ARSIP BULANAN : September 2014

Problematika Umat

11 September 2014 11:46:08 Dibaca : 831

Mengapa kita perlu untuk membahas materi problematika umat Islam. Sebenarnnya urgensi dari materi ini adalah bagaimana agar setiap muslim memiliki kepedulian dan perhatian terhadap masalah yang dihadapi Islam dan kaum muslimin.

Seseorang yang tidak memiliki perhatian dan kepedulian terhadap problematika yang dihadapi umat Islam, maka dalam sebuah riwayat disebutkan itu bukan umat Muhammad صلى الله عليه وسلم. Siapa yang tidur di waktu malam dan tidak pernah risau dengan masalah-masalah yang dihadapi kaum muslimin, maka hakekatnya dia itu bukan umat Muhammad صلى الله عليه وسلم. Apalagi bagi mereka yang sudah menyandang predikat mereka itu aktivis/ kader da’wah. Setiap kader tentunya harus memiliki perhatian yang besar terhadap problematika umat Islam.

Problematika atau problem merupakan kata serapan yang bermakna masalah-masalah yang belum terpecahkan, belum ada solusinya (KBBI). Dalam pembahasan materi ini, yang dimaksud dengan problema adalah: [-] kesenjangan yg terjadi antara kondisi ideal (mitsaliyah) dan kondisi ril (waqi’iyyah). Maksudnya adalah, adanya ketimpangan kondisi umat, dimana kondisi umat Islam sekarang ini sangat jauh jika dibandingkan dengan kondisi ideal umat Islam seperti yang disebutkan dalam Al-Quran dan Hadits serta realitas umat terdahulu. Realita sekarang menunjukkan bahwa eksistensi ummat Islam seperti yg disebutkan dalam al Qur’an dan Hadits serta realitas umat terdahulu hilang atau dengan kata lain, umat Islam sekarang sedang terpuruk. Definisi ini akan dijadikan barometer untuk meneropong prob. umat Islam. Karena itu secara sederhana, untuk kita melihat problematika tersbut, kita harus mengetahui dulu konsep ideal bagaimana kondisi ideal umat Islam ini seharusnya. Dalam Al-Quran disebutkan kondisi ideal bagaimana kondisi umat Islam seharusnya, dimana kondisi ideal ini telah dimiliki dan sudah dipraktekkan oleh para pendahulu kita yaitu Rasulullah صلى الله عليه وسلمdan para shahabatnya.

Kondisi ideal

[1] khairu ummah

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (Q.S. Ali ‘Imron (3): 110)

Ayat di atas menjadi dalil mengenai kedudukan para shahabat di hadapan Allah Ta’ala. Para mufasirin menjelaskan bahwa kataكنتم dalam ayat tersebut mengacu kepada para shahabat. Mereka adalah Khairu ummah umat terbaik (Ali Imron: 110). Allah sudah melegitimasi kebaikan para sahabat, baik pemahaman dan pengamalannya (paling benar pemahaman dan pengamalannya). Oleh karenanya manhaj keislaman kita ini adalah manhaj salaf. Disebutkan 3 sifat utama yang menyebabkan para sahabat itu dikatakan sebagai umat terbaik: [-] amar ma’ruf. Mereka punya semangat melakukan amar ma’ruf, aktivitas mereka selalu dalam koridor amar ma’ruf. [-] nahi munkar. Mereka tidak pernah senang jiwanya melihat kemungkaran, oleh karenanya mereka berusaha untuk mencegah kemunkaran. [-] beriman kepada Allah سبحانه وتعلى Tiga sifat inilah yang menyebabkan mereka itu diakui oleh Allah sebagai umat terbaik.

[2] ummatan wasathan

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….”

(Q.S. Al-Baqarah (2): 143)

[95] Umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat.

[-] antara dunia dan akhirat

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi….” (Q.S. Al-Qashash (28): 77)

Ayat di atas merupakan teguran, ketika ada sebagian shahabat yang lebih mengutamakan akhiratnya dibanding kehidupan dunia. Dengan ayat tersebut Allah mengingatkan agar menjalanai kehidupan itu haruslah seimbang, pertengahan, tidak mengutamakan salah satu di antara keduanya. Poin pentingnya adalah, Allah sudah menegur para shahabat yang lebih mengutamakan akhiratnya – yang notabene lebih utama daripada kehidupan dunia- lalu begaimana dengan orang yang lebih mendahulukan dunia? Tentu bukan hanya sekedar teguran. Pribadi shahabat mulia ‘Utsman bin Affan atau Abu Hurairah bisa menjadi contoh bagaiamana sikap pertengahan keduannya dalam kehidupan di dunia.

