Tongkat Keramat Bung Karno yang Diperebutkan

22 February 2013 06:50:23 Dibaca : 635

 

GAUNG peringatan satu abad Soekarno seakan tak mau sirna. Seabrek kegiatan yang dimulai menjelang kelahirannya, 6 Juni lalu, selalu marak. Agenda acara paling bontot, pameran “Jumpa Bung Karno” di Gedung Pola, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, pun mendapat perhatian luar biasa dari masyarakat. Ajang pamer benda peninggalan Bung Karno, yang berlangsung hingga 15 September, itu disesaki pengunjung tak kurang dari 5.000 orang setiap hari.Pameran itu seakan menabalkan Bung Karno sebagai sosok yang tak lekang dimakan waktu. Sampai-sampai, peranti tetek-bengek Bung Karno pun dikeramatkan pengagum beratnya. Tak sedikit yang menyebutnya sebagai pusaka. Termasuk “kasus tongkat komando Bung Karno” yang menyeret Lia Aminuddin, tokoh Salamullah, ke pengadilan, Rabu pekan lalu.

Gara-gara melenyapkan tongkat Bung Karno itulah, Lia digugat Rudi Fachrudin, yang mengklaim sebagai “ahli waris” si tongkat. Toh, banyak kalangan menyangsikan bagaimana juntrungannya tongkat keramat itu berpindah ke tangan Rudi. Apalagi, yang disebut tongkat komando Bung Karno, menurut Enong Ismail, anggota tim inventaris pameran “Jumpa Bung Karno”, ya, cuma satu.

Tongkat komando tersebut kini dipajang di lantai V Gedung Pola. Sedangkan belasan lainnya yang disimpan di Istana Merdeka adalah tongkat biasa, pemberian pimpinan negara sahabat, ketika Soekarno masih menjabat presiden. Meski begitu, para pemegang tongkat komando Soekarno banyak bermunculan. Mereka mengklaim sebagai tongkat asli, lengkap dengan sejarah dan cerita kesaktiannya.

Koeshartadi, misalnya. Pengusaha asal Surabaya ini mengaku pernah memiliki tongkat berjuluk Tunggul Drajat Ndaru Puspito -tonggak lurus penopang bunga hasil perburuannya pada 1990. Wujudnya jauh berbeda dibandingkan dengan tongkat milik Rudi. Tunggul memiliki badan dari logam warna cokelat sepanjang 40 sentimeter. Pada bagian atas, warnanya lebih muda ketimbang bawahannya.

Pemburu benda klenik itu mengklaim tongkat Tunggul-nya adalah yang asli. “Sejarahnya paling jelas,” kata pengurus daerah Ikatan Pencak Silat Indonesia Jawa Timur itu. Yang dimaksud sejarah oleh Koeshartadi rupanya tak jauh dari dunia mistik yang sulit dicerna akal sehat.

Menurut Koes, si Tunggul adalah tongkat komando yang pernah dipegang Mahapatih Majapahit, Gajah Mada. Asal-muasalnya, konon, dibuat Empu Barada, pembuat keris yang tersohor di era Raja Airlangga, 10 abad silam. Seterusnya, perjalanan sang tongkat kian musykil, yang tak ketemu rujukannya dari ahli sejarah.

Koes yang demen ilmu kebatinan itu berkisah bahwa sang tongkat sempat moksa -raib ke alam gaib- sebelum tiba-tiba muncul di Blitar, Jawa Timur. Koes menjelajah sekujur tanah Jawa untuk mendapat pusaka Bung Karno. Tapi, ia hanya ketemu satu barang, ya tongkat itu tadi.

Perjumpaan dengan si tongkat, kata Koes, lewat seorang warga Blitar yang tak jelas asal-usulnya. Ia membelinya dengan harga jutaan rupiah. Meski akhirnya, tongkat itu dilepas Koes, karena ia merasa tak berhak memilikinya. Namun, Koes merahasiakan pembelinya dan bes- arnya “mas kawin” pengganti tongkat.

Hikayat tongkat versi Romo Yoso, tokoh kasus Brigade X Malang yang mengaku titisan Bung Karno, lebih aneh bin ajaib. Koleksi barang keramat Soekarno milik Romo Yoso tak cuma tongkat. Selain tiga pucuk tongkat, Romo Yoso juga mengaku punya burung Garuda Emas, pedang Kiai Sengkelad, keris Nogo Sosro dan Setro Banyu, serta seabrek nama aneh yang disebut Romo Yoso sebagai barang keramat Bung Karno.

