KATEGORI : NOVEL P. DIPONEGORO

Untold History of Pangeran Diponegoro 16

11 December 2014 16:20:12 Dibaca : 243

Residen Yogyakarta ini kemudian berteriak agar prajurit jaga memanggil Patih Danuredjo, “Panggil itu patih ke sini menghadapku!”

Suryo Widhuro, sang prajurit penjaga kamar kepatihan, segera menghadap, “Inggih, Tuan Residen.”

Tak lama kemudian, dengan tergopoh-gopoh Patih Danuredjo datang ke ruangan di mana Smissaert berada. Baginya, panggilan dari residen Belanda merupakan panggilan yang sangat penting. Melihat wajahnya yang kusut, Danuredjo sepertinya juga baru terbangun dari mimpinya.

“Ada apa Tuan Residen memanggil saya pagi-pagi begini?”

“Diponegoro marah. Kowe harus baca itu surat!” ujar Belanda itu sambil melemparkan sebuah gulungan surat yang sudah terbuka segelnya. Patih Danuredjo dengan sigap menangkap gulungan surat itu dan membukanya. Wajahnya kemudian terlihat berseri-seri.

“Ha.. ha.. ha.. Ini bagus. Apa aku bilang. Dia marah besar. Sebaiknya orang kita memeriksa patok-patok yang ada di tanah makam itu sekarang juga. Jika dirusak, kita pasang lagi. Dan pagi ini juga kita panggil Diponegoro untuk menghadap kesini untuk menjelaskan tentang surat ini. Dia meminta Tuan untuk memecat saya. Ini sudah makar! Kita tangkap saja orang itu di sini!”

Smissaert mengangguk-angguk, “Well, kowe benar-benar pintar Danuredjo! Ya, periksa patok-patok itu sekarang dan kita panggil Diponegoro ke sini segera.”

Danuredjo ikut mengangguk dan terdiam. Biasanya, jika sedang demikian, orang itu tengah memikirkan sesuatu atau menyusun rencana. Benar saja. Tiba-tiba dia menyebut Pangeran Mangkubumi.

“Tuan Residen, Diponegoro masih sangat menghormati Pangeran Mangkubumi. Aku juga curiga dengan orang itu. Bagaimana kalau Mangkubumi saja yang kita suruh untuk menghadap Diponegoro dan menyampaikan undangan kita itu.”

“Bagus, itu juga rencana yang bagus.”

“Ya, saya takut kalau kita kirim kurir biasa, pemimpin pemberontak itu tidak akan mau datang.”

“Baiklah, kowe atur saja. Yang penting segera undang itu pemberontak Diponegoro ke sini menghadap kita. Kita tawarkan saja jabatan di kraton ini. Jika dia menolak ya tangkap saja.”

“Jabatan di kraton?” tukas Danuredjo agak curiga.

Smissaert terkekeh, “Jangan takut Patih, kowe tidak perlu cemas seperti itu…”

Danuredjo mengangguk-angguk tanda senang. “Ya, Tuan Residen. Saya tahu itu. Tapi menurut hemat saya, kita juga harus tetap menyiagakan pasukan, kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak kita duga.”

“Benar juga katamu. Kalau begitu panggil saja Chevallier ke sini. Di mana dia sekarang? Dan jangan lupa, kita panggil juga si Mangkubumi…” []

Bab 10

NUSANTARA ADALAH TEMPAT DI MANA ALLAH menitipkan sebagian kekayaan surga-Nya. Tanah dan air Nusantara teramat subur. Kekayaan alamnya berlimpah-ruah. Udaranya bersih dan iklimnya bersahabat. Letak Nusantara juga paling strategis di antara tempat di mana pun di dunia, di pandang dari segi apa pun. Inilah yang menyebabkan negeri ini sejak berabad lalu hingga sekarang menjadi rebutan kaum imperialisme dan kolonialis dunia, seperti halnya kafir Spanyol, Portugis, Inggris, Perancis, dan sekarang Belanda.

Ironisnya, walau turun-temurun telah menjadi penghuni wilayah yang sangat istimewa ini, rakyat Nusantara dari tahun ke tahun bukannya bertambah makmur dan sejahtera, malah bertambah miskin dan melarat. Belanda mengatakan jika hal itu disebabkan kemalasan dari orang-orang pribumi. Namun bagi Diponegoro, tudingan itu sama sekali tidak berdasar. Sebagai orang yang tumbuh besar bersama rakyat, dia tahu jika sejak sinar matahari menyingsing, sudah banyak orang-orang pribumi yang pergi ke sawah dengan cangkulnya, dan ada pula yang pergi ke pasar untuk menjual hasil bumi, atau menjual jasa sebagai tenaga angkut. Dan mereka baru berhenti atau pulang ketika matahari sudah jauh condong ke barat.

Bangsa ini adalah bangsa yang sangat rajin dan pekerja keras, namun jika bangsa yang seperti ini malah menjadi miskin dan melarat, maka pasti ada sesuatu yang salah dengan sistem kekuasaan yang ada.

Bagi seorang Diponegoro, satu-satunya jalan untuk mengeluarkan bangsanya dari kemiskinan adalah dengan mengusir penguasa kafir dari Nusantara dan menginsyafkan orang-orang pribumi yang sudah menjadi pelayan setianya. Thagut harus ditumbangkan dan dihancurkan, diganti dengan sistem sosial dan kemasyarakatan yang berkeadilan. Bukannya dengan mendekati thagut. Hal itu hanya bisa dicapai dengan perjuangan berlandaskan akidah yang kuat, lurus dan benar, dan sama sekali tidak bisa bekerjasama atau berkoalisi dengan Thagut atau kemungkaran.

