara jelas.Pengambilan bagian keuntungan persekutuan (Participating in Partnership Profit), artinya laba atau rugi sebagai hasil operasi persekutuan akan dibagikan kepada setiap anggota persekutuan berdasarkan partisipasi atau aktivitas masing-masing anggota didalam persekutuan. Apabila ada anggota yang aktif dalam persekutuan, maka anggota tersebut berhak atas bagian laba yang lebih besar daripada anggota yang lain meskipun modal yang ditanamkannya lebih kecil sesuai dengan perjanjian.

Dalam pendirian suatu persekutuan, biasanya dibuat suatu kesepakatan atau perjanjian yang tertuang dalam akta pendirian yang berikut tentang:

Nama dan alamat persekutuanJenis usaha persekutuanHak dan kewajiban masing-masing anggotaJumlah modal yang ditanamkan pertama kali oleh masing-masing anggotaPerjanjian pembagian laba/rugiSyarat-syarat pengambilan modal / prive / penarikan kembali modal dan penambahan modalProsedur penerimaan anggota baru persekutuanProsedur keluarnya anggota persekutuanProsedur pembentukan Perseroan Terbatas dari persekutuan tersebutProsedur likuidasiUraian lainnya yang dianggap penting dan membutuhkan penjelasan lebih rinci

Akuntansi pendirian persekutuan berbentuk Firma

Firma biasanya didirikan oleh beberapa anggota untuk berusaha bersama-sama guna mencapai suatu tujuan tertentu. Masing-masing anggota yang mendirikan firma dapat terdiri dari beberapa kemungkinan sebagai berikut:

Firma didirikan oleh anggota-anggota yang semuanya belum mempunyai usaha (semua anggota baru)Firma didirikan oleh anggota yang sudah memiliki usaha sebelumnya dan anggota yang belum memiliki usaha

Firma didirikan oleh anggota-anggota yang semuanya belum memiliki usaha

Jika firma didirikan oleh sekutu-sekutu yang semuanya belum memiliki usaha, maka setoran-setoran langsung dicatat dalam buku firma yang baru. Jika setoran-setoran meliputi aktiva non-kas, maka aktiva non-kas tersebut terlebih dahulu dinilai menurut harga pasar atau nilai wajarnya. Apabila nilai wajarnya atau harga pasarnya tidak dapat ditentukan maka aktiva non-kas tersebut dinilai menurut perjanjian sekutu-sekutu firma tersebut.

Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai prosedur akuntansi pendirian firma yang didirikan oleh semua sekutu yang belum memiliki usaha, maka berikut ini diberikan contoh:

Pada tanggal 1 Januari 2001, Tuan Lang, Nona Ling, dan Tuan Lung sepakat untuk mendirikan firma Lang Ling Lung. Berikut ini adalah setoran modal masing-masing anggota:

Tuan Lang Tuan Ling Tuan Lung

Kas 100.000.000 25.000.000

Persediaan 80.000.000 40.000.000

Perlengkapan 15.000.000 5.000.000 5.000.000

Peralatan 35.000.000 65.000.000 30.000.000

Diminta: buat jurnal dalam buku firma Lang Ling Lung dan susun Neraca Firma per 1 Januari 2001.

Penyelesaian:

Jurnal yang harus dibuat untuk mencatat transaksi penyetoran modal masing-masing anggota adalah sebagai berikut:

1) Kas 100.000.000

Perlengkapan 15.000.000

Peralatan 35.000.000

Modal Tuan Lang 150.000.000

2) Persediaan 80.000.000

Perlengkapan 5.000.000

Peralatan 65.000.000

Modal Tuan Ling 100.000.000

3) Kas 25.000.000

Persediaan 40.000.000

Perlengkapan 5.000.000

Peralatan 30.000.000

Modal Tuan Lung 100.000.000

Setelah semua jurnal diposting kebuku besar maka dapat disusun neraca awal Firma sebagai berikut:

Firma Lang Ling Lung

Neraca Awal

Per 1 Januari 2001

Kas

125.000.000

Persediaan

120.000.000

Modal Lang

150.000.000

Perlengkapan

25.000.000

Modal Ling

150.000.000

Peralatan

130.000.000

Modal Lung

100.000.000

Total Aktiva

400.000.000

Total Pasiva

400.000.000

Firma didirikan oleh sekutu yang sudah memiliki usaha dan sekutu yang sebelumnya belum memikiki usaha.

Apabila firma didirikan oleh sekutu yang telah memiliki usaha dan sekutu yang sebelumnya belum memiliki usaha, maka prosedur akuntansinya adalah sebagai berikut:

1) Mengadakan penilaian kembali aktiva atau kekayaan milik sekutu yang sudah memiliki usaha.

2) Mencatat setoran dari sekutu yang sebelumnya belum memiliki usaha.

3) Menyusun neraca awal firma.

