Langit sore menghampar jingga keemasan ketika Raka menatap papan pengumuman di mading kampus. Di sana, tertulis jelas namanya sebagai salah satu mahasiswa yang diterima di jurusan Bimbingan dan Konseling. Sebuah jurusan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, namun entah mengapa, hatinya berbisik bahwa ini adalah tempatnya.

"Jurusan lain mungkin hanya pelarian, tapi BK... ini pembuktian," gumamnya lirih

Bagi Raka, hidup adalah serangkaian keputusan. Ada orang yang memilih jurusan karena gengsi, ada yang memilih karena keharusan. Tapi dirinya? Ia memilih BK karena ingin memahami manusia, termasuk dirinya sendiri. Di sela-sela tugas kuliah, ia sering kali merenung, mencoba memahami mengapa hatinya selalu gelisah. Di kelas, ia belajar banyak tentang emosi, hubungan, dan luka yang tak terlihat. Dari sana, ia mulai sadar, mungkin ia masuk ke jurusan ini bukan hanya untuk menjadi seorang konselor, tapi juga untuk memahami sesuatu yang lebih dalam—tentang arti cinta sejati.

Raka tak pernah berpikir bahwa di balik teori psikologi dan sesi praktik, ia akan menemukan sesuatu yang lebih berarti: kenyataan bahwa cinta sejati bukan hanya soal mencari, tetapi memahami. Dari berbagai cerita klien simulasi dan diskusi panjang dengan dosen, ia menyadari bahwa cinta bukan sekadar kata-kata manis atau janji yang diukir dalam pesan singkat. Cinta sejati adalah memahami, menerima, dan tumbuh bersama.

Di tengah perjalanan akademiknya, Raka menemukan bahwa tidak semua orang beruntung dalam cinta. Ada yang terjebak dalam hubungan toksik, ada yang takut untuk mencintai lagi, dan ada pula yang masih mencari seseorang yang tepat. Ia bertanya-tanya, apakah dirinya termasuk di antaranya?

Namun, satu hal yang pasti, BK mengajarkannya banyak hal. Bahwa cinta bukan sekadar perasaan yang membara, tetapi juga keputusan untuk tetap tinggal, memahami, dan menerima tanpa syarat. Sesuatu yang baru baginya sesuatu yang lebih nyata dari sekadar impian masa muda.

Kini, Raka berdiri di penghujung perjalanan kuliahnya. Ia menatap ke depan, tak lagi mencari jawaban di tempat yang salah. Baginya, BK bukan hanya sebuah jurusan. BK adalah perjalanan, tempatnya menemukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar gelar atau pekerjaan. BK adalah cerminan dirinya, tempat di mana ia membuktikan bahwa cinta sejati bukan sekadar mencari, tetapi juga memahami dan menerima.

Fikri Wuwange dan Pencarian Cinta Sejati

19 February 2025 17:57:49 Dibaca : 33

Fikri Wuwange adalah seorang mahasiswa yang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Gorontalo, mengambil jurusan Bimbingan dan Konseling. Sebagai pemuda yang memiliki pemikiran terbuka dan orientasi akademik yang kuat, Fikri tidak hanya fokus pada studinya, tetapi juga mencari makna yang lebih dalam dalam kehidupannya, termasuk dalam hal cinta. Pertemuannya dengan Arini, seorang gadis desa yang memiliki kepribadian lembut dan sikap yang penuh perhatian, terjadi secara alami di kelas C. Awalnya, Fikri hanya menganggap Arini sebagai teman sekelas yang berdedikasi dalam studinya. Namun, seiring waktu, interaksi akademik mereka di kelas membuat Fikri mulai memperhatikan Arini lebih dalam. Kepribadian Arini yang sederhana, tetapi penuh ketulusan dalam berkomunikasi dan bersikap, menjadi daya tarik tersendiri bagi Fikri.

Diskusi-diskusi akademik yang mereka lakukan, baik di dalam maupun di luar kelas, semakin memperkuat ketertarikan Fikri. Ia mulai menyadari bahwa ketertarikan ini bukan sekadar kekaguman intelektual, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Namun, sebagai individu yang rasional, Fikri tidak ingin terburu-buru dalam mendefinisikan perasaannya. Ia mencoba memahami apakah yang ia rasakan adalah cinta sejati atau hanya kekaguman sesaat yang muncul akibat intensitas interaksi di lingkungan akademik. Dalam perjalanannya, Fikri menghadapi berbagai pertimbangan. Sebagai mahasiswa, ia menyadari bahwa tanggung jawab akademik harus tetap menjadi prioritas utama. Selain itu, ia juga memahami bahwa cinta sejati bukan hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang kesamaan visi, nilai, dan kesiapan untuk membangun hubungan jangka panjang. Oleh karena itu, ia memilih untuk lebih mengenal Arini secara mendalam sebelum mengambil keputusan lebih lanjut. Seiring waktu, hubungan mereka berkembang dalam batasan etika akademik dan profesionalisme sebagai mahasiswa. Melalui berbagai pengalaman dan tantangan di dunia perkuliahan, Fikri mulai memahami bahwa cinta sejati bukan hanya tentang ketertarikan, tetapi juga tentang kesediaan untuk tumbuh bersama.

