ARSIP BULANAN : October 2012

Ilmu Dan Teknologi Maritim untuk Khilafah

30 October 2012 14:36:16 Dibaca : 273

Seperti apa ilmu dan teknologi maritim kalau dunia Islam bersatu dalam Negara Khilafah?

Allah mengaruniai umat Islam dengan negeri yang sangat luas, terbentang dari tepi Samudera Atlantik dengan tepi Samudera Pasifik. Di dalamnya ada padang pasir, pegunungan bersalju, tetapi juga hutan tropis dan pulau-pulau yang berserak laksana zamrud katulistiwa, dan semuanya di jalur strategis perdagangan dunia.

Dua negeri dengan pulau terbanyak di dunia adalah Indonesia dan Filipina. Indonesia adalah negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Filipina sebelum didatangi bangsa Barat adalah juga sebuah kesultanan Islam. Karena itu sangat relevan bila kita bertanya-tanya, seperti apa dulu ilmu dan teknologi maritim negara Khilafah, dan seperti apa nantinya bila Khilafah berhasil tegak kembali.

Adalah Umar bin Khattab yang pertama kali membangun armada angkatan laut Muslim untuk menghadapi Romawi. Romawi memiliki jajahan-jajahan di seberang lautan seperti Afrika Utara dan Timur Tengah. Mencapai negeri-negeri itu lewat darat sangat tidak efisien. Karena itu, untuk mematahkan Romawi, kaum Muslim harus membangun angkatan laut. Thariq bin Ziyad menaklukkan Spanyol dengan armada laut, walaupun dia lalu membakar semua kapalnya agar pasukannya berketetapan hati terus berjihad.

Suatu angkatan laut terbangun dari beberapa bagian. Ada pelaut yang mengoperasikan kapal. Ada marinir yang akan diturunkan dari kapal untuk masuk ke daratan dan bertempur menaklukkan sebuah wilayah. Ada navigator yang memberi orientasi di mana posisi kapal berada dan ke mana mereka harus menuju. Ada petugas isyarat yang melakukan komunikasi ke segala pihak yang dianggap perlu baik di laut maupun di darat. Ada teknisi mekanik yang menjaga agar kapal tetap berfungsi. Ada bagian logistik yang menjamin bahwa kapal tetap memiliki kemampuan dayung atau layar yang cukup. Kalau sekarang berarti pasokan bahan bakar, makanan dan air tawar. Dan ada bagian administrasi yang menjaga agar seluruh perbekalan di laut tertata dan digunakan optimal. Seluruh hal di atas telah dan tetap dipelajari di semua akademi angkatan laut dari zaman Romawi hingga kini.
Ketika angkatan laut Muslim pertama dibangun, modal pertamanya jelas keimanan. Mereka termotivasi oleh berbagai seruan Alquran ataupun hadits Rasulullah, bahwa kaum Muslim adalah umat yang terbaik dan bahwa sebaik-baik pasukan adalah yang masuk Konstantinopel atau Roma. Motivasi mabda’i ini yang menjaga semangat mereka mempelajari dan mengembangkan berbagai teknologi yang dibutuhkan. Maka sebagian kaum Muslim pergi ke Mesir untuk belajar astronomi. Mereka mengkaji kitab Almagest karangan Ptolomeus agar dapat mengetahui posisi lintang bujur suatu tempat hanya dengan membaca jam dan mengukur sudut tinggi matahari, bulan atau bintang. Ada juga yang pergi ke Cina untuk belajar membuat kompas. Sebagian lagi mempelajari buku-buku Euclides sang geografer Yunani untuk dapat menggambar peta. Jadilah mereka orang-orang yang dapat menentukan posisi dan arah di lautan.

Kemudian pembuatan kapal menjadi industri besar di negeri-negeri Islam, baik dalam konstruksi kapal dagang maupun kapal perang. Selain galangan kapal utama, terdapat galangan-galangan pribadi di pinggir sungai-sungai besar dan di sepanjang pantai di daerah Teluk dan Laut Merah. Tipe kapal yang ada mulai dari perahu cadik yang kecil hingga kapal dagang besar dengan kapasitas lebih dari 1.000 ton dan kapal perang yang mampu menampung 1.500 orang. Menulis pada abad-4 H (abad 10M), al-Muqaddasi mendaftar nama beberapa lusin kapal, ditambah dengan jenis-jenis yang digunakan pada abad sesudahnya. Dan sumber-sumber Cina menunjukkan bahwa kapal yang dipakai Cheng-Ho, seorang laksamana Muslim abad 15 sudah jauh lebih besar daripada yang dipakai Columbus menemukan benua Amerika.

