Jejak Spritualitas di Penghujung Bulan Ramadhan

30 March 2025 04:39:22 Dibaca : 5

Hai teman-teman,  

 

Tak terasa, Ramadan tahun ini begitu cepat berlalu. Kini, kita sudah berada di penghujung bulan yang penuh berkah ini. Ramadan, bulan seribu bulan yang paling istimewa, telah disiapkan oleh Allah SWT khusus untuk kita, umat Muslim, agar dapat meraih pahala dan ridho-Nya sebaik-baiknya. Setiap dari kita berlomba-lomba memperbanyak ibadah: mulai dari salat lima waktu yang dijaga, tarawih yang menguatkan iman, sahur yang penuh keberkahan, hingga khatam Qur'an sebagai bentuk pengabdian kepada-Nya.  

 

Namun kini, dengan segala keberkahan yang dibawanya, Ramadan akan segera pergi meninggalkan kita. Bulan yang suci ini akan datang kembali sebelas bulan kemudian, sementara malam ini adalah tarawih terakhir kita, dan sahur terakhir menutup puasa di tahun ini, 2025 Masehi/1446 Hijriah. Genap 30 hari kita menahan hawa nafsu, memperbanyak amal, dan memohon ridho dari Allah SWT.  

 

Ramadan memang selalu membawa kehangatan spiritual yang mendalam. Semoga Allah SWT menerima setiap doa, amalan, dan ibadah kita di bulan penuh rahmat ini. Semoga pula kita diberikan kekuatan untuk terus memperbaiki diri dan menjalani bulan-bulan mendatang dengan lebih baik. Dengan penuh harap, kita memohon agar di tahun depan, Allah SWT memberikan kita kesehatan dan umur panjang untuk kembali bertemu Ramadan dalam keadaan yang lebih baik dan lebih diberkahi.  

 

Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.  

 

Malam Tumbilo Tohe

25 March 2025 23:29:53 Dibaca : 11

Malam pasang lampu atau masyarakat Gorontalo menyebutnya dengan Malam tumbilo tohe, dimana ini menandakan ramadan akan meninggalkan kita dan akan menuju kemenangan atau lebaran. Malam pasang Lampung identik dengan lampu-lampu tradisional berupa lentera bergeser indah halaman selasa rumah, dan ada juga yang menggantungnya dipagar-pagar selasar rumah. 

 

Pada malam ini anak-anak bergembira, karena mereka mencari zakat namanya, mereka akan datang ke rumah-rumah untuk meminta uang zakat atau bisa disebut uajg hari raya. Tak dapat dipungkiri ini sudah tradisi yang menjamur di Gorontalo, dan banyak juga masyarakat yang terbuka dengan hal ini, jika biasanya uang hari raya diberikan pada saat lebaran tapi banyak juga yang memberikan uang hari raya atau masyarakat Gorontalo menyebutnya zakati di malam pasang lampu tumbilotohe. Tentu ini disambut sangat gembira oleh anak-anak, ada rasa senyum dan kebahagiaan yang terukur indah di bibir mereka.

 

Dikutip dari Hulondalo.id konon Tumbilo tohe sudah berlangsung sejak abad XV. Pada masa itu, lampu penerangan masih terbuat dari wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar. Alat penerangan ini disebut wango. Tahun-tahun berikutnya, alat penerangan mulai menggunakan tohetutu atau damar, semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar. Tumbilo tohe hanya ada di Gorontalo yang mulai tersebar di beberapa wilayah, khususnya di Pulau Sulawesi. Tradisi ini juga telah dinobatkan sebagai warisan budaya takbenda Indonesia pada tahun 2014 silam.

 

Dikutip dari Detik.com Dahulu kala, masyarakat memasang lampu minyak tanah di sepanjang pinggir jalan. Mereka kompak memberikan penerangan bagi petugas setempat yang sedang mengumpulkan zakat fitrah berupa beras dari rumah-rumah di daerah tersebut.

 

Kini, tradisi tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk tujuan tersebut, tetapi juga untuk menyambut hari lebaran dan mengapresiasi umat yang menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Yang berikut Tumbilo tohe juga menandakan lebaran tinggal sedikit lagi karena Tumbilo tohe baru bisa dilaksanakan pada bulan puasa malam ke 27 hari. 

 

Malam tumbilo tohe tentu sangat indah lampu lentera dimana mana menambah objek wisata di Gorontalo, Tumbilo tohe merupakan tradisi Gorontalo yang harus dilestarikan karena ini merupakan budaya Gorontalo, tak heran banyak objek-objek wisata yang memotret fenomena ini banyak festival-festival. Masih menurut Hulondalo.id Saat malam Tumbilotohe, wilayah Gorontalo menjadi terang benderang, cahayanya merata ke seluruh wilayah, nyaris tak ada sudut kota yang gelap.