Karena adanya sekutu pendiri firma yang sebelumnya telah memiliki usaha, maka ada dua metode akuntansi yang sudah dapat digunakan untuk mencatat pendirian firma yaitu:

1) Melanjutkan buku perusahaan lama.

2) Membuka buku baru tersendiri.

Ad 1) Melanjutkan buku perusahaan lama.

Apabila persekutuan yang dibentuk melanjutkan pembukuan salah satu sekutunya, maka semua perkiraan sementara ditutup dan dilakukan penyesuaian kembali terhadap posisi keuangan agar dapat menyusun laporan keuangan pada saat dibentuknya persekutuan.

Contoh :

Pada tanggal 31 Desember 2002, A, B, D dan I bersepakat untuk mendirikan firma yang bergerak dibidang perdagangan handphone. A adalah sekutu yang sebelumnya telah memiliki usaha sedangkan sekutu lainnya belum memiliki usaha. Neraca PD A yang disusun sesaat sebelum firma didirikan mempunyai posisi keuangan sebagai berikut:

PD A

Neraca

Per 31 Des 2002

Kas

35.000.000

Hutang Usaha

30.000.000

Piutang Usaha

15.000.000

Wesel Bayar

50.000.000

Persediaan

40.000.000

Modal A

70.000.000

Perlengkapan

5.000.000

Peralatan

55.000.000

Total Aktiva

150.000.000

Total Pasiva

150.000.000

Sedangkan sekutu-sekutu yang lainnya menyetorkan harta sebagai berikut :

B D I

Kas 100.000.000 25.000.000

Persediaan 80.000.000 40.000.000

Perlengkapan 15.000.000 5.000.000 5.000.000

Peralatan 35.000.000 65.000.000 30.000.000

Setelah keempat sekutu pendiri firma tersebut bersepakat untuk mendirikan firma maka mereka mengadakan perjanjian sebagai berikut:

Uang kas yang ada pada PD. A seluruhnya diambil oleh APersediaan barang dagangan A dinilai kembali menjadi 45.000.000.Wesel Bayar A akan dilunasi sendiri oleh A.Peralatan milik A dinilai kembali dan diturunkan nilainya sebesar 10.000.000Diberikan goodwill untuk A sebesar 20.000.000Setoran dari sekutu lainnya telah sesuai dengan nilai pasarnya dan disepakati oleh para sekutu.Firma yang didirikan diberi nama Firma ABDI.

Diminta:

1) Buat jurnal yang diperlukan apabila pencatatannya menggunakan metode melanjutkan buku lama yaitu melanjutkan pembukuan A.

2) Susun neraca awal firma ABDI per 31 Desember 2002.

Penyelesaian:

Ad. 1) Prosedur pencatatan dalam firma ABDI yang baru dibentuk apabila melanjutkan buku PD A adalah sebagai berikut :

a) Mencatat penilaian kembali aktiva PD A dengan membuat jurnal sebagai berikut:

Persediaan Barang Dagang 5.000.000

Wesel Bayar 50.000.000

Goodwill 20.000.000

Peralatan 10.000.000

Kas 35.000.000

Modal A 30.000.000

b) Mencatat Setoran Tuan B

Kas 100.000.000

Perlengkapan 15.000.000

Peralatan 35.000.000

Modal Tuan B 150.000.000

c) Mencatat Setoran Tuan D

Persediaan 80.000.000

Perlengkapan 5.000.000

Peralatan 65.000.000

Modal Tuan D 150.000.000

d) Mencatat Setoran Nyonya I

Kas 25.000.000

Persediaan 40.000.000

Perlengkapan 5.000.000

Peralatan 30.000.000

Modal Nyonya I 100.000.000

Ad. 2) Neraca firma ABDI yang disusun sesaat setelah firma didirikan adalah sebagai berikut:

Firma ABDI

Neraca

Per 31 Des 2002

Kas

125.000.000

Hutang Usaha

30.000.000

Piutang Usaha

15.000.000

Modal A

100.000.000

Persediaan

165.000.000

Modal B

150.000.000

Perlengkapan

30.000.000

Modal D

150.000.000

Peralatan

175.000.000

Modal I

100.000.000

Goodwill

20.000.000

Total Aktiva

530.000.000

Total Pasiva

530.000.000

Ad 2) Membuka buku baru tersendiri

Dari contoh diatas, apabila Firma ABDI membuka buku baru tersendiri maka prosedur akuntansi yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a) Melakukan penyesuaian dalam buku PD A sesuai dengan perjanjian dengan membuat jurnal sebagai berikut:

Persediaan Barang Dagang 5.000.000

Wesel Bayar 50.000.000

Goodwill 20.000.000

Peralatan 10.000.000

Kas 35.000.000

Modal A 30.000.000

b) Melakukan penutupan buku rekening-rekening milik Tuan A yaitu dengan membuat jurnal dalam buku PD A sebagai berikut:

