ARSIP BULANAN : October 2013

Untold History of Pangeran Diponegoro (8)

31 October 2013 13:58:04 Dibaca : 357

Bab 3

SUROMENGGOLO BERSAMA TIGA LELAKI LAINNYA sudah duduk bersila di ruangan agak besar berdinding bambu yang tidak dilabur dengan kapur, sehingga bilik-biliki bambu yang mengikat dengan saling-silang itu menampakkan keasliannya. Sebuah pelita kecil sengaja diikatkan di pokok bambu, tepat di bagian tengah atas ruangan. Keempat orang itu merupakan bagian dari pasukan telik sandi yang sengaja dikirim Diponegoro ke daerah-daerah musuh untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang berbagai hal.

Di luar, suara hewan malam terdengar bersahut-sahutan. Sesekali di kejauhan, lenguhan monyet menimpali. Suaranya begitu memilukan, bagai meneriakkan nasib rakyat pribumi yang terus-menerus menderita di bawah kekejaman Belanda dan antek-anteknya.

Suromenggolo sungguh-sungguh kagum dengan Susuhunan Paku Buwono IV. Keponakan dari Pangeran Diponegoro inilah-bersama Pangeran Mangkubumi[1]-yang menganjurkan agar pamannya memilih Gua Selarong sebagai basis perlawanan gerilya. Wilayah Selarong dengan beberapa guanya memang sangat strategis. Tempatnya berada di ketinggian sebuah bukit, dikelilingi hutan yang masih lebat walau tidak luas. Jalan dari dan menuju gua hanya satu dan itu pun kecil sehingga sulit dilalui kereta yang ditarik kuda. Walau berada di ketinggian, namun Gua Selarong yang berada di selatan Yogyakarta ini tak begitu jauh dengan dengan garis pantai Laut Kidul, tempat yang disukai Diponegoro untuk tafakur .

Di bawah Gua Selarong terdapat perkampungan yang sudah ramai oleh rumah penduduk. Walau demikian, kontur daerah ini memang menjadikannya sangat cocok untuk dijadikan markas komando dalam kacamata militer.

Setelah menyimak dan menimbang saran dari Paku Buwono VI, Pangeran Diponegoro akhirnya mengakui jika usul keponakannya tersebut memang tepat. Gua Selarong memang sebuah benteng alami yang cukup tangguh.

Sebagai seseorang yang dididik dan dibesarkan panglima pasukan khusus pengawal raja, Pangeran Diponegoro tahu banyak soal strategi perang. Ratu Ageng tidak hanya memberinya pengetahuan keagamaan, tetapi juga membekalinya dengan dasar-dasar kepemimpinan dan kemiliteran, pengetahuan tentang taktik perang, penggunaan senjata, manajemen pasukan, dan lain sebagainya.

Sebab itulah, walau tidak dilakukan tiap malam, selepas pengajian dan di saat yang lain sudah beristirahat atau kembali berjaga di posnya masing-masing, Pangeran Diponegoro selalu mengadakan pertemuan terbatas dengan para telik sandi terpilih untuk memantau perkembangan di luar sana.

Pangeran Diponegoro percaya dengan informasi yang disampaikan para telik sandinya. Di sisi lain, tanpa sepengetahuan para telik sandinya, Diponegoro juga membentuk unit kontra intelijen yang mengawasi dan mengecek semua informasi yang diterima dari bawahannya. Yang terakhir ini direkrut dari orang-orang yang sangat dipercayainya, walau pun jumlahnya tidak banyak. Ustadz Taftayani sendiri yang telah membaiat mereka dengan kitab suci al-Qur’an di atas kepala.

Tiba-tiba pintu bilik yang bagian luarnya terbuat dari bambu bergerak terbuka. Deritnya terdengar pelan. Dari pintu yang terbuka tampak Ki Guntur Wisesa yang pertama memasuki ruangan, diikuti Pangeran Diponegoro, Ustadz Taftayani, Pangeran Bei, seorang pengawal khusus, dan kemudian barulah beberapa orang sesepuh dan para senopati. Salam pun ditebarkan, dijawab kembali dengan salam saling mendoakan kebaikan bagi semuanya. Mereka duduk melingkar di tengah ruangan, diterangi temaram satu-satunya pelita kecil yang diikat di atas dekat wuwungan.

Tidak ada yang bersuara hingga Ustadz Taftayani membuka pertemuan.

“Bagaimana laporanmu Suromenggolo?” bisiknya langsung ke pokok pertemuan.

Lelaki yang disapa Suromenggolo mengangguk pelan. Murid sekaligus orang kepercayaan Kiai Mojo, ulama kharismatik dari Desa Mojo yang berada di utara Surakarta, ini tidak segera menjawab. Dia mengedarkan terlebih dahulu pandangannya ke sekeliling ruangan. Walau nyaris gelap, namun dia bisa merasakan jika seluruh pimpinan pasukan jihad fi sabilillah Kanjeng Gusti Pangeran berkumpul di sini.

Setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, masih sambil duduk bersila, Suromenggolo membungkukkan badan dan mulai mengeluarkan suaranya. Terdengar seperti orang berbisik, namun bisa didengar dengan jelas.

“Alhamdulillah. Semakin banyak ulama dan para pendekar yang menyatakan dengan tegas jika mereka akan bergabung dengan kita….”

Pangeran Diponegoro dan semua yang ada di dalam ruangan tersebut juga mengucapkan hamdallah tanda syukur kepada Allah subhana wa ta’ala. Beberapa tahun lalu, Pengeran Diponegoro dan yang lainnya memang bergerak di segenap penjuru negeri untuk menggalang kekuatan untuk memerangi dan mengusir Belanda.

Orang pertama yang dikunjungi Diponegoro adalah Kiai Abdani dan Kiai Anom di Bayat, Klaten. Kedua kiai ini tidak saja menyatakan dengan tegas kesanggupannya untuk bergabung namun juga memberi Diponegoro tambahan ilmu bela diri. Dari Bayat, Diponegoro bersama Pangeran Mangkubumi melanjutkan perjalanan ke Sawit, Boyolali, untuk menemui Kiai Modjo, seorang Kiai kepercayaan Kanjeng Susuhunan Pakubuwono VI. Kiai Modjo pun mendukung penuh Pangeran Diponegoro. Lalu dengan diantar Kiai Modjo, Pangeran Diponegoro menemui Tumenggung Prawirodigdoyo di Gagatan. Tumenggung ini adalah orang kepercayaan Susuhunan Paku Buwono VI.

Dan atas saran Kiai Modjo dan Tumenggung Gagatan inilah, Pangeran Diponegoro pun menemui Paku Buwono VI, keponakan Diponegoro sendiri.

“Hampir semua ulama yang saya temui di sekitar Merapi, Dieng, Merbabu, Kulon Progo, dan lainnya, semua siap bergabung dengan Kanjeng Pangeran. Bukan saja para ulama, namun juga para pendekar dan jagoan-jagoan setempat. Mereka sudah muak dengan Belanda. Mereka hanya tinggal menunggu perintah dari Kanjeng Pangeran.”

Ustadz Taftayani mengangguk-angguk. “Alhamdulillah, ini perkembangan yang baik. Namun ketahuilah, jika perang yang akan kita lakukan ini adalah perang sabil, Jihad fi sabilillah. Perang yang semata-mata bertujuan untuk meninggikan kalimat Allah dan menghapuskan segala kezaliman. Sebab itu, kita harus mengaktifkan pengajian-pengajian di seluruh negeri, agar semua yang nantinya bergabung dengan kita memahami apa tujuan dan hakikat perang ini. Bagaimana Pangeran?”