Anehnya, semua barang tersebut didapat dari hasil pertapaan Romo Yoso di gua-gua yang dianggap keramat. “Semua pusaka di Nusantara milik Bung Karno sudah saya miliki,” kata Romo Yoso, yang berburu harta Soekarno sejak 11 tahun silam.

Keberadaan tongkat dari antah berantah itu berlainan dengan kesaksian Kanjeng Raden Haryo Tumenggung Hardjonagoro, ahli budaya senior Keraton Surakartahadiningrat. Seingat Hardjonagoro, yang dikenal dekat dengan Soekarno di awal 1960-an, tongkat koleksi Bung Karno jumlahnya sekitar 10. Bahan dasarnya dari kayu. “Ada yang dari cendana, gading, akar bahar, dan dipadu dengan sungu,” kata abdi dalem keraton yang punya nama asli Go Tik Swan itu.

Sayangnya, Hardjonagoro tak bersedia merinci wujud tongkat asli milik Bung Karno itu. “Saya hanya mau mengatakan kepada Bu Megawati,” katanya. Gusti Raden Ayu Koes Moertiyah, putri raja Surakarta Paku Buwono XII, pun meragukan keaslian benda peninggalan Bung Karno yang beredar di masyarakat. Anggota legislatif dari PDI Perjuangan itu menduga, benda-benda milik tokoh terkenal seperti Soekarno hanya dijadikan komoditas bisnis.

Seperti kejadian bulan lalu, ketika Gusti Mung, panggilan akrabnya, kedatangan tamu bernama Salimi yang membawa sebilah keris. Menurut penuturan Salimi kepada Gusti Mung, keris tersebut punya “garis kerabat” dengan keris-keris Bung Karno. Salimi bermaksud menyerahkan keris itu kepada Megawati Soekarnoputri lewat Gusti Mung.

Permintaan Salimi ini ditolak Gusti Mung. “Orang itu punya maksud tak jujur,” katanya. Gusti Mung yakin, bila dituruti, ujung-ujungnya hanya soal duit. Biasanya, masih kata Gusti Mung, mereka akan minta duit untuk biaya selamatan yang besarnya jutaan rupiah.

Sebagai komoditas menggiurkan, di mata para pemburu, barang peninggalan Soekarno tak ubahnya harta karun. Selain benda pusaka, Soekarno disebut-sebut juga menyimpan dana revolusi berwujud emas lantakan dan jutaan poundsterling di Union Bank of Switzerland (UBS), Swiss. Tersebutlah Gunarjo dan Pujo Warno, para pemburu harta “warisan” itu.

Gunarjo, pendiri lembaga pendidikan Gama 81, Yogyakarta, konon menghamburkan duit hingga Rp 4 milyar untuk mencairkan simpanan Soekarno itu, dalam kurun 1988-1990. Pria asal Solo ini meyakini, aset atas nama Mr. Soekarno di bank Swiss tersebut benar adanya. Dalam sertifikat UBS, tertera berat emas lantakan Soekarno mencapai 72.000 ton. Tapi, harta ini tak bisa dicairkan. “Mereka punya aturan main yang tidak bisa ditembus,” katanya ketika itu.

Informasi emas simpanan Bung Karno itu juga menyeret Pujo Warno, pengusaha semen asal Jakarta, untuk mengubernya. Emas versi Pujo Warno jumlahnya “cuma” 4,5 ton. Toh, meski bertandang ke UBS, yang diyakini sebagai tempat penyimpanan, Pujo pulang dengan tangan hampa.

Sultan Sulu Filipina, Maulana Jamalul Kiram III, pun terpedaya isu emas lantakan Soekarno. Ia tergiur membeli sertifikat emas Soekarno di UBS, yang dipegang Parman, warga Klaten, April tahun lalu. Duit Rp 7 juta telah diserahkan kepada Parman, eh, ternyata, sertifikat itu palsu.

Bisa jadi, tongkat dan keris peninggalan Soekarno yang diributkan orang adalah benda tiruan belaka. Guruh Soekarnoputra sendiri meyakini, benda-benda peninggalan Soekarno tak ada yang tersebar di masyarakat. “Kalaupun ada, harus jelas pembuktiannya,” kata bungsu lima bersaudara dari istri Soekarno, Fatmawati, itu kepada Dewi Sri Utami dari Gatra.