Hutang Usaha 30.000.000

Modal Tuan A 80.000.000

Piutang Usaha 15.000.000

Persediaan 45.000.000

Perlengkapan 5.000.000

Peralatan 45.000.000

c) Mencatat penyetoran dari Tuan A dalam buku firma dengan membuat jurnal sebagai berikut:

Piutang Dagang 15.000.000

Persediaan BD 45.000.000

Perlengkapan 5.000.000

Peralatan 45.000.000

Goodwill 20.000.000

Hutang Dagang 30.000.000

Modal A 100.000.000

d) Mencatat Setoran dari Tuan B dalam buku firma dengan membuat jurnal sebagai berikut:

Kas 100.000.000

Perlengkapan 15.000.000

Peralatan 35.000.000

Modal B 150.000.000

e) Mencatat Setoran dari Tuan D dalam buku firma dengan membuat jurnal sbb:

Persediaan 80.000.000

Perlengkapan 5.000.000

Peralatan 65.000.000

Modal D 150.000.000

f) Mencatat Setoran dari Nyonya I dalam buku firma dengan membuat jurnal sbb:

Kas 25.000.000

Persediaan 40.000.000

Perlengkapan 5.000.000

Peralatan 30.000.000

Modal I 100.000.000

Neraca firma ABDI dengan metode pencatatan pada buku baru akan sama dengan neraca dengan menggunakan metode pencatatan melanjutkan buku lama.

Masalah-masalah akuntansi yang khusus atas kegiatan persekutuan :

q Karakteristik dan jumlah relatif hak pemilik dalam persekutuan.

Hubungan kreditur-debitur antara perusahaan dan pemilik.

Ä Perlakuan akuntansi atas transaksi hutang piutang antara persekutuan dengan pemilik harus jelas.

Ä Bunga yang timbul harus dilaporkan dalam laporan rugi/laba.

Hak pemilikan dan atau defisit modal dalam persekutuan, digunakan untuk :

Ä Setoran modal masing-masing pemilik harus diselenggarakan sendiri-sendiri dengan menggunakan Rekening “Modal Pemilik” yang digunakan untuk mencatat penanaman modal mula-mula, investasi tambahan, penarikan kembali modal yang ditanam dan pembagian laba/rugi.

Ä Rekening pribadi (Prive) pemilik, digunakan untuk mencatat pengambilan kas atau aktiva lainnya dalam jumlah tertentu sesuai perjanjian.

Ä

Pembagian Rugi/Laba Persekutuan

Contoh :

Firma MI didirikan pada tanggal 31 Desember 2002 oleh M dan I. Pada saat pendirian disusun neraca awal sebagai berikut:

Firma MI

Neraca

Per 31 Des 2002

Kas

125.000.000

Hutang Usaha

30.000.000

Piutang Usaha

15.000.000

Modal M

200.000.000

Persediaan

165.000.000

Modal I

300.000.000

Perlengkapan

30.000.000

Peralatan

175.000.000

Goodwill

20.000.000

Total Aktiva

530.000.000

Total Pasiva

530.000.000

Setelah didirikan, mutasi modal dan prive selama tahun 2003 dalam buku besar tampak sebagai berikut:

Prive M

Tgl

Keterangan

Debit

Kredit

Saldo

2003

1/5

450.000

450.000

Prive I

Tgl

Keterangan

Debit

Kredit

Saldo

2003

1/7

550.000

550.000

Modal M

Tgl

Keterangan

Debit

Kredit

Saldo

2003

1 / 1

Saldo

200.000.000

1 / 5

Investasi

100.000.000

300.000.000

1/11

Penarikan kembali Modal

50.000.000

250.000.000

Modal I

Tgl

Keterangan

Debit

Kredit

Saldo

2003

1 / 1

Saldo

300.000.000

1 / 1

450.000.000

750.000.000

Pada akhir periode akuntansi yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2003, Firma ABDI memperoleh laba bersih sebesar Rp. 300.000.000. Pembagian Rugi-Laba persekutuan adalah sama jika tidak ada perjanjian, tetapi para sekutu dapat membuat perjanjian antara lain :

1) Dibagi sama

Apabila disetujui Rugi-Laba dibagi sama maka jurnal untuk mencatat pembagian laba sebesar Rp. 300.000.000,- pada tahun 2003 adalah sbb :

Ikhtisar R/L 300.000.000

Modal M 150.000.000

Modal I 150.000.000

2) Apabila disetujui pembagian R/L dilakukan dengan perbandingan berikut M : I = 1:4 maka jurnal pembagian laba menjadi :

Ikhtisar R/L 300.000.000

Modal M 60.000.000

Modal I 240.000.000

3) Apabila disetujui bahwa pembagian R/L dilakukan sesuai dengan perbandingan modal maka ada 3 kemungkinan antar lain :

a) Sesuai dengan perbandingan modal awal, maka jurnalnya :

Ikhtisar R/L 300.000.000

Modal M 120.000.000

Modal I 180.000.000

Perhitungan :

Nama

Saldo modal

Rasio Pembagian R/L

Hak atas laba

Sekutu

awal tahun

M

200.000.000

200jt / 500jt = 40%

40% x 300.000.000 =

120.000.000

I

300.000.000

300jt / 500jt = 60%

60% x 300.000.000 =

180.000.000

500.000.000

100%

300.000.000

Dengan cara ini akan merugikan sekutu yang menyetorkan investasi tambahan sehingga biasanya para sekutu tidak bersedia untuk menambah investasinya.

b) Sesuai dengan perbandingan modal akhir.