“Insya Allah, saya juga berpendapat sama. Kita akan memetik kemenangan. Tidak ada sedikit pun rasa takut dan cemas menghadapi hari esok bagi orang-orang beriman. Kematian adalah kepastian. Dan hanya orang-orang beriman dan tawakal yang kematiannya akan benar-benar indah. Insya Allah, Ustadz, dan juga yang lainnya, para senopati dan para ulama, mulai besok kita akan menggencarkan pengajian kepada semua orang yang bersedia bergabung dalam kafilah tauhid ini. Insya Allah..,” ujar Diponegoro.

“Lantas, bagaimana dengan Danuredjo, Kisanak?” tanya Ustadz Taftayani kembali kepada Suromenggolo.

“Danurejo makin tak terkendali, Ustadz. Tadi pagi seorang ibu yang sedang hamil tua bersama dua orang anak kecil yang dibawanya dilarang lewat jembatan di Desa Jotawang, hanya karena uang yang dimiliki sang ibu tadi untuk bayar pajak jalannya kurang. Danurejo ada di sana. Dia tengah menginspeksi pos-pos jalan utama. Dia sendiri yang kemudian memerintahkan ibu itu dan anak-anaknya untuk menyeberangi Kali Code yang berbatu-batu yang ada di bawah jembatan. Akhirnya ibu dan anak-anaknya itu pun terpaksa menyeberangi kali. Dan celaka, mereka jatuh dan terbawa hanyut air kali yang deras. Tidak ada yang berani menolongnya karena Danurejo dan pasukannya melarang semua orang yang ada di situ untuk menolong mereka….”

“Astaghfirullah al-adziem....,” desis semua yang ada di sana.

“Dasar anjing Belanda!” umpat Ki Singalodra geram. Giginya sampai terdengar bergemeletuk saking marahnya.

“Teruskan Kisanak…,” ujar Ustadz Taftayani. (Bersambung)

[1] Pangeran Mangkubumi merupakan anak dari Sultan Hamengku Buwono II atau yang lebih populer disebut sebagai Sultan Sepuh. Sultan Hamengku Buwono II ini sangat anti penjajah Belanda. Sikap ini diwariskan oleh Pangeran Mangkubumi. Pangeran Diponegoro sendiri lebih dekat kepada Sultan Sepuh ketimbang terhadap ayahnya sendiri, Sultan Hamengkubu Buwono III yang tidak begitu tegas, bahkan beberapa kali dengan jelas mendukung Belanda. Bersambung.

Sumber

Untold History of Pangeran Diponegoro (7)

24 October 2013 14:34:18 Dibaca : 283

Di masa itu, perempuan-perempuan dan laki-laki Jawa-termasuk di kalangan bangsawan kraton-lazim menikah di usia yang masih relatif sangat muda. Ketika Diponegoro dilahirkan, Raden Ayu Mangkarawati, sang ibu, masih berusia 14 tahun, dan ayahnya 16 tahun[1]. Dan sudah menjadi kelaziman jika sang anak kemudian diasuh oleh nenek atau buyutnya. Hal ini merupakan tradisi leluhur agar sang anak mendapatkan pendidikan dan pengasuhan yang benar dari seseorang kerabat yang jauh lebih matang dan dewasa. Suatu konversi budaya yang saat ini sudah punah.

Sesuai amanah khusus dari Hamengku Buwono I, bayi Diponegoro diasuh oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng. Ratu Ageng dikenal sebagai seorang permaisuri yang sangat taat pada agama dan luas ilmunya. Sampai tahun 1792, ketika suaminya masih berkuasa, Ratu Ageng mengasuh Diponegoro di kraton dan kemudian meneruskannya di Puri Tegalredjo setelah suaminya wafat.

Selain seorang pendidik, Ratu Ageng juga merupakan Panglima Bregada Langen Kesuma-kesatuan pasukan elit khusus perempuan pengawal raja, seperti hanya Trisat Kenya di zaman Amangkurat I-pada masa kekuasaan Mangkubumi.

Bregada Langen Kesuma merupakan kesatuan khusus pengawal raja yang sangat tangguh. Walau semua anggotanya perempuan, namun pasukan berkuda ini dilengkapi dengan senjata api laras panjang dan pendek, pedang, keris, tombak, trisula, dwisula, dan lain sebagainya. Keterampilan mereka dalam olah senjata dan olah kanuragan jangan diragukan lagi.

Ada sebuah kisah yang terjadi pada bulan Juli 1809. Ketika itu Marshall Hermann Wilhelm Daendels berkunjung ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam salah satu jamuan penyambutan, diperlihatkan atraksi dari Bregada Langen Kesuma dan dia terkagum-kagum melihat atraksi pasukan khusus perempuan ini. Sejarawan Carey mengatakan jika Langen Kesuma merupakan satu-satunya kesatuan militer pribumi yang mampu membuat Daendels berdecak kagum ketika melihatnya.

Selain Daendels, J. Greeve bersama Residen Surakarta Hartsinch juga pernah menyaksikan Bregada Langen Kesuma ini. Mereka disambut dengan salvo senapan dan meriam yang dipergilirkan dengan amat sempurna.

Markas dari kesatuan istimewa ini berada di Pesanggrahan Madyaketawang. Lapangan latihan menembak bagi pasukan ini berada di alun-alun Pungkuran, di selatan kraton. Serat Rerenggan Karaton, Pupuh XXII, Sinom, menyebutkan:

“Sanggrahan Madya Ketawang, lamun miyos Sri Bupati, pratameng Langenkusuma, lir priya praboting jurit, tinonton saking tebih, saengga priya satuhu, samya munggeng turangga, myang yen gladhi neng praja di, angreh kuda neng ngalun-alun pungkuran.”

Artinya lebih kurang sebagai: “Di Pesanggrahan Madyaketawang, dan datanglah Sri Bupati (maksudnya Sri Sultan) untuk menyaksikan mereka, seorang perempuan yang menjadi pemimpin pasukan Langen Kesuma, penampilannya mirip prajurit lelaki, dilihat dari jauh, tampak seperti prajurit laki-laki sungguhan, semua naik kuda, menuju tempat latihan di ibukota, yaitu di Alun-alun Pungkuran.”

Selain menempa pasukan khusus perempuannya dengan ilmu perang dan kanuragan, Ratu Ageng juga membekali mereka dengan ilmu agama sehingga pakaian pasukan ini terbilang sangat sopan, dengan tetap mengedepankan kebebasan gerak untuk berperang. Ratu Ageng sebagai pengasuh Pangeran Diponegoro adalah panglima pasukan khusus ini. Bukan hanya sebagai panglima, Ratu Ageng juga merupakan seorang permaisuri raja yang sangat peduli dengan nilai-nilai keislaman. Sebab itulah, selain menempa seorang Diponegoro dengan cara-cara seorang ksatria, Ratu Ageng juga membekali cicit kesayangannya ini dengan ilmu agama yang cukup dalam.

Namun berbeda sikapnya dengan Diponegoro, terhadap anak kandungnya sendiri Ratu Ageng malah tidak akur. Ini disebabkan karena Raden Mas Sundoro dianggap tidak taat dalam menjalankan perintah agama, walau Raden Mas Sundoro sendiri dikenal sangat anti terhadap penjajah Belanda.