[-] antara materil (fisik) dan spiritual (ruhani)

[-] antara (kepentingan) pribadi dan sosial

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا….

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” (Q.S. At-Tahrim (66): 6)

[-] antara ifrath dan tafrith

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.S. Al-Furqan (25) :67)

[3] ummatan waahidatan

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan aku adalah Tuhanmu, Maka bertakwalah kepada-Ku.” (Q.S. Al-Mukminun (23): 52)

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu[971] dan aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah aku.” (Q.S. Al-Anbiyaa (21): 92) [971]

Maksudnya: sama dalam pokok-pokok kepercayaan dan pokok-pokok Syari’at. Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan para shahabatnya merupakan umat yang satu, yang solid tidak terpecah belah. Persatuan dan kesatuan umat pada saat itu tampak dalam tiga hal berikut ini:

[-] satu dalam aqidah.

[-] satu dalam kepemimpinan, yaitu di bawah kepemimpinan Rasulullah صلى الله عليه وسلم berlanjut pada masa Khulafa ar-Rasyidin.

[-] satu dalam jama’ah, saat itu tidak ada jama’ah yang masing-masing saling mengklaim diri paling benar dan menyalahkan orang lain.

Realitas saat ini

[-] takhalluf (kemunduran dan keterbelakangan)

Harus kita akui, bahwa umat Islam sekarang sedang mengalami kemunduran di setiap bidang kehidupan. Dalam bidang ekonomi, kita mendapati banyak negara-negara miskin yang mayoritas warga negaranya merupakan muslim (Somalia, Sudan, Afghanistan, Indonesia, dll). Begitu juga dalam bidang politik. Hampir dua pertiga dari jumlah negara di dunia saat ini menjalankan sistem demokrasi yang nota bene merupakan warisan kebudayaan Yunani. Sistem politik Islam, dianggap tidak relevan lagi dengan zaman modern. Makanya negara-negara yang masih teguh menjalankan sistem politik Islam, meskipun tidak ideal, ataupun negara-negara yang ingin menerapkan syariat Islam akan selalu ditekan dan dipaksa untuk meninggalkan sistem politik Islam. Bidang militer atau pertahanan, hampir tidak ada negara Islam yang kekuatan militernya sanggup menyamai kekuatan militer AS, dan para sekutunya. Tidak mengherankan jika kemudian mereka, musuh-musuh Islam, dengan sangat mudahnya menyerang dan menghancurkan negara-negara Islam. Dalam kebudayan, sangat jelas terasa bahwa budaya yang berkembang dan menjadi panutan adalah budaya Barat yang bebas, permisif, dan semua istilah yang menunjukkan keburukan yang itu bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Bidang-bidang lain menunjukkan hal yang sama. Pada intinya, kondisi umat Islam sekarang sedang mengalami kemunduran, dimana musuh-musuh Islam dengan mudahnya mencengkram kehidupan umat Islam. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena umat Islam sekarang:

[-] menyeru yang mungkar, mencegah yang ma’ruf

Umat Islam sekarang justru berperilaku layaknya orang-orang kafir, mendorong kepada kemungkaran, bukannya bersemangat melakukan kebaikan, dan malah menghalang-halangi orang-orang yang ingin taat beragama. Contoh riil yang ada sekitar kita, misalnya orang-orang yang sering muncul di TV yang mengaku sebagai artis, penyanyi, seniman, dll., sebagian besar mereka adalah muslim. Padahal kita tahu, apa yang mereka lakukan sangat jauh dari Islam.