Ikhtisar R/L 300.000.000

Modal M 75.000.000

Modal I 225.000.000

Perhitungan :

Nama

Saldo modal

Rasio

Hak atas R/L

Sekutu

Akhir tahun

Pembagian R/L

M

250.000.000

250jt / 1.000jt = ¼

¼ x 300.000.000 =

75.000.000

I

750.000.000

750jt / 1.000jt = ¾

3/4 x 300.000.000 =

225.000.000

1.000.000.000

1,00

300.000.000

c) Sesuai dengan modal rata-rata tahunan.

Dengan cara ini modal para sekutu dihitung rata-rata dalam sebulan atau setahun sebanding dengan lamanya investasi. Semakin lama diinvestasikan maka modal rata-rata akan semakin meningkat, begitu juga sebaliknya bila investasi dilakukan pada akhir periode akuntansi maka jangka waktu investasi untuk periode tersebut akan mendekati nol sehingga tidak akan diperhitungkan dalam modal rata-rata. Cara ini merupakan cara yang terbaik diantara cara pembagian laba/rugi sesuai dengan modal, namun akan lebih sulit untuk menghitung modal rata-rata bila penginvestasian dan penarikan kembali modal sering dilakukan. Ada beberapa cara untuk menghitung modal rata-rata tetapi akan disajikan satu cara saja dan jurnal yang diperlukan adalah sebagai berikut:

Ikhtisar R/L 300.000.000

Modal M 75.000.000

Modal I 225.000.000

Perhitungan :

Nama

Tgl.

Jumlah Mutasi

Saldo

Jk waktu

Jml. Modal dlm.

rata-rata

Sekutu

Mutasi

Debit

Kredit

Tiap bag.

Jangka waktu ybs.

M

1 Jan

200.000.000

200.000.000

5

1.000.000.000

1 Jun

100.000.000

300.000.000

5

1.500.000.000

1 Nov

50.000.000

250.000.000

2

500.000.000

12

3.000.000.000

250.000.000

1 Jan

450.000.000

750.000.000

12

9.000.000.000

12

9.000.000.000

750.000.000

12.000.000.000

1.000.000.000

Pembagian laba

Sekutu

Rasio pembagian R/L

Hak atas R/L

M

250 juta / 1.000 juta =

25%

25% x 300.000.000 =

75.000.000

I

750 juta / 1.000 juta =

75%

75% x 300.000.000 =

225.000.000

100%

300.000.000

d) Apabila pembagian R/L dilakukan dengan memperhitungan bunga modal untuk masing-masing sekutu, lalu sisanya dibagi berdasarkan perjanjian sebagai berikut:

Bunga modal ditentukan 6% dari modal rata-rata, kemudian sisanya dibagi sesuai dengan rasio M : I = 1 : 2.

Ikhtisar R/L 300.000.000

Modal M 95.000.000

Modal I 205.000.000

Perhitungan pembagian laba/rugi

M

I

Jumlah

Bunga modal

15.000.000

45.000.000

60.000.000

Sisa laba

80.000.000

160.000.000

240.000.000

95.000.000

205.000.000

300.000.000

e) Mula-mula diberikan gaji kepada sekutu yang aktif, sisa dibagi sesuai perjanjian.

Misalnya gaji para sekutu M dan I untuk setiap bulan maisng-masing 1.000.000 dan

500.000, bila ada sisa maka dibagi dua.

Jurnal :

Ikhtisar R/L 300.000.000

Modal M 153.000.000

Modal I 147.000.000

Perhitungan pembagian laba/rugi

M

I

Jumlah

Gaji pemilik

12.000.000

6.000.000

18.000.000

Sisa laba

141.000.000

141.000.000.

282.000.000

153.000.000

147.000.000

300.000.000

f) Apabila pembagian R/L disetujui sbb:

Ä Bunga Modal ditetapkan 6% dari modal rata-rata.

Ä Untuk M sebagai sekutu yang memimpin diberikan bonus sebesar 20% dari laba setelah dikurangi bonus.

Ä Sisa laba dibagi dengan perbandingan M : I = 3 : 2.