Sebab itulah, ketika Hamengku Buwono I turun tahta dan digantikan oleh Raden Mas Sundoro yang kemudian dikenal sebagai Hamengku Buwono II di tahun 1792, Ratu Ageng memilih untuk keluar dari lingkungan kraton yang dianggapnya sudah cemar oleh tradisi kafir Belanda. Ratu Ageng lebih memilih tinggal di sebuah dusun terpencil yang kelak dikenal sebagai Tegalredjo, berjarak sekira tiga kilometer barat kraton. Diponegoro ikut diboyong keluar dari kraton dan tinggal di dusun di tengah-tengah rakyatnya sendiri.

Dari Kraton, Puri Tegalredjo tepat berada di arah barat laut, arah yang dijadikan kiblat bagi umat Islam di Nusantara untuk sholat. Di dalam kompleks puri, Ratu Ageng juga membangun sebuah masjid di sebelah barat laut bangunan utama puri yang berupa pendopo utama.

Karena dibesarkan dalam lingkungan kawulo alit atau rakyat kecil, maka dalam jiwa seorang Diponegoro tumbuh rasa kepedulian yang sangat besar kepada orang-orang kecil. Apalagi sejak kecil Diponegoro melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa seorang Ratu Ageng, permaisuri seorang raja, tidak merasa rendah ketika harus bergaul dengan kawulo alit. Bahkan Ratu Ageng ikut terjun langsung bercocok tanam di sawah dengan kaki dan tangan penuh lumpur. Ratu Ageng harus bekerja, karena dia harus menghidupi keluarganya sendiri disebabkan dia menolak bantuan keuangan dari kraton yang dianggapnya sudah dikotori oleh kemaksiatan dan kezaliman.

“Akan jauh lebih mulia di hadapan Allah jika aku bekerja dengan tangan dan kakiku sendiri, ketimbang hidup dengan bertumpu pada uang kotor yang berasal dari memeras keringat dan darah rakyat!” tegasnya.

Diponegoro juga melihat betapa Ratu Ageng sangat gandrung pada literatur-literatur keagamaan, sejarah, dan juga sastra, sehingga rumahnya yang sederhana di Tegalredjo bagaikan sebuah perpustakaan kecil. Sebaliknya, terhadap harta benda, Ratu Ageng tidak memiliki minat yang besar. Dia hanya memiliki barang-barang primer yang memang dibutuhkan dalam rumah tangga seperti kebanyakan orang.

Semua pengajaran yang diberikan Ratu Ageng dan para ulama yang dipanggil maupun yang didatangi langsung oleh Diponegoro muda menyebabkan Pangeran Diponegoro menjadi seorang pemuda yang bersahaya. Seluruh kehidupannya diusahakan dengan keras mengikuti teladan Rasulullah SAW. Dia sering menyamar sebagai orang kebanyakan, mengenakan ikat kepala dan kain wulung dan berbaju hitam. Diam-diam dia sering membaur bersama para santri di pondok-pondok pesantren di pedesaan dengan menggunakan nama samaran Ngabdurakhim. Di saat samarannya hampir terbongkar, dia akan segera pindah ke pondok pesantren yang lain. Selain itu, Diponegoro juga senang mengembara, keluar masuk hutan, tinggal di gua-gua untuk menyendiri, dan menatap lama-lama deburan ombak dan langit Laut Kidul.

Pangeran Diponegoro tahu betul, kehidupan para pembesar kraton yang sebagian besar masih kerabatnya, kian hari malah kian jauh dari tuntunan agama. Para pejabat kraton yang notabene sudah memeluk Islam, semakin hari malah semakin mesra dengan kafir Belanda. Islam bagi mereka hanyalah identitas formal, sedangkan kelakuannya sudah tidak ada beda lagi dengan kelakuan kaum kafir Belanda yang menyukai dansa-dansi sampai pagi, minum-minuman keras, gila harta dan judi dengan taruhan gadis-gadis penari.

Martabat Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang tadinya begitu tinggi dan mulia kini sudah cemar, dikotori kafir Belanda dan sebagian besar pembesar kraton sendiri yang sudah lupa dengan jatidirinya.

Sebab itu, ketika Hamengku Buwono III, ayah kandungnya, hendak menobatkannya sebagai putera mahkota-walau Diponegoro bukan berasal dari permaisuri, namun selir-dengan tegas dia menolaknya. Ustadz Taftayani tahu, penolakan Diponegoro lebih disebabkan ketidaksukaannya terhadap campur tangan Belanda dalam kekuasaan kraton. Bahkan pengangkatan seorang raja pun harus disetujui Belanda dan Residen Belanda-lah yang melantik seorang raja. Diponegoro amat muak dengan semua ini. Itulah yang melatarbelakangi penolakannya untuk menjadi raja di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dengan penuh keikhlasan, dia menunjuk adiknya yang masih belia, Raden Mas Jarot, untuk menerima posisi sebagai putera mahkota. Dihadapan orang-orang terdekatnya, Diponegoro ketika itu mengatakan,

“Rakhmanudin dan kau Akhmad, jadilah saksi saya, kalau-kalau saya lupa, tolong ingatkan pada saya, bahwa saya bertekad tidak mau dijadikan pangeran mahkota, walau pun seterusnya akan diangkat menjadi raja, seperti ayah atau nenenda. Saya sendiri tidak ingin itu terjadi. Cukuplah saya menjadi seperti apa yang ada sekarang, dekat dengan Gusti Allah dan rakyatku. Saya bertobat kepada Allah Yang Maha Besar. Hidup di dunia tiada akan lama dan saya tidak ingin hidup saya ini nantinya dikotori oleh kafir Belanda. Saya tidak ingin hidup dengan menanggung dosa…”[2]

Bagi Diponegoro, kehidupan penuh glamor di dalam kraton sama sekali tidak menarik hatinya. Baginya kraton adalah tempat yang penuh dengan dosa, dan dia tidak mau ikut terkotori. Diponegoro lebih menyukai hidup dan berada di tempat yang sepi, untuk mencari kesejatian dan makna hidup, menggali ilmu agama, dan pengetahuan yang bermanfaat.

Seorang Diponegoro lebih menyukai menjalin silaturahim dengan para alim-ulama dan rakyat biasa, ketimbang berdekat-dekatan dengan penguasa. Sejumlah ulama besar yang dekat dengan Diponegoro antara lain Kiai Muhammad Bahwi, penghulu utama kraton, lalu Haji Baharudin yang menjadi Komandan Pasukan Suronatan, Kiai Kasongan, Kiai Papringan, juga dengan Kiai Baderan ayah dari Kiai Mojo, dan lain-lain. Dan seorang Ustadz Muhammad Taftayani merasa bersyukur bisa menjadi salah satu guru bagi orang yang berhati mulia ini.

“Ustadz… silakan lanjutkan paparannya. Saya hendak keluar dahulu,” ujar Pangeran Diponegoro membuyarkan semua ingatan Muhammad Taftayani[3] tentang murid kesayangannya itu.

“Astaghfirullah.. saya melamun. Silakan Pangeran. Dan karena hari sudah semakin malam, pengajian kali ini kita cukupkan sampai disini dahulu. Mudah-mudahan iman Islam yang kita miliki mampu untuk mengikat hati kita semua dalam perjuangan yang sebentar lagi akan mendatangi kita. Cepat atau lambat, semuanya akan diuji oleh perjuangan ini. Saya berdoa agar Allah subhana wa ta’ala nanti memasukkan dan mengumpulkan kita semua di dalam jannah-Nya. Amien ya Rabb. Apakah kisanak semua masih ada pertanyaan?”

Ketujuh lelaki dewasa yang ada di hadapan Ustadz Taftayani saling berpandangan dan kemudian menggelengkan kepala.