Pada FOTO: Perbandingan kapal Cheng-Ho – laksamana Muslim di China, dengan kapal Colombus

Semua kapal Muslim mencerminkan karakteristik tertentu. Kapal dagang biasanya berupa kapal layar dengan rentangan yang lebar relatif terhadap anjangnya untuk memberi ruang penyimpanan (cargo) yang lapang. Kapal perang agak lebih ramping dan menggunakan dayung atau layar, tergantung fungsinya. Semua kapal dan perahu itu dibangun dengan bentuk papan luar rata (carvel-built), yaitu kayu-kayu diikatkan satu sama lain pada sisi-sisinya, tidak saling menindih sebagaimana lazimnya kapal dengan bangun berkampuh (clinker-built) di Eropa Utara. Kemudian kayu-kayu itu didempul dengan aspal atau ter. Tali untuk menambatkan kapal dan tali jangkar terbuat dari bahan rami, sedangkan salah satu pembeda dari kapal-kapal Muslim adalah layar lateen yang dipasangkan pada sebuah tiang berat dan digantung dengan membentuk sudut terhadap tiang kapal. Layar lateen tidak mudah ditangani, tetapi jika telah dikuasai dengan baik, layar ini memungkinkan kapal berlayar lebih lincah daripada layar persegi. Dengan demikian kapal Muslim tidak terlalu banyak mensyaratkan rute memutar saat menghindari karang atau badai, sehingga total perjalanan lebih singkat.

Begitu banyaknya kapal perang yang dibangun kaum Muslim di Laut Tengah, sehingga kata Arab untuk galangan kapal, dar al-sina’a, menjadi kosa kata bahasa Eropa, arsenal. Perhatian para penguasa Muslim atas teknologi kelautan juga sangat tinggi. Sebagai contoh, Sultan Salahuddin al Ayubi (1170 M) membuat elemen-elemen kapal di galangan kapal Mesir, lalu membawanya dengan onta ke pantai Syria untuk dirakit. Dermaga perakitan kapal ini terus beroperasi untuk memasok kapal-kapal dalam pertempuran melawan pasukan Salib. Sultan Muhammad al-Fatih menggunakan kapal yang diluncurkan melalui bukit saat menaklukkan Konstantinopel.

Teknologi ini ditunjang ilmu bumi dari para geografer dan penjelajah. Geografer terkenal seperti Al-Idrisi, Al-Biruni dan Ibnu Batutah menyediakan peta-peta yang lengkap dengan deskripsi geografis hasil ekspedisi yang beraneka ragam. Mereka juga menyediakan pengetahuan baik yang bersifat fisik seperti meteorologi dan oseanografi, maupun yang sosial seperti etnologi, yang sangat berguna untuk berkomunikasi dengan suku-suku asing yang tersebar di berbagai pulau terpencil. Para arsitek seperti Mimar Sinan membangun mercu-mercu suar yang lebih kokoh, dan Banu Musa menyediakan lampu-lampu suar yang tahan angin, sehingga secara keseluruhan dunia pelayaran di negeri Islam menjadi lebih aman.

Di sisi lain, para pujangga menulis kisah-kisah para pelaut dengan menawan, seperti hikayat Sinbad yang populer di masyarakat. Di luar sisi-sisi magis yang sesungguhnya hanya bumbu cerita, kisah itu mampu menggambarkan kehidupan pelaut secara nyatal sehingga menarik jutaan pemuda untuk terjun ke dalam berbagai profesi maritim.

Tanpa ilmu dan teknologi kelautan yang handal, mustahil daulah Islam yang sangat luas itu mampu terhubungkan secara efektif, mampu berbagi sumber dayanya secara adil, dan terus memperluas cakupan pengaruhnya ke seluruh penjuru dunia, termasuk hingga ke Nusantara. Dengan teknologi kelautan, negara Khilafah mampu bertahan beberapa abad sebagai negara adidaya.