Jurnal

Ikhtisar R/L 300.000.000

Modal M 141.000.000

Modal I 159.000.000

Perhitungan

B = 20% (300.000.000 – B)

B = 60.000.000 – 0,2B

B + 0,2B = 60.000.000

1,2B = 60.000.000 ó B = 50.000.000

Perhitungan Pembagian R/L

Keterangan

M

I

Jumlah

Bunga Modal

15.000.000

45.000.000

60.000.000

Bonus

50.000.000

-

50.000.000

Sisa laba

76.000.000

114.000.000

190.000.000

Total

141.000.000

159.000.000

300.000.000

Masalah Gaji Pemilik dan bunga modal :

Ä Secara teoritis gaji pemilik dan bunga modal merupakan biaya, bukan pembagian laba

Ä Secara akuntansi bukan merupakan biaya, karena ditentukan sepihak jadi tidak abjektif. Dapat diakui sebagai biaya bila bisaditaksir dan bunga atas pinjaman yang sebenarnya bukan investasi. Dapat diakui sebagai biya bila gaji sesuai dengan jasa kepada perusahaan, dan bunga perhitungan dari pinjaman pemilik bukan dari nilai investasi.

Bagi manajemen dapat diperlakukan sebagai biaya usaha pada periode yang bersangkutan asal dijelaskan dalam perjanjian.

Gaji Pemilik dan Bunga Modal diatas jumlah Laba bersih :

q Bila Laba, laba tersebut dikurangi gaji dan bunga, sisanya dibagi sesuai perjanjian.

Contoh: berdasarkan soal firma MI yang modal rata-ratanya M dan I masing-masing Rp. 250.000.000,- dan Rp. 750.000.000,- serta laba setelah 1 tahun beroperasi adalah sebesar Rp. 30.000.000,- , apabila pembagian R/L disetujui sbb:

Ä Diberikan gaji kepada M dan I masing-masing Rp. 1.000.000,- per bulan dan Rp. 500.000,- per bulan.

Ä Bunga Modal ditetapkan 6% dari modal rata-rata.

Ä Sisanya dibagi sesuai dua.

Jurnal

Ikhtisar R/L 30.000.000

Modal M 3.000.000

Modal I 27.000.000

Perhitungan

Pembagian laba sebesar Rp. 10.000.000,-

M

I

Jumlah

Gaji

12.000.000

6.000.000

18.000.000

Bunga modal

15.000.000

45.000.000

60.000.000

Sisa laba

(24.000.000)

(24.000.000)

(48.000.000)

3.000.000

27.000.000

30.000.000

q Bila Rugi, kerugian tersebut ditambah gaji dan bunga, atas seluruh kerugian dibebankan ke masing-masing anggota sesuai perjanjian.

Contoh: berdasarkan soal persekutuan MI yang modal rata-ratanya M dan I masing-masing Rp. 250.000.000,- dan Rp. 750.000.000,- serta rugi setelah 1 tahun beroperasi adalah sebesar Rp. 30.000.000,- , apabila pembagian R/L disetujui sbb:

a) Diberikan gaji kepada M Rp. 1.000.000 per bulan dan kapada I Rp.500.000 per bln.

b) Bunga Modal ditetapkan 6% dari modal rata-rata.

c) Sisanya dibagi sesuai Rasio dua.

Jurnal

Modal M 27.000.000

Modal I 3.000.000

Ikhtisar R/L 30.000.000

Perhitungan Pembagian rugi sebesar Rp. 30.000.000,-

Keterangan

M

I

Jumlah

Gaji

12.000.000

6.000.000

18.000.000

Bunga modal

15.000.000

45.000.000

60.000.000

Sisa laba

(54.000.000)

(54.000.000)

(108.000.000)

Total

(27.000.000)

(3.000.000)

(30.000.000)

adalah sebagai berikut:

Berusaha bersama-sama atau saling mewakili (Mutual Agency), artinya setiap anggota dalam menjalankan usaha persekutuan adalah merupakan wakil dari anggota-anggota persekutuan yang lain. Jadi apabila ada salah seorang anggota beroperasi dalam bidang usaha persekutuan, maka secara tidak langsung anggota tersebut mewakili anggota-anggota persekutuan yang lain.Jangka waktu terbatas (Limited Life), artinya persekutuan didirikan oleh beberapa orang anggota mempunyai umur yang terbatas. Maksudnya adalah apabila ada anggota yang keluar berarti persekutuan tersebut secara hukum dinyatakan bubar, demikian pula apabila ada anggota baru yang masuk.

Tanggung jawab yang tidak terbatas (Unlimited Liability), artinya tanggung jawab atas hutang atau kewajiban persekutuan tidak terbatas pada kekayaan yang ditanamkan dalam persekutuan saja, tetapi juga sampai harta milik pribadi anggota persekutuan. Jadi apabila dalam keadaan tertentu persekutuan mempunyai kewajiban atau hutang

Panjat Tebing

25 September 2013 10:07:07 Dibaca : 1010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Aktivitas panjat tebing sudah dikenal masyarakat sejak lama bahkan masyarakat tradisional, mereka melakukan pemanjatan guna mencari sumber kehidupan ataupun perlindungan, khususnya didaerah pantai dan kawasan karst untuk mencari sarang burung atau sumber mata air. Tetapi mereka tidak memakai system dan prosedur yang baku seperti dalam olahraga panjat tebing sehingga faktor keamanan dan tingkat resiko yang dihadapi sangatlah tinggi.