“Baiklah. Nanti kita akan berkumpul kembali dalam pengajian berikutnya. Untuk saat ini saya cukupkan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.“

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab semuanya.

Pengajian telah berakhir malam itu. Para prajurit ada yang beristirahat, ada pula yang bertugas jaga. Sedangkan dua senopati, sejumlah sesepuh, dan pimpinan pasukan lainnya bergabung di sebuah rumah yang cukup besar di bagian bawah Gua Selarong. Seperti yang dilakukan setiap malam, semuanya akan mendengar pemaparan perkembangan terakhir situasi Yogyakarta dan juga kraton dari para telik sandi atau mata-mata yang dikirim ke berbagai tempat. Pangeran Diponegoro akan langsung memimpin pertemuan tersebut. [] (Bersambung)

[1] Bendoro Raden Mas Mustahar atau Bendoro Raden Mas Ontowiryo atau Pangeran Diponegoro dilahirkan 11 November 1785. Ayahnya, Raden Mas Surojo atau yang kemudian dikenal sebagai Hamengku Buwono III dilahirkan pada 20 Februari 1769.

[2] Kalimat yang diucapkan Pangeran Diponegoro ini tertulis di dalam Babad Diponegoro jilid I hal.39-40.

[3] Menurut laporan Residen Belanda tahun 1805, Ustadz Taftayani yang berasal dari Sumatera Barat itu mampu memberikan pengajaran dalam bahasa Jawa dan pernah mengirimkan anak-anaknya ke Surakarta, pusat pendidikan agama pada waktu itu. Di Surakarta, Taftayani menerjemahkan kitab fiqih Sirat Al-Mustaqim karya Nuruddin Ar Raniri ke dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan, Pangeran Diponegoro belajar Islam dengan serius. (Dr. Kareel A. Steenbrink, 1984, “Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19″, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta hal. 29). Sumber

Untold History of Pangeran Diponegoro (6)

21 October 2013 07:22:45 Dibaca : 319



Bab 2

ISLAM TIDAK PERNAH BERSEKUTU DENGAN Thagut, sebagaimana air yang tidak pernah bersatu dengan minyak, atau pun al-haq yang tidak akan pernah berdamai dengan kebathilan. Ustadz Muhammad Taftayani menegaskan salah satu prinsip Islam ini di dalam setiap pengajiannya. Seperti juga malam ini, digelar ‘taklim dadakan’ yang hanya diikuti tujuh orang anggota pasukan baru, yakni Ki Singalodra dan enam orang lainnya yang di antaranya para senopati terpilih yang sengaja dikirim oleh Raja Surakarta, Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VI[1] yang juga merupakan keponakan Diponegoro. Hal ini dilakukan Paku Buwono VI untuk membantu persiapan perjuangannya pamannya itu.

Selain sejumlah senopati pilihan, Susuhunan Paku Buwono VI juga mengirimkan pasukan-pasukan kraton terlatih dan dana perang yang tidak sedikit.

Di dalam gua dengan penerangan sebuah obor kecil di sudut belakang, terhalang tiga gundukan batu yang besar, Ustadz Taftayani duduk bersila di atas batu datar menghadap ke bagian pintu gua. Dari tempat bersilanya, ulama dari Minangkabau yang sudah menetap di Tegalredjo tersebut bisa melihat dua sosok prajurit yang berjaga di pintu masuk gua. Walau hanya duduk, tidak berdiri seperti layaknya orang yang tengah berjaga, namun mereka tetap waspada.

Malam ini, setelah bergabungnya Ki Singalodra ke dalam barisan Mujahidin, beserta sejumlah orang baru, Ustadz Muhammad Taftayani segera menggelar pengajian yang bertujuan untuk menyamakan persepsi tentang perjuangan yang tengah dipersiapkan melawan kafir Belanda dan antek-anteknya. Semua anggota pasukan Diponegoro harus memiliki persepsi yang sama di dalam jihad fi sabilillah, sebab itu, setiap ada anggota baru yang bergabung, maka dia setidaknya harus melewati tiga tahapan penting: bertobat dan memperbaharui syahadatnya, serta memiliki pemahaman yang lurus dan benar tentang makna jihad di Jalan Allah.

Materi pertama malam ini adalah akidah atau Panji Syahadatain. Salah satu bagiannya mengupas tentang Thagut atau ‘tuhan yang lain’.

Dengan suara yang pelan namun jelas, Ustadz Taftayani menerangkan, “…Thaghut merupakan tuhan selain Allah subhana wa ta’ala. Segala pandangan hidup, keyakinan, hukum, norma, peraturan, tradisi, dan sebagainya yang tidak berasal dari hukum Allah, atau malah bertentangan dengan syariat dan akidah Allah, maka itulah Thagut… Apakah ada yang ingin bertanya?”

Ki Singalodra mengacungkan tangannya, “Ustadz, apakah bea kerig-aji[2]juga bisa dianggap sebagai Thagut?”

“Bea kerig aji, sama saja dengan bea pacumpleng[3], bea pangawang-awang[4], bea pajigar[5], bea wikah-welit[6], bea pajongket[7], bea bekti[8], bea jalan, bea pertunjukan[9], bea penimbangan[10], dan banyak lagi yang lainnya. Semua ini merupakan sebagian kecil dari banyak sekali jenis-jenis pajak yang dibebankan penjajah kafirin Belanda kepada rakyat kecil. Jika tidak salah, sekarang ini ada lebih dari 34 jenis pajak yang harus dibayarkan rakyat kepada pemerintah kafir Belanda. Berbagai pajak ini amat menyusahkan rakyat kecil yang memang hidupnya melarat. Kezaliman ini tentu bertentangan dengan Islam. Dan sistem kekuasaan seperti ini, dimana rakyatnya hidup susah, namun para pejabatnya hidup bermewah-mewah, jelas merupakan sistem Thagut. Sistem ini harus diakhiri, dihancurkan, dan diganti dengan sistem yang adil….”

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…” Tiba-tiba Pangeran Diponegoro sudah berada di dalam gua bergabung dengan mereka.

“Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh...,” jawab Ustadz Taftayani dan seluruh yang hadir. Sang Pangeran kemudian duduk bersila di belakang Ki Singalodra. Ketika menyadari siapa yang duduk di belakangnya, lelaki brewokan itu segera bergeser untuk memberi ruang kepada Diponegoro. Dia benar-benar tidak enak hati jika harus duduk membelakangi Kanjeng Pangeran. Tetapi Diponegoro dengan lembut malah menahannya.

“Biarlah saya di sini saja. Kisanak tetap di situ…,” bisiknya sambil tersenyum.

Ki Singalodra tidak bisa berbuat apa-apa selain tetap duduk pada tempatnya semula. Walau hatinya merasa teramat sungkan.

“Pangeran,” ujar Taftayani. “… kita disini sedang membahas pajak dan Thagut. Apakah ada yang ingin ditambahkan?”

“Apakah soal pajak di Tanah Jawa ini sudah disinggung, Ustadz?”

“Sedikit. Silakan paparkan…”

Diponegoro terdiam seperti tengah mencari sesuatu. Mungkin kalimat pembuka. Dia kemudian mulai berbicara. Suaranya terdengar halus, namun mengandung kekuatan.

“Pajak awalnya diniatkan sebagai salah satu cara untuk mengisi pundi-pundi kas suatu negeri, agar negeri tersebut dapat mengelola dan membangun wilayahnya, termasuk rakyatnya…,” paparnya.