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang Munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[648]. mereka telah lupa kepada Allah, Maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. At-Taubah (9): 67)

[648] Maksudnya: Berlaku kikir

[-] mengakal-akali syariat

Orang-orang alim, yang mengetahui tentang agama ini, yang harusnya membimbing umat untuk menjalankan ajaran agamanya secara benar, justru malah memunculkan keraguan-keraguan di tengah-tengah umat. Dengan kepintarannya, mereka menjadikan syariat agama ini sebagai alat untuk meraih kepentingan sesaat yang bersifat duniawi. Sebagai contoh bagaimana umat dibuat ragu dengan istilah bunga, yang sesungguhnya itu merupakan perbuatan riba.

[-] mengikuti millah orang-orang kafir

Keberadaan JIL, Ahmadiyah, Syi’ah, dan aliran-aliran sesat lainnya menunjukkan bahwa, umat Islam mudah sekali terombang-ambing, jauh dari ajaran Islam yang lurus. Dalam hal pola pikir, tingkah laku, berpakaian, dan lain sebagainya, sangat sulit dibedakan dengan orang-orang kafir. Umat Islam saat ini tidak merasa bangga dengan identitasnya sebagai muslim, bahkan dengan agamanya sendiri. Merasa inferior di hadapan orang-orang kafir.

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

”orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah (2): 120)

[-] meninggalkan jihad

[-] ridha dengan dunia

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ »…

صحيح مسلم – (ج 4 / ص 252)

[-] taqlid (ikut-ikutan)
[[PASTING TABLES IS NOT SUPPORTED]]

[-] dalam hal pemikiran dan ideologi

[-] dalam hal keyakinan dan aqidah

[-] dalam perilaku

[-] dalam hal undang-undang

Tidak bisa dipungkiri, realitas umat Islam saat ini, berada di bawah bayang-bayang kekuasaan dan pengaruh musuh-musuh Islam. Negara-negara Islam berada dalam cengkeraman negara-negara kafir. Kekuasaan dan pengaruh itu begitu kuatnya, hingga memaksa umat Islam untuk mengikuti apa yang mereka kehendaki. Diperparah dengan kondisi umat yang jauh dari agama, maka semakin kompleks masalah yang dihadapi kaum muslimin. Apa yang datangnya dari Barat pasti dinilai baik dan bermanfaat bagi kehidupan mereka, sedangkan yang datangnya dari Islam, mereka anggap sudah ketinggalan zaman. Pemikiran atau ideologi kafir seperti Kapitalisme, Marxisme, Komunisme, Konfusianisme, Pluralisme dll., ditelan mentah-mentah.

Dalam kehidupan bernegara, sistem yang digunakan yang datangnya dari Barat, yaitu demokrasi. Demokrasi dengan segala turunannya dianggap sebagai jalan terbaik yang memberikan kebaikan dan manfaat bagi seluruh rakyat. Dalam level individu, pola pikir dan perilaku umat Islam tidak jauh berbeda dengan perilakunya orang-orang kafir. Berpikir sebebas-bebasnya, berpakaian tapi tidak berpakaian, berbicara seenaknya, dan apa saja yang menjadi karakaterisitik orang-orang kafir diikuti oleh umat Islam.

[-] tafarruq (berpecah belah)

[-] penyebab runtuhnya khilafah Utsmani

[-] berpecah belah dalam pola pikir/ cara pandang [-] berpecah belah dalam aqidah dan ibadah

Musibah yang terjadi pada umat Islam selain yang telah disebutkan di atas adalah kondisi umat yang bercerai-berai, terpecah belah. Umat Islam tidak satu suara. Sehingga dengan mudahnya diadu domba lalu kemudian dikuasai. Sejarah membuktikan ketika umat Islam sudah tidak lagi bersatu, khilafah Utsmani runtuh. Jika umat Islam saat itu bersatu, negara-negara kafir sperti Jerman, Prancis, Inggris, Rusia dll., tidak akan mudah menaklukan kekuatan Islam. Bukannya waspada akan datangnya ancaman dari musuh, tapi malah justru sibuk saling menyalahkan dan mengalahkan satu sama lain. Umat semakin jauh dari ajaran Islam sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan dibawa oleh para shahabatnya dulu, sehingga tidak heran jika muncul faham-faham yang menyimpang baik itu dalam hal keyakinan (aqidah) maupun dalam hal ibadah. Umat Islam terkotak-kotak ke dalam kelompok-kelompok, partai-partai, ormas-ormas, yayasan-yayasan, dll., yang mengklaim diri paling benar. Diperparah dengan sikap fanatik, maka umat ini semakin berpecah belah. —————————————————————————————————————– sumber : Panduan Tarbiyah Wahdah Isamiyah

