KATEGORI : Dunia Baca Dan Fikir

LEBIH BAIK BISNIS KE EROPA DIBANDING KE PAPUA.

10 November 2014 17:34:57 Dibaca : 309

by : Rony Suhartono

 


" Saya setiap kirim barang ke eropa harganya per kg lebih murah dibanding harus kirim barang ke Papua, tidak hanya lewat laut lewat udarapun demikian, sehingga kadang saya agak sedikit malas kalau ingin kirim barang ke Papua/Indonesia Timur ". ( inilah sebagian keluhan yang banyak dialami teman-teman pelaku usaha )

Kalau solusi teman-teman Kemenko Maritim bahwa masalah utama mahalnya kirim barang ke Papua akibat " tidak ada barang yang dapat dibawa balik ke Jawa sehingga muatan kapal/pesawat kosong saat kembali sehingga harga kirim sudah dihitung sekalian harga balik angkutan ".

Kalau melihat ini saya teringat saat dulu main " usaha-usaha palawija dan buah-buahan dari Jawa Timur ke Jakarta, untuk pasokan, dimana setiap mengangkut barang dari Jawa Timur ( Malang ), semangka, melon, apel dll harganya harus dua kali lipat biaya angkut karena saat pulang kembali ke Malang, truk pasti dalam keadaan kosong, sedangkan pungutan ditiap jalan terus jalan (ngemil ongkos petugas) ".

Sebagai pelaku lapangan dalam dunia usaha saya merasakan berat sekali bagi para pengusaha untuk bermain ke arah Indonesia Timur sehingga banyak teman-teman HIPMI bilang, " mending main ke Eropa, sudah bayaran dollar harga murah angkutannya dibanding kirim ke Indonesia Timur, sudah rupiah, banyak pungutan rumit juga urusannya ". Coba anda bayangkan, satu mangkok bakso di Papua bisa berharga Rp. 25.000,- dibanding di Jakarta yang berkisar seharga Rp. 8000,-, betapa mahalnya biaya hidup disana sehingga terkadang kita semua agak pusing juga, bagaimana cara mendorong kebijakan untuk kesejahteraan bagi rakyat Papua secara merata jika hal tersebut selalu terjadi, sedangkan dilain pihak dana OTSUS PAPUA jika dilihat secara kasar terasa besar, namun sejatinya jika dana itu diimplementasikan ke dalam sebuah proyek dilapangan terasa amat kecil. Sehingga Gubernur Papua, beberapa hari yang lalu kita bertemu di Istana negara bercerita, " membangun jembatan saja di Papua, bisa habis 50 Milyard, coba bayangkan kalau uang itu ada di Jawa berapa puluh kilo jalan infrastruktur yang bisa dibuat dengan dana seperti itu, jadi pemerintah pusat jangan hanya melihat seolah-olah dana otsus itu benar-benar besar, tapi bagi Papua itu kecil karena semua barang dikirim dari Jawa dengan harga selangit mahalnya ". ( celoteh sang Gubernur pada kami saat itu ).

Semoga tulisan ini bisa segera memberikan cambuk pada pemerintah sekarang disaat ingin benar-benar melakukan pemerataan pembangunan ekonomi terutama ke wilayah timur, pembangunan tol laut, membagun kesadaran penguatan poros maritim serta memperbaiki berbagai regulasi biaya pengangkutan dan pungutan liar akan memperpendek jurang perbedaan harga antara wilayah " Indonesia Barat dengan Indonesia Timur " , semoga ide kebijakan 3 PINTU IMPORT ( Sabang, Belitung dan Sorong ) dapat menjadikan alternatif tercepat dalam memangkas biaya angkutan barang karena saat kembali ke Jawa semua kapal termuat isi oleh barang-barang import yang akan dijual ke wilayah Jawa sehingga akan terjadi keseimbangan harga barang lokal antara wilayah Inbar & Intim.

Sebagai pelaku usaha saya hanya berfikir sederhana saja, bagaimana barang yang kita miliki mampu berkompetitif dengan barang lainnya malalui kebijakan pemangkasan berbagai punggutan hingga kemudaan untuk pengapalan dengan harga yang bersaing.