Tampaknya, soal buru-memburu benda pusaka Soekarno itu, menurut Prof. Dr. Simuh, lebih dilatari kepercayaan mistik. Dalam pengamatannya, Soekarno tergolong figur yang tak bersih dari mistik. “Barang-barang Soekarno itu representasi kepemimpinan gaya kerajaan, yang diyakini berdaya magic,” kata pakar sinkretisme yang juga guru besar Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Tips Menjaga Bunga Tetap Segar dan Terlihat Indah

22 February 2013 06:44:48 Dibaca : 115

Rutin memotong batang bunga dengan potongan menyerong bisa membantu bunga hidup lebih lama.

coba simak dan lakukan tips-tips dari Homelife berikut ini:

  • Bila Anda tipe yang suka dengan rangkaian bunga segar, siapkan beragam jenis vas bunga dengan ukuran yang berbeda-beda untuk mengakomodasi bunga-bunga yang akan dipajang.
  • Potonglah batang menyerong. Bagian bawah batang umumnya menutup dengan sendirinya, seperti luka yang menutup, supaya bunga tetap bisa menarik air lebih lama, batang bunga sebaiknya dipotong menyerong sedikit setiap hari.
  • Larutkan gula, pemutih, dan cuka putih, masing-masing satu sendok teh pada air di dalam vas bunga untuk memperlama waktu hidup bunga serta mengurangi pembentukan lendir. Biasakan untuk mengganti air dalam vas secara teratur untuk kebersihan.4. Sebatang bunga bisa terlihat menarik di dalam vas kecil, bisa dari botol bening bekas, misalnya.
  • Tulip adalah satu-satunya jenis bunga yang terus bertumbuh walau sudah dipotong, jadi ingatlah untuk rajin memotong batangnya.
  • Bila vasnya bening, batangnya akan terlihat dari luar dan akan menjadi bagian dari penampilan, jadi pastikan batangnya bersih dan tidak ada dedaunan yang mengganggu penampilannya.
  • Pastikan vas stabil untuk berdiri. Bebatuan kecil yang indah bisa menambah kestabilan vas dan membantu bunga berdiri tegak, namun wajib dibersihkan sesering mungkin.
  • Bersihkan vas dengan sabun pembersih piring, air hangat, dan sikat botol untuk memastikan tidak ada bekas lumut yang melekat dan merusak keindahan.

Inilah Aneka Manfaat Buah Pepaya Untuk Anda

22 February 2013 06:40:50 Dibaca : 138

Pepaya mengandung beberapa vitamin, mineral dan enzim papain yang amat bermanfaat bagi kesehatan dan kecantikan (sumber: Happy Kanppy/Freedigitalphotos)

Buah pepaya ternyata memiliki banyak aneka manfaat bagi kita.

Mudah didapat, harganya terjangkau serta memiliki aneka manfaat kesehatan itulah kelebihan dari buah pepaya. Jika Anda masih jarang mengonsumsi pepaya, ada baiknya simak aneka manfaat kesehatan pepaya seperti yang kami sitat dari Life Mojo berikut ini.

Buah pepaya merupakan sumber yang baik bagi:
+. Enzim Papain
+. Vitamin A
+. Vitamin C
+. Beta Karoten
+. Mineral Essensial
+. Enzim Arginine
+. Enzim Carpain
+. Serat alami

Sementara itu keuntungan kesehatan dari pepaya adalah:

1. Merawat kulit dan rambut
Pepaya amat menguntungkan bagi kesehatan kulit. Aplikasi jus pepaya bagi kulit mencegah serta menyembuhkan aneka gangguan pada kulit seperti jerawat, kulit, kulit yang terbakar dan lain-lain.

Selain itu pepaya juga mampu berfungsi untuk mengangkat sel kulit mati dan membuat kulit terlihat lebih cerah. Pepaya juga mampu menghilangkan noda-noda cokelat dan bintik-bintik pada kulit.

Pepaya juga menjadi bahan dasar krim serta masker kulit. Antioksidan yang terkandung dalam pepaya mencegah penuaan prematur pada kulit dan membuat kulit Anda terlihat lebih muda. Pepaya juga membuat rambut menjadi sehat dan mencegah terjadinya ketombe.