Kemudian dia melanjutkan, “…Keberadaan pajak sangat penting, jika suatu negeri memang tidak punya sumber lain yang bisa dimanfaatkan, misalnya sumber daya atau kekayaan alam. Namun tidak di Tanah Jawa, tidak juga di Nusantara. Allah subhana wa ta’ala telah menitipkan sebagian kekayaan yang ada di surga di tanah ini. Tanah ini sangat subur. Emas permata ada di mana-mana. Belum lagi kekayaan alam lainnya, baik yang ada di darat, laut, maupun udara. Kalau dikelola dengan baik, negeri ini bisa memakmurkan rakyatnya tanpa memungut pajak sedikit pun. Memungut pajak di negeri yang kaya seperti di Tanah Jawa ini adalah haram hukumnya…”

Ki Singalodra dan keenam orang lainnya hanya tertegun mendengar kalimat yang disampaikan Pangeran Diponegoro. Sangat jelas dan tegas.

“Lantas mengapa kafir Belanda memajaki rakyat kita seperti sekarang? Bahkan orang-orangnya Patih Danuredjo juga memusuhi rakyatnya sendiri…” tanya Pangeran Diponegoro. Kemudian dia sendiri yang menjawabnya, “Karena kafir Belanda adalah penjajah bagi bangsa ini. Penjajah selalu melakukan perampokan terhadap bangsa yang dijajahnya. Baik perampokan yang dilakukan terang-terangan, juga perampokan yang dilakukan secara diam-diam, atau berkedok macam-macam, ya seperti pajak yang sekarang ada. Pajak sekarang ini sudah menjadi sumber bagi pejabat untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Para pejabat di negeri ini kian hari kian rakus dengan kelezatan dunia. Kegilaan mereka ini tidak pernah terpuaskan. Yang menjadi korban adalah rakyat kebanyakan…”

“Apakah sebab itu kita harus memerangi mereka? Bagaimana berperang atau jihad fisabilillah itu?” tanya salah seorang senopati yang kemarin baru dikirim Paku Buwono VI.

Diponegoro menengokkan wajahnya ke arah Ustadz Taftayani. Namun ustadz itu malah mempersilakan Diponegoro untuk menanggapinya, “Silakan Pangeran…”

“Perang di dalam Islam bersifat membebaskan,” jawab Diponegoro, “…sebab itu, jika suatu kota atau negeri telah ditaklukkan oleh kaum Muslimin, maka istilahnya bukanlah penaklukan, kalah, dan sebagainya, tetapi Futuh. Futuh berasal dari bahasa arab yang berarti ‘pembebasan’ atau ‘membebaskan’. Membebaskan dari apa? Yaitu membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah subhana wa ta’ala, baik itu ketundukan kepada hukum yang zalim, sistem yang salah, penguasa yang korup, dan sebagainya. Itulah esensi perang di dalam Islam, membebaskan manusia dari kebathilan dan kezaliman…”

Mendengar itu, Ustadz Taftayani tersenyum puas. Dia benar-benar menyayangi murid yang satu ini. Ulama rendah hati dari tanah seberang ini tahu jika Pangeran Diponegoro, yang terlahir dengan nama Bendoro Raden Mas Mustahar, yang kemudian dikenal sebagai Bendoro Raden Mas Ontowiryo, pada 11 November 1785 di Kraton Yogyakarta ini memiliki banyak keistimewaan.

Diponegoro[11] adalah anak tertua dari Sultan Hamengku Buwono III dan Raden Ayu Mangkarawati. Ketika melihat dan memangku bayi Diponegoro, Sultan Hamengku Buwono I haqul yaqin jika suatu hari nanti Diponegoro akan tumbuh menjadi pembebas rakyat dari kezaliman dan kesengsaraan.

“Bayi ini akan menjadi orang yang memimpin perang besar untuk mengusir penjajah Belanda dari tanah Jawa. Dia akan menimbulkan kerusakan yang sangat besar pada kafir Belanda. Dia akan menjelma menjadi orang besar yang dicintai rakyatnya, melebihi diriku,” tegas Sultan Hamengku Buwono I yang juga kakek buyut dari Diponegoro. Sebab itu, Sultan secara khusus mengamanahkan agar bayi Diponegoro kelak diasuh dan dididik permaisurinya sendiri, Ratu Ageng. (Bersambung)

[1] Kanjeng Susuhunan Paku Buwono VI lahir di Surakarta, 26 April 1807 dan meninggal dalam pembuangan Belanda di Ambon, pada tanggal 2 Juni 1849. Nama aslinya Raden Mas Sapardan. Beliau naik tahta dalam usia 16 tahun dan setahun kemudian, dalam usia 17 tahun, beliau telah menjadi pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro yang loyal walau terikat perjanjian dengan Belanda. Pakubuwana VI meninggal dunia di Ambon pada tanggal 2 Juni 1849. Menurut keterangan resmi Belanda, beliau meninggal karena kecelakaan saat berpesiar di laut.

Di tahun 1957, jasad Pakubuwana VI dipindahkan dari Ambon ke Astana Imogiri, kompleks makam keluarga raja Mataram. Pada saat makamnya digali, ditemukan bukti bahwa tengkorak Pakubuwana VI berlubang di bagian dahi. Menurut analisis Jenderal TNI Pangeran Haryo Jatikusumo (putera Pakubuwana X), lubang tersebut seukuran peluru senapan Baker Riffle. Ditinjau dari letak lubang, kematian Pakubuwana VI jelas ditembak pada bagian dahi, bukan kecelakaan.

[2] Pajak atas kepala atau pajak yang dikenakan pada setiap orang, besar dan kecil tanpa perkecualian.

[3] Pajak atas pintu rumah.

[4] Pajak atas pekarangan rumah.

[5] Pajak atas hewan ternak.

[6] Pajak atas kepemilikan lahan kebun atau sawah, walau luasnya hanya sedikit.

[7] Pajak yang dikenakan bila hendak pindah rumah.

[8] Pajak jika seseorang bertukar tuan tanah atau majikan.

[9] Pajak pertunjukkan resminya dikenakan pemerintah kepada warga desa jika ada pertunjukkan kesenian atau hiburan lainnya. Namun nyatanya, walau tidak pernah ada pertunjukkan hiburan, rakyat tetap diharuskan membayar jenis pajak ini.

[10] Pajak penimbangan padi dilakukan ketika panen. Tapi faktanya, seperti juga pajak pertunjukkan, padi-padi hasil panen para petani tidak pernah ditimbang, namun tetap dikenakan pajak. Bahkan banyak petani miskin diwajibkan kerja di lahan pertanian milik bupati tanpa dibayar sepeser pun.

[11] Nama asli Diponegoro adalah Bendoro Raden Mas (BRM) Mustahar. Lahir di keraton Jogyakarta, pada Jum’at Wage, 7 Muharram Tahun Be (11 Nopember 1785). Tahun 1805, Sultan HB II mengganti namanya menjadi Bendoro Raden Mas (BRM) Ontowiryo. Adapun nama Diponegoro dan gelar Pangeran baru disandangnya sejak tahun 1812 ketika ayahnya naik takhta.

Sumber

Untold History of Pangeran Diponegoro (5)

18 October 2013 17:24:59 Dibaca : 273

Ketika melihat Ki Singalodra yang berkuda sambil menggendong seorang bocah yang berlumuran darah, Ki Guntur Wisesa menyapanya lembut, “Assalamu’alaikummusalam warahmatullahi wabarakatuh, wahai Singalodra. Apa gerangan yang membawamu ke sini! Anak siapa yang kau bawa itu?”