Cardinal Fish II

29 October 2012 19:19:12 Dibaca : 290
Bila anda berkunjung ke kabupaten Banggai Kepulauan Propinsi Sulawesi Tengah tepatnya di bagian timur pulau Sulawesi, tentunya belum lengkap perjalanan anda kalau belum melihat salah satu spesies ikan hias laut endemik Indonesia yang penyebaran alaminya hanya bisa ditemukan di perairan Kepulauan Banggai yaitu Banggai Cardinal Fish (Pterapogon kauderni) atau dalam bahasa lokal dikenal sebagai ikan capungan Banggai.
Sejak beberapa waktu lalu, spesies Banggai Cardinal Fish (disingkat BCF) ini mulai menarik perhatian dunia internasional seiring dengan adanya usulan dari negara USA memasukkannya ke dalam daftar lampiran CITES, suatu konvensi yang mengatur perdagangan internasional terhadap spesies flora dan fauna yang terancam punah. Namun dalam sidang negara-negara anggota CITES atau Conference of Parties (CoP) ke 14 pada tanggal 3 – 15 Juni 2007 lalu di Den Haag – Belanda, spesies ini berhasil diperjuangkan oleh delegasi Indonesia tidak masuk dalam Apendiks II CITES sehingga dalam pengelolaannya masih mengacu pada prinsip-prinsip pengelolaan perikanan sebagaimana digariskan oleh FAO.
Menurut Tullock dan Michael (1999) ikan capungan Banggai diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Super Klas : Gnathostomata
Kelas : Osteichtyes
Sub Klas : Actinopterygi
Super Ordo : Teleostei
Famili : Apogonidae
Genus : Pterapogon
Spesies : Pterapogon kauderni, Koumans (1933)

Ikan ini termasuk famili Apogonidae yang merupakan anggota terbanyak dari ordo Perciformes dengan 27 genera dan 250 spesies yang tersebar di Samudera Pasifik, Samudera Atlantik dan Samudera Hindia. Memiliki bentuk tubuh agak pipih dengan dasar kuning dan keperak-perakan, terdapat garis-garis hitam yang vertikal dari sirip punggung ke sirip perut dan sirip dubur. Memiliki dua sirip punggung yang terpisah dengan jelas,sirip punggung pertama berjari-jari keras sedangkan garis punggung kedua berjari-jari lunak, mempunyai mata yang besar berwarna hitam dan bentuk mulut terminal dengan ukuran kecil. Panjang tubuh sekitar 3 – 8 cm dan pada saat dewasa berukuran 8 – 10 cm.
Daerah penyebaran sangat terbatas di wilayah Sulawesi Tengah bagian timur,tepatnya di Kepulauan Banggai, karena itu spesies ini termasuk endemik. Populasi ikan ini dapat ditemukan di perairan dangkal dengan kedalaman 0 – 5 m pada daerah lamun (sea grass) dan terumbu karang dimana banyak terdapat bulu babi dan anemon. Mereka hidup bersimbiosis dengan bulu babi (Diadema setosum) yang umumnya terdapat di perairan pantai. Simbiosis dilakukan dengan cara mengupayakan agar garis hitam pekat pada tubuh mereka membaur membentuk garis lurus dengan salah satu duri bulu babi yang bertujuan untuk penyamaran dan perlindungan dari serangan predator. Selain bulu babi, ikan ini juga memiliki tempat perlindungan lain yaitu anemon laut dengan cara memanfaatkan tubuh mereka yang kecil agar dapat menyelinap diantara helaian anemon laut.
Menurut Allen dan Steene (1995), kardinal Banggai merupakan ikan nokturnal aktif yaitu mencari makan pada malam hari. Makanannya berupa plankton, mikro krustasea dan ikan kecil. Perilaku biologis menunjukkan ikan ini mempunyai tingkah laku khas sebelum melakukan pemijahan dimana ikan jantan dan betina dewasa yang telah matang gonad akan memisahkan diri dari kelompoknya dan mencari tempat yang cocok dan sesuai untuk kawin. Sebelum sel telur dan sperma dikeluarkan, mereka akan melakaukan gerakan-gerakan unik yang disebut ”mating dance” atau percumbuan. Percumbuan dilakukan oleh ikan jantan dengan berenang-renang di sekitar ikan betina yang bertujuan untuk menarik perhatian .
Pemijahan berlangsung secara eksternal dimana sperma dilepaskan langsung ke arah telur yang sudah dikeluarkan namun masih menggantung pada tubuh betina. Secar umum, memiliki fekunditas yang rendah dimana setiapo kali pemijahan induk betina hanya menghasilkan 15 – 40 butir telur saja.
Perbedaan individu jantan dan betina terletak pada ukuran tubuh, panjang sirip punggung kedua dan bukaan mulut. Jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih besar, sirip punggung kedua yang lebih panjang dan bukaan mulut yang lebih besar dari individu betina. Induk jantan melakukan pengeraman telur yang telah dibuahi di dalam mulut (mouth breeder). Lamanya pengeraman 10 – 14 hari terhitung setelah terjadinya pembuahan. Telur yang dierami hanya sedikit dan berdiameter 2,8 – 3 mm.
Telur yang ditetaskan berkembang menjadi larva dan anak ikan dalam mulut induk jantan. Selama berlangsung tahapan tersebut, mulut jantan selalu terbuka. Waktu yang diperlukan untuk menjadi larva dan anak ikan adalah seminggu sebelum dilepas ke lingkungan sekitar. Pertumbuhan ikan ini tergolong lamban, setelah usia 2 bulan baru mencapai ukuran 1,8 – 2,5 cm.
Hasil penelitian Rusdi (2005) menunjukkan bahwa persentase indeks kematangan gonad ikan jantan dan betina tertinggi terjadi pada bulan September , Juli dan Oktober yang berarti aktifitas reproduksi pada bulan-bulan ini cukup besar sedangkan bulan Juni, Agustus dan Nopember aktifitas reproduksinya rendah. Hal ini menjadi warning tersendiri bagi para nelayan yang menangkap ikan kardinal Banggai pada bulan-bulan tersebut agar jangan sampai terjadi overfishing