Kalau hal ini terjadi ( POROS MARITIM DUNIA MELALUI TOL LAUT ) maka berani kami pastikan " SINGAPURA AKAN KETAR-KETIR ", dimana selama ini, negara itulah yang selalu menikmati berbagai ongkos biaya tinggi dalam perdagangan dunia atau lebih tepat " sebagai negara Calo, dipastikan Singapura akan berhitung ribuan kali dalam menjawab kebijakan pergerakan ekonomi dunia jika benar-benar terjadi proses pergerakan poros maritim dunia diseluruh bagian kawasan terdekat.

Salam...!!
SUMBER

Radiasi HP

03 November 2014 16:39:42 Dibaca : 390

TOLONG SEBARKAN !
Hari ini seorang Wanita Paru baya di Kota Surabaya pipi dan telinganya semua memar dan teluka akibat karena menerima panggilan saat ponselnya masih pengisian. Waktu itu ponselnya bergetar hebat tiba-tiba penselnya meledak dan kemudian Telinga, tangan dan pipinya terbakar. Jadi, tolong jangan menjawab panggilan atau memanggil saat pengisian ponsel Anda. Bila baterai ponsel rendah cas dulu dan jangan melakukan panggilan atau menjawab panggilan masuk, karena radiasi sa'at pengisian baterai naik hingga menjadi 1000 kali lebih kuat. Hal ini dapat terjadi pada setiap merek ponsel di luar sana. Tolong sebarkan info ini kepada teman2 yang lain, supaya kita lebih waspada...!!!!

Jangan Sampai Anak/Keluarga kita menjadi korban selanjutnya

Efek Domino

01 October 2014 16:08:26 Dibaca : 87

Tahukan bahwa manusia itu saling mempengaruhi satu sama lain. Percaya atau tidak? Segala tindak-tanduk kita, entah itu hal-hal kecil maupun hal yang besar sedikit banyaknya mempengaruhi orang-orang yang berada disekitar kita. Baik itu teman, keluarga sampai orang asing sekalipun. Sifat pengaruh dan mempengaruhi itu menurut saya seperti efek domino. Tahukan artinya efek domino? Ketika ada seseorang yang berbuat A, yang lain secara sadar maupun tidak sadar ikut melakukan perbuatan A. Mungkin lebih tepatnya kita mengekor alias ikut-ikutan bin jadi bebek buat figur yang bersangkutan. Ini jelas dapat dilakukan oleh kita secara sadar ataupun tidak sadar. Istilah lain mungkin sudah terjadi interaksi sosial antara kita.
Interaksi sosial dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Contohnya: kawan kerja atau kawan kuliah kita yang sedang berada tak jauh dari kita, kemudian ia melantunkan satu bait lagu yang enak didengar. Tebak apa yang terjadi pada kita, secara sadar ataupun tidak pasti entar kita bakal melantunkan lagu yang sama dengan kawan kita. Lama atau tidaknya tergantung dari seberapa kuat pikiran kita untuk dipengaruhi. Setidaknya itu yang terjadi sama saya dan melihat gejala yang serupa pada kawan-kawan saya. Tapi memang faktanya bahwa interaksi sosial antar sesama ini tidak bisa dihindarin. Kecuali kalau kita seorang yang mengalami gangguan psikologis penyendiri atau anti-sosial.
Ingin tahu proses interaksi sosial itu bersumber dari mana saja? Berdasarkan yang saya kutip dari belajar psikologi bahwa proses interaksi sosial dalam masyarakat itu berasal dari:
• Imitasi -> suatu tindakan sosial seseorang untuk meniru sikap, tindakan, atau tingkah laku dan penampilan fisik seseorang.
• Sugesti -> rangsangan, pengaruh, atau stimulus yang diberikan seseorang kepada orang lain sehingga ia melaksanakan apa yang disugestikan tanpa berfikir rasional.
• Simpati -> suatu sikap seseorang yang merasa tertarik kepada orang lain karena penampilan,kebijaksanaan atau pola pikirnya sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh orang yang menaruh simpati.
• Identifikasi -> keinginan sama atau identik bahkan serupa dengan orang lain yang ditiru (idolanya)
• Empati -> proses ikut serta merasakan sesuatu yang dialami oleh orang lain. Proses empati biasanya ikut serta merasakan penderitaan orang lain.
Nah, sekarang coba kita sama-sama korelasikan antara efek-domino dengan interaksi sosial. Apakah kita mau jadi korban efek-domino yang negatif atau jadi kawan efek domino yang positif? Atau bahkan kita mampu untuk jadi tokoh utama dari efek-domino tersebut?
Semuanya tinggal kita yang memilihnya. Mudah bukan, tapi ingat juga Hukum Karma berlaku lho. Mudah-mudahan tulisan yang sedikit ngawur ini bermanfaat.

