Makna dan Dinamika Emosi dalam Lagu Terlalu Tinggi oleh Juicy Luicy
Lagu Terlalu Tinggi yang dipopulerkan oleh Juicy Luicy menggambarkan dinamika emosional dalam hubungan romantis, khususnya perasaan euforia yang bercampur dengan ketakutan akan kehilangan. Lirik lagu ini menggunakan metafora layang-layang untuk merepresentasikan pengalaman seseorang yang merasa terangkat tinggi dalam cinta, tetapi sekaligus khawatir akan jatuh. Fenomena ini sejalan dengan penelitian tentang dinamika hubungan dan dampaknya terhadap individu yang mengalaminya (Carter, Knox, & Hall, 2018).
Romantisme dan Ketakutan dalam Hubungan
Lirik lagu ini menunjukkan bahwa seseorang dapat menikmati cinta yang membahagiakan namun tetap dihantui ketakutan akan perpisahan. Dalam konteks psikologis, Carter et al. (2018) menyebutkan bahwa pengalaman putus cinta bisa menjadi kehilangan yang sulit bagi sebagian individu, tergantung pada keterikatan emosional dan mekanisme koping yang mereka miliki. Lirik seperti "Terlalu tinggi, terlalu tinggi, di atas awan ku nikmati dua sisi" menggambarkan bagaimana individu mengalami paradoks emosional dalam hubungan: kebahagiaan ekstrem yang disertai kecemasan akan ketidakpastian.
Pengaruh Musik terhadap Persepsi Emosi
Musik memiliki peran penting dalam membentuk dan memperkuat emosi seseorang. Studi oleh Guo et al. (2020) menunjukkan bahwa musik sedih dapat memodulasi persepsi rasa sakit dan meningkatkan refleksi emosional individu. Hal ini relevan dalam konteks lagu Terlalu Tinggi, yang dengan nada melankolisnya memperkuat kesan kehilangan dan ketakutan yang tersirat dalam lirik. Warrenburg (2020) juga menegaskan bahwa musik sedih dapat dikategorikan dalam dua tipe utama: musik yang menggugah kesedihan mendalam dan musik yang menimbulkan refleksi emosional. Lagu ini tampaknya termasuk dalam kategori kedua, di mana pendengar tidak hanya merasakan kesedihan tetapi juga melakukan refleksi terhadap pengalaman pribadinya dalam cinta dan kehilangan.
Simulasi dan Ketidakstabilan dalam Hubungan
Secara konseptual, hubungan romantis dapat dianalogikan dengan model dinamika yang tidak stabil, sebagaimana dijelaskan oleh Qian et al. (2006) dalam konteks simulasi dinamika pemisahan. Ketidakstabilan dalam hubungan dapat terjadi ketika seseorang merasa terbawa terlalu jauh dalam euforia cinta, tetapi kemudian menghadapi kenyataan bahwa segala sesuatu tidak selalu berada dalam kendali mereka. Dalam lagu ini, ketidakstabilan hubungan tergambar melalui permohonan berulang dalam lirik seperti "Ku mohon jangan kau lepaskan aku", yang menunjukkan ketidakpastian dan kecemasan individu terhadap keberlanjutan hubungan.
Kesimpulan
Lagu Terlalu Tinggi bukan sekadar lagu romantis biasa, melainkan refleksi emosional yang mendalam tentang dinamika cinta dan ketakutan akan kehilangan. Dengan pendekatan akademik, dapat dilihat bahwa perasaan yang digambarkan dalam lagu ini memiliki relevansi dengan penelitian mengenai kehilangan dalam hubungan (Carter et al., 2018), dampak musik terhadap emosi (Guo et al., 2020; Warrenburg, 2020), serta ketidakstabilan dalam hubungan yang dapat dijelaskan melalui model simulasi (Qian et al., 2006). Lagu ini bukan hanya menyampaikan perasaan secara artistik, tetapi juga menjadi cerminan dari pengalaman emosional yang umum dialami dalam dinamika hubungan manusia.
Daftar Pustaka
Carter, K. R., Knox, D., & Hall, S. S. (2018). Romantic Breakup: Difficult Loss for Some but Not for Others. Journal of Loss and Trauma, 23(8), 698–714. doi:10.1080/15325024.2018.150252
Guo, S., Lu, J., Wang, Y., Li, Y., Huang, B., Zhang, Y., … Xia, Y. (2020). Sad Music Modulates Pain Perception: An EEG Study. Journal of Pain Research, 13, 2003–2012. doi:10.2147/JPR.S264188
Qian, D., McLaughlin, J. B., Sankaranarayanan, K., Sundaresan, S., & Kontomaris, K. (2006). SIMULATION OF BUBBLE BREAKUP DYNAMICS IN HOMOGENEOUS TURBULENCE. Chemical Engineering Communications, 193(8), 1038–1063. doi:10.1080/00986440500354275
Warrenburg, L. A. (2020). Redefining sad music: Music’s structure suggests at least two sad states. Journal of New Music Research, 49(4), 373–386. doi:10.1080/09298215.2020.1784956