Cardinal Fish I

29 October 2012 19:08:31 Dibaca : 267
 
 

 

Spesies ikan Banggai Cardinalfish, Pterapogon kauderni (Koumans 1933) dimanfaatkan sejak tahun 1990-an sebagai ikan hias. Endemik pada perarian dangkal disekitar Kepulauan Banggai, spesies tersebut dinilai terancam punah oleh beberapa studi akibat pemanfatan berlebihan dan degradasi habitat. Pada tahun 2007, kelestarian spesies tersebut enjadi isu hangat di tingkat internasional dengan usulan oleh Amerika Serikat pada lampiran II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) pada Cop 14 CITES Juni 2007. Akhirnya usulan tersebut ditunda dan Indonesia berkomitmen untuk mengembangkan pengelolaan Baggai cardinalfish secara lestari. Pengelolaan tersebut perlu didasri pada biologi dan kebutuhan ekologis Penelitian sejak 1998 oleh para peneliti dalam dan luar termasuk sejak tahun 2004 oleh tim peneliti, telah menemukan beberapa data dan informasi penting mengenai biologi dan ekologi P. kaudemi, yang bersifat paternal mouthbrooder with direct development, sehingga tidak memiliki fase pelagis. Rekrut yand dilepas oleh induk jantan langsung mencari perlindungan pada mikro habitat atau simbiont, dan berperilaku sedentary pada seluruh fase hidupnya. Pemanfaatan mikro-habitat atau sibiont diduga berubah pada fase-fase tertentu dalam daur hidupnya, fenomena: yang disebut pmtpgemetoc shift. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena tersebut. Hasil menunjukkan kecenderungan ontogenetic shift dalam mikro-habitat P. kauderni. Bulubabi, yang selama ini dianggap sebagai ssimbiont utama P. kauderni, semua ukuran ikan teramati. Rekrut maupun juvenil mencari perlindungan diantara tentakel anemone, namun ikan dewasa jarang mendekati anemone dan tidak masuk di antara tentakel, bahkan menghindari kontak terlalu dekat Sedangkan di karang keras (terutama koloni karang bercabang) ikan dewasa sering terdapat, namun rekrut sangat jarang teramati. Hasil lainnya adalah bahwa salah satu asumsi awal yang didasari pada hasil peneliti sebelumnya, yaitu bahwa pola reproduksi P. kauderni dipengaruhi oleh siklus bulan namun tidak berubah secara signifikan dengan musim tahunan, ternyata dapat diragukan. Dinilai penting adanya penelitian lanjutan terhadap pengaruh musim dan perubahan lingkungan terhadap pola reproduksi dan survival rate P. kauderni.

