Mahasiswi Wanita Mahal

21 January 2025 01:36:54 Dibaca : 16

PUISI

Di koridor ilmu yang megah dan terang,Langkahnya gemulai, anggun menantang.Mahasiswi wanita dengan harga tak ringan,Bukan sekadar materi, namun nilai yang tertanam.

Di ruang diskusi yang sarat pemikiran,Ia hadir dengan wibawa dan kecerdasan.Tiap kata yang terucap, penuh perhitungan,Menjadi simbol dari tekad dan keberanian.

Kemewahan bukan hanya tentang pakaian,Namun dalam wawasan dan tindakan.Ia mahal, sebab dirinya tak ternilai,Oleh dunia yang sering kali memandang sebelah mata.

Di antara gemerlap kota dan tuntutan zaman,Ia berjuang tanpa lelah dan kepalsuan.Kemandirian menjadi mahkota yang ia kenakan,Menghargai diri, tanpa butuh pengakuan.

Bukan emas atau berlian yang menyilaukan,Namun keteguhan prinsip dan kebijakan.Setiap tantangan dijawab dengan ketangguhan,Membangun masa depan dalam genggaman.

Ia mahal, bukan karena berlimpah harta,Namun karena nilai, prinsip, dan cita-cita.Sebentuk inspirasi bagi yang memahami,Bahwa menjadi berharga adalah pilihan hati.

Senioritas Di Kampus: Antara Tradisi, Tekanan, Dan Tantangan Masa Depan

MOHAMAD RIADI MUSLIM

Budaya senioritas di perguruan tinggi merupakan fenomena yang telah lama menjadi bagian dari dinamika kehidupan kampus. Senioritas sering kali dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap mahasiswa yang lebih berpengalaman, tetapi dalam beberapa kasus, praktik ini dapat berkembang menjadi tekanan sosial yang berdampak negatif bagi mahasiswa baru. Studi oleh Braxton, Doyle, dan Lyken-Segosebe (2015) menunjukkan bahwa budaya kampus memiliki pengaruh signifikan terhadap pengalaman mahasiswa baru, termasuk dalam pengambilan keputusan akademik dan sosial mahasiswa.

Mahasiswa baru di perguruan tinggi sering kali menghadapi tekanan dari senior dalam pengambilan keputusan, baik terkait akademik maupun sosial. Penelitian oleh Bryan, Kim, dan Liu (2022) menyoroti bagaimana bimbingan dari individu yang lebih berpengalaman, seperti konselor akademik, dapat membantu mahasiswa dalam mengambil keputusan yang lebih baik terkait pendidikan mereka. Namun, dalam konteks senioritas, tekanan dari senior dapat mengarahkan junior untuk membuat keputusan yang bertentangan dengan keinginan atau potensi mereka sendiri.

Beberapa bentuk pengaruh yang dialami junior antara lain:

1.     Pemilihan organisasi kemahasiswaan yang sesuai dengan preferensi senior.

2.     Keterlibatan dalam kegiatan yang tidak sesuai dengan minat pribadi.

3.     Penyesuaian sikap dan perilaku agar diterima dalam lingkungan sosial kampus.

Senior sering kali memiliki kewenangan dalam menilai dan mengevaluasi keterlibatan junior dalam berbagai kegiatan kampus. Praktik ini dapat menciptakan standar penilaian yang subjektif dan cenderung tidak adil. Nolan dan Jenkins (2012) menunjukkan bahwa evaluasi berbasis pengalaman dapat memberikan manfaat jika dilakukan dengan pendekatan yang konstruktif, namun dalam praktik senioritas, evaluasi ini sering digunakan sebagai alat untuk menunjukkan dominasi dan mempertahankan hierarki sosial.

Beberapa dampak negatif dari evaluasi subjektif ini meliputi:

1.      Meningkatnya tingkat stres dan kecemasan pada mahasiswa baru.

2.      Ketidakadilan dalam pemberian kesempatan untuk berkembang.

3.      Penghambatan inovasi dan kreativitas akibat tekanan sosial.

Kekerasan fisik dalam budaya senioritas merupakan bentuk ekstrem dari dinamika hubungan senior-junior di perguruan tinggi. Tindakan ini sering kali muncul dalam kegiatan orientasi mahasiswa baru dan aktivitas ekstrakurikuler lainnya. Studi oleh Braxton et al. (2015) menekankan bahwa norma sosial di lingkungan kampus dapat berkontribusi pada keberlanjutan praktik kekerasan jika tidak ada intervensi yang memadai dari pihak institusi.