Ketika mendengar sapaan yang lembut, hati Ki Singalodra yang tadinya panas mendadak sejuk, bagai bara api tersiram air pegunungan.

“Wa’alaikumusalam… Aku ingin bergabung dengan barisan Kanjeng Gusti Pangeran, wahai Ki Guntur Wisesa. Ini anakku, Surya Mandriga. Dia mati dibunuh Belanda tadi malam, juga isteriku… Izinkan aku menghadap Kanjeng Gusti Pangeran sekarang juga.”

Ki Guntur Wisesa bergerak meminggirkan kudanya, memberi jalan pada tamunya.

“Silakan Kisanak. Kami akan mengawal Kisanak sampai di atas sana…”

“Terima kasih, Ki Guntur…”

Ki Singalodra mengangguk takzim pada ulama-pendekar itu dan kembali memacu kudanya, namun tidak sekencang tadi. Kuda Ki Guntur Wisesa berjalan di depan. Sedangkan keempat anak buahnya mengapit di kiri kanan dan belakangnya. Mereka beriringan melintasi jalan utama yang terus menanjak menuju Gua Selarong yang berada di bawah sebuah bukit batu yang besar.

Setibanya mereka di pelataran yang landai di mana di hadapan mereka terbentang batu karang yang besar dengan sebuah tangga batu menuju ke atas, Ki Guntur Wisesa memberi aba-aba dengan sebelah tangannya yang diangkat ke atas.

“Ya, kita berhenti sampai disini. Kita turun dan berjalan kaki ke atas sana.”

Ki Guntur yang mengenakan pakaian serba putih melompat dari kuda dan menambatkannya pada salah satu pokok pohon yang ada di pinggir pelataran. Ki Singalodra juga melompat turun dari kudanya sambil masih menggendong Surya Mandriga.

“Mari Kisanak, ikut aku,” ajak Ki Guntur Wisesa. Dia menghampiri Ki Singalodra dan menawarkan diri untuk membantu menggendongkan anaknya. Namun Ki Singalodra menolaknya.

“Biar aku saja… Tolong tunjukkan saja jalannya.”

Kemudian Ki Guntur memerintahkan seorang anak buahnya berlari terlebih dahulu ke atas untuk memberitahukan kedatangan Ki Singalodra kepada Kanjeng Pangeran Diponegoro. Anak buah itu segera berlari ke atas.

“Sekarang kita tunggu dulu disini, Kisanak…,” ujar Ki Guntur.

Ki Singalodra menganggukkan kepala dan tetap berdiri dengan tegap di ujung bawah susunan bebatuan yang membentuk anak tangga menuju ke gua yang ada di atasnya.

Tak lama kemudian, anak buah yang tadi ke atas tampak berlompatan menuruni anak tangga yang sama. Dia langsung melapor kepada Ki Guntur yang berdiri di sisi kanan Ki Singalodra.

“Kanjeng Gusti Pangeran siap menerimanya….”

Anak buah itu kemudian bergerak menggeserkan badannya ke samping, memberi jalan kepada Ki Guntur dan Ki Singalodra. Keduanya lalu berlompatan bagai Kijang Kencana menaiki tangga batu yang cukup curam. Hanya dengan beberapa kali hentakan loncatan, badan mereka sudah melambung ke atas dengan cepat. Keempat prajurit muda yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan takjub. Mereka segera menyusul kedua orang itu dengan berlari menaiki tangga.

Setibanya di atas, Ki Singalodra tampak sedang diterima Pangeran Diponegoro. Ustadz Muhammad Taftayani, Pangeran Ngabehi Jayakusuma alias Pangeran Bei[1], Ki Guntur Wisesa, dan beberapa alim-ulama lainnya yang seluruhnya berpakaian putih-putih tampak mendampinginya.

Semuanya menyandang senjata. Ada yang menyelipkan keris di pinggang, ada pula yang memegang pedang.

Sebagaimana kawulo-alit yang bertemu dengan rajanya, sambil terus memeluk jasad anaknya, Ki Singalodra segera berlutut. Dengan kepala menunduk, lelaki dengan janggut dan cambang yang lebat ini berkata pelan, “Kanjeng Gusti Pangeran, hamba….”

Belum selesai lelaki itu mengucapkan perkataannya, Pangeran Diponegoro yang mengenakan jubah serba putih lengkap dengan surban hijau lembut yang menutupi sebagian kepalanya menyapa dengan lembut,

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh wahai Ki Singalodra… Semoga Allah Subhana wa ta’ala selalu melindungi, merahmati, dan memberkati Kisanak…”

Badan Ki Singalodra menggigil mendengar suara yang sangat berwibawa itu. Entah mengapa, mendengar salam dari orang-orang berjubah itu dia merasakan satu getaran yang aneh di dalam dirinya. Getaran yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Ki Singalodra tidak berani mengangkat wajahnya dari tanah. Dia tidak menjawab apa pun. Bibirnya yang juga bergetar bagaikan terkunci rapat.

“Bangunlah saudaraku. Tidak perlu berlutut seperti itu. Kita adalah sama. Semua manusia itu sederajat. Yang membedakan di antara manusia bukanlah keturunan, pangkat, atau jabatan, melainkan ketakwaannya kepada Allah subhana wa ta’ala…,” ujar Diponegoro lagi.

Lelaki dengan pakaian serba hitam itu perlahan bangun dan berdiri. Tangannya tetap memeluk jasad anaknya dengan erat. Ki Singalodra masih saja tidak berani menatap langsung wajah Diponegoro. Dia hanya melihat ke bawah.

“Gerangan apa yang membuatmu ke sini Kisanak?”

“Maafkan saya Kanjeng Gusti Pangeran… Saya ingin bergabung dengan Kanjeng Gusti Pangeran…”

Diponegoro tersenyum. Ustadz Muhammad Taftayani yang berdiri di samping Diponegoro membisikkan sesuatu ke telinga anak didiknya itu, “Sebaiknya kita urus dahulu jenazah anak itu…”

Pangeran Diponegoro mengangguk dan memanggil dua pengawalnya untuk mengurus jenazah anak dari Ki Singalodra itu.

“Maafkan saya Kisanak. Sebaiknya jenazah anak Kisanak diurus terlebih dahulu dengan baik. Sebagai Muslim, kita wajib memperlakukan jenazah dengan layak. Serahkan saja pada kita…”

Ki Singalodra segera menuruti perkataan Diponegoro. Dengan hati-hati dan berlinang airmata dia menyerahkan jenazah puteranya itu kepada dua orang pengawal yang segera menyambutnya.

Setelah jenazah anak itu dibawa, Pangeran Diponegoro berkata kembali, “Nah, apakah seorang Ki Singalodra sungguh-sungguh ingin berjihad di sisi kami dalam menegakkan kalimah tauhid di tanah Jawa ini? Mengusir kaum kafir Belanda dari negeri ini?”

Dengan mantap lelaki itu mengangguk, “Ya, Kanjeng Gusti Pangeran. Saya bersungguh-sungguh.”

“Apakah Kisanak mengetahui apa yang sedang kami perjuangkan disini?”

“Melawan Belanda…?”

“Itu betul. Namun tujuan kami lebih mulia dari itu semua. Belanda bukanlah musuh kami. Sebagaimana kami tidak memusuhi Danurejo dan orang-orangnya. Musuh kami adalah kekufuran dan kezaliman. Itu yang kami perangi. Kami tidak memerangi orang, tapi kami memerangi sistem yang melawan perintah Allah. Kami memerangi sistem thagut.”