“Kanjeng Pangeran…,” tiba-tiba Ki Singalodra sudah berdiri di sampingnya. Lelaki kekar dengan jambang dan janggut yang lebat ini-sehingga sangat mirip dengan seorang Warok Ponorogo-sekarang wajahnya terlihat lebih bersih dan rapi. Pangeran Diponegoro yang tengah berdiri melihat sawah yang membentang di hadapannya dengan latar belakang Gunung Merapi, menoleh ke samping. Ketika mengetahui siapa yang datang, Pangeran tersenyum.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ki Singalodra..”

“Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh, Kanjeng Pangeran…”

“Ada apa, Kisanak?”

Ki Singalodra menundukkan kepalanya.

“Kanjeng Pangeran… Terima kasih sudah menerima saya sebagai bagian dari barisan ini. Saya sebenarnya punya satu permintaan, maaf jika Kanjeng Pangeran nantinya tidak berkenan…”

“Katakan saja, Ki…”

“Saya ingin menjadi pengawal utama dari Kanjeng Pangeran. Biarkan saya menjaga Kanjeng Pangeran setiap waktu…”

Pangeran Diponegoro tersenyum bijak. Dia lalu menepuk-nepuk bahu Ki Singalodra. “Sebaik-baiknya penjaga kita adalah Allah subhana wa ta’ala, Kisanak…”

“Inggih, Kanjeng Pangeran. Saya juga paham. Tapi biarkanlah saya menjadi perpanjangan tangan dari Allah subhana wa ta’ala untuk menjaga diri Kanjeng Pangeran…”

“Terima kasih, Ki Singalodra… Apa yang menyebabkan Kisanak hendak menjadi pengawal utamaku…”

Ki Singalodra tiba-tiba terdiam. Wajahnya dilempar jauh menghadap ke sawah dan Gunung Merapi di kejauhan. Kedua matanya yang dilindungi alis yang tebal terlihat basah. Dengan bergetar menahan haru, lelaki itu berkata lirih, “Aku ingin cepat-cepat menggapai syahid fi sabilillah. Aku ingin cepat-cepat berkumpul kembali dengan isteri dan anakku di surga. Bukankah orang yang syahid akan membawa syafaat kepada keluarganya kelak?”

Diponegoro mengangguk pelan. Hatinya juga diliputih perasaan haru mendengar pengakuan bekas penjahat itu. Dia kemudian memeluk Ki Singalodra yang masih terisak. Orang itu agaknya benar-benar memendam rindu yang teramat sangat kepada isteri dan anak satu-satunya.

“Kisanak, janganlah mengkhawatirkan anak dan isterimu yang sekarang sudah hidup bahagia di surga. Mereka memang tengah menantikan hari di mana Kisanak bisa berkumpul bersama-sama mereka. Dalam salah satu hadits Nabi shalallahu wa’allaihi wasalam yang diriwayatkan dengan baik oleh Nasai, Rasululllah bersabda bahwa pada hari kiamat, anak-anak kecil akan berdiri lalu dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah ke surga.’ Maka mereka mengatakan,'(Saya akan masuk) sehingga bapak-bapak kami masuk (juga) ke surga.’ Lalu dikatakan kepada mereka,’Masuklah kalian dan bapak-bapak kalian ke surga. Jadi anak Kisanak itu sudah menunggu Kisanak di pintu gerbang surga. Janganlah cemas…”

Lalu Diponegoro membaca ayat-ayat Qur’an berkenaan dengan syahid fisabilillah. Antara lain surat al-Baqarah ayat 154, “Janganlah kalian berkata bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya.” Lalu juga surat Ali Imron ayat 169.

“Ketahuilah Kisanak.., siapa pun yang menggapai mati syahid, maka dia akan dapat memberikan syafaat bagi tujuhpuluh orang anggota keluarganya. Itu janji Rasulullah yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud.”

“Inggih, Kanjeng Pangeran. Sebab itu saya ingin cepat-cepat meraih syahid itu. Izinkan saya untuk menjaga Kanjeng Pangeran. Bagi saya dan teman-teman, pintu-pintu surga sebentar lagi akan membentang di depan mata. Namun bagi Kanjeng Pangeran tidak. Perjalanan Kanjeng Pangeran masih panjang. Kanjeng Pangeran harus membebaskan negeri ini dahulu dari tangan kaum kafir dan para pelayannya sebelum menemui syahid. Sebab itu izinkanlah saya mengawal Kanjeng Pangeran agar Kanjeng Pangeran bisa menunaikan tugas dengan paripurna…”

Kedua mata Pangeran Diponegoro berkaca-kaca. Maha Besar Allah. Hidayah bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Dan hidayah bisa mengubah seorang jagoan yang tangannya berlumuran darah seperti Ki Singalodra menjadi Singa Allah yang telah bertekad untuk menghibahkan jiwa dan raganya semata-mata di jalan Allah. Suatu perniagaan yang tidak akan pernah merugi hingga akhir dunia.

“Apa yang sebenarnya mendorong Kisanak untuk bergabung denganku melawan kafir Belanda?” 
Bersambung

Untold History of Pangeran Diponegoro (15)

05 November 2014 11:50:14 Dibaca : 171

Bab 8

Kantor Residen Surakarta, 19 Juli 1825

DENGAN WAJAH YANG SANGAT SERIUS, Residen Surakarta Mac Gillavry terlihat marah-marah sendiri di kantornya. Sekretarisnya hanya berdiam diri mendengar atasannya mengomel tak menentu. Sebabnya, tak lain dan tak bukan, karena surat peringatan akan bahaya Diponegoro yang ditulisnya-yang ditujukan bagi Residen Yogyakarta Smissaert-mendapat tanggapan yang dingin. Bahkan Smissaert menganggap Mac Gillavry terlalu berlebihan dan sedikit paranoid menghadapi Pangeran Diponegoro dan pasukannya.