Dampak kekerasan fisik terhadap junior meliputi:

1.      Trauma psikologis yang berkepanjangan.

2.      Penurunan motivasi akademik dan keterlibatan dalam kegiatan kampus.

3.      Meningkatnya risiko kesehatan fisik dan mental.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Budaya senioritas di perguruan tinggi dapat memberikan dampak yang beragam terhadap mahasiswa baru. Jika tidak dikelola dengan baik, praktik ini dapat menghambat perkembangan individu dan menciptakan lingkungan yang tidak sehat. Oleh karena itu, diperlukan upaya dari berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan, untuk:

  1. Menerapkan kebijakan yang jelas terkait senioritas dan interaksi antar mahasiswa.
  2. Meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan kampus yang inklusif dan suportif.
  3. Memberikan pelatihan kepada mahasiswa senior dalam hal kepemimpinan yang positif dan mendukung perkembangan junior.

Dengan pendekatan yang lebih humanis dan berbasis bukti, diharapkan budaya senioritas dapat menjadi alat yang konstruktif dalam membentuk karakter mahasiswa, bukan sebagai sarana penindasan atau kontrol sosial yang merugikan.

DAFTAR PUSTAKA

Bryan, J., Kim, J., & Liu, C. (2022). School counseling college-going culture: Counselors’ influence on students’ college-going decisions. Journal of Counseling & Development, 100(1), 39–55. doi:10.1002/jcad.12408

Braxton, J. M., Doyle, W. R., & Lyken-Segosebe, D. (2015). Tweaking the Culture of the Community College. New Directions for Community Colleges, 2015(171), 77–85. doi:10.1002/cc.20156

Nolan, L. J., & Jenkins, S. M. (2012). Transitioning students out of college: The senior LC in psychology at Wagner College. New Directions for Teaching and Learning, 2012(132), 31–42. doi:10.1002/tl.20034

 

 

 

 

 

 

 

 

KONSELING KOMUNITAS: SOLUSI HIDUP LEBIH BAIK

21 January 2025 00:56:09 Dibaca : 20

Bimbingan dan konseling di masyarakat memiliki peran penting dalam mendukung individu dan kelompok dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Layanan ini bertujuan untuk memberikan bantuan psikologis, sosial, dan pendidikan bagi masyarakat luas. Dalam konteks komunitas, bimbingan dan konseling bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup individu dengan pendekatan yang komprehensif dan berbasis komunitas. Menurut Kadota dan Acker (1971), bimbingan berbasis komunitas memberikan kesempatan bagi kelompok yang kurang beruntung untuk mendapatkan akses ke layanan pendidikan dan pengembangan diri yang lebih baik. Pendekatan ini memungkinkan individu untuk memperoleh keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari serta dukungan dalam mengatasi berbagai permasalahan pribadi dan sosial.

Selain itu, penelitian oleh Minton, Gibbons, dan Hightower (2021) menyoroti pentingnya keterlibatan komunitas dalam penelitian dan evaluasi program bimbingan dan konseling. Dengan melibatkan komunitas secara aktif, layanan konseling dapat lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Pendekatan ini juga memastikan bahwa program-program yang diterapkan berbasis bukti dan dapat diukur efektivitasnya.Lebih lanjut, Schwitzer et al. (2016) menyatakan bahwa konseling di komunitas, terutama di lingkungan pendidikan seperti perguruan tinggi komunitas, sering kali menghadapi tantangan dalam hal pengukuran hasil yang efektif. Oleh karena itu, pendekatan yang terstruktur dan berbasis data sangat diperlukan untuk meningkatkan dampak dari layanan bimbingan dan konseling di masyarakat.

