puisi singkat

01 April 2025 22:53:39 Dibaca : 3

moh riadi muslim

sebatang rokok kini habis 

namun rokok tak mampu menghapus tentangmu dalam benakku

tak ada yang lebih indah dari senyummu

bahkan malam yang bermandikan bintang tak mampu menandinginya

 

Lagu Terlalu Tinggi yang dipopulerkan oleh Juicy Luicy menggambarkan dinamika emosional dalam hubungan romantis, khususnya perasaan euforia yang bercampur dengan ketakutan akan kehilangan. Lirik lagu ini menggunakan metafora layang-layang untuk merepresentasikan pengalaman seseorang yang merasa terangkat tinggi dalam cinta, tetapi sekaligus khawatir akan jatuh. Fenomena ini sejalan dengan penelitian tentang dinamika hubungan dan dampaknya terhadap individu yang mengalaminya (Carter, Knox, & Hall, 2018).

Romantisme dan Ketakutan dalam Hubungan

Lirik lagu ini menunjukkan bahwa seseorang dapat menikmati cinta yang membahagiakan namun tetap dihantui ketakutan akan perpisahan. Dalam konteks psikologis, Carter et al. (2018) menyebutkan bahwa pengalaman putus cinta bisa menjadi kehilangan yang sulit bagi sebagian individu, tergantung pada keterikatan emosional dan mekanisme koping yang mereka miliki. Lirik seperti "Terlalu tinggi, terlalu tinggi, di atas awan ku nikmati dua sisi" menggambarkan bagaimana individu mengalami paradoks emosional dalam hubungan: kebahagiaan ekstrem yang disertai kecemasan akan ketidakpastian.

Pengaruh Musik terhadap Persepsi Emosi

Musik memiliki peran penting dalam membentuk dan memperkuat emosi seseorang. Studi oleh Guo et al. (2020) menunjukkan bahwa musik sedih dapat memodulasi persepsi rasa sakit dan meningkatkan refleksi emosional individu. Hal ini relevan dalam konteks lagu Terlalu Tinggi, yang dengan nada melankolisnya memperkuat kesan kehilangan dan ketakutan yang tersirat dalam lirik. Warrenburg (2020) juga menegaskan bahwa musik sedih dapat dikategorikan dalam dua tipe utama: musik yang menggugah kesedihan mendalam dan musik yang menimbulkan refleksi emosional. Lagu ini tampaknya termasuk dalam kategori kedua, di mana pendengar tidak hanya merasakan kesedihan tetapi juga melakukan refleksi terhadap pengalaman pribadinya dalam cinta dan kehilangan.

Simulasi dan Ketidakstabilan dalam Hubungan

Secara konseptual, hubungan romantis dapat dianalogikan dengan model dinamika yang tidak stabil, sebagaimana dijelaskan oleh Qian et al. (2006) dalam konteks simulasi dinamika pemisahan. Ketidakstabilan dalam hubungan dapat terjadi ketika seseorang merasa terbawa terlalu jauh dalam euforia cinta, tetapi kemudian menghadapi kenyataan bahwa segala sesuatu tidak selalu berada dalam kendali mereka. Dalam lagu ini, ketidakstabilan hubungan tergambar melalui permohonan berulang dalam lirik seperti "Ku mohon jangan kau lepaskan aku", yang menunjukkan ketidakpastian dan kecemasan individu terhadap keberlanjutan hubungan.

Kesimpulan

Lagu Terlalu Tinggi bukan sekadar lagu romantis biasa, melainkan refleksi emosional yang mendalam tentang dinamika cinta dan ketakutan akan kehilangan. Dengan pendekatan akademik, dapat dilihat bahwa perasaan yang digambarkan dalam lagu ini memiliki relevansi dengan penelitian mengenai kehilangan dalam hubungan (Carter et al., 2018), dampak musik terhadap emosi (Guo et al., 2020; Warrenburg, 2020), serta ketidakstabilan dalam hubungan yang dapat dijelaskan melalui model simulasi (Qian et al., 2006). Lagu ini bukan hanya menyampaikan perasaan secara artistik, tetapi juga menjadi cerminan dari pengalaman emosional yang umum dialami dalam dinamika hubungan manusia.