2. Meningkatkan sistem imun tubuh
Kandungan vitamin A dan C serta beta karoten pada pepaya meningkatkan sistem imun tubuh. Mengonsumsi pepaya secara rutin amat baik bagi mereka yang sering terserang penyakit flu, batuk serta flu.

3. Anti radang
Enzim yang mampu mencerna protein dalam pepaya seperti papain dan chymopapain merupakan sumber yang baik bagi anti inflamasi atau peradangan.

Selain itu vitamin A dan C serta beta karoten dalam pepaya juga efektif untuk menyembuhkan kondisi peradangan. Karenanya pepaya adalah buah yang baik baik mereka yang menderita sakit asma, osteoarthritis serta rheumatoid arthritis.

4. Menyehatkan organ pencernaan
Pepaya akan membantu organ pencernaan. Kehadiran enzim papain membantu proses pencernaan dan mencegah terjadinya konstipasi atau sembelit. Jus pepaya membantu menghilangkan infeksi dalam saluran pencernaan.

Buatlah jus pepaya setiap 3-4 hari untuk membantu membersihkan perut dan usus. Jus pepaya ini juga bekerja sebagai tonikum bagi perut.

Menurut para pakar serat dalam pepaya membantu mengusir toksin penyebab kanker pada usus besar serta mencegah penyebarannya ke sel-sel usus yang sehat. Kandungan folat, vitamin C, beta karoten serta vitamin E pada pepaya juga mencegah timbulnya kanker.

5. Mencegah penyakit jantung
Pepaya juga efektif mencegah terjadinya atherosclerotic serta penyakit jantung diabetik. Konsentrasi pro-vitamin A, carotenoid phytonutrients dalam pepaya membantu pencegahan kedua penyakit itu.

Nutrisi ini mencegah terjadinya oksidasi kolesterol sehingga mencegah terjadinya penimbunan pada dinding arteri yang akan menjadi plak berbahaya yang bisa memicu serangan jantung dan stroke.

Serat dalam pepaya juga membantu menurunkan tingkat kolesterol jahat atau LDL (Low Density lipoprotein).

 

Pertanian Indonesia tidak Berkembang

22 February 2013 06:38:12 Dibaca : 124

Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumatra Selatan (Sumsel) menilai kondisi pertanian di Indonesia berdasarkan hasil penelitian terhadap kebijakan pertanian 2008 hingga 2009 tidak banyak berubah. Demikian dikatakan Ketua SPI Sumsel J.J. Polong di Palembang, Selasa (17/11).

Menurut Polong, arah pembangunan pertanian yang dituangkan pada program revitalisasi pertanian perikanan dan kehutanan (RPPK) hanya menghasilkan ketergantungan di sektor pertanian pangan. Dia mengatakan, janji pemerintah periode Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla yang selalu disampaikan mengenai pembaruan agraria tidak banyak memberi perubahan.

Polong mengatakan, semua itu dapat diraba. Pertama, jalan ditempuh untuk realisasi pembaruan agraria adalah tidak tepat atau salah arah, yakni sebatas administrasi pertanahan berupa sertifikasi, yang barang tentu tidak akan mengubah ketimpangan struktur agraria/tanah.

Kemudian, RPPK tentang reformasi agraria sebagai jalan legal yang menerjemahkan UUPA 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria hingga detik ini tidak diterbitkan.

Berikutnya, meningkatnya petani korban yang tergusur dan dikriminasi dalam konflik agraria, dimana penyelesaian konflik agraria tidak berjalan, dan terakhir terkait subyek dan objek penerima manfaat pembaruan agraria tidak jelas.

Selanjutnya, dia menyampaikan konflik agraria akan terus terjadi selama pembaruan agraria yang berpihak kepada rakyat tidak dilaksanakan.

Demikian juga, ketimpangan agraria hanya diselesaikan dengan sertifikasi lahan bukan dengan penyelesaian struktural, katanya. Mengenai pengadaan benih, menurut JJ Polong, sebagian besar benih untuk tanaman pangan dikontrol oleh perusahaan multinasional.

Dari studi SPI, tercatat rata-rata 45,4 persen modal petani terutama komoditas padi dihabiskan untuk membeli input luar yang mahal, termasuk benih, pupuk, dan racun.

Pada tahun 2009, petani masih tergantung pada benih impor, dukungan bagi pengembangan benih pangan berbasis komunitas tidak dijadikan sebagai salah satu cara memandirikan petani, kata dia pula.