Brain

16 September 2014 08:35:56 Dibaca : 155

The brain is an organ that serves as the center of the nervous system in all vertebrate and most invertebrate animals—only a few invertebrates such as sponges, jellyfish, adult sea squirts and starfish do not have a brain, even if diffuse neural tissue is present. It is located in the head, usually close to the primary sensory organs for such senses as vision, hearing, balance, taste, and smell. The brain is the most complex organ in a vertebrate's body. In a typical human, the cerebral cortex (the largest part) is estimated to contain 15–33 billion neurons,[1] each connected by synapses to several thousand other neurons. These neurons communicate with one another by means of long protoplasmic fibers called axons, which carry trains of signal pulses called action potentials to distant parts of the brain or body targeting specific recipient cells.

Physiologically, the function of the brain is to exert centralized control over the other organs of the body. The brain acts on the rest of the body both by generating patterns of muscle activity and by driving the secretion of chemicals called hormones. This centralized control allows rapid and coordinated responses to changes in the environment. Some basic types of responsiveness such as reflexes can be mediated by the spinal cord or peripheral ganglia, but sophisticated purposeful control of behavior based on complex sensory input requires the information integrating capabilities of a centralized brain.

From a philosophical point of view, what makes the brain special in comparison to other organs is that it forms the physical structure associated with the mind. As Hippocrates put it: "Men ought to know that from nothing else but the brain come joys, delights, laughter and sports, and sorrows, griefs, despondency, and lamentations."[2] Through much of history, the mind was thought to be separate from the brain. Even for present-day neuroscience, the mechanisms by which brain activity gives rise to consciousness and thought remain very challenging to understand: despite rapid scientific progress, much about how the brain works remains a mystery.[3] The operations of individual brain cells are now understood in considerable detail, but the way they cooperate in ensembles of millions has yet to be solved. The most promising approaches treat the brain as a biological computer, very different in mechanism from an electronic computer, but similar in the sense that it acquires information from the surrounding world, stores it, and processes it in a variety of ways, analogous to the central processing unit (CPU) in a computer.

This article compares the properties of brains across the entire range of animal species, with the greatest attention to vertebrates. It deals with the human brain insofar as it shares the properties of other brains. The ways in which the human brain differs from other brains are covered in the human brain article. Several topics that might be covered here are instead covered there because much more can be said about them in a human context. The most important is brain disease and the effects of brain damage, covered in the human brain article because the most common diseases of the human brain either do not show up in other species, or else manifest themselves in different ways.

Sumber

Kisah Nomophobia Si Pecandu Gadget

08 September 2014 16:48:43 Dibaca : 239

Jakarta - Jika kita memperhatikan sekitar, terutama saat menggunakan transportasi umum, maka akan ditemukan fenomena menarik. Baik kita mengamati di stasiun commuter line, busway, kereta api, terminal antara propinsi, ataupun bandara, akan jamak kita temui orang-orang yang asik dengan gadgetnya masing-masing.

Bermain dengan smartphone dan tablet, seakan-akan lebih mengasyikkan daripada berdiskusi dengan orang lain. Satu hal yang ironis, dalam kumpul keluarga, ternyata setiap anggotanya banyak yang asik dengan gadgetnya, bukan ngobrol dengan keluarga sendiri.

Seakan, gadget sudah menjadi semacam 'fetish' yang menarik seluruh kesadaran mereka. Apakah yang terjadi?

Nomophobia di mana-mana

Nomophobia (no mobile phone phobia) adalah istilah baru, yang berarti ketakutan akan dipisahkannya pengguna dengan gadget kesayangannya. Istilah ini diperkenalkan oleh peneliti dari Inggris.

Adapun, di luar negeri sudah banyak penelitian mengenai nomophobia. Yang paling banyak dikutip adalah penelitian oleh securenvoy, sebuah perusahaan IT di Inggris. Menurut penelitian mereka, dari 1.000 responden yang menjawab polling mereka, sekitar 66 persen memiliki rasa takut kehilangan atau terpisah dari ponsel mereka.