Daftar Pustaka

 Carter, K. R., Knox, D., & Hall, S. S. (2018). Romantic Breakup: Difficult Loss for Some but Not for Others. Journal of Loss and Trauma, 23(8), 698–714. doi:10.1080/15325024.2018.150252

Guo, S., Lu, J., Wang, Y., Li, Y., Huang, B., Zhang, Y., … Xia, Y. (2020). Sad Music Modulates Pain Perception: An EEG Study. Journal of Pain Research, 13, 2003–2012. doi:10.2147/JPR.S264188

Qian, D., McLaughlin, J. B., Sankaranarayanan, K., Sundaresan, S., & Kontomaris, K. (2006). SIMULATION OF BUBBLE BREAKUP DYNAMICS IN HOMOGENEOUS TURBULENCE. Chemical Engineering Communications, 193(8), 1038–1063. doi:10.1080/00986440500354275

Warrenburg, L. A. (2020). Redefining sad music: Music’s structure suggests at least two sad states. Journal of New Music Research, 49(4), 373–386. doi:10.1080/09298215.2020.1784956

Skripsi dan Patah Hati

01 April 2025 22:36:53 Dibaca : 2

Mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di tengah pengalaman patah hati menghadapi tantangan psikologis yang kompleks. Putusnya hubungan romantis dapat memicu berbagai reaksi emosional, termasuk kesedihan mendalam, kehilangan motivasi, serta gangguan kognitif yang dapat menghambat proses akademik (Reimer & Estrada, 2021). Bagi sebagian mahasiswa, patah hati dapat menyebabkan penurunan performa akademik, sementara bagi yang lain, pengalaman ini justru dapat menjadi pemicu pertumbuhan pribadi dan akademik (Carter, Knox, & Hall, 2018).

Dalam konteks akademik, patah hati sering kali berkontribusi terhadap stres dan kecemasan yang berdampak negatif pada konsentrasi serta kemampuan mengelola waktu. Nikitovich (2017) menyoroti bahwa mahasiswa yang mengalami kesedihan emosional akibat kehilangan, termasuk putus cinta, sering kali mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas akademik yang membutuhkan fokus dan pemikiran analitis. Hal ini semakin diperburuk oleh keterlibatan digital dalam hubungan, seperti media sosial, yang dapat meningkatkan distress emosional pasca putus cinta, sebagaimana dikemukakan oleh Lukacs & Quan-Haase (2015). Paparan terhadap informasi mengenai mantan pasangan di media sosial dapat memperpanjang fase pemulihan emosional, sehingga memperberat tekanan akademik yang sedang dihadapi.

Namun, beberapa strategi adaptasi telah dikembangkan untuk membantu mahasiswa dalam menghadapi tantangan emosional ini. Akun et al. (2024) menemukan bahwa terapi berbasis ekspresi diri, seperti penulisan terapeutik, dapat menjadi sarana efektif bagi mahasiswa yang mengalami stres akibat patah hati. Dengan menyalurkan emosi ke dalam tulisan, mahasiswa dapat mengatasi distress psikologis dan meningkatkan kembali produktivitas akademik mereka. Pendekatan ini menunjukkan bahwa transformasi emosi negatif menjadi pengalaman reflektif dapat membantu individu mengembangkan ketahanan psikologis.