Ia menilai, program pemerintah untuk menjadikan pertanian berbasis organik (Go-Organic 2010) hanya akan menjadi slogan saja, karena pencapaiannya tidak ada.

Hal ini tercermin dari anggaran disediakan hanya kurang dari 4 persen dari total subsidi pupuk, 96 persen dialokasi bagi pupuk yang diproduksi industri kimia, kata dia lagi.

Kemudian, kelembagaan distribusi pupuk bersubsidi masih dipertahankan dengan model pengusaha sebagai ujung tombak, dimana keterlibatan organisasi massa dari petani dan kelembagaan pemerintah yang minim. (Ant/MI/ICH)

Revolusi Hijau dan Penyuluhan Pertanian

22 February 2013 06:36:00 Dibaca : 186

etika revolusi hijau (green revolution) dikenalkan awal 1970-an dan berkembang hingga terbukti ampuh dengan pencapaian swasembada beras nasional tahun 1984, penyuluhan pertanian banyak disebut sebagai salah satu kunci kisah sukses tersebut. Kini hampir seperempat abad setelah even tersebut, nampaknya menjadi momen yang penting untuk mengengok kembali eksistensi dan kondisi terkini atas penyuluhan pertanian.

Penyuluhan pertanian secara umum dipahami sebagai kegiatan menyebarluaskan informasi pertanian serta membimbing usahatani terhadap petani. Dinamika perjalanan penyuluhan pertanian bergerak sejalan dengan dinamika sosial, politik dan ekonomi nasional. Ketika kebijakan nasional memberi prioritas yang tinggi pada pembangunan pertanian maka aktivitas penyuluhan berkembang dengan sangat dinamis, dan sebaliknya ketika prioritas pembangunan pertanian tidak menjadi agenda utama maka penyuluhan pertanian mengalami masa suram dan stagnasi.
Kejayaan Masa Lalu
Terlepas dari kontraversi dampak revolusi hijau terhadap aspek sosial, ekonomi dan lingkungan sumber daya, fakta sejarah telah mencatat masa kejayaan penyuluhan pertanian dalam mensukseskan program swasembada pangan. Berbagai dokumentasi badan internasional maupun nasional mencatat prestasi gemilang atas peran penting penyuluhan pertanian.

Sejak awal tahun 1970-an para petugas penyuluh dalam berbagai level dibawah program bimbingan missal (BIMAS) bahu membahu memberikan bimbingan teknis (know-how) kepada petani untuk mempraktekan budidaya padi terpadu yang dikenal dengan “panca usaha tani”. Dengan dukungan politik dan finansial yang baik, penyuluh dapat menjalankan fungsinya dengan lancar. Sistim penyuluhan latihan dan kunjungan (training and visit) yang diadopsi dari model Bank Dunia-FAO dapat dikembangkan dengan efektif.

Penyuluhan pertanian yang sistematis tersebut merupakan salah satu faktor penentu kesuksesan menggenjot produkivitas padi. Sebelum introduksi revolusi hijau, produktivitas padi hanya berkisar pada 1-2 ton/ha. Pengunaan sarana produksi dan sistim budidaya padi modern telah mampu meningkatkan produktivitas padi menjadi 2-4 ton/ha.

Setelah pencapaian swasembada beras, prioritas pembangunan nasional nampaknya tidak lagi perpihak pada pertanian. Dalam dokumen kebijakan pembangunan, setelah tahapan prioritas pembangunan pertanian, dilanjutkan dengan pembangunan industri yang berbasis pertanian. Dalam prakteknya, hal itu tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Industri-industri yang dikembangkan tidak berkaitan sama sekali dengan pertanian. Sudah bisa diduga bahwa pembangunan pertanian mengalami stagnasi bahkan kemunduran yang luar biasa.

Terkait dengan penyuluhan pertanian, sistem kelembagaan dan sistem tata kerjanya juga mengalami perubahan dengan pola yang tidak jelas. Afiliasi kelembagaan serta tuntutan kompetensi penyuluh juga berubah dengan arah yang tidak berpola. Ketika masa revolusi hijau penyuluh di lapangan yang langsung bersentuhan dengan petani memiliki homebase di Balai Penyuluhan Pertanian/BPP yang ada di setiap kecamatan, namun sejak tahun 1990-an kelembagaan menjadi tidak jelas bahkan banyak yang dibubarkan.