 

Tradisionalnya, lampu Tumbilo tohe menggunakan media botol kaca kecil yang diisi dengan minyak tanah dan sumbu agar api dapat menyala. Bukan hanya dirumah rumah saja sawah yang kosong dan pekarangan yang lapang turut di letakan lampu botol kecil (lentera).

 

Akan tetapi budaya dan tradisi ini mulai terdegradasi dengan kemajuan jaman, dimana lampu yang dahulunya menggunakan lentera atau botol kecil berisi minyak tanah dan terdapat sumbu untuk menyalakan lampu kini sudah berganti menggunakan lampu tumbler oleh karena itu masyarakat Gorontalo harus melestarikan tradisi ini. 

Kesibukan Masyarakat Kota Gorontalo Menjelang Lebaran

25 March 2025 04:10:11 Dibaca : 8

Kota Gorontalo tampaknya sibuk menjelang hari raya idul fitri 1446 Hijriah, mengingat tinggal menghitung lima hari menuju hari kemenangan. Kota Gorontalo hampir bisa disorot oleh mata telanjang kesibukannya, Volume kenderaan memadati jalan dengan lampu yang khas milik kenderaan mereka menambah keindahan pada volume kenderaan itu. 

 

Masyarakat tampak sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing seperti berjualan, nongkrong, bernyanyi, diskusi, dan lain lain hampir tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Emperan jalan yang menjadi tmpat pejalan kaki di jalan utama pusat kota menjadi tempat berdagang bagi pelaku UMKM. 

 

Suara tadarusan dan pengajian di kota Gorontalo seperti kota ini diturunkan rahmat oleh yang maha kuasa, sebagai kota serambi madina banyak lomba-lomba yang dilakukan berbau religius. Memang sudah sepantasnya momen yang begitu tepat.

 

Pasar Utama di kota ini, (Kota Gorontalo) ramai bahakan dipenuhi oleh lautan manusia (Masyarakat Kota), sebelumnya tidak seramai ini. Memang setiap bulan ramadhan pasar itu menjadi tempat yang dikunjungi oleh masyarakat kota untuk mencari kebutuhan dapur dan kebutuhan menuju hari lebaran. Kemacetan di kawasan pusat perdagangan di kota itu hampir tidak terbendung, Volume kenderaan dan angkutan umum khas Provinsi Gorontalo yaitu bentor turut meramaikan kemacetan kota. 

 

Inilah kota Gorontalo dan kesibukan masyarakat menjelang hari lebaran 1446 Hijriah.

Organisasi Kampus Hilang Arah?

16 March 2025 21:28:47 Dibaca : 24

 

Organisasi kampus, dahulu kala, adalah jantung kehidupan mahasiswa. Tempat di mana ide-ide brilian lahir, kepemimpinan ditempa, dan persahabatan abadi terjalin. Namun, belakangan ini, muncul keresahan yang mendalam. Apakah organisasi kampus kita telah kehilangan arah? Apakah kita, sebagai mahasiswa, telah membiarkan wadah pengembangan diri ini meredup?

 

Gejala "hilang arah" ini tampak jelas. Partisipasi mahasiswa dalam kegiatan organisasi semakin menurun. Ruang-ruang diskusi yang dulu ramai kini sunyi. Program-program yang dijalankan terasa kurang relevan dengan kebutuhan zaman. Konflik internal pun tak jarang menghantui, menggerogoti semangat kebersamaan.

 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini. Pertama, perubahan minat mahasiswa. Generasi milenial dan gen Z tumbuh di era digital, di mana interaksi virtual sering kali lebih diminati daripada pertemuan tatap muka. Kedua, pengaruh teknologi. Media sosial dan platform digital lainnya menawarkan berbagai hiburan dan informasi yang mengalihkan perhatian mahasiswa dari kegiatan organisasi. Ketiga, kurangnya kaderisasi. Regenerasi kepemimpinan yang tidak berjalan dengan baik menyebabkan organisasi kehilangan arah dan semangat.

 

Dampak dari "hilang arah" ini sangatlah signifikan. Mahasiswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan soft skills yang sangat dibutuhkan di dunia kerja. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan memimpin menjadi tumpul. Lingkungan kampus pun terkena imbasnya. Iklim akademik yang seharusnya dinamis dan progresif menjadi lesu. Tradisi-tradisi positif yang dulu dijunjung tinggi mulai pudar.