“Keparat Residen Yogyakarta itu! Sudah saya bantu tapi dia tidak perduli! Dasar orang tak tahu berterimakasih! Kalau Yogya kacau, kita juga yang nanti kena getahnya. Maunya apa Smissaert itu! Pesta dan pesta! Perempuan dan whisky melulu! Dia terlalu menyepelekan Diponegoro…”

“Anthonie!” jerit Gillavry. Suaranya mengguntur menyakitkan gendang telinga.

Sekretaris Residen Surakarta yang sedari tadi berdiri di dekat pintu yang tertutup dengan agak takut menjawab, “Ya, Tuan.”

“Saya akan menulis surat lagi yang isinya lebih kurang sama. Tapi kali ini langsung ditujukan untuk Chevallier!”

“Asisten Sekretaris Residen Yogya itu, Tuan?”

“Ya, siapa lagi jika bukan dia! Cepat kau siapkan kertas dan pena. Saya akan diktekan!”

Anthonie van Huyn segera mengambil alat tulis dan menarik beberapa lembar kertas kosong. “Siap, Tuan.”

Mac Gillavry duduk di atas kursinya yang memiliki sandaran tinggi. Dengan mengangkat kedua kakinya ke atas meja kecil di samping kursi dia mulai mendiktekan suratnya yang kali ini ditujukan langsung bagi bawahan Smissaert. Dia akan potong kompas, sekaligus merendahkan rekannya itu.

“Amice,” ujarnya, “… De demang der desa Grojogan (de voornamste van boven bedoelde hoofden) is op last van den Pangeran Dipanegara met 100 man zjin gevolg naar Yogya vertrokken. Eenigen mijner spionnen zijn terug. Zij brengen de tijding, dat het plan bestaat om eerst Patjitan een te vallen en met die bevolking Yogya te vermeesteren. Zorg intusschen maar, dat hij, noch Dipanegara er iets van merken, dat wij hen bespionneeren”

Mac Gillavry mengambil nafas. Kemudian dia mulai mendiktekan kembali kelanjutan suratnya:

“…Een bijwijf van den demang heeft zich uitgelaten, dat hij naar Yogya was om nadere orders te ontvangen, meldt mij per extra-post wanner hij weer van Yogya vertrekt en laat dan door een knappen vent, slechts in de verte, nagaan of hij ook een anderen koerst neemt. Op de pasars alhier loopt het gerucht, dat er op Yogya prang (Oorlog) zak jineb eb dat het kleine volk reeds al zijn goederen geborgen heeft; dat de Rijksbestierder van Yogya de Merapi heeft beklommen om een gelofte te doen voor dien prang enz., deze merae nugae (loutere beuzeipraat) allen tot Uwe informatie. Vaarwel, H.C. Gillavry…”[1]

“Ya selesai. Coba aku baca dulu.”

Anthoine menyerahkan surat yang barusan ditulisnya. Mac Gillavry melihatnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Senyumnya kini sudah mulai mengembang.

“Hmm… bagus. Ya, seperti ini. Tulisanmu lama-lama bagus juga, Anthoine…,” ujarnya sambil melirik sekretarisnya itu.

“Terima kasih, Tuan,” jawab Anthoine tersipu-sipu. Selama delapan bulan bekerja dengan Gilavry, baru kali ini dia menerima pujian dari si gendut dengan kumis melintang itu.

“Sekarang tolong kamu kirimkan surat itu langsung kepada Chevallier. Secepatnya!” ujar Gillavry kembali berdiri dan menenggak segelas gula asam lagi, minuman tradisonal kesukaannya.

Anthoine menerima surat itu kembali, melipatnya dan memasukkannya ke dalam amplop yang kemudian disegel dengan lilin panas yang dicap simbol kerajaan Belanda. Lalu dia bergegas keluar ruangan menemui petugas jaga dan menyuruhnya untuk segera memanggil kurir khusus ke Yogyakarta. Tak lama kemudian, kurir yang dipanggil pun menghadap Anthoine dengan sikap badan yang terbungkuk-bungkuk.

“Serahkan surat ini kepada Residen Yogyakarta Smissaert sekarang juga.”

“Inggih, Tuan,” ujar kurir itu sambil berkali-kali membungkukkan badannya. Dia kemudian bergegas menuju kudanya yang ditambatkan di sayap kanan gedung karesidenan Surakarta. Dengan beberapa kali gebrakan kaki pada badan kuda, dia pun melesat meninggalkan Surakarta melewati jalan utama menuju Vredeburg Castle yang berada di utara Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bersambung

Untold History of Pangeran Diponegoro (14)

22 October 2014 12:59:45 Dibaca : 212

Diponegoro kemudian berdiri dan berjalan ke bilik kecil yang terdapat di samping masjid. Di ruangan sempit itu hanya ada sebuah ranjang kecil sederhana, sebuah meja kayu kecil, dan bangku kayu yang sudah sedikit bergoyang jika diduduki. Di atas meja itulah Pangeran Diponegoro menulis surat protes kepada Residen Yogyakarta A.H. Smissaert, yang isinya antara lain meminta agar Residen Yogyakarta itu memecat Patih Danuredjo yang dianggap sudah keterlaluan sikapnya sehingga hampir semua rakyat Yogyakarta memusuhi dia.