Dalam hal kompetensi penyuluh, orientasi berubah-ubah dari tuntutan kompetensi tunggal misalnya tanaman pangan (monovalen) menjadi kompetensi plural (polivalen). Setelah beberapa waktu, tuntutan kompetensi juga dikembalikan lagi ke monovalen. Hal ini membingungkan penyuluh di lapangan. Implementasi UU Otonomi Daerah juga semakin membuat penyuluhan pertanian menjadi tidak pasti baik dalam afiliasi kelembagaan maupun personalianya. Meskipun salah satu hal ideal yang ingin dicapai dengan otonomi daerah adalah mendekatkan pelayanan kepada khalayak sesuai dengan kondisi lokal, namun dalam prakteknya masih jauh dari harapan.

Bagi daerah dimana kepala daerah dan politisi lokalnya memiliki perhatian besar pada pembangunan pertanian maka pembangunan dan penyuluhan pertanian berkembang pesat. Namun sebaliknya, cukup banyak kepala daerah dan politisi lokal yang tidak memandang penting atas pembangunan pertanian, akibatnya kedudukan penyuluhan pertanian menjadi tidak jelas bahkan banyak yang dibubarkan.

Revitalisasi Penyuluhan
Masa-masa suram pembangunan pertanian dan lebih khusus lagi penyuluhan pertanian telah berdampak pada stagnasi produksi pertanian. Hal ini juga telah medorong pemerintah pusat dan DPR untuk merancang perundangan penyuluhan pertanian. Melalui pembahasan panjang dan melelahkan, pada Oktober 2006 telah diundangkan UU No.16/2006 tentang Sistim Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (SP3K). Salah satu amanat UU tersebut adalah pembentukan kelembagaan penyuluhan di berbagai level administrasi pemerintahan, selain itu pemerintah daerah harus berkontribusi terhadap pendanaan kelembagaan dan operasionalisasinya.

Dalam prakteknya tidak mudah, interpretasi UU Otonomi Daerah yang memberi ruang besar bagi kepala daerah dan DPRD untuk mengatur kelembagaan daerah kadang-kadang mengabaikan dan tidak memberi ruang yang cukup atas amanat UU SP3K. Implementasi kebijakan penyuluhan yang lain adalah perekrutan petugas penyuluh bantu/kontrak yang ditagetkan mencapai 10.000 orang sampai dengan 2007. Langkah ini cukup membantu mengatasi persoalan kekurangan penyuluh lapangan di daerah akibat banyak petugas pensiun atau beralih lembaga dan profesi setelah otonomi daerah.

Dalam banyak kasus, kinerja penyuluh bantu juga diragukan karena dengan status kontrak sebagian digunakan sebagai batu loncatan untuk mencari pekerjaan yang lebih permanen. Status tersebut mempengaruhi semangat dan kinerjanya di lapangan sehingga perlu ditinjau kembali.

Tantangan Masa Depan
Sejalan dengan perubahan global, dunia pertanian mengalami dinamika yang luar biasa. Model pendekatan lama dimana penyuluhan merupakan agen transfer teknologi dan informasi sudah tidak cukup. Tuntutan di lapangan semakin rumit sehingga jika penyuluhan pertanian sebagai penyedia public goods tidak bisa berperan dengan baik maka akan semakin ditinggalkan oleh penguna tradisionalnya. Pada saat ini penyuluh lapangan swasta yang juga merupakan pelayan teknis perusahaan sarana produksi nasional dan multinasional juga telah merambah ke desa-desa.

Daram era baru pertanian, penyuluh lapangan dituntut untuk memiliki fungsi paling tidak dalam tiga hal yaitu transfer teknologi (technology transfer), fasilitasi (facilitation) dan penasehat (advisory work). Untuk mendukung fungsi-fungsi tersebut, penyuluh pertanian lapangan mestinya juga menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Tema-tema penyuluhan juga bergeser tidak hanya sekedar peningkatan produksi namun menyesuaikan dengan isu global yang lain misalnya bagaimana menyiapkan petani dalam bertani untuk mengatasi persoalan perubahan iklim global dan perdagangan global. Petani perlu dikenalkan dengan sarana produksi yang memiliki daya adaptasi tinggi terhadap goncangan iklim, selain itu teknik bertani yang ramah lingkungan, hemat air serta tahan terhadap cekaman suhu tinggi nampaknya akan menjadi tema penting bagi penyuluhan pertanian masa depan.