 

Namun, harapan tidak boleh pupus. Kita masih bisa membalikkan keadaan. Langkah pertama adalah revitalisasi program kerja organisasi. Mari kita rancang kegiatan yang relevan dengan minat dan kebutuhan mahasiswa saat ini. Pemanfaatan teknologi juga menjadi kunci. Kita bisa menggunakan platform digital untuk meningkatkan partisipasi, komunikasi, dan kolaborasi.

 

Kaderisasi yang berkualitas adalah fondasi organisasi yang kuat. Mari kita cari bibit-bibit unggul dan berikan mereka pelatihan kepemimpinan yang memadai. Kita juga perlu membangun budaya organisasi yang inklusif dan transparan, di mana setiap anggota merasa dihargai dan memiliki kesempatan untuk berkontribusi.

 

Peran mahasiswa sangatlah krusial. Kita adalah agen perubahan. Mari kita aktif berpartisipasi dalam kegiatan organisasi, memberikan ide-ide segar, dan mengkritisi program-program yang tidak efektif. Jangan biarkan organisasi kampus kita menjadi sekadar formalitas. Mari kita jadikan wadah ini sebagai tempat untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi bagi masyarakat.

 

Organisasi kampus yang sehat dan dinamis adalah cerminan dari kualitas mahasiswa dan perguruan tinggi itu sendiri. Mari kita bersama-sama mengembalikan arah organisasi kampus kita ke jalur yang benar. Mari kita jadikan organisasi kampus sebagai kawah candradimuka, tempat di mana calon-calon pemimpin bangsa ditempa.

Di tengah hiruk pikuk persiapan pemilihan kepala daerah (pilkada), sebuah pertanyaan mendasar kembali mengemuka: siapakah yang sebenarnya berhak menentukan pemimpin daerah? Apakah rakyat pemilih, atau segelintir elite partai politik, khususnya ketua umum? Realitasnya, praktik politik di Indonesia seringkali menunjukkan kecenderungan yang mengkhawatirkan, di mana keputusan penting terkait calon kepala daerah lebih banyak ditentukan oleh preferensi ketua umum partai, bukan aspirasi rakyat.

 

Praktik ini jelas bertentangan dengan prinsip dasar demokrasi, yaitu kedaulatan rakyat. Dalam negara demokrasi, kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Rakyatlah yang berhak menentukan siapa yang akan memimpin mereka. Pemilihan kepala daerah adalah salah satu perwujudan nyata dari prinsip ini. Namun, ketika ketua umum partai mendominasi proses pencalonan, suara rakyat seolah tereduksi menjadi formalitas belaka.

 

Dominasi ketua umum partai dalam pilkada juga berpotensi mengabaikan kepentingan lokal. Kepala daerah yang dipilih bukan berdasarkan aspirasi masyarakat setempat, melainkan kepentingan elite partai, cenderung tidak memiliki pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan dan permasalahan daerah. Akibatnya, kebijakan yang diambil pun tidak optimal, bahkan kontraproduktif.

 

Selain itu, kepala daerah yang terpilih melalui mekanisme yang tidak demokratis cenderung kurang akuntabel kepada rakyat. Mereka merasa lebih berutang budi kepada ketua umum partai yang telah mengusung mereka, daripada kepada rakyat yang telah memilih mereka. Kurangnya akuntabilitas ini membuka peluang terjadinya penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan nepotisme.

 

Dominasi ketua umum partai dalam pilkada juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi partai politik itu sendiri. Keputusan yang tidak populer di kalangan kader dan pemilih dapat memicu konflik internal dan perpecahan. Lebih jauh lagi, hal ini dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap partai politik secara keseluruhan.

 

Lalu, bagaimana seharusnya pilkada yang demokratis itu diwujudkan? Pertama, partai politik perlu menerapkan mekanisme pemilihan calon yang lebih transparan dan partisipatif. Libatkan kader dan anggota partai di tingkat daerah dalam proses pengambilan keputusan. Kedua, masyarakat sipil perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pengawasan dan pemberian masukan terkait calon kepala daerah. Ketiga, perlu ada reformasi undang-undang yang mengatur pilkada, untuk membatasi intervensi elite partai dalam proses pencalonan.

 

Kepala daerah adalah pemimpin yang akan menentukan arah pembangunan daerah selama lima tahun ke depan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya rakyatlah yang memiliki hak penuh untuk memilih mereka. Jangan biarkan segelintir elite partai merampas hak demokrasi rakyat. Mari kita wujudkan pilkada yang jujur, adil, dan demokratis, di mana kepala daerah benar-benar menjadi pilihan rakyat, bukan pilihan ketua umum.