Tidak lama kemudian Diponegoro keluar dari biliknya dan kembali ke dalam masjid. Ahmad Prawiro masih duduk bersila di tempatnya didampingi Ustadz Taftayani.

“Ini suratnya, Ahmad. Pagi ini juga tolong berikan langsung kepada residen itu. Berangkatlah dalam nama Allah…”

“Insya Allah, Kanjeng Pangeran. Bismillah…“

Pemuda itu berdiri dan menerima surat yang telah digulung rapi dan dimasukkan ke dalam tabung bambu yang kemudian disimpan di dalam tas kulit yang disandangnya di bahu. Setelah pamit minta diri, Ahmad keluar dari masjid dan langsung melompat ke atas kudanya. Dengan sekali gebrak, kuda itu telah melesat keluar dari pekarangan Puri Tegalredjo.

Sepeninggal Ahmad, Pangeran Diponegoro kembali melanjutan pembahasan rencana perang dengan sejumlah sesepuh dan senopati. Setelah itu semua pasukan diperintahkan untuk kembali ke posnya masing-masing dengan kesiagaan penuh di sekeliling Puri Tegalredjo dalam radius berlapis. Demikian pula dengan pasukan telik sandi.

“Ustadz…”

“Ya, Kanjeng Gusti Pangeran…”

“Saya akan menulis beberapa surat perintah kepada orang-orang kita di pantai utara, di Mancanegara[1], serta di Bagelen dan Sukawati. Mereka harus mulai bersiap menyambut apa pun yang akan terjadi esok hari.”

“Surat perintah?”

“Benar, Ustadz. Saya menyerukan kepada semua rakyat Mataram, agar mulai saat ini tidak lagi takut kepada kafir Belanda dan antek-anteknya. Orang-orang yang mengaku Muslim tapi di dalam hidupnya menggantungkan diri dan keluarganya kepada thagut, yang menyerahkan loyalitasnya kepada thagut, bukan kepada Allah dan hukum-hukum-Nya, juga harus diperangi. Hanya Allah subhana wa ta’ala yang layak dan berhak ditakuti sekaligus dicintai. Saya hanya ingin mengatakan, jika terdengar meriam berdentum sepanjang hari dan malam, maka semuanya harus siap siaga. Itu saja.”

“Baik, Kanjeng Pangeran. Itu sudah cukup.”

“Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati[2], Ustadz! Ini prinsip kita.”

Ustadz Taftayani hanya tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. []

Bab 7

AHMAD TERUS MEMACU KUDANYA MELEWATI jalan utama dari Tegalredjo ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang sudah dipenuhi berbagai macam penghalang demi memperlambat gerak maju pasukan reguler Belanda yang biasanya menggunakan kereta penarik meriam. Penghalang itu bisa berupa batang pohon yang sengaja direbahkan melintang di jalan, batu-batu besar yang digulingkan secara acak, atau penggalian sejumlah ruas jalan sedalam setengah meter dengan lebar satu tombak. Di beberapa tempat yang hanya diketahui Laskar Diponegoro juga sudah dipasang jebakan dan perangkap berupa lubang-lubang yang ditutup bilik yang kemudian disamarkan dengan tanah. Siapa pun yang menginjak lubang itu akan jatuh dan tertusuk belasan mata tombak atau panah yang telah ditanam menghadap ke atas. Sebab itu, kurir dan rakyat kebanyakan sejak beberapa hari lalu menghindari jalan-jalan besar sekitar Tegalredjo dan memilih untuk melewati ‘jalan tikus’ yang walau kecil dan berliku namun aman.

Menurut informasi dari pasukan telik sandi, Residen Yogyakarta Smissaert pagi menjelang siang ini masih berada di dalam kraton usai pesta besar tadi malam. Namun beberapa kilometer sebelum pintu gerbang kraton, Ahmad terlebih dahulu mampir ke sebuah rumah di gang sempit sekitar Sosrowijayan untuk berganti pakaian. Ini adalah salah satu ‘rumah aman’ bagi pengikut Diponegoro yang tidak terlalu jauh dari jalan utama menuju pusat kraton.

Di dalam rumah itu, Ahmad mengganti songkok dan baju koko putihnya, dengan baju wulung hitam dengan penutup kepala yang berwarna gelap seperti kebanyakan penduduk sekitar. Setelah itu dia kembali memacu kudanya menuju kraton melewati jalan utama menuju gerbang kraton yang serupa garis lurus, yang sekarang dikenal sebagai Jalan Malioboro.

Dari atas kudanya Ahmad bisa melihat dua prajurit kraton berjaga di sisi kanan dan kiri pintu gerbang lengkap dengan tombak dan pedang. Namun pemuda itu bersikap tenang, Di dalam lipatan tas kulitnya, telah dijahit sesobek kain merah putih biru dengan lambang kraton di sisi kanannya sebagai tanda jika dirinya adalah kurir resmi bagi keresidenan Belanda untuk Yogyakarta. Dengan simbol ini dia bebas keluar masuk kraton dan gedung pemerintahan di wilayah Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ahmad terus memacu kudanya. Sepuluh meter di depan gerbang, dua prajurit kraton menghunjamkan tombak ke arahnya.

“Berhenti! Turun!” bentak mereka.

Ahmad berhenti namun tidak turun dari pelana kudanya. Dia malah membentak prajurit itu, “Minggir! Ada surat penting dari Gubernur Jenderal untuk Tuan Residen. Secepatnya harus dibalas oleh Tuan Residen!”