Panjat tebing pertama kali dikenal di kawasan benua Eropa tepatnya di kawasan pegunungan Alpen sebelum perang Dunia I. Pada awal tahun 1910 dinegara Austria mulai diperkenalkan penggunaan peralatan-peralatan yang digunakan untuk menunjang dalam kegiatan panjat tebing seperti carabiner (cincin kait) dan piton (paku tebing) yang pada saat itu masih terbuat dari besi baja. Dan berawal dari situlah para pendaki dari Austria dan Jerman mulai mengembangkan peralatan dan teknik olah raga ini. Seiring waktu yang terus berjalan peralatan olah raga ini banyak mengalami inovasi, terutama pada bahan pembuatannya, uji kekuatan gaya tariknya, kepraktisan penggunaan alat serta prosedur keamanan alat yang telah distandartkan.

Di Indonesia olahraga panjat tebing sendiri telah terbentuk sejak tahun 1988 yang memiliki organisasi yang pada saat itu bernama FPGTI (Federasi Panjat Gunung Dan Panjat Tebing Indonesia) yang kemudian berganti nama dengan FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) sampai sekarang ini.

Olah raga rock climbing semakin berkembang pesat pada tahun-tahun terakhir ini di Indonesia. Kegiatan ini tidak dapat dipungkiri lagi sudah sudah merupakan kegiatan yang begitu diminati oleh kaula muda maupun yang merasa muda ataupun juga yang selalu muda. Pada dasarnya, rock climbing adalah teknik pemanjatan tebing batu yang memanfaatkan cacat batu tebing (celah atau benjolan) yang dapat dijadikan pijakan atau pegangan untuk menambah ketinggian dan merupakan salah satu cara untuk mencapai puncak. Ciri khas rock climbing adalah prosedur dan perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan, juga prinsip dan etika pemanjatan.

Rock Cilmbing bukan hanya menjadi komoditi industri olah raga dan petualngan saja. Tetapi aplikasinya juga telah menjadi komoditas industri-industrilainnya seperti wisata petualangan,outbound training,entertaiment,iklan dan film,serta industri-industri lainnya yang membutuhkan jasa ketinggian.Oleh karena itu perlu ilmu rock climbing yang sangat mendasar sebagai acuan yang kuat diri dan dunia rock climbing itu sendiri.

1.2 Tujuan

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Panjat Tebing

Panjat tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing merupakan salah satu dari sekian banyak olah raga alam bebas dan merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45o dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu.

Pada dasarnya olah raga panjat tebing adalah suatu olah raga yang mengutamakan kelenturan, kekuatan / daya tahan tubuh, kecerdikan, kerja sama team serta ketrampilan dan pengalaman setiap individu untuk menyiasati tebing itu sendiri. Dalam menambah ketinggian dengan memanfaatkan cacat batuan maupun rekahan / celah yang terdapat ditebing tersebut serta pemanfaatan peralatan yang efektif dan efisien untuk mencapai puncak pemanjatan.

Pada awalnya panjat tebing merupakan olah raga yang bersifat petualangan murni dan sedikit sekali memiliki peraturan yang jelas, seiring dengan berkembangnya olah raga itu sendiri dari waktu kewaktu telah ada bentuk dan standart baku dalam aktifitas dalam panjat tebing yang diikuti oleh penggiat panjat tebing. Banyaknya tuntutan tentang perkembangan olah raga ini memberi alternatif yang lain dari unsur petualangan itu sendiri. Dengan lebih mengedepankan unsur olahraga murni (sport).

a). Etika Panjat Tebing

Pada dasarnya Pemanjat Tebing dimanapun itu paling alergi dengan peraturan-peraturan yang resmi. Inilah uniknya dari olahraga yang satu ini, Olahraga ini tidak membutuhkan aturan tertulis dibandingkan dengan olahraga yang lain.

Secara umum etika pemnjatan sama dengan etika – etika dalam penjelajahan alam lain :

Dilarang mengambil sesuatu kecuali gambar.Dilarang meninggalkan sesuatu kecuali jejak.Dilarang membunuh sesuatu kecuali waktu.

Secara khusus ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam etika panjat tebing adalah sebagai berikut :

Menghormati adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat.Menjaga kelestarian alam. Merintis jalur baru.Memanjat jalur bernama.Pemberian nama jalur.Memberi keamanan bagi pemanjat lain.

b). Sistem Pemanjatan

System pemanjatan dibagi menjadi dua :

ü Himalayan system

Pemanjatan system Himalayan ini adalah pemanjatan yang dilakukan dengan cara terhubungnya antara titik start (ground) dengan pitch / terminal terakhir pemanjatan, hubungan antara titik start dengan pitch adalah menggunakan tali transport, dimana tali tersebut adalah berfungsi supaya hubungan antara team pemanjat dengan team yang dibawah dapat terus berlangsung tali transport ini berfungsi juga sebagai lintasan pergantian team pemanjat juga sebagai jlur suplai peralatan ataupun yang lainnya.

