Cardinal Fish I

29 October 2012 19:08:31 Dibaca : 267 Kategori : Pulau Peling
 
 

 

Spesies ikan Banggai Cardinalfish, Pterapogon kauderni (Koumans 1933) dimanfaatkan sejak tahun 1990-an sebagai ikan hias. Endemik pada perarian dangkal disekitar Kepulauan Banggai, spesies tersebut dinilai terancam punah oleh beberapa studi akibat pemanfatan berlebihan dan degradasi habitat. Pada tahun 2007, kelestarian spesies tersebut enjadi isu hangat di tingkat internasional dengan usulan oleh Amerika Serikat pada lampiran II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) pada Cop 14 CITES Juni 2007. Akhirnya usulan tersebut ditunda dan Indonesia berkomitmen untuk mengembangkan pengelolaan Baggai cardinalfish secara lestari. Pengelolaan tersebut perlu didasri pada biologi dan kebutuhan ekologis Penelitian sejak 1998 oleh para peneliti dalam dan luar termasuk sejak tahun 2004 oleh tim peneliti, telah menemukan beberapa data dan informasi penting mengenai biologi dan ekologi P. kaudemi, yang bersifat paternal mouthbrooder with direct development, sehingga tidak memiliki fase pelagis. Rekrut yand dilepas oleh induk jantan langsung mencari perlindungan pada mikro habitat atau simbiont, dan berperilaku sedentary pada seluruh fase hidupnya. Pemanfaatan mikro-habitat atau sibiont diduga berubah pada fase-fase tertentu dalam daur hidupnya, fenomena: yang disebut pmtpgemetoc shift. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena tersebut. Hasil menunjukkan kecenderungan ontogenetic shift dalam mikro-habitat P. kauderni. Bulubabi, yang selama ini dianggap sebagai ssimbiont utama P. kauderni, semua ukuran ikan teramati. Rekrut maupun juvenil mencari perlindungan diantara tentakel anemone, namun ikan dewasa jarang mendekati anemone dan tidak masuk di antara tentakel, bahkan menghindari kontak terlalu dekat Sedangkan di karang keras (terutama koloni karang bercabang) ikan dewasa sering terdapat, namun rekrut sangat jarang teramati. Hasil lainnya adalah bahwa salah satu asumsi awal yang didasari pada hasil peneliti sebelumnya, yaitu bahwa pola reproduksi P. kauderni dipengaruhi oleh siklus bulan namun tidak berubah secara signifikan dengan musim tahunan, ternyata dapat diragukan. Dinilai penting adanya penelitian lanjutan terhadap pengaruh musim dan perubahan lingkungan terhadap pola reproduksi dan survival rate P. kauderni.