Sementara lebih dari 41 persen memiliki lebih dari satu smartphone. Hal ini memprihatinkan, karena beberapa tahun yang lalu, survey serupa menyatakan bahwa hanya 53 persen responden yang takut kehilangan gadget mereka, sekarang angka itu naik ke 66 persen.

Survei yang tak kalah menarik dilakukan oleh Chicago Tribune, di Amerika Serikat, dimana lebih dari 40 persen responden menyatakan 'lebih baik tidak gosok gigi selama seminggu daripada pergi tanpa smartphone'.

Ada juga survei yang dilakukan oleh 11Mark, yang menyatakan bahwa 75 persen responden menggunakan smartphone di kamar mandi. Namun, tidak hanya Amerika Serikat dan Inggris saja yang terkena gangguan mental ini, namun juga Australia.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Cisco di Australia, 9 dari 10 orang berusia dibawah 30 tahun mengakui mengalami nomophobia. Survei tersebut dilakukan terhadap 3800 pemakai smartphone.

Bagaimana dengan di Indonesia? Memang sampai sekarang belum ada data yang pasti. Namun, di Asia sendiri, nomophobia telah menjadi ancaman nyata. Berdasarkan sebuah survei yang dilakukan di India, 45% dari responden mengalami nomophobia.

Namun menurut Dr Sanjay Dixit, seorang psikiater yang juga penelilti riset tersebut, nomophobia belum dimasukkan dalam kategori 'phobia' secara resmi oleh buku teks Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association.

Meski demikian, menurut Dr Dixit, semakin banyaknya pengguna gadget yang nomophonia dapat saja mencapai skala epidemik.

Nah, apa saja efek dari nomophobia? Menurut riset-riset tersebut, efek yang terjadi boleh dibilang tidak jauh berbeda dengan social disorder lain yang pernah didokumentasikan. Di antaranya:

1. Komunikasi antar manusia secara tatap muka jadi makin jarang
2. Generasi muda kini lebih suka berkomunikasi via gadget (email, chatting, Twitter, Facebook), daripada tatap muka langsung.
3. Orang jadi jarang mengamati lingkungan sekitar, karena lebih tenggelam dengan gadgetnya. Akibatnya, rasa peduli pada sekitar berkurang, justru lebih mempedulikan isu-isu di socmed dari gadgetnya.
4. Manusia dapat saja teralineasi oleh mesin. Masih ingat film wall-e dimana robot melayani manusia yang menjadi pemalas? Pada saat itu, manusia akan menjadi apatis dan anti sosial.

Gadget, sebagai 'fetish' baru, telah menjadi semacam 'dewa' baru yang dipuja-puji. Hal ini menarik, karena di masa lalu, ketergantungan terhadap teknologi yang begitu masif seperti sekarang ini sama sekali tidak pernah terjadi.

Sampai 30-20 tahun yang lalu, teknologi tinggi hanya dapat diakses oleh segelintir orang. Namun, sekarang ini, hampir semua orang dapat menggunakan media sosial dari gadget mereka. Mengapa? Sebab dengan smartphone seharga tidak sampai sejuta rupiah, maka fitur media sosial dan chatting sudah dapat digunakan.

Menghindari dan Mengobati Nomophobia

Apa yang harus kita lakukan untuk terhidar dari nomophobia? Salah satu yang dapat dilakukan adalah disiplin dengan gadget. Kita seyogyanya membiasakan waktu tertentu dimana pertemuan keluarga 'disterilkan' sama sekali dari gadget, supaya ada diskusi yang hangat dan bermakna.

Gadget adalah ciptaan manusia, sehingga jangan sampai kita diperbudak olehnya. Kemudian, salah satu aktivitas yang dapat mengurangi nomophobia adalah mengintensifkan kegiatan outdoor, seperti rekreasi alam, dan olahraga secara teratur.

Satu hal yang tak kalah penting, sebagai orang yang beragama, maka mengintensifkan ibadah dan terlibat secara intens pada pertemuan jemaat atau umat dapat mengurangi tendensi anti sosial yang timbul dari nomophobia.

Jika ketergantungan sudah parah dan mengganggu, konsultasi dengan ahlinya, dalam hal ini psikolog dan psikiater, sama sekali bukan opsi yang ditabukan. Mereka dapat memberikan saran dan terapi untuk mengurangi ketergantungan terhadap gadget. SUMBER

Tentang penulis