Kedua prajurit itu saling berpandangan. Kemudian salah seorang di antaranya menjawab dengan nada yang lebih sopan, “Coba perlihatkan kepada kami tanda izin Kisanak!”

Dari atas kudanya, Ahmad memperlihatkan bagian dalam tas berisi sobekan kain merah putih biru dengan simbol kraton di sisi kanannya. Melihat simbol tersebut, kedua prajurit penjaga tersebut segera memberi ruang bagi Ahmad dan kudanya.

“Silakan lewat.”

“Tuan Residen ada di ruangan mana? Surat ini harus langsung sampai di tangannya sekarang juga.”

“Di ruang kepatihan.”

“Baiklah, matur nuwun..!”

Ahmad kembali memacu kudanya memasuki pelataran halaman muka kraton dan langsung menuju ruang kepatihan tempat Patih Danuredjo IV berkantor.

Setelah menambatkan kuda, Ahmad berjalan melintasi aula kraton bagian dalam. Pemuda itu menahan nafasnya sejenak. Dia tidak tahan dengan aroma alkohol dan tembakau yang begitu kuat menyeruak di aula itu. Beberapa puntung rokok masih terlihat berserak di sudut-sudut kaki meja dan kursi. Namun ketika melihat seorang prajurit jaga yang berdiri di depan ruangan kepatihan, Ahmad bisa bernafas lega. Prajurit yang tengah jaga adalah Suryo Widhuro, salah seorang prajurit yang loyal kepada Pangeran Mangkubumi. Ahmad kenal dengannya karena diam-diam Suryo juga merupakan simpatisan Kanjeng Pangeran Diponegoro.

Walau demikian, sekadar untuk memenuhi formalitas kraton, Suryo segera menggeledah Ahmad Prawiro. Setelah dianggap bersih, Suryo segera berbisik, “Serahkan saja suratnya padaku, nanti aku sampaikan pada residen itu.”

Ahmad menyerahkan surat yang langsung ditulis tangan oleh Pangeran Diponegoro, “Tolong sampaikan langsung sekarang juga. Tidak perlu dibalas…”

Suryo mengangguk. Ahmad segera berlalu darinya. Prajurit itu pun mengetuk pintu kamar kepatihan tempat Smissaert bermalam.

 

[1] Mancanegara adalah sebutan masa itu untuk wilayah Madiun, Kediri, dan Rembang).

[2] Bahasa Jawa: “Sejari sekepala, sejengkal tanah akan dibela sampai titik darah penghabisan”.

Bersambung

Untold History of Pangeran Diponegoro (13)

08 September 2014 16:02:09 Dibaca : 225

Bab 6

TIDAK SAMPAI SATU JAM KEMUDIAN masjid dan Paseban[1] Puri Tegalredjo telah dipenuhi para sesepuh dan senopati pasukan pengikut Diponegoro. Sejumlah laskar juga sudah berdatangan. Semuanya kebanyakan berjubah putih. Mereka menutupi kepalanya dengan sorban yang juga berwarna putih, juga warna lainnya. Di dalam masjid, Pangeran Diponegoro sedang menggelar pertemuan terbatas dengan sejumlah sesepuh dan pimpinan pasukan.

“Bagaimana menurutmu, Paman?” tanya Diponegoro kepada Pangeran Mangkubumi yang baru saja datang dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Ya, firasatku juga mengatakan demikian. Mereka telah terang-terangan menantang kita dengan menodai tanah makam leluhur. Kita harus mempercepat persiapan pasukan dan segala sesuatunya.”

“Apakah basis sudah dipersiapkan juga?” selidik Diponegoro. Basis adalah nama sandi bagi Gua Selarong, wilayah yang akan dijadikan markas komando utama jika Puri Tegalredjo tidak bisa dipertahankan. Mangkubumi dan Susuhunan Paku Buwono VI-lah yang mengusulkan lokasi perbukitan yang sangat strategis tersebut. Dan Diponegoro mengakui jika Gua Selarong memang pilihan yang tepat.

Pangeran Bei yang diberi amanah sebagai Generalismus[2] Laskar Diponegoro menjawab, “Insya Allah Selarong sudah siap. Bukankah begitu Ki Guntur Wisesa?”

Ki Guntur Wisesa yang bertanggungjawab penuh terhadap Gua Selarong tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Insya Allah siap. Demikian pula dengan jalur, sudah kita amankan…”

“Paman dan semuanya, mulai sekarang kita aktifkan penjagaan duapuluh empat jam, tidak saja di lingkar tiga, namun juga lingkar dua, dan satu.”

Pangeran Bei dan Mangkubumi mengangguk, juga yang lainnya. Sebagai pemuda yang sejak kecil digembleng banyak hal oleh Ratu Ageng, termasuk dasar-dasar kemiliteran, Pangeran Diponegoro sejak jauh hari sudah mempersiapkan sistem pertahanan menghadapi pasukan Belanda jika sewaktu-waktu perang meletus dengan Puri Tegalredjo sebagai poros utamanya. Hal itu telah ditetapkan Diponegoro tiga tahun lalu ketika dia masih bergabung di dalam Dewan Perwalian Kraton bersama Pangeran Mangkubumi.

Sistem pengaman dibuat seperti gelang-gelang dengan radius yang berbeda. Gelang terluar berjarak empat kilometer dari Puri Tegalredjo yang disebut sebagai lingkar tiga, gelang kedua berjarak dua sampai dua setengah kilometer dari Puri dengan sandi lingkar dua. Dan lingkar satu sejauh satu setengah kilometer dari poros utama. Masing-masing lingkar dijaga oleh pasukan-pasukan terlatih yang saling berkoordinasi satu dengan yang lainnya. Dari satu lingkar ke lingkar lainnya dihubungkan dengan jalur komunikasi dan juga logistik, sehingga memudahkan jika terjadi sesuatu.