ü Alpen system

Lain halnya dengan system diatas, jadi antara titik start dengan pitch terakhir sama sekali tidak terhubung dengan tali transpot, sehingga jalur pemanjatan adalah sebagai jalur perjalanan yang tidak akan dilewati kembali oleh team yang dibawah. Maka pemanjatan dengan system ini benar-benar harus matang perencanaanya karena semua kebutuhan yang mendukung dalam pemanjatan tersubut harus dibawa pada saat itu juga.

c). Peralatan panjat tebing

Alat-alat yang diguanakan dalam pemanatan artificial

Tali carmentel

Biasanya yang digunakan adalah tali yang memiliki tingkat kelenturan atau biasa disebut dynamic rope. Secara umun tali di bagi menjadi dua macam yaitu :

- Static adalah tali yang mempunyai daya lentur 6% – 9%, digunakan untuk tali fixed rope yang digunakan untuk ascending atau descending. Standart yang digunakan adalah 10,5 mm.

- Dynamic adalah tali yang mempunyai daya lentur hingga 25%, digunakan sebagai tali utama yang menghubungkan pemanjat dengan pengaman pada titik tertinggi.

Harnest adalah alat pengikat di tubuh sebagai pengaman yg nantinya dihubungkan dengan tali.

. Carabiner adalah cincin kait yg terbuat dari alumunium alloy sebagai pengait dan dikaitkan dgn alat lainnya.
- Karabiner Skrup/carabiner srew gate

. Helmet adalah pelindung kepala yg melindungi kepala dari benturan dari benda-benda yang terjatuh dari atas.Webbing, peralatan panjat yg berbentuk pipih tidak terlalu kaku dan lentur, biasa digunakan sebagai harnestPrusik, merupakan jenis tali carmentel yg berdiameter 5-6 mm, biasanya digunkan sbg pengganti sling runner dan juga dpt digunakan untuk meniti tali keatas dengan menggunakan simpul prusik, seperti pada SRT.

Sepatu Panjat, sbg pelindung kaki dan mempunyai daya friksi yg tinggi sehingga dpt melekat di tebing. Jenisnya sendiri yang sering digunakan adalah soft (lentur/fleksibel) dan hard (keras)

. Chock bag/Calk bag, sebagai tempat MgCo3 (Magnesium Carbonat) yg berfungsi agar tangan tdk licin karena berkeringat sehingga akan membantu dalam pemanjatan.

Descender, peralatan yg digunakan untuk meniti tali kebawah serta mengamankan leader disaat membuat jalur, biasanya yg sering digunakan adalah figure of eight dan auto stop.

Ascender, peralatan yg digunakan untuk meniti tali ke atas dan secara otomatis akan mengunci bila dibebani. Jenis yang digunakan biasanya jumar dan croll

Grigri, alat ini digunakan untuk membelay, alat ini mempunyai tingkat keamanan yg paling tinggi karena dapat membelay dengan sendirinya.

Hammer, berfungsi untuk menanamkan pengaman dan melepaskan kembali, biasanya yg diapakai jenisnya ringan dan mempunyai kekuatan tinggi dan ujungnya berfungsi mengencangkan mur pada saat memasang hanger.

Pulley, mirip katrol, kecil dan ringan tetapi memiliki kemampuan dalam beban yg berat. Digunakan untuk perlengkapan evakuasi.

Handdrill, merupakan media untuk mengebor tebing secara manual, yg berfungsi untuk menempatkan pengaman berupa bolt serta hanger.

d). Simpul yang digunakan dalam pemanjatan

Simpul – simpul yang digunakan dalam pemanjatan yaitu :

Simpul Delapan Ganda

Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan tubuh atau harnest. Toleransi 55% – 59%.

Simpul Delapan Tunggal

Untuk pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan tubuh atau harnest apabila carabiner tidak ada Toleransi 55% – 59%.

Simpul Pangkal

Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.

Simpul Jangkar

Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope) pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.

Simpul Kambing / bowline knot

Untuk pengaman utama dalam penambatan atau pengaman utama yang dihubungkan dengan penambat atau harnest. Toleransi 52%.

Simpul Kupu – kupu / Butterfly knot

Untuk membuat ditengah atau diantara lintasan horizon. Bisa juga digunakan untuk menghindari tali yang sudah friksi. Toleransi terhadap kekuatan tali 50%.

Simpul Nelayan / Fisherman Knot

Untuk menyambung 2 tali yang sama besarnya dan bersifat licin. Toleransi 41% – 50%.