Wilcoxon dan Cecil (1985) mengusulkan model persiapan konselor yang berorientasi pada layanan komunitas. Model ini menekankan pada pentingnya pelatihan konselor yang mampu memahami dinamika sosial dan budaya masyarakat tempat mereka bekerja, sehingga intervensi yang diberikan dapat lebih tepat sasaran. Selain itu, dalam konteks pelayanan kesehatan masyarakat, Rudert et al. (2024) mengembangkan paket konseling komunitas yang berfokus pada kesehatan ibu dan anak. Pendekatan ini menunjukkan bahwa layanan konseling yang dirancang khusus untuk kelompok tertentu dapat meningkatkan efektivitas intervensi dan mencapai hasil yang lebih optimal.Hartwig (1975) menyoroti pendekatan berbasis kompetensi dalam layanan bimbingan dan konseling bagi orang dewasa. Dengan pendekatan ini, layanan konseling dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu yang berbeda, dengan memperhatikan aspek keterampilan dan pengalaman hidup mereka. Dengan demikian, bimbingan dan konseling di masyarakat memerlukan pendekatan yang berbasis komunitas, partisipatif, dan berorientasi pada bukti untuk dapat memberikan dampak yang maksimal. Layanan ini harus terus dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan spesifik masyarakat serta dinamika sosial yang terus berkembang.

REFERENSI

Kadota, P., & Acker, J. M. (1971). Community-based college guidance for the disadvantaged. The Personnel and Guidance Journal, 50(3), 175–181. doi:10.1002/j.2164-4918.1971.tb03706.x

Minton, C. A. B., Gibbons, M. M., & Hightower, J. M. (2021). Community-Engaged Research and Evaluation in Counseling: Building Partnerships and Applying Program Evaluation. Journal of Counseling & Development, 99(2), 210–220. doi:10.1002/jcad.12368

Schwitzer, A. M., Pribesh, S., Ellis-O’Quinn, A., Huber, P. B., & Wilmer, E. C. (2016). Community College Counseling: Why Are Research Outcomes So Elusive? Journal of College Counseling, 19(1), 76–95. doi:10.1002/jocc.12032

Wilcoxon, S. A., & Cecil, J. H. (1985). Community-Agency Counseling: A Model for Counselor Preparation. Counselor Education and Supervision, 25(2), 99–106. doi:10.1002/j.1556-6978.1985.tb00518.x

Rudert, C., Koniz-Booher, P., Lung’aho, M., Stone-Jimenez, M., Arts, M., & Bégin, F. (2024). Development of the generic Community Infant and Young Child Feeding Counselling Package. Maternal & Child Nutrition, 20(2), e12946. doi:10.1111/mcn.12946

Hartwig, J. E. (1975). A Competency-Based Approach to Adult Counseling and Guidance. Counselor Education and Supervision, 15(1), 12–20. doi:10.1002/j.1556-6978.1975.tb00979.x

Teori Anna Row dalam perencanaan karir mahasiswa menawarkan pendekatan yang menekankan pentingnya pengaruh lingkungan keluarga dan pengalaman masa kecil terhadap pembentukan minat dan aspirasi karir seseorang. Row berargumen bahwa interaksi individu dengan orang tua dan lingkungan keluarga menciptakan pola yang membentuk preferensi karir di masa depan. Teori ini mengelompokkan pengaruh lingkungan keluarga menjadi dua kategori utama: lingkungan yang mendukung (supportive) dan lingkungan yang menuntut (pressuring). Kedua jenis lingkungan ini memainkan peran signifikan dalam memengaruhi persepsi individu terhadap pekerjaan tertentu.

Moss dan Bradley (1988) menguatkan pandangan ini dengan menunjukkan bahwa pengaruh lingkungan keluarga dapat memengaruhi stabilitas keputusan karir mahasiswa. Mereka menyimpulkan bahwa mahasiswa yang menerima dukungan positif dari keluarga lebih cenderung untuk mengeksplorasi pilihan karir secara mandiri, sementara tekanan yang berlebihan dari keluarga dapat membatasi fleksibilitas mereka dalam memilih jalur karir.Lebih lanjut, Simpson (1980) menjelaskan bahwa pengalaman masa kecil tidak hanya membentuk preferensi karir tetapi juga memengaruhi bagaimana individu memandang kesuksesan dalam pekerjaan. Dalam konteks mahasiswa, hal ini relevan untuk memahami dinamika internal yang memengaruhi keputusan mereka saat memilih jurusan atau program studi tertentu di perguruan tinggi.