kereta api keparat itu pastilah terlambat

29 October 2012 16:18:16 Dibaca : 229

Ada seorang pemuda di daerah sumatera utara sana, kebetulan sedang nonton film di bioskop di daerahnya. Salah satu adegan di film itu adalah seorang gadis bahenol yang sedang berusaha membuka bajunya….. setelah itu dilanjutkan dengan membuka kaos dalamnya…. dan tibalah pada adegan dimana gadis itu harus membuka juga BH-nya. Namun sebelum gadis itu berhasil membuka BH-nya …. Tiba-tiba ada Kereta api yang lewat dan menutupi si gadis. Setelah kereta api berlalu si gadis ternyata sudah berpakaian lengkap kembali. Kecewalah ucok, setelah beberapa saat sempat menahan detak jantungnya. Esoknya, si Ucok datang lagi, beli karcis lagi, nonton lagi film yg sama. Dan…..kecewa lagi. Tanpa kenal kata menyerah, esoknya pun dia masih nonton lagi.. sampai beberapa hari. Tukang karcis yang melihat ucok, sampai2 hapal wajah si ucok, karena penasaran maka di tanyalah ucok kita ini. “Hey Lay…. Kalo tidak salah, sudah kau tonton pilem ini berkali-kali..? Kenapa masih datang juga ? ” “Ah benar kali itu bang….., tapi aku yakin bang …..suatu saat, kereta api keparat itu pastilah terlambat ” Jawab si Ucok penuh nafsu.

Fasilitas Rotasi Tampilan Desktop

22 October 2012 16:13:00 Dibaca : 275

 

Monitor-monitor keluaran baru terutama yang LCD, mempunyai fasilitas untuk diputar secara fisik dengan maksud agar dapat digunakan baik secara vertikal maupun horizontal. Untuk mengimbanginya, tampilan desktop pun harus diputar 0, 90, 180, atau 270 derajat agar sesuai dengan posisi fisik monitornya, dan ini tergantung dari kartu grafis yang digunakan, apakah mendukung rotasi tampilan atau tidak.

Pengaturan rotasi tampilan  umumnya dapat dilakukan dari menu saat klik kanan pada desktop, melalui display properties, shortcut keyboard, atau cara lain menurut kartu grafis yang digunakan. Untuk penggunaan shortcut keyboard, yang saya temui biasanya menggunakan kombinasi tombol Ctrl+Alt dan tombol panah atas, bawah, kanan, atau kiri sebagai defaultnya.

Menggunakan monitor secara vertikal maupun horizontal tentunya tergantung "bagaimana enaknya" dari yang akan menggunakan dan juga aplikasi yang akan digunakannya. Untuk saya misalnya, monitor nyaman digunakan secara vertikal jika setidaknya lebarnya 17 inchi atau lebih dengan menyesuaikan resolusinya lebih dahulu menjadi 1024×1280 pixel, tapi itu pun tidak bisa nyaman saya gunakan ketika misalnya sedang menggunakan untuk memutar video atau untuk menjalankan aplikasi tertentu, jadi perlu mengembalikan ke posisi horizontal dan melakukan rotasi tampilannya.

Hal lain yang bisa dimanfaatkan dengan adanya fasilitas rotasi tampilan antara lain:

  • Mengerjai Teman Mungkin banyak teman-teman Anda yang belum mengenal fasilitas rotasi tampilan pada komputer yang mereka gunakan, bahkan tidak mengetahui bahwa secara fisik monitor yang digunakan bisa diputar. Dengan mengatur tampilan terbalik (180 derajat) pada posisi fisik monitor yang tetap misalnya, bisa jadi teman Anda akan kewalahan bagaimana mengembalikannya. Ada kemungkinan juga teman Anda akan mengira bahwa komputernya sudah terinfeksi virus :) Tapi ingat, lakukan pada teman yang memang bisa diajak bercanda dan Anda sendiri pun siap bahwa suatu waktu bisa jadi teman Anda akan berbalik mengerjai Anda.
    Jika misalnya Anda sendiri yang menjadi "korban" baik karena dikerjai teman atau karena kesalahan menekan kombinasi tombol keyboard, umumnya tampilan dapat dikembalikan dengan menekan kombinasi Ctrl+Alt+Panah Atas pada keyboard.Sarana Bermain Kalau teman-teman disekitar Anda memang sudah mengetahui fasilitas tersebut, ajak mereka untuk bermain di kala waktu memang memungkinkan untuk itu. Dengan memutar tampilan 90, 180, atau 270 derajat, tentukan siapa yang paling cepat untuk membuka menu dan aplikasi tertentu. Bisa juga untuk memainkan games tertentu dan siapa yang mendapat skor tertinggi pada posisi tampilan seperti itu.
  • Sarana Bermain Kalau teman-teman disekitar Anda memang sudah mengetahui fasilitas tersebut, ajak mereka untuk bermain di kala waktu memang memungkinkan untuk itu. Dengan memutar tampilan 90, 180, atau 270 derajat, tentukan siapa yang paling cepat untuk membuka menu dan aplikasi tertentu. Bisa juga untuk memainkan games tertentu dan siapa yang mendapat skor tertinggi pada posisi tampilan seperti itu

Mungkin ada lagi?