“Thagut…?”

“Ya. Sebelum bergabung dengan kami, sebaiknya Kisanak bisa memahami dengan benar apa yang harus diperjuangkan oleh kita semua, kaum Muslimin, di dalam hidupnya. Untuk itu, jika tidak keberatan, Kisanak terlebih dahulu akan mengikuti pengajian yang akan disampaikan Ki Guntur atau Ustadz Taftayani. Beliaulah yang akan menerangkan kepada kita semua tentang apa dan bagaimana seharusnya berperang di dalam Islam. Saya pun saat ini masih selalu belajar memperdalam ilmu agama. Mari kita sama-sama belajar mendalami ilmu, karena itu adalah perintah agama.”

“Berperang di dalam Islam..?”

“Ya. Itu benar, Kisanak. Jihad fi sabilillah namanya. Semuanya nanti akan diterangkan oleh ustadz-ustadz yang ada di sini. Dan satu lagi…”

Ki Singalodra mengkerutkan dahinya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan perang dalam Islam. Baginya perang adalah membunuh musuh sebanyak-banyaknya, mengalahkannya, hingga musuh takluk. Itu saja.

Pangeran Diponegoro melanjutkan kalimatnya, “…semua yang ada disini harus memperbaharui akidahnya. Jika Kisanak bersedia, silakan mengikuti perkataan saya sekarang. Bagaimana?”

Lelaki berewokan itu menganggukkan kepalanya, “Baik Kanjeng Gusti Pangeran, saya bersedia.”

“Nah, sekarang ikuti perkataan saya...”

Di depan gua yang gelap pekat tanpa penerangan obor, dengan perlahan namun jelas, Pangeran Diponegoro berjalan mendekati Ki Singalodra yang masih berdiri mematung. Tanpa ragu Diponegoro mengangkat kedua tangannya memegang kedua bahu lelaki itu. Kemudian dia mulai mengucapkan dua kalimah syahadah yang diikuti kata demi kata oleh Ki Singalodra.

“Asyhadu ala Ilaha Ilallah… wa asyhadu alla Muhammad ar-Rasulullahu... Saya bersaksi, tiada tuhan yang patut disembah kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul utusan Allah…”

Dengan terbata-bata, jagoan dari Dusun Ngampilan yang jika mendengar namanya saja orang kebanyakan bisa gemetar itu mengucapkan dua kalimah syahadat. Ki Singalodra cukup cerdas. Sekali saja Diponegoro menuntunnya, dia sudah bisa mengikutinya. Setelah selesai, semuanya mengucapkan syukur.

“Alhamdulillahi Rabb al’Amien…“

Pangeran Diponegoro kemudian langsung memeluk Ki Singalodra dengan hangat. Bagai pelukan seorang kekasih yang lama tak berjumpa. Sama sekali tidak ada kecanggungan tampak di sana. Diponegoro, sang putera Sultan Hamengku Buwono III, dengan sangat akrab dan hangat memeluk erat seorang jagoan yang tangannya banyak berlumur darah orang lain. Hal ini langsung membuat hati Ki Singalodra luluh. Lelaki ini lumer dan menangis terisak.

“Dosa-dosaku sudah banyak, Kanjeng Gusti Pangeran… Apakah ada cara untuk menebusnya agar nanti saya bisa berkumpul dengan anak dan isteriku di surga?”

Pangeran Diponegoro masih memegang kedua bahu Ki Singalodra. Kedua matanya yang tajam tapi menyejukkan menatap langsung ke dalam mata lelaki itu.

“Saudaraku, Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Semua dosa umat-Nya akan diampuni asalkan kita mau bersungguh-sungguh bertobat, terkecuali dosa syirik, yaitu dosa karena menyekutukan Allah dengan sesuatu. Dosa syirik adalah dosa yang tak terampuni.”

“Bagaimana caranya agar saya bisa kembali berkumpul nanti dengan keluargaku di surga?” ulang Ki Singalodra.

“Berjihadlah dengan ikhlas, semata-mata demi tegaknya tauhid. Li ila kalimatillah. Asal kita tidak berhutang pada orang lain, setiap orang yang menemui kematian di jalan jihad, syahid fi sabilillah, dijamin Allah langsung masuk surga…tanpa dihisab.”

Kedua mata Ki Singalodra berbinar. Wajahnya menjadi cerah. “Terima kasih, Kanjeng Gusti Pangeran. Terima kasih. Saya akan berjihad disamping Paduka.”

Ustadz Taftayani maju ke depan. Dia kemudian menyalami dan juga memeluk Ki Singalodra. Setelah itu salah seorang guru dari Pangeran Diponegoro ini berdiri dan memberikan sambutannya, “Dahulu ketika menghadapi kaum musyrikin Quraisy, Allah subhana wa ta’ala mengirimkan seorang Hamzah bin Abdul Muthalib, untuk memperkuat barisan kaum Muslimin. Hamzah adalah Singa Allah dan Rasul-Nya. Dialah yang menjadi pahlawan Perang Badr dan Uhud. Dan sekarang, Allah subhana wa ta’ala mengirimkan bagi kita seorang Ki Singalodra yang gagah berani. Insya Allah, dengan izin Allah, dengan bergabungnya Ki Singalodra, barisa kita akan bertambah kuat. Cahaya kemenangan semakin dekat. Saya yakin, Ki Singalodra adalah Hamzah yang dikirimkan Allah kepada kita. Allahu akbar!”

“Amien ya Rabb! Allahu akbar!” teriak semua yang ada disitu. [] (Bersambung)

Sumber

Untold History of Pangeran Diponegoro (4)

17 October 2013 17:31:59 Dibaca : 319

Bab 1

178 tahun kemudian…

Gua Selarong, Yogyakarta, 1825

NYALI LEBIH PENTING KETIMBANG OTAK! Walau malam ini gelap gulita, tak ada bulan dan bintang yang menggantung di atas langit, namun Ki Singalodra tidak perduli. Lelaki kekar dengan wajah berewokan itu terus memacu kudanya seperti dikejar setan. Derap kaki kudanya menggetarkan bumi. Kepulan debu yang ditinggalkannya membentuk tabir pekat yang tak tembus pandang. Semua hewan malam menyingkir dari jalan jika tak ingin tergilas kegilaan kuda dan penunggangnya itu.

Jagoan dari Dusun Ngampilan ini memegang tali kekang hanya dengan sebelah tangan. Tangan yang satunya lagi memeluk seorang bocah kecil yang tubuhnya berlumuran darah. Bocah itu sudah tak bernyawa. Tubuh mungilnya bergerak-gerak, seirama gerak kuda yang terus berlari dengan amat cepat bagai terbang di atas tanah.

Dada Ki Singalodra sungguh-sungguh sesak, terbakar amarah. Setengah jam lalu dusunnya dibakar Belanda. Celakanya, saat itu dia tengah berada di dusun tetangga. Mendengar kabar mengejutkan itu, dia langsung pulang untuk menyelamatkan isteri dan anaknya. Namun terlambat. Gubuknya sudah terbakar habis. Seluruh isinya tlah jadi arang. Asap masih mengepul. Bara masih menyala merah di mana-mana. Dengan histeris tanpa memperdulikan bara yang terinjak kaki dan hawa panas yang masih menyengat kulit, lelaki itu terus mencari isteri dan anak semata wayangnya itu. Tapi nasi sudah jadi bubur. Isterinya ditemukan tergeletak tak bernyawa di dekat sumur. Perempuan yang sangat dicintainya itu terlihat sedang memeluk anaknya yang nyaris seluruh tubuhnya terbakar.

Dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihan sekaligus kemarahan yang amat sangat, lelaki itu berteriak histeris.

Dia segera mengambil anak itu dan memeluknya. Setelah mencium kening isterinya untuk yang terakhir kali, Ki Singalodra langsung melompat ke atas kuda hitamnya. Dengan sekali gebrak, kuda itu melesat pergi meninggalkan dusunnya.

Londo anjing!!!

Belanda telah menggali kapak peperangan dengan dirinya! Sia-sia saja selama ini dia mengabdi pada mereka, jika balasan yang diterimanya ternyata seperti ini! Tekadnya telah bulat. Yang dulu kawan mulai malam ini menjadi lawan terbesarnya. Sekarang juga dia akan bergabung dengan pasukan Kanjeng Pangeran Diponegoro yang tengah menyusun kekuatan untuk memerangi Belanda dari Tegalredjo dan Selarong.

Aku akan menjadi pedang yang paling tajam bagi Gusti Kanjeng Pangeran!

Bagi warga Merapi hingga sekitar Laut Kidul, nama Ki Singalodra sudah tak asing lagi. Sejak pulang dari bertapa dan berguru di berbagai gua, lembah, dan gunung beberapa tahun lalu, Ki Singalodra kembali ke dusunnya di Ngampilan dan menantang semua jagoan di sana. Tidak saja di Ngampilan, lelaki ini juga berkeliling untuk mengadu kesaktian melawan para jagoan lainnya di sekitar Merapi, Merbabu, Dieng, dan Lawu. Walau sempat beberapa kali kepayahan dan menderita luka dalam sejumlah perkelahian, namun kecerdikan dan kenekatannya membuat dirinya keluar sebagai pemenang. Sosok Ki Singalodra menjadi sosok yang ditakuti. Dia pun akhirnya bisa mempersunting gadis idaman hatinya, bunga Dusun Ngampilan, yang sejak kecil telah mencuri perhatiannya.

Ketenaran namanya didengar langsung Residen Yogyakarta. Pejabat Belanda ini akhirnya memerintahkan kepala pasukan setempat untuk merekrutnya. Tetapi karena Ki Singalodra tidak mau ditempatkan sebagai kepala regu pasukan reguler yang harus bekerja tiap hari dan wajib memiliki disiplin tinggi, akhirnya dia dipekerjakan sebagai tenaga khusus.

Sekarang, Ki Singalodra sama sekali tidak menyangka. Pengabdiannya yang total selama ini kepada Belanda, ternyata dibalas dengan sangat menyakitkan.

Ibarat pepatah, air susu dibalas dengan air tuba.

Sebab itu, tidak ada jalan lain. Mulai malam ini, dia akan mengubah haluan hidupnya seratus delapan puluh derajat. Dendamnya teramat sangat besar. Darah harus dibalas dengan darah. Nyawa harus diganti nyawa. Kedua matanya merah menyala-nyala.

Belanda, Patih Danuredjo, dan orang-orang kraton cecunguk asing itu sekarang menjadi musuh terbesarku!

Kedua mata jagoan dari Dusun Ngampilan itu lagi-lagi melotot garang. Dadanya sesak oleh amarah dan dendam.

Jalan tanah selebar tiga meter di depannya mulai menanjak lurus. Sebentar lagi dia akan tiba di pelataran menuju Gua Selarong, di mana Kanjeng Pangeran tengah berada. Mengingat sosok Pangeran Diponegoro, hatinya diliputi perasaan yang aneh. Antara semangat yang membara dan kerinduan yang teramat sangat.

Inilah jalanku!

Tiba-tiba kudanya berhenti dan mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi. Ringkikannya memecah keheningan malam yang sepi. Hampir saja Ki Singalodra terjatuh jika dia tidak kuat menahan tali kekangnya. Dia segera merapatkan tubuhnya dengan leher kuda sehingga keseimbangannya tetap terjaga. Sebelah tangannya tetap kuat mendekap tubuh anaknya. Tak jauh di depannya, empat lelaki dengan mengenakan baju wulung hitam dan ikat kepala yang juga hitam mencegatnya dengan tombak dan pedang terhunus. Salah satunya membawa obor di tangannya.

“Berhenti!” teriak mereka.

“Hendak kemanakah kisanak dan siapa yang digendong itu!” teriak salah satunya. Dengan penuh kewaspadaan, lelaki yang satu itu mendekati Ki Singalodra dari sisi kanan. Sedangkan yang satunya lagi bergerak menyamping ke sisi yang berlainan. Dua lelaki lainnya masih berdiri menghadang dengan senjata terhunus.

Ketika lelaki itu melihat wajah Ki Singalodra dengan jelas, wajah yang tak asing lagi dan sangat ditakuti orang-orang kampung, nyalinya agak bergetar. Namun bayangan sosok Kanjeng Pangeran Diponegoro yang setiap waktu memberinya nasehat keagamaan membuat dirinya kuat dan berani.

“Takutlah kalian hanya kepada Allah Subhana wa Ta’ala, bukan kepada mahluk-Nya. Allah Maha Kuat, sedang mahluknya sangatlah lemah…”

Tangan lelaki itu memperkuat genggaman tangannya pada gagang pedangnya, “Ternyata kau Singalodra. Hendak kemana engkau malam ini dan siapa lagi itu yang kau bunuh!”

Dengan penuh amarah, Ki Singalodra menjawab, “Ini anakku! Minggir kalian semua! Isteri dan anakku mati malam ini dibunuh Belanda! Aku mau menghadap Gusti Kanjeng Pangeran!”

Keempat lelaki yang menghadangnya tak percaya.

“Apa katamu? Bukankah engkau pelayan kafir Belanda! Janganlah berdusta. Pulanglah sekarang. Kembalilah kepada tuanmu itu sebelum kami membunuhmu!”

“Wahai prajurit, aku bicara jujur. Aku sekarang ingin menghadap Gusti Kanjeng Pangeran. Aku mau bergabung dengan kalian. Jika kalian masih saja menghadangku, maka terpaksa tanganku ini yang akan berbicara!” bentak Ki Singalodra dengan suara mengguntur. Semua orang tahu, Ki Singalodra memiliki ajian Brajamusti, suatu ilmu pukulan yang sangat mematikan. Bahkan korbannya bisa hangus terkena pukulan itu.

Keempat lelaki bersenjata pedang dan tombak itu bergerak mundur sesaat, namun mereka masih mengepung Ki Singalodra dengan penuh kewaspadaan. Pedang dan tombak masih terhunus. Masing-masing terdiam sejenak dalam situasi saling menunggu. Namun tiba-tiba suara derap kuda terdengar mendekat dari arah Gua Selarong.

“Tunggu! Berhenti! Siapa itu!”

Dalam formasi masih mengepung Ki Singalodra, keempat prajurit itu menoleh ke arah datangnya suara. Dari pekatnya malam, muncul seorang penunggang kuda dengan wajah yang sangat berwibawa. Sorot matanya tajam dengan kumis melintang. Ki Singalodra tahu, lelaki ini pastilah Ki Guntur Wisesa, seorang ulama yang juga pendekar dari lereng utara Gunung Merapi yang telah bergabung dengan barisan perlawanan Kanjeng Pangeran Diponegoro sejak dua tahun lalu. Dia belum pernah bertanding dengan orang ini karena Ki Guntur selalu saja menghindar dan sama sekali tidak tertarik untuk melakukan uji kesaktian melawannya.(Bersambung)

Sumber