Oleh karena itu, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi di tengah patah hati perlu mengembangkan strategi koping yang sehat, seperti menyeimbangkan waktu antara akademik dan pemulihan emosional, serta memanfaatkan teknologi berbasis terapi ekspresi untuk mengelola emosi mereka. Dengan pendekatan yang tepat, pengalaman kehilangan dapat diubah menjadi proses pembelajaran yang mendukung pertumbuhan akademik dan pribadi.

 daftar pustaka

Akun, A., Andreani, W., Purnomo, F., Putri, R. A., Persada, I. B., & Ario, M. K. (2024). Poe-life: emphatic technology in sanative writing application as a way of assisting underachieving students. Journal of Poetry Therapy, 0(0), 1–13. doi:10.1080/08893675.2024.2400667

Carter, K. R., Knox, D., & Hall, S. S. (2018). Romantic Breakup: Difficult Loss for Some but Not for Others. Journal of Loss and Trauma, 23(8), 698–714. doi:10.1080/15325024.2018.1502523

Lukacs, V., & Quan-Haase, A. (2015). Romantic breakups on Facebook: new scales for studying post-breakup behaviors, digital distress, and surveillance. Information, Communication & Society, 18(5), 492–508. doi:10.1080/1369118X.2015.1008540

Nikitovich, M. (2017). Epitaph for a Thesis: Bridging the Gap between Grief and Growth. Smith College Studies in Social Work, 87(4), 371–374. doi:10.1080/00377317.2017.1372527

Reimer, J. E., & Estrada, A. R. (2021). College Students’ Grief Over a Breakup. Journal of Loss and Trauma, 26(2), 179–191. doi:10.1080/15325024.2020.1757992

April sering kali menjadi bulan peralihan, di mana musim berganti, waktu terasa berjalan lebih cepat, dan perpisahan menjadi tak terelakkan. Bagi banyak orang, bulan ini membawa kenangan akan perpisahan, baik itu perpisahan dengan sahabat, kekasih, atau fase kehidupan tertentu.

Perpisahan di bulan April bukan hanya sekadar peristiwa, tetapi juga simbol bahwa segala sesuatu memiliki waktunya. Di penghujung semester, mahasiswa berpisah dengan teman-temannya sebelum libur panjang. Di dunia kerja, April menandai awal atau akhir masa kontrak bagi sebagian karyawan. Sementara itu, bagi mereka yang menjalin kisah cinta, April mungkin menjadi saksi bisu ketika dua hati memilih jalan yang berbeda.

Namun, di balik perpisahan, selalu ada ruang untuk awal yang baru. April, dengan segala kehangatan dan kesedihannya, mengajarkan bahwa setiap akhir adalah awal dari perjalanan yang berbeda. Meski perpisahan meninggalkan luka, ia juga membawa harapan bahwa hari esok akan memberi kejutan yang lebih baik.

Jadi, jika April telah memisahkan kita, mungkin itu adalah cara semesta memberi kesempatan untuk menemukan kembali diri kita sendiri atau bahkan bertemu dengan sesuatu yang lebih indah di masa depan.

Puisi Sajak Kecil Tentang Cinta karya Sapardi Djoko Damono adalah salah satu bentuk ungkapan cinta yang mendalam dan filosofis. Dalam bait-baitnya, Sapardi tidak mendefinisikan cinta secara gamblang, tetapi mengajak pembaca untuk merenungi maknanya melalui metafora yang kuat dan simbolis.

Dalam puisinya, Sapardi menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang mengharuskan seseorang menyatu dengan apa yang dicintainya. "Mencintai angin harus menjadi siut," menggambarkan bahwa mencintai sesuatu berarti harus memahami dan menjadi bagian darinya. Begitu pula dengan air, gunung, dan api semuanya memiliki sifat yang unik dan menuntut pemahaman mendalam dari mereka yang mencintainya.

Pada baris terakhir, "Mencintai-Mu harus menjelma aku," Sapardi seolah mengajak kita untuk melihat cinta sebagai bentuk penyatuan tertinggi. Cinta sejati bukan sekadar perasaan, tetapi sebuah proses transformasi, di mana seseorang tidak hanya merasakan, tetapi juga menjadi bagian dari apa yang dicintainya.

Puisi ini mengajarkan bahwa cinta sejati bukanlah sekadar memiliki, tetapi memahami, menyelami, dan berani melebur menjadi bagian dari yang dicintai. Sapardi, dengan kesederhanaan kata-katanya, berhasil menyampaikan makna cinta yang begitu dalam dan universal.