Simpul Frusik
Simpul yang digunakan dalam teknik Frusiking SRTSimpul Pita

Untuk Menyambung Tali yang sejenis, yang sifatnya licin atau berbentuk pipih (umumnya digunakan untuk menyambung Webbing)

Simpul Italy

Untuk repeling jika tidak ada figure eight atau grigri. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang 45%.

Overhand Knot

Untuk mengakhiri pembuatan simpul sebelumnya. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang

e). Bagian – bagian Tebing

- Poin : Bagian Pada Tebing yang bias dijadikan tempat Pegangan dan Pijakan
- Rekahan : Bagian Tebing Yang retak membentuk rekahan
- Rock : Bagian/ Poin tebing yang terjatuh kedasar tebing
- Roof : Bagian Tebing yang berbentuk Kursi terbalik.

f). Jenis – jenis Ancor

- Natural Ancor/ Penambat Alami adalah penambat alamiah yang tersedia oleh alam,Contoh : Batang pohon, Akar pohon, Batu besar yang dijamin kuat.

- Artificial Ancor/ Penambat Buatan adalah Alat yang didesain secara khusus untuk digunakan sebagai penambat, contoh : Piton, sky hook, Brigbo, ramset, hunger, stoper,
Contoh – contoh Artificial ancor:
1) Paku Piton
Merupakan pengaman sisipan yg berguna sebagai pasak.

2) Stopper

Digunakan untuk celah vertical yg menyempit kebawah dengan prinsip kerja menjepit celah membentuk sudut atau menyempi
3) Sky Hook

Sebagai pengaman sementara dengan prinsip kerja menyisipkan ujung sky hook pada celah bebatuan dan harus terbebani, usahakan meminimalkan gerak.
4) Ramset dan Hanger

Satu set peralatan dalam artificial climbing yg berfungsi untuk menanamkan bolt dan kemudian digabungkan dengan hanger sehingga menjadi pengaman tetap.
5) Friend

Pengaman yg diselipkan pada celah batu dengan bermacam ukuran. Friend ada 2 macam :

ü Regular Friend

Terbuat dari allumunium alloy dan mempunyai kelemahan yaitu berbentuk static/tidak mempunyai kelenturan. Alat ini bekerja dengan baik dicelah overhang.

ü Fleksibel Friend
Bentuknya sama dengan regular friend hnya mempunyai kelebihan terbuat dari kawat baja yg menjadikan friend ini sangat fleksibel, dan dapat dipasang disemua celah dan segala posisi.

6) Hexa

Prinsip kerja sama dengan stopper hanya berbeda pada bentuk round (bulat) dan hexagonal (segi enam).
7) Chocker

Alat bantu yg berfungsi untuk melepaskan hexa atau stopper yg terkait di celah batu.
8) Etrier/tangga gantung &daisy chain

ü Etrier : alat yg terbuat dari webbing yg menyerupai tangga untuk membantu menambah ketinggian.

ü Daisy chain : terbuat dari webbing, berfungsi untuk menambah ketinggian serta menjaga apabila etrier jatuh.

g). Kode yang digunakan dalam Pemanjatan

Kode – kode yang digunakan dalam pemanjatan adalah sebagai berikut :

1. Climb : Pemanjat Menginstrusi kepada Pembilay bahwa pemanjat siap memanjat

2. Climbing : Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bhw dia siap mengamankan pemanjat

3. On Belay : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa pemanjat memulai memanjat

4. Belay On : Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bhw dia telah mengamankan pemanjat

5. Full : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikencangkan

6. Slack : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali dikendorkan

7. Rock : Pemanjat Memberitahukan kepada orang yang berada dibawah bahwa ada batuan tebing yang jatuh

8. Top : Pemanjat Memberitahukan bahwa dia telah sampai pada puncak

9. Belay of : Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa dia tidak membutuhkan lagi pengamanan

10. Of Belay : Pembilay Menginstrusi kepada pemanjat bahwa dia tidak mengamankan lagi

h). Macam – macam Tebing

Beberapa batuan yang sering dijumpai yang terutama lokasi dimana sering dijadikan ajang pemanjatan di Indonesia.

1. Batuan Limenstone Batuan yang banyak memiliki lobang – lobang dan berwarna putih.

2. Batuan Beku- Andersit,berwarna hitam keabu-abuan massif dan kompak

- Lava Andersit,seperti andersit dan biasanya dijumpai lubang-lubang kecil bekas keluarnya gas dan dijumpai dengan kesan berlapis

- Breksi lava,menyerupai batu breksi pada umumnya

- Granit,berwarna terang dengan warna dasar putih

3. Batuan Sedimen

- Batu Gamping,berwarna putih kekuningan,kompak,banyak dijumpai retakan atau lubang,dan biasanya berlapis.

- Breksi Sedimen,seperti halnya breksi lava tapi batu ini biasanya berupa batu pasir.

4. Batu Metamorf

Hampir sama dengan batu gamping tapi disini sudah mengalami rekristalisasi dan warnanya sangat beragam.

2.2