Cerita ini mencerminkan bagaimana cinta dalam lingkungan akademik bukan hanya tentang emosi, tetapi juga tentang rasionalitas dan kesiapan dalam membangun hubungan yang memiliki dasar yang kuat.

Psikoanalisis: Sejarah, Teknik, Pendekatan, dan Tujuan

19 February 2025 17:36:22 Dibaca : 41

sejarah 

       Psikoanalisis berkembang pada akhir abad ke-19 melalui pemikiran Sigmund Freud, yang mengajukan bahwa pengalaman masa lalu, terutama yang bersumber dari ketidaksadaran, membentuk struktur kepribadian dan mempengaruhi perilaku individu. Awalnya, Freud meneliti gangguan histeria bersama Josef Breuer, yang kemudian melahirkan teknik terapi bicara (talking cure). Dalam The Interpretation of Dreams (1899), Freud mengembangkan teori ketidaksadaran serta konsep id, ego, dan superego, yang kemudian menjadi dasar bagi pendekatan psikoanalitik. Seiring berjalannya waktu, psikoanalisis mengalami berbagai adaptasi dan kritik. Carl Jung memperluas teori ini dengan konsep ketidaksadaran kolektif, sementara Alfred Adler menekankan peran dorongan sosial dalam membentuk kepribadian. Pada perkembangan selanjutnya, psikoanalisis juga diterapkan dalam berbagai bidang, termasuk psikologi klinis, budaya, dan politik (Gourguechon, 2013).

tujuan

      Tujuan utama psikoanalisis adalah membantu individu memahami konflik emosional yang tersembunyi dalam ketidaksadaran mereka. Dengan menggali pengalaman masa lalu dan pola pikir yang tidak disadari, individu dapat mengembangkan kesadaran diri (insight) yang lebih baik. Pendekatan psikoanalisis juga bertujuan untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan regulasi emosi melalui eksplorasi ketidaksadaran. Menurut Soldz (2007), dalam dunia yang semakin kompleks, psikoanalisis dapat membantu individu mempertahankan keseimbangan psikologis dengan memahami mekanisme pertahanan diri mereka.Selain itu, Lucas (2003) menyoroti bagaimana psikoanalisis dapat memberikan wawasan terhadap gangguan psikologis yang kompleks, seperti skizofrenia. Dalam praktiknya, psikoanalisis tidak hanya digunakan untuk mengatasi gangguan mental tetapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup individu melalui pemahaman yang lebih dalam tentang motivasi dan dinamika interpersonal mereka.Secara keseluruhan, psikoanalisis tetap menjadi pendekatan yang relevan dalam memahami aspek psikologis manusia, baik dalam konteks klinis maupun sosial. Meskipun mengalami berbagai adaptasi, prinsip dasar tentang peran ketidaksadaran dan dinamika internal individu tetap menjadi landasan dalam praktik dan penelitian psikoanalitik.

Pendekatan dalam Psikoanalisis

       Psikoanalisis mengalami berbagai perkembangan dan modifikasi sesuai dengan konteks sosial dan budaya. Dalam perkembangannya, pendekatan psikoanalisis klasik yang menitikberatkan pada pengalaman masa kecil dan ketidaksadaran berkembang menjadi pendekatan yang lebih kontekstual. Dalam kajian psikoanalisis di Asia, terutama di Tiongkok, ditemukan bahwa pendekatan psikoanalitik perlu menyesuaikan dengan nilai-nilai budaya setempat. Varvin & Gerlach (2011) mengungkapkan bahwa dalam terapi di Tiongkok, pemahaman tentang hubungan antarpribadi yang lebih kolektivis mempengaruhi bagaimana pasien menanggapi teknik terapi psikoanalitik. Selain itu, Zhong (2011) menyoroti adanya konflik antara prinsip psikoanalisis yang berfokus pada ekspresi individu dengan budaya yang menekankan harmoni sosial.Di luar konteks klinis, psikoanalisis juga diterapkan dalam studi sosial dan budaya. Forest (2016) membahas bagaimana psikoanalisis dapat digunakan untuk menganalisis periklanan dan dampaknya terhadap psikologi konsumen. Sementara itu, Chow et al. (2023) mengeksplorasi peran psikoanalisis dalam komunitas dan bagaimana pendekatan ini dapat digunakan untuk memahami fenomena sosial yang lebih luas.