Di luar pasukan reguler, Diponegoro juga memiliki pasukan telik sandi atau mata-mata yang terdiri dari laki-laki dan juga perempuan dari berbagai macam usia. Pasukan telik sandi ini dikirim berpencar ke seluruh penjuru mata angin mengepung Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Beberapa dari pasukan ini sengaja ditanam di pihak musuh.

“Firasatku mengatakan perang besar melawan kafir Belanda tidak akan lama lagi meletus. Tolong perempuan dan anak-anak diamankan dahulu, keluarkan mereka dari Tegalredjo. Namun itu harus dilakukan dengan diam-diam. Saya tidak ingin mereka menjadi korban kebuasan pasukan kafir Belanda dan juga pasukannya Danuredjo. Sedikit demi sedikit para perempuan dan anak-anak harus dikeluarkan dari desa ini,” ujar Diponegoro kepada Joyokirno, seorang senopati yang bertanggungjawab terhadap keamanan sebelah Lor[3] Desa Tegalredjo.

Joyokirno mengangguk pelan, “Inggih, Kanjeng Pangeran. Segera saya laksanakan.”

“Lakukan dengan hati-hati dan sedikit demi sedikit supaya pergerakan ini tidak menimbulkan kecurigaan di pihak musuh. Tolong sampaikan pada para senopati yang lain,” ujar Diponegoro lagi sambil menepuk-nepuk bahu Joyokirno.

“Inggih, Kanjeng Pangeran…”

“Baiklah. Sekarang pergilah kembali ke pasukanmu…”

Joyokirno segera memeluk Diponegoro. Setelah pamit, dia segera melompat ke atas kudanya dan melesat meninggalkan Puri Tegalredjo untuk kembali ke pasukannya yang berjaga tigaratusan meter setelah pintu desa di sebelah utara.

“Ustadz…,” panggil Diponegoro kepada Ustadz Taftayani yang sedang meneliti peta sederhana kota Yogyakarta yang dihamparkan di atas lantai masjid. Ulama dari Minangkabau yang sudah menetap di dekat Tegalredjo itu mendekat.

“Ustadz, bagaimana dengan Kiai Modjo dan yang lainnya?”

Taftayani mengangguk dan balas berbisik, “Insya Allah mereka juga sudah siap. Bahkan saya dengar jika Kiai Modjo juga tengah mengadakan konsolidasi dengan pasukan-pasukannya. Dan beliau juga telah mengontak para alim-ulama dan sesepuh desa ke berbagai daerah di sekitar Surakarta dan Yogya hingga Magelang untuk bergabung dengan kita.”

Pangeran Diponegoro mengangguk-anggukkan kepalanya, “Apakah kita akan tetap dengan formasi sepuluh komandemen untuk Yogyakarta, Ustadz?”

Mendengar pertanyaan itu, Ustadz Taftayani tidak segera menjawab. Diponegoro memang telah membagi wilayah Yogyakarta ke dalam sepuluh daerah komandemen, yang masing-masing daerah dipimpin oleh seorang komandan. Khusus Madiun, wilayah ini dibagi menjadi tiga komandemen. Diponegoro telah berhitung, satu daerah komandemen memiliki lebih kurang 10.000 keluarga. Dari jumlah ini, diharapkan bisa disiapkan sekira seribuan orang prajurit, lengkap dengan senjata. Mereka harus menjadi pasukan yang mandiri dan terlatih dengan baik, walau tongkat komando tetap berada di tangan Pangeran Diponegoro. “Bagaimana, Ustadz?” tanya Diponegoro lagi.

“Menurut hemat saya, Pangeran, pembagian itu sudah cukup. Nanti kita lihat perkembangannya kemudian. Bukankah dalam peperangan organisasi hanyalah suatu ikatan yang teramat lentur? Semuanya tergantung pada improvisasi para pemimpin di lapangan dan kecepatan dalam bertindak tepat. Itu yang penting.”

“Ya, itu benar. Dan bagaimana pandangan Ustadz soal perang yang sebentar lagi akan meletus?”

“Kanjeng Pangeran, sebaiknya kita menahan diri. Jangan sampai kita dituding sebagai pihak yang memulai perang. Kita bertahan saja dahulu. Tentang pancingan atau mungkin jebakan yang dilakukan Belanda dan Patih Danuredjo, yang menancapkan patok-patok di tanah makam, sebaiknya Pangeran mengirim nota protes kepada Residen Smissaert…”

“Ya, itu saya setuju, Ustadz. Saya akan mengirim nota protes dan minta agar kafir Belanda menghentikan proyek itu atau mengubah arah jalan yang akan dibuat sehingga tanah leluhur aman. Dan yang kedua, saya minta agar residen kafir itu segera memecat Danuredjo.”

“Ya, itu bagus. Saya setuju…”

“Tolong panggilkan Ahmad Prawiro, Ustadz. Saya akan siapkan surat sekarang juga untuk diantar ke residen kafir itu.”

Ahmad Prawiro merupakan salah satu kurir andalan Diponegoro. Pemuda keturunan Cina ini asli Pekalongan yang telah bergabung dengan Diponegoro sejak awal perekrutan pasukan pertama di sekitar tahun 1820-an.

Ustadz Taftayani mengangguk. Dia bergegas keluar masjid untuk memanggil pemuda yang dimaksud. Tak lama kemudian guru ngaji itu datang bersama seorang pemuda berkacamata bulat yang mengenakan baju koko dan songkok putih.