TUGAS I

DOA PEMBUKA DAN PENUTUP MAJLIS

lafadznya :
Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu
wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa
waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Manyahdihillah falah mudhillalah
Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha
illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna
muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

artinya : Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah Subhanahu
wa Ta’ala Yang kita memuji-Nya, kita memohon pertolongan dan
pengampunan dari-Nya, yang kita memohon dari kejelekan jiwajiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Saya bersaksi
bahwasanya tiada Ilah yang Haq untuk disembah melainkan AIlah
Subhanahu wa Ta’ala dan tiada sekutu bagi-Nya serta
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah utusan Allah
Subhanahu wa Ta’ala.

Ya ayyuhal-ladzina amanuttaqullaha haqqa tuqatihi wa la
tamutunna illa wa antum muslimun [Ali 'Imran : 102]

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah
dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali
dalam

keadaan islam” [Ali 'Imran : 102]

Yaa ay-yuhan naasut-taquu rab-bakumul-ladhiy khalaqakum
min nafsiw waaHidatiw wa khalaqa minhaa zawjahaa wa baththa minhumaa rijaalan kathiyraw wa nisaa-aa wat-taqullaahal-ladhiy tasaa-aluuna bihii wal arHaam in-nal-laaha
kaana ‘Alaykum raqiybaa [An-Nisaa’ : 1]

Artinya : “Wahai sekalian manusia bertakwalah kepada Tuhanmu yang
menciptakanmu dari satu jiwa dan menciptakan dari satu jiwa ini
pasangannya dan memperkembangbiakkan dari keduanya kaum
lelaki yang banyak dan kaum wanita. Maka bertaqwalah kepada
Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama
lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah
senantiasa
menjaga dan mengawasimu” [An-Nisaa’ : 1]

Ya ayyuha-lladziina 'amanuu ittaquu-llaha waquuluu qawlan
sadiina. Yuslih lakum amalukum wayaghfirlakum
dzunuubakum waman yuti'i-llaha warasuulahu faqad faza
fawzan 'athiima[Al-Ahzaab : 70-71]

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan
ucapkanlah perkataan yang benar niscaya Ia akan memperbaiki
untuk
kalian amal-amal kalian, dan akan mengampuni dosa-dosa
kalian, dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya
maka baginya kemenangan yang besar”. [ Al-Ahzaab : 70-71]

Adapun setelah itu, sesungguhnya sebenar-benar kalam adalah
Kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sebaik-baik petunjuk
adalah petunjukMuhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
Sedangkan seburuk-buruk suatu perkara adalah perkara yang
mengada-ada (muhdats) dan setiap muhdats itu Bid’ah. [HR
Muslim dari hadits Jabir bin Abdullah RA dalam Al-Jumu'ah (867)]
[khutbatul haajah, shahih diriwayatkan dari Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam oleh Nasa'i (III/104), Ibnu Majah (I/
352/1110), Abu Dawud (III,460/1090). Lihat Al-Wajiz fi Fiqhis
Sunnah hal. 144-145]

DOA PENUTUP MAJELIS

(Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an laa-ilaaha illaa Anta
astaghfiruka wa-atuubu ilaik)

Artinya :
Maha suci Engkau ya Allah, dan dengan memujiMu, aku bersaksi bahwa
tiada Ilah kecuali Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepadaMu

Keterangan :
Doa ini diambil dari hadits riwayat Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad
Doa ini disebut pula Kaffaratul Majlis, karena keutamaannya adalah
sebagai penebus dosa dalam majelis tersebut, sebagaimana sabda

Rasulullah :
Dari Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu ’anhu ia berkata: “Jika
Rasulullah SAW hendak bangun dari suatu majelis beliau membaca:
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta
astaghfiruka wa atuubu ilaika. Seorang sahabat berkata: “Ya Rasulullah,
engkau telah membaca bacaan yang dahulu tidak biasa engkau baca?”
Beliau menjawab: “Itu sebagai penebus dosa yang terjadi dalam sebuah
majelis.” (HR Abu Dawud)