Teknik dalam Psikoanalisis

     Teknik utama dalam psikoanalisis bertujuan untuk mengeksplorasi ketidaksadaran guna memahami dan mengatasi konflik psikologis yang tersembunyi. Salah satu teknik yang paling dikenal adalah asosiasi bebas, di mana individu berbicara secara spontan tentang pikiran dan perasaan mereka tanpa sensor. Teknik ini memungkinkan akses ke pengalaman masa lalu yang mungkin telah ditekan.Teknik lain yang penting adalah analisis mimpi, yang dikembangkan Freud berdasarkan gagasan bahwa mimpi merupakan jalan menuju ketidaksadaran. Simbol dan tema dalam mimpi dianalisis untuk mengungkap konflik emosional yang tidak disadari (Scharff, 2016). Selain itu, transferensi dan kontra-transferensi menjadi aspek penting dalam terapi, di mana pasien memproyeksikan perasaan dari hubungan masa lalu kepada terapis, sementara terapis juga dapat mengalami respons emosional yang berharga untuk memahami dinamika klien.

DAFTAR PUSTAKA

Gourguechon, P. (2013). Typology of Applied Psychoanalysis. International Journal of Applied Psychoanalytic Studies, 10(3), 192–198. doi:10.1002/aps.1366

Varvin, S., & Gerlach, A. (2011). The Development of Psychodynamic Psychotherapy and Psychoanalysis in China. International Journal of Applied Psychoanalytic Studies, 8(3), 261–267. doi:10.1002/aps.308

Scharff, D. E. (2016). PSYCHOANALYSIS IN CHINA: AN ESSAY ON THE RECENT LITERATURE IN ENGLISH. The Psychoanalytic Quarterly, 85(4), 1037–1067. doi:10.1002/psaq.12121

Zhong, J. (2011). Working with Chinese Patients: Are there Conflicts Between Chinese Culture and Psychoanalysis? International Journal of Applied Psychoanalytic Studies, 8(3), 218–226. doi:10.1002/aps.304

Chow, L., Gaspar, S., Kassoff, B., Leavitt, J., & Peltz, R. (2023). Community psychoanalysis and the generative landscape of our times. International Journal of Applied Psychoanalytic Studies, 20(2), 230–250. doi:10.1002/aps.1822

Soldz, S. (2007). Thinking critically in the midst of the maelstrom: can psychoanalysis help us stay sane in an insane world? In Introduction to the Practice of Psychoanalytic Psychotherapy (Vol. 5, pp. 163–170). doi:10.1002/ppi.141

Lucas, R. (2003). Psychoanalytic Controversies: The relationship between psychoanalysis and schizophrenia. The International Journal of Psychoanalysis, 84(1), 3–9. doi:10.1516/RKJ1-HJJ7-XMWV-6FF9

Forest, F. (2016). Psychoanalysis of Advertising. International Journal of Applied Psychoanalytic Studies, 13(4), 338–350. doi:10.1002/aps.1450

ORGANISASI SESAT

06 February 2025 20:16:02 Dibaca : 38

Organisasi merupakan entitas sosial yang memiliki struktur dan tujuan tertentu. Namun, dalam beberapa kasus, terdapat organisasi yang menyimpang dari norma sosial dan etika yang berlaku, yang kemudian disebut sebagai "organisasi sesat." Fenomena ini dapat ditemukan di berbagai sektor, termasuk keagamaan, bisnis, dan sosial.

Organisasi sesat memiliki beberapa karakteristik utama yang membedakannya dari organisasi konvensional. Menurut Ermann dan Lundman (1978), organisasi yang menyimpang sering kali menunjukkan perilaku devian secara kolektif, yang didukung oleh struktur hierarkis yang kuat serta kontrol sosial yang ketat. Selain itu, individu dalam organisasi tersebut dapat mengalami dehumanisasi, di mana nilai-nilai moral dan etika dikaburkan demi kepentingan organisasi (Sarwar et al., 2021). Menurut Lauritzen (2020), organisasi sesat dapat muncul ketika ada fleksibilitas struktural yang berlebihan dan kurangnya pengawasan terhadap praktik-praktik internal. Hal ini sering ditemukan dalam organisasi yang mengandalkan kerja sukarela, di mana norma formal sering kali diabaikan. Studi ini menunjukkan bahwa penyimpangan dapat terjadi bahkan di organisasi yang tidak memiliki niat jahat, tetapi berkembang karena sistem kontrol yang lemah.