Wrenn (1985) menyoroti bahwa teori Row juga dapat diaplikasikan untuk memahami bagaimana faktor psikologis, seperti kebutuhan emosional dan keamanan, memainkan peran dalam menentukan aspirasi karir. Penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang memahami hubungan antara kebutuhan psikologis dan pilihan karir lebih mampu membuat keputusan yang seimbang antara kepuasan pribadi dan tuntutan eksternal.Dalam konteks perencanaan karir di era modern, Harrington dan Long (2013) menyarankan bahwa pendekatan berbasis teori Anna Row harus dilengkapi dengan asesmen minat dan kebutuhan karir yang lebih komprehensif. Hal ini sejalan dengan temuan Beale (1998), yang menekankan pentingnya pembelajaran teori karir untuk membantu mahasiswa mengintegrasikan pengaruh keluarga dengan informasi pasar kerja yang relevan.

June dan Pringle (1977) menambahkan dimensi penting mengenai bagaimana faktor ras dan budaya memengaruhi penerapan teori karir, termasuk teori Row. Dalam konteks mahasiswa, hal ini menunjukkan perlunya mempertimbangkan keragaman latar belakang saat mengembangkan program bimbingan karir.Dengan demikian, teori Anna Row memberikan kerangka yang kaya untuk memahami perencanaan karir mahasiswa. Namun, implementasinya harus mempertimbangkan konteks individu, termasuk faktor keluarga, kebutuhan psikologis, dan dinamika sosial-budaya. Studi empiris seperti yang dilakukan oleh Sampaio et al. (2021) menunjukkan bahwa intervensi yang holistik dan berbasis kebutuhan psikologis dapat meningkatkan efektivitas perencanaan karir, sehingga mahasiswa lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja.

Mahasiswa error adalah istilah yang menggambarkan situasi di mana mahasiswa mengalami kesalahan atau kekeliruan dalam memahami materi, pengelolaan waktu, atau pengambilan keputusan akademik. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tekanan lingkungan, kebisingan, atau bahkan kompleksitas materi pembelajaran. Tomek dan Urhahne (2022) mengungkapkan bahwa kebisingan di ruang belajar meningkatkan tingkat stres mahasiswa, mengurangi konsentrasi, dan mengganggu kemampuan mereka dalam melakukan koreksi kesalahan.

Sementara itu, Hoffman dan Elmi (2021) menunjukkan bahwa lingkungan belajar dengan kode yang penuh kesalahan (error-full environment) dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa, karena mereka didorong untuk menganalisis dan menemukan solusi atas kesalahan yang muncul. Namun, Matos et al. (2018) menekankan bahwa model kesalahan pengukuran, seperti dalam distribusi Student-t, dapat memperumit proses analisis dan evaluasi hasil belajar mahasiswa, terutama dalam kasus respons yang terdistorsi atau terkendala. Selain itu, Uhlik (2004) mencatat bahwa kesalahan dalam buku teks atau materi pembelajaran dapat menyebabkan kebingungan di kalangan mahasiswa, yang pada akhirnya memengaruhi kemampuan mereka dalam memahami konsep yang diajarkan. Dengan demikian, fenomena mahasiswa error tidak hanya mencerminkan tantangan akademik yang dialami mahasiswa, tetapi juga menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran melalui pendekatan yang lebih kritis dan adaptif.

 

DAFTAR PUSTAKA

Tomek, R., & Urhahne, D. (2022). Effects of student noise on student teachers’ stress experiences, concentration and error–correction performance. Educational Psychology, 42(1), 64–82. doi:10.1080/01443410.2021.2002819

Hoffman, H. J., & Elmi, A. F. (2021). Do Students Learn More from Erroneous Code? Exploring Student Performance and Satisfaction in an Error-Free Versus an Error-full SAS® Programming Environment. Journal of Statistics and Data Science Education, 29(3), 228–240. doi:10.1080/26939169.2021.1967229

Larissa A. Matos, C. R. B. C., Luis M. Castro, & Lachos, V. H. (2018). Multivariate measurement error models based on Student-t distribution under censored responses. Statistics, 52(6), 1395–1416. doi:10.1080/02331888.2018.1527841

Uhlik, K. S. (2004). Midnight at the IDL: student confusion and textbook error. Journal of Geography in Higher Education, 28(2), 197–207. doi:10.1080/0309826042000242440