“Ahmad…,” ujar Diponegoro setelah menjawab salam pemuda itu, “…Saya akan tulis surat. Nanti tolong antarkan langsung ke Residen Smissaert. Pastikan dia yang menerimanya…”

“Inggih, Kanjeng Gusti Pangeran.”

“Tunggu sebentar disini.  Bersambung

Untold History of Pangeran Diponegoro (12)

20 August 2014 16:04:36 Dibaca : 353

Para jamaah menganggukkan kepalanya.

“Nah…,” lanjut Diponegoro, “…bagaimana dengan kita sekarang? Apa yang harus kita lakukan sekarang ini? Jawabannya adalah: Pertama, kita harus paham terhadap Islam yang benar, yang haq, yang sesuai dengan al-Qur’an dan hadits yang shahih, bukan hadits palsu. Kita tegakkan Islam itu di dalam dada kita. Biarlah Islam menjadi satu-satunya hukum yang mengatur kehidupan kita dan keluarga kita. Kedua, tancapkan kuat-kuat cita-cita untuk bisa hidup di dalam kedamaian Daulah Islamiyah. Ketiga, untuk menggapai cita-cita itu, maka thagut dan seluruh pengikutnya harus kita perangi, kita lawan, dan kita hancurkan. Bukan malah bersekutu atau menjadi perpanjangan tangan dari thagut itu.

Seperti halnya perang yang akan kita lakukan di hari-hari ke depannya melawan kafir Belanda, maka bukan orang Belanda-nya yang kita musuhi, namun sistem thagut-nya yang kita perangi. Yang akan kita lakukan adalah perang sabil, perang di jalan Allah atau jihad fi sabilillah. Semua yang berjihad di jalan Allah tidak akan rugi. Jika kita mati maka pintu surga telah menanti, dan jika kita menang, maka kita akan hidup bahagia di dalam suatu negara yang penuh dengan kedamaian dan kemakmuran…”

“Tapi kafir Belanda pasti tidak akan menyerah…”

“Benar itu. Allah subhana wa ta’ala sendiri di dalam surat al-Baqarah ayat 120 berfirman, “Wa lan tardho ankal Yahudu wa Nasharo, hatta tata bi’an milatahum…” yang artinya, “Tidak akan pernah rela, tidak akan pernah sudi, tidak akan pernah mau, orang-orang Yahudi dan Nasrani kepada kalian wahai umat Islam, hingga kalian semua akan tunduk mengikuti, mematuhi, dan melaksanakan keyakinan mereka.

Kaum penjajah kafir tidak akan pernah mau pergi dengan sukarela dari tanah Islam ini. Sebab itu kita harus menghimpun segenap kekuatan untuk memerangi dan mengusir mereka dari tanah kita sendiri.

Tanah Yogyakarta, Tanah Jawa, adalah tanah milik kita yang diwariskan nenek moyang kita. Bukan tanah mereka. Tanah mereka ada di seberang samudera, nun jauh di Eropa sana. Sebab itu kita wajib mengembalikan mereka ke tanah mereka, ke kampung halaman mereka. Ini perang untuk menegakkan keadilan. Nanti setelah mereka kembali ke negerinya, maka kita akan bisa menciptakan satu negeri yang berkeadilan bagi semua rakyatnya berdasarkan tauhid. Inilah hakikat dari Daulah Islamiyah…”

Tiba-tiba dari arah alun-alun depan terlihat seorang pemuda berlari mendekati masjid sambil berteriak-teriak, “Kanjeng Gusti Pangeran! Kanjeng Gusti Pangeran..!”

Pangeran Diponegoro dan seluruh jamaah masjid langsung melihat pemuda itu. Diponegoro mengenalinya sebagai salah seorang anggota pasukan Laskar Ki Joyosuto yang berasal dari Winongo.

Diponegoro bertanya, “Ada apa Kisanak berlari-lari seperti itu?”

“Kanjeng Pangeran! Mereka mematoki tanah makam!”

“Ambil nafas dan hembuskan pelan-pelan. Tenangkan dirimu dulu. Jika sudah tenang, ceritakan dengan jelas…”

Pemuda itu menuruti apa yang dikatakan Pangeran Diponegoro. Setelah menenangkan diri, walau nafasnya masih tersengal-sengal, dia mulai bercerita, “Tanah makam leluhur dan kebun Kanjeng Pangeran dipatoki Belanda. Mereka ingin membuat jalan dengan menerabas tanah itu Kanjeng Pangeran…”

Wajah Diponegoro seketika berubah menjadi kencang. Lelaki yang biasanya lemah lembut itu tidak bisa menyembunyikan kemarahannya.

“Pasti ini kerjaan Danuredjo!” desisnya.

“Apa yang harus kami lakukan Kanjeng Pangeran?” ujar salah seorang pemuda yang lain.

“Berikan perintah kepada kami Kanjeng Pangeran, kami sudah siap bergerak!” pekik yang lain.

Suasana mendadak gaduh. Bahkan ada yang bertakbir. Pangeran Diponegoro segera mengangkat kedua tangannya ke atas, berusaha untuk menenangkan semua pengikutnya.

“Saudara-saudara, tenang! Harap tenang! Pengajian pagi ini kita sudahi dulu. Sekarang, dengan barisan teratur dan tetap tenang, kita akan bersama-sama menuju ke tanah makam. Kita akan lihat langsung apa yang diperbuat kafir Belanda itu kepada leluhur kita, orangtua-orangtua kita. Saya sendiri akan berangkat memimpin barisan ini!”