Faktor yang menyebabkan suatu organisasi menjadi sesat dapat berasal dari internal maupun eksternal. Mostafa et al. (2023) menyatakan bahwa ketidaksesuaian antara individu dan organisasi (person-organization fit) dapat menyebabkan perilaku menyimpang, terutama ketika individu merasa tidak terikat secara moral dengan nilai-nilai organisasi. Selain itu, ketika praktik manajemen sumber daya manusia tidak berorientasi pada kesejahteraan anggota, maka perilaku menyimpang dapat meningkat. Nair dan Bhatnagar (2011) juga menyoroti bahwa perilaku menyimpang dalam organisasi nirlaba dapat terjadi akibat tekanan eksternal seperti tuntutan donor dan ketidakseimbangan antara harapan dan sumber daya yang tersedia. Dengan demikian, organisasi yang memiliki misi sosial pun tidak luput dari kemungkinan menjadi organisasi sesat jika praktik manajemennya tidak selaras dengan etika yang berlaku.

Organisasi sesat memiliki dampak negatif baik bagi anggota organisasi maupun masyarakat luas. Salah satu dampaknya adalah peningkatan perilaku menyimpang di tempat kerja, yang dapat mengarah pada tindakan kriminal, eksploitasi, dan manipulasi (Mostafa et al., 2023). Selain itu, dalam lingkungan keagamaan atau spiritual, organisasi sesat dapat menciptakan tekanan sosial yang signifikan terhadap anggotanya, menyebabkan mereka kehilangan kebebasan berpikir dan bertindak.

Dalam konteks organisasi publik, Lauritzen (2020) menekankan bahwa ketika organisasi tidak memiliki mekanisme pengawasan yang ketat, praktik penyimpangan dapat meluas dan sulit untuk dikendalikan. Ini dapat berujung pada krisis kepercayaan publik terhadap institusi yang bersangkutan.

Untuk mencegah terbentuknya organisasi sesat, diperlukan pendekatan multidisiplin yang mencakup regulasi ketat, pengawasan transparan, serta edukasi bagi masyarakat. Menurut Ermann dan Lundman (1978), penguatan mekanisme kontrol internal dan eksternal dapat membantu mencegah perilaku menyimpang di tingkat organisasi. Selain itu, Sarwar et al. (2021) menekankan pentingnya kebijakan organisasi yang berorientasi pada kesejahteraan anggota untuk mengurangi risiko dehumanisasi dan perilaku menyimpang. Dengan adanya sistem manajemen yang jelas dan kebijakan berbasis etika, organisasi dapat berkembang secara sehat dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

KESIMPULAN

Organisasi sesat adalah fenomena yang dapat terjadi di berbagai sektor dan memiliki dampak luas terhadap individu dan masyarakat. Penyebabnya dapat bervariasi, mulai dari ketidaksesuaian nilai antara individu dan organisasi hingga lemahnya sistem pengawasan. Oleh karena itu, pemahaman akademik tentang organisasi sesat penting untuk mengembangkan strategi pencegahan dan penanganan yang efektif. Dengan menerapkan regulasi yang ketat dan kebijakan berbasis etika, keberadaan organisasi sesat dapat diminimalisir demi menciptakan lingkungan organisasi yang sehat dan bertanggung jawab.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ermann, M. D., & Lundman, R. J. (1978). Deviant Acts by Complex Organizations: Deviance and Social Control at the Organizational Level of Analysis. The Sociological Quarterly, 19(1), 55–67. doi:10.1111/j.1533-8525.1978.tb02171.x

Lauritzen, G. D. (2020). Looking beyond formal organization: How public managers organize voluntary work by adapting to deviance. Systems Research and Behavioral Science, 37(3), 467–481. doi:10.1002/sres.2686

Mostafa, A. M. S., Boon, C., Abouarghoub, W., & Cai, Z. (2023). High-commitment HRM, organizational engagement, and deviant workplace behaviors: The moderating role of person-organization fit. European Management Review, 20(3), 410–424. doi:10.1111/emre.12542

Nair, N., & Bhatnagar, D. (2011). Understanding workplace deviant behavior in nonprofit organizations. Nonprofit Management and Leadership, 21(3), 289–309. doi:10.1002/nml.20026