Seorang pemuda segera keluar dari masjid dan berlari mengambil Kiai Gentayu-nama dari kuda hitam dengan warna putih di ujung keempat kakinya-beserta Kiai Ompyang, sebuah nama keris dengan 21 lekukan yang berasal dari Demak, dan menyerahkannya kepada Pangeran Diponegoro. Setelah mengambil keris dan menyelipkan di pinggang, dengan tangkas Sang Pangeran melompat naik ke atas Kiai Gentayu. Sejumlah pengikutnya juga mengambil kudanya masing-masing dan mengikuti Sang Pangeran.

Dari Puri Tegalredjo, letak tanah makam leluhur tidak terlalu jauh. Tidak sampai sepuluh menit tibalah mereka di areal pemakaman yang dipenuhi batu-batu nisan. Betapa geram hati Diponegoro melihat patok-patok kayu yang biasa dipergunakan sebagai penanda batas proyek jalan raya, tertancap begitu saja di antara nisan-nisan makam leluhurnya. Bahkan ada sejumlah patok yang ditancapkan pas di bagian tengah makam, seakan sengaja dibenamkan ke perut leluhur yang ada di dalam tanahnya.

Pangeran Diponegoro melompat turun dari kuda, diikuti seluruh pengikutnya yang menyandang berbagai jenis senjata seperti keris, pedang, dan trisula. Sang Pangeran itu kemudian berlutut di depan kompleks malam. Tubuhnya bergetar menahan kemarahan yang teramat sangat. Walau demikian dia mencoba untuk tetap tenang. Bibirnya komat-kamit berzikir. Diponegoro tampak berusaha keras menguasai dirinya dari kemarahan yang tiba-tiba menyengat hatinya. Harga dirinya serasa diinjak-injak.

Ki Guntur Wisesa mendampingi Sang Pangeran. Dia ikut berlutut di sampingnya. Walau demikian, kedua matanya mengawasi keadaan sekitar dengan sikap sangat waspada. Sedangkan Pangeran Ngabehi tetap berdiri di dekat mereka berdua.

“Ki Guntur…,” bisik Diponegoro pelan.

“Dalem, Kanjeng Pangeran…”

“Ini sudah keterlaluan! Apa yang harus kita lakukan?”

“Istighfar, Kanjeng Pangeran. Walau marah tapi kita harus tetap berkepala dingin. Sebaiknya sekarang kita kembali saja ke Puri…”

Pangeran Diponegoro tidak segera menjawab. Dia memanjatkan doa barang sebentar. Kepalanya tertunduk ke tanah. Kemudian Diponegoro mengangguk pelan, “Baiklah Ki Guntur. Kita kembali saja ke Puri. Tolong kumpulkan para sesepuh dan senopati di masjid sekarang juga.”

“Inggih, Kanjeng Pangeran. Laksanakan!”

Pangeran Diponegoro bangkit dan berdiri dengan tegar. Di hadapan para pengikutnya yang kian bertambah banyak sehingga membentuk satu pasukan berkuda yang cukup besar, bagaikan satu kompi kavaleri, dia berteriak lantang,

“Saudara-saudaraku semua, astaghfirullah al-adzim! Tanah makam leluhur kita telah dinodai. Harga diri kita telah dicederai. Mereka tidak saja menindas dan menyiksa saudara-saudara kita yang masih hidup. Para leluhur kita yang sudah mati pun mereka cemari. Sekarang juga, kita akan cabut semua patok-patok ini! Kita bakar! Kita ganti patok-patok itu dengan tombak di sekeliling tanah makam ini. Kita akan menyampaikan protes keras kepada kafir Belanda itu! Kita tunjukkan jika kita tidak pernah takut kepada orang-orang kafir itu. Allahu Akbar!”

Pekik takbir Diponegoro disambut para pengikutnya dengan gegap gempita. Langit Tegalredjo pagi itu membahana dengan teriakan takbir. Cahaya matahari yang baru saja menyorot ujung-ujung dedaunan kalah panas dengan dendam amarah yang memenuhi seluruh rongga dada.

“Sekarang kita semua bersiap! Bersiagalah! Siapa pun yang mencintai Islam sebagai agamanya, yang mencintai saya sebagai hamba dari Sang Khaliq, Allah subhana wa ta’ala, bergabunglah dalam barisan jihad ini. Mereka telah menantang kita, dan haram bagi kita untuk takut terhadap tantangan kafir Belanda itu! Bersiagalah. Tunggu perintah dariku. Siapkan perbekalan, urus isteri dan anak-anak. Ungsikan mereka ke tempat yang aman. Semuanya bisa saja terjadi kapan pun. Allah bersama kita!”

“Allahu akbar!” Pekik takbir membahana sekali lagi.

“Aku akan kembali ke Puri Tegalredjo. Siapkanlah diri kalian semuanya. Bismillah! Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!“

Setelah mengucapkan salam, Pangeran Diponegoro memacu Kiai Gentayu kembali ke dalam puri diikuti Ki Guntur Wisesa dan ratusan pengikutnya. Debu membumbung tinggi dari kaki ratusan kuda yang meninggalkan tanah makam. Suaranya benar-benar menakutkan.

Ratusan pengikut Diponegoro yang lain tetap tinggal di tanah makam. Mereka bekerja cepat mencabuti patok-patok kayu tersebut dan menggantinya dengan tombak yang mengelilingi tanah makam. Patok-patok kayu Belanda yang jumlahnya ratusan itu kemudian dibakar hingga habis menjadi abu. Bersambung