Sarwar, A., Khan, J., Muhammad, L., Mubarak, N., & Jaafar, M. (2021). Relationship between organisational dehumanization and nurses’ deviant behaviours: A moderated mediation model. Journal of Nursing Management, 29(5), 1036–1045. doi:10.1111/jonm.13241

STRATEGI KONSELING UNTUK MELEPASKAN MASA LALU

29 January 2025 00:53:00 Dibaca : 19

Dalam proses konseling untuk membantu individu melupakan pengalaman traumatis, seperti hubungan yang berakhir buruk atau perselingkuhan, pendekatan berbasis bukti sangat penting. Penelitian telah menunjukkan bahwa pemulihan dari pengalaman emosional mendalam memerlukan kombinasi teknik terapi yang berpusat pada klien dan pendekatan yang didukung secara empiris (Mauldin & Hildreth, 1997).

Mauldin dan Hildreth (1997) mengusulkan model konseling pasangan yang mengalami perselingkuhan. Dalam konteks ini, elemen utama adalah membantu individu menghadapi emosi seperti rasa bersalah, marah, atau kecewa. Teknik seperti terapi naratif dapat digunakan untuk merekonstruksi makna dari peristiwa yang dialami sehingga klien mampu menciptakan narasi baru yang lebih memberdayakan. Selain itu, intervensi yang menekankan pada pengampunan ditemukan efektif dalam membantu klien melepaskan emosi negatif yang berkaitan dengan pengalaman traumatis (Moorhead, Gill, Minton, & Myers, 2012).

Dalam konteks multikultural, pendekatan konseling harus mempertimbangkan dimensi budaya dan identitas klien. Gipson (2017) menekankan bahwa seni terapi dapat menjadi alat yang kuat dalam membantu klien menghadapi trauma. Seni sebagai media terapi tidak hanya memberikan ekspresi bagi emosi yang sulit diungkapkan, tetapi juga memungkinkan klien untuk merefleksikan identitas mereka dalam lingkungan yang aman dan mendukung. Hal ini relevan ketika menangani klien yang menghadapi tekanan dari norma sosial atau nilai-nilai budaya yang bertentangan dengan pengalaman mereka.

Richard Zamora, Winterowd, dan Roring (2013) menemukan bahwa gaya cinta dan keterikatan emosional memainkan peran penting dalam cara individu memproses hubungan yang berakhir. Klien dengan gaya keterikatan yang aman cenderung lebih mudah untuk pulih dibandingkan mereka dengan gaya keterikatan yang cemas atau menghindar. Oleh karena itu, konselor dapat memanfaatkan wawasan ini untuk menyesuaikan pendekatan mereka, misalnya dengan menggunakan terapi perilaku kognitif (CBT) untuk menantang pola pikir disfungsi terkait hubungan masa lalu.

Kesimpulan:

Konseling untuk membantu klien melupakan pengalaman traumatis memerlukan pendekatan yang holistik, adaptif, dan berbasis bukti. Dengan mengintegrasikan teori keterikatan, pendekatan multikultural, serta intervensi berbasis seni dan pengampunan, konselor dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pemulihan klien. Pendekatan ini tidak hanya membantu klien untuk melepaskan masa lalu, tetapi juga untuk membangun kembali kehidupan mereka dengan keyakinan dan harapan baru

DAFTAR PUSTAKA

Gipson, L. (2017). Challenging Neoliberalism and Multicultural Love in Art Therapy. Art Therapy, 34(3), 112–117. doi:10.1080/07421656.2017.1353326

Jones, F., Hamilton, J., & Kargas, N. (2025). Accessibility and affirmation in counselling: An exploration into neurodivergent clients’ experiences. Counselling and Psychotherapy Research, 25(1), e12742. doi:10.1002/capr.12742

Mauldin, G. R., & Hildreth, G. J. (1997). A Model for Counseling Couples Who Have Had an Extramarital Affair. TCA Journal, 25(2), 58–67. doi:10.1080/15564223.1997.12034504

Moorhead, H. J. H., Gill, C., Minton, C. A. B., & Myers, J. E. (2012). Forgive and Forget? Forgiveness, Personality, and Wellness Among Counselors-in-Training. Counseling and Values, 57(1), 81–95. doi:10.1002/j.2161-007X.2012.00010.x

Richard Zamora, J. K., Carrie Winterowd, & Roring, S. (2013). The Relationship Between Love Styles and Romantic Attachment Styles in Gay Men. Journal of LGBT Issues in Counseling, 7(3), 200–217. doi:10.